
Firman kemudian berjalan ke mess milik Zidan, saat dia membuka pintu kamar, tampak Zidan sudah ada di kamar itu.
"Kau darimana, Firman?"
"Aku keluar untuk melihat matahari tenggelam."
"Oh, apa kau baik-baik saja? Kenapa penampilanmu sedikit berantakan!" tanya Zidan sambil mengamati Firman yang rambutnya kini berantakan dan bajunya yang basah.
Firman pun tersenyum.
"Zidan, apakah kau tahu alasanku sebenarnya menerima tawaranmu mengenai pekerjaan itu?"
"Bukankah kau membutuhkan pekerjaan? Aku pikir kau jenuh berada di kampung yang hanya membantu usaha bapakmu berdagang."
Firman pun kembali tersenyum.
"Sebenarnya bukan itu, sebenarnya aku sangat senang setiap hari membantu bapak, karena alasan utamaku pergi ke sini adalah untuk melupakan masa laluku. Tentang rasa cintaku pada Aini, tentang kepahitan hidupku yang telah ditipu mentah-mentah oleh Dimas dan Delia."
Zidan pun menepuk bahu Firman.
"Aku bisa mengerti perasaanmu, keputusanmu sudah benar Firman, pergi dari kampung untuk melupakan masa lalu dan membuka lembaran baru adalah keputusan terbaik."
"Awalnya aku berfikir seperti itu, tapi ternyata tidak."
"Apa maksudmu, Firman?"
"Aini, hari ini saat aku berjalan-jalan di tepi pantai, aku bertemu dengan Aini. Aku melihatnya sedang bercumbu dan bermesraan dengan suaminya di depan mataku."
"Astaga. Jadi kau bertemu dengan Aini disini?"
"Ya."
"Oh, mungkin Aini adalah salah satu tamu pengantin yang akan mengadakan pesta disini nanti malam."
"Mungkin saja."
"Sebaiknya nanti malam kau tidak usah keluar dari kamar ini Firman, mereka mengadakan pesta besar-besaran, mereka semua yang hadir adalah orang-orang kaya yang berbeda kelas dengan kita."
"Ya, aku tahu itu. Begitupula dengan Aini. Dia sudah sangat berbeda, seperti bukan Aini yang kukenal dulu, dia memang benar-benar pantas bersanding dengan suaminya saat ini, Aini kini sudah menjadi seorang wanita berkelas, bukan wanita lugu seperti yang kukenal dulu." kata Firman sambil tersenyum. Air mata pun kembali mengalir membasahi wajahnya.
"Firman, bersabarlah. Aku yakin suatu saat nanti kau pasti bertemu dengan wanita yang akan menjadi jodohmu."
"Iya Zidan."
"Aku pergi dulu, Firman. Aku harus ikut mengawasi dan mengontrol jalannya pesta, sebentar lagi pesta itu akan dimulai."
"Iya Zidan, selesaikan pekerjaanmu."
Zidan pun mengangguk, lalu keluar dari kamar menuju ke taman yang ada di resort itu untuk menyiapkan pesta pernikahan Rima dan Drey.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
Calista dan Olivia membuka sebuah pintu kamar, dibelakang mereka tampak Aini dan Laras pun ikut memasuki kamar tersebut. Lalu mereka berjalan mendekat pada seorang wanita cantik yang sedang memandang ke arah cermin. Tampak seorang make up artist sedang memberikan finishing touch pada wajahnya.
Calista lalu memeluk pengantin itu.
"Selamat Rima." kata Calista.
"Terimakasih Kak Calista." jawab Rima sambil memegang tangan Calista.
"Kau cantik sekali, Rima."
"Terimakasih Kak Olive." jawab Rima, dia kemudian memandang ke arah samping dan melihat Laras dan Aini yang sedang berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum pada Rima.
"Mba Laras."
"Rima, kenalkan ini adikku."
Rima pun tersenyum.
"Jadi kau Aini yang kemarin viral di berbagai media sosial?"
Aini pun tersenyum sambil mengangguk.
"Kau sangat cantik, pantas saja suamimu sampai memperlakukan dirimu dengan begitu istimewa."
"Mba Rima, bisa saja. Mas Roy memang seperti itu, dia terkadang sedikit berlebihan." jawab Aini sambil tersipu malu.
Tak berselang lama, Stella dan Vallen pun ikut masuk ke dalam kamar pengantin itu. Stella lalu tersenyum kemudian memeluk Rima.
Rima pun tersenyum. "Aku begitu merindukanmu Stella, kau kemana saja? Sejak kau berbulan madu dengan dokter David, kau seperti hilang ditelan bumi."
"Aku tidak kemana-mana Rima, aku di rumah saja karena saat ini aku sedang hamil, kau tahu sendiri David sangatlah protektif padaku."
"Ya, sejak dulu dia memang seperti itu. Lalu siapa wanita cantik yang ada di sampingmu, Stella?"
"Oh dia Vallen, dia adik David. Dia seorang dokter kandungan yang baru saja menyelesaikan studinya di Cambridge."
Rima lalu mengamati Vallen yang kini sedang tersenyum padanya. "Kau sangat cantik dan pintar Vallen, pasti banyak lelaki yang tertarik padamu."
Vallen pun tersenyum. "Sayangnya tidak." jawab Vallen sambil terkekeh.
Calista lalu mendekat ke arah Stella.
"Jadi dia adiknya David? Yang David ceritakan pada Leo beberapa hari yang lalu?"
"Iya Calista, dia yang David ceritakan."
Calista lalu memanggil Aini. Aini dan Laras pun ikut mendekat ke arah mereka.
"Stella, ini adik sepupuku, namanya Aini. Dia yang pernah kami ceritakan pada dokter David."
"Oh ya, David sudah membicarakan itu padaku. Vallen, dia wanita yang David ceritakan."
__ADS_1
Vallen pun memandang Aini sambil tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangannya pada Aini.
"Kenalkan, aku Vallen."
Aini lalu membalas uluran tangan tersebut.
"Aini." jawab Aini sambil tersenyum.
"Jadi kau ada masalah dengan kesuburanmu setelah mengalami kecelakaan itu?"
Aini pun mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi bagaimana Vallen, apa adik kami bisa sembuh?" tanya Olivia yang kini sudah mendekat dan berdiri di samping Aini.
"Sebenarnya perlu dilakukan pemeriksaan khusus untuk mengetahui kondisi rahim Aini saat ini, aku tidak bisa menjanjikan aku bisa menyembuhkan Aini tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi jika melihat kondisi Aini yang masih muda, kemungkinan untuk sembuh sebenarnya masih cukup besar."
Raut kebahagiaan pun kini terpancar di wajah semua orang yang ada di ruangan itu. "Ini kasus yang cukup menarik untukku. Kau hamil di usia yang masih cukup muda, lalu mengalami infeksi pada rahim, sebenarnya jika kau mengkonsumsi antibiotik secara terus-menerus mungkin infeksi itu bisa sembuh tapi efeknya sangat tidak baik bagimu."
"Jadi?" tanya Calista sambil mengerutkan keningnya.
"Aku akan mengobati Aini dengan caraku."
"Jadi kau mau mengobati Aini?" tanya Stella.
"Ya, tentu saja."
Stella pun tersenyum.
"Jika kau sudah mau mengobati Aini, jadi kau sudah mau bekerja di rumah sakit?" tanya Stella sambil tersenyum nakal.
"Kalian semua sudah menjebakku." gerutu Vallen yang membuat semua orang tertawa.
"Kau pasti bisa sembuh, Aini." bisik Olivia di telinga Aini ditengah tawa orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Iya Mba Olive."
💜💜💜💜💜
Firman pun merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur, namun saat itu juga dia merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah tubuhnya.
"Apa ini?" gerutu Firman.
Firman lalu mengambil benda itu.
"Astaga, bukankah ini ponsel milik Zidan?"
"Kenapa Zidan ceroboh sekali? Aku harus memberikan ponsel ini pada Zidan." kata Firman sambil bangkit dari tempat tidur. Namun saat akan melangkahkan kakinya keluar dari mess tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Astaga, bukankah Zidan ada di pesta pernikahan itu? Jika aku kesana, bisa-bisa aku bertemu dengan Aini? Tapi jika aku tidak memberikan ponsel ini pada Zidan dia pasti tidak bisa bekerja dengan baik untuk menghandle semua pekerjaannya."
Firman kemudian memejamkan matanya.
__ADS_1
"Lebih baik aku berikan saja ponsel ini, semoga saja aku tidak bertemu dengan Aini." kata Firman kemudian berjalan keluar dari mess itu.