
"Kalo gak kuat gak usah kerja. Istirahat aja," ujar Bram sembari mengancing lengan bajunya. Dia kemudian memasang dasi dan meraih jas yang senada dengan pakaiannya hari ini. Selanjutnya, dia duduk di tepi ranjang dan menyentuh dahi Kinan.
"Kayaknya kamu cuma kecapean. Tidur aja," lanjut Bram setelah melihat bagaimana pucatnya wajah Kinan. Dia belum mengisi perutnya dengan apa pun. Lalu sekarang rasanya segala hal yang ada di perutnya, keluar. Namun, hari ini ada pertemuan mendadak karena secara tiba-tiba salah satu kliennya ingin menjadwalkan ulang acaranya. Dia perlu menemui mereka.
Sebuah telepon membuat Bram buru-buru mengangkatnya. Dia melangkah agak menjauh dari Kinan kemudian membicarakan soal rekaman CCTV itu. Sampai hari ini, Raka masih belum bisa menemukan otak di balik kejadian tersebut. Apalagi, dokter tersebut mengenakan masker sehingga wajahnya tak terlihat jelas.
Sudah 3 hari berlalu semenjak kepergian oma Rosa. Memang, rasa kehilangan itu masih membekas dalam benak Bram. Namun, menurutnya, memperlihatkan bahwa dia lemah hanya akan membuat musuhnya bahagia. Jadi, dia berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja meski terkadang dia akan menangis di kamar mandi.
"Oke, kirim aja progresnya ke e-mail. Nanti saya liat," ujar Bram sembari memutus sambungan telepon itu. Dia kembali menghampiri Kinan dan lagi-lagi memastikan Kinan baik-baik saja. Namun, wajah pucat itu sudah mengindikasi bahwa sang istri sedang tak sehat.
"Gak usah." Kinan menolak saat Bram membantunya berdiri. Dia berjalan menuju lemari kemudian memilihb pakaian yang akan dia kenakan untuk menemui kliennya tersebut. Dengan kondisinya yang terlihat lemas, tentu sejak tadi Bram terus membuntutinya.
"Nan, biar yang lain aja. Kamu istirahat."
Kinan menggeleng sebagai penolakan. Masalahnya, klien satu ini memilih jasanya karena pilihan sang ayah. Jadi, dia sama sekali tak ingin mengecewakan mereka. Apalagi, sejak awal pasangan ini ingin Kinan langsung yang mengurus segala hal dalam pesta pernikahan mereka. Beruntung, ada kesepakatan dari kedua mempelai soal tanggal pernikahan. Mereka akan menikah sehari sebelum keberangkatan mempelai pria ke luar negeri.
"Kamu mau nemuin mereka kayak gini?" tanya Bram sembari terus mengekori Kinan. "Gini aja, ke dokter dulu ya. Habis itu mas anterin."
"Gak usah, Kinan bisa sendiri kok," jawab Kinan dengan suara parau. Ini makin membuat Bram tak tega jika harus membiarkan Kinan sendirian. Bahkan, dia sampai menahan pintu kamar mandi agar sang istri tak menutupnya. "Kinan mau ganti baju, mas."
"Jangan ditutup."
Kinan membulatkan mata kemudian menyilangkan tangannya di depan dada. Dia yakin itu malah akan membuat Bram menerkamnya. Dia bahkan benar-benar tak punya energi sekarang. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?
"Gak akan ngapa-ngapain, janji." Bram menunjukan jari kelingkingnya kemudian membalikan tubuh. Dia memilih memainkan ponselnya kemudian mengacungkan jempol pada Kinan sebagai tanda semuanya akan aman.
__ADS_1
Melihat tingkah manis sang suami, tentu membuat hati Kinan berdebar. Dia tersenyum sebelum akhirnya benar-benar mengganti pakaian. Dia percaya Bram takkan merepotkannya. Namun, dia cukup terkejut saat Bram mengintip sedikit.
"Mas ...!"
"Maaf maaf," ujar Bram diiringi kekehan. Dia kemudian kembali memainkan ponsel. Dia pikir seru juga menggoda sang istri. Apalagi ekspresi terkejut Kinan tadi benar-benar menggemaskan baginya.
Sementara itu, di lain tempat, Wira tersenyum menang sembari menatap tanpa pengenal di atas mejanya. Ruangan yang luas itu akhirnya menjadi miliknya. Dia hanya perlu menikmati segala aset dan kekayaan yang dialihkan padanya.
"Gimana?" tanya pria dengan setelah berwarna coklat susu itu. Dia merentangkan tangan, membuat Lia tersenyum dan memeluknya.
"Boleh juga."
...***...
"Mas anter sampe di sini aja ya," ujar Kinan. Dia merasa tubuhnya terasa lebih enakan setelah makan bubur yang dibuatkan Bram. Tak hanya itu, tangan ajaib sang suami juga sedikit menyingkirkan rasa pening yang sejak tadi dia rasakan.
"Gak ke kantor?"
Bram menggeleng. Ada begitu banyak jejak sang oma hingga rasanya terasa berat jika dia pergi ke sana. Bahkan, Bram juga sudah memikirkan untuk membeli rumah baru agar mereka bisa tinggal terpisah dari Sarah juga yang lain. Namun, untuk yang ini Bram masih belum memberitahu Kinan.
"Telepon ya kalo ada apa-apa."
"Siap, mas," ujar Kinan diiringi senyum. Dia kemudian turun dari mobil mewah itu, berjalan memasuki sebuah kafe tempat yang diminta oleh sang klien. Namun, baru berdiri di depan kasir untuk memesan sesuatu, Kinan merasa pusing itu kembali. Dia buru-buru ke kamar mandi dan memuntahkan lagi isi perutnya.
"Kebanyakan makan ayam bakar nih kayaknya. Kemarin 2 porsi abis sendirian," gumam Kinan setelah membersihkan mulutnya dan menyekanya dengan tisu agar tak basah. Sekarang dia jadi menyesal karena tak mendengarkan apa yang dikatakan Bram. Dia merasa tubuhnya lemas lagi. Namun, dia berusaha untuk bersikap biasa dan mencari di mana sang klien.
__ADS_1
Hingga akhirnya Kinan tersenyum saat seorang pria mengangkat tangannya. Dia segera menghampiri pria tersebut dan meletakan tasnya di atas meja.
"Pesen dulu. Nanti calon istri saya datengnya sekitar setengah jam lagi," ujar pria itu diiringi senyum ramah.
"Saya lagi gak enak perut, terima kasih."
Mereka mulai berbincang soal konsep pernikahan yang diinginkan calon mempelai. Kinan juga merekomendasikan beberapa paket yang mungkin akan cocok dengan yang mereka inginkan. Namun, Kinan juga tak keberatan jika mereka punya konsep selain dari yang ada di sana. Apalagi, Kinan selalu punya prinsip untuk menjadikan kliennya bak raja.
Kinan mulai mencatat konsep yang diinginkan sembari mengecek apakah ada vendor yang menyediakannya? Apalagi, saat ini dirinya sedang kehilangan beberapa vendor yang biasa bekerja sama dengannya. Kinan menganggapnya sebagai sebuah ujian sejauh mana dia akan bertahan salam usahanya itu. Dia bersyukur memiliki tim yang supportif juga Bram yang selalu mendukungnya.
"Sebentar, saya jemput calon istri saya dulu. Dia udah ada di parkiran."
"Oh iya, silakan."
Sepeninggalan pria tersebut, Kinan mulai menandai beberapa hal yang mungkin ada di paket-paket dalam katalognya. Dia juga menambahkan beberapa hal yang mungkin akan disetujui oleh calon pengantin.
"Mbak Kinan, kenalin, ini calon istri saya."
Kinan mendongak dan terkejut saat melihat siapa yang datang. Wajah itu familiar. Dengan mata, hidung, serta bentuk wajah yang dia kenali. Bahkan, sangat familiar sebab Kinan menganggapnya sebagai seorang pesaing. Namun, dia mencoba berpikiran positif. Mungkin, gadis itu hanya punya kemiripan dengan mantan dari sang suami.
"Salam kenal, Kinan," ujar Kinan sembari menjabat tangan gadis itu.
"Salam kenal juga, saya Rena."
"Bukannya Rena menghilang? Kenapa dia tiba-tiba muncul?" gumam Kinan dalam hati. Jantungnya berdegup kencang sebab takut sang suami bertemu dengannya. Mungkin ... Tempo hari yang dia lihat di rumah sakit memang benar-benar Rena yang sama. Selama ini Dia hanya bertemu dengan calon mempelai pria dan tak pernah bertemu calon pengantin wanita. Ini sungguh mengejutkan baginya.
__ADS_1
...****************...