
β£οΈ Flashback Endβ£οΈ
Giselle lalu pergi ke rumah Calista dan meminta menemaninya pergi ke rumah sakit untuk mengontrol kandungan. Namun sepanjang perjalanan Giselle begitu ragu menceritakan semua yang dia alami karena takut Santi akan semakin berbuat nekat yang dapat mengancam keselamatan mamanya. Selain itu Giselle juga takut jika tiba-tiba Calista membawa mamanya secara tiba-tiba, mamanya akan semakin curiga tentang semua yang telah terjadi pada hidup Giselle.
Hati Giselle pun semakin sakit saat melihat Rima yang begitu disayang oleh calon mertuanya. Dia lalu bergegas mengajak Calista untuk pulang karena Santi pun sudah berulangkali menghubunginya. Giselle lalu mengantar Calista pulang tanpa mengatakan sepatah katapun tentang yang dia alami meskipun Calista terus mendesaknya.
"Sebenarnya aku benar-benar bingung Calista." kata Giselle di dalam mobilnya setelah mengantar Calista pulang.
πππππ
Calista menatap kepergian mobil Giselle dari halaman rumahnya dengan tatapan begitu sendu. Saat Calista masuk ke dalam rumahnya perasaannya pun begitu campur aduk. "Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Giselle? Kenapa dia terlihat sangat murung? Apakah Tante Santi berbuat hal yang tidak baik padanya? Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi, dia sedang hamil, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kandungan Giselle." kata Calista, dia kemudian mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah lalu mengendarai mobilnya menuju rumah orang tua Revan.
πππππ
Giselle perlahan melangkahkan kakinya ke dalam rumah orang tua Revan. Dia kemudian berjalan masuk lalu menaiki tangga menuju ke kamarnya. Namun baru saja naik beberapa langkah sebuah suara begitu mengejutkan dirinya.
"GISELLE KEMANA SAJA KAMU?"
"Kontrol kandungan." jawab Giselle singkat.
"Kenapa begitu lama? Kau bahkan belum memasak makan siang untuk mama. Sekarang sebaiknya kau pergi ke dapur dan masakkan makanan untukku!"
"Maaf ma, Giselle lelah. Giselle ingin beristirahat." kata Giselle sambil meninggalkan Santi.
"Giselle, beraninya kau berkata seperti itu pada mama!" teriak Santi.
Namun Giselle terus mengabaikan teriakkan Santi lalu langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian menangis sambil menutup pintu kamarnya.
"Revan, sebenarnya aku begitu tersiksa, selama ini mama selalu berpura-pura bersikap baik tapi ternyata mama masih membenciku. Aku begitu tak berdaya karena mama selalu mengancamku. Aku tidak mau membahayakan nyawa ibu kandungku, lebih baik aku yang menahan semua penderitaan ini sendiri." kata Giselle sambil terisak.
"Awalnya aku ingin menemui Calista dan meminta bantuannya, tapi lidahku tiba-tiba terasa begitu kelu. Aku takut jika Calista membawa mama pergi dari rumah itu akan semakin membuat mama bertanya-tanya tentang keadaanku yang sebenarnya. Dan itu sama saja akan menjadi bumerang bagiku."
"Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?" kata Giselle sambil menutup wajahnya.
"GISELLE!! Apa kau tuli? Aku memanggilmu sejak tadi tapi kau malah mengabaikanku begitu saja." teriak Santi di balik pintu.
Namun Giselle hanya terdiam. "GISELLE! SEKALI LAGI KAU TIDAK MEMBUKAKAN PINTU INI MAKA AKU AKAN MENELEPON MAMAMU SEKARANG JUGA!"
Mendengar perkataan Santi, Giselle pun perlahan membuka pintunya.
"Hei menantu sialan, bukankah tadi sebelum aku pergi aku sudah mengatakan padamu agar mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini tapi kenapa kau juga malah pergi dari rumah? Bahkan beberapa kali aku menelponmu tapi kau tidak pernah menjawab teleponku, apa kau sudah tidak sayang dengan nyawa mamamu?"
__ADS_1
"Maaf ma, hari ini jadwal Giselle kontrol kandungan. Jadi setelah mencuci piring tadi Giselle pergi ke rumah sakit."
"Alasan saja, sekarang kau kerjakan semua pekerjaan di rumah ini! Kau telah banyak membuang waktu Giselle, bukankah kau tahu Bi Cici sedang pergi tapi kau malah malas-malasan."
"Tapi Giselle masih lelah ma."
"Jadi kau sudah berani membantahku Giselle? Apa kau mau aku menghubungimu mamamu sekarang!" bentak Santi. Giselle pun kemudian menarik nafasnya dengan panjang.
"Baik ma, apa yang harus Giselle lakukan?"
"Aduh Giselle, hal seperti itu harus kau tanyakan padaku? Apa kau tidak tahu apa saja pekerjaan rumah hah?"
"Iya ma, Giselle akan membersihkan rumah ini." kata Giselle kemudian keluar dari kamarnya lalu berjalan di belakang Santi kemudian turun ke lantai bawah.
"Kau lihat ini kan? Lantai ini sangat kotor Giselle, kau mengerti kan?"
"Iya ma."
"Ini sudah sore, setelah ini kau harus memasakkan makan malam untukku."
"Iya ma." kata Giselle kemudian mengambil kain pel dan ember di belakang rumah. Santi yang kini duduk di atas sofa pun tersenyum dengan raut wajah begitu bahagia saat melihat Giselle mengambil kain pel beserta ember.
"GISELLE JANGAN LAKUKAN ITU!" teriak sebuah suara dari arah pintu masuk.
"Calista." kata Giselle saat melihat Calista yang masuk ke dalam rumahnya.
"Hei kau sungguh tidak sopan Calista, berani-beraninya kau berteriak-teriak di dalam rumahku." kata Santi saat melihat Calista yang masuk ke dalam rumahnya.
"Untuk apa bersikap sopan pada seseorang yang tidak pernah bisa menghargai orang lain tante?"
"Apa maksudmu Calista? Kurang ajar sekali kau berkata seperti itu padaku? Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu?"
"Sopan santun? Memangnya tante juga memiliki itu? Tidak kan?" kata Calista sambil tersenyum kecut.
"Kau dan Giselle memang sama saja! Sama-sama tidak tahu diri!"
"Hei, siapa sebenarnya yang tidak tahu diri? Apa tante merasa lebih hebat daripada Giselle? Apa tante sudah lupa siapa dulu tante sebenarnya? Bukankah tante dulu juga hanya seorang sekretaris Om Farhan? Apa tante sudah lupa semua itu?"
"KURANG AJAR! DARIMANA KAU TAHU SEMUA ITU?"
"Darimana aku bisa tahu? Itu tidaklah penting tante, jadi tante tidak usah merasa tante jauh lebih baik dibandingkan dengan Giselle!"
__ADS_1
"DASAR BEDEBAH KAU CALISTA, BERANI SEKALI KAU BERKATA SEPERTI ITU PADA ORANG TUA! DARIPADA KAU MEMBUAT ONAR DI RUMAHKU LEBIH BAIK KAU SECEPATNYA ANGKAT KAKI DARI RUMAH INI!"
"Tentu, secepatnya aku akan pergi dari rumah ini. Ayo Giselle." kata Calista sambil menarik tangan Giselle.
"Giselle jangan coba-coba kau angkat kaki dari rumah ini karena aku bisa saja mencelakakan mamamu, aku akan mengatakan pada mamamu tentang masa lalumu yang kelam!"
"Tidak usah repot-repot tante, karena aku sendiri yang akan mengatakan pada mama Giselle tentang apa yang sebenarnya telah terjadi pada kami dulu." kata Calista sambil menarik tangan Giselle yang sedikit terlihat bingung.
"DASAR BREN*SEK KAU CALISTA!" teriak Santi.
"Apa kau yakin Calista?" tanya Giselle saat keluar dari rumah Revan.
"Tentu, agar kau bisa bebas dari bayang-bayang masa lalumu Giselle, aku akan menjelaskan semua yang telah terjadi diantara kita secara perlahan pada mamamu."
"Tapi bagaimana jika penyakit jantung mama kambuh?"
"Percayalah padaku, Giselle."
"Iya Calista."
"Dimana kau memarkirkan mobilmu, Calista?"
"Di depan gerbang Giselle, sejak kau pulang dari rumahku aku sangat mencemaskanmu. Jadi aku bergegas pergi ke sini tapi aku khawatir kedatanganku akan diketahui Tante Santi, jadi aku memarkirkan mobilku di luar."
"Oh."
πππππ
"Tidak.. Tidak ini tidak boleh terjadi, aku harus mencegah Giselle dan Calista untuk menemui orang tua Giselle. Calista adalah wanita yang licik, dia pasti bisa memutar balikkan fakta di depan orang tua Giselle agar orang tuanya memaklumi keadaan masa lalu Giselle. Jika itu semua terjadi, ini sangat berbahaya karena aku tidak bisa mengancam Giselle lagi." kata Santi sambil mengigit bibirnya.
"Aku harus menyusul Giselle dan Calista sekarang juga." kata Santi, bergegas dia berlari menuju pintu, namun tiba-tiba kakinya menginjak sebuah kain pel basah yang membuat keseimbangannya goyah.
BRUKKKKKK...JEEDDUUGGGGG
"TOLOOOOOING AKUUUUUUUUU!!!" teriak Santi yang begitu menggema di seluruh sudut ruangan.
Giselle yang sedang berjalan keluar dari rumah itu menuju mobil Calista yang terparkir di luar rumah pun sayup-sayup mendengar suara teriakan.
"Calista aku seperti mendengar suara teriakan."
"Aku tidak, mungkin itu hanya perasaanmu saja Giselle."
__ADS_1