
[Rayhan, tolong jangan berbicara seperti itu dulu, sekarang kau dengarkan aku.]
[Iya Vallen, ada apa?]
[Bisakah besok kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.]
[Oh tentu saja, kapan kau akan menemuiku?]
[Besok sore, setelah aku pulang dari rumah sakit, pukul empat sore di Lounge Cafe, dekat rumah sakit tempatku dan Kak David bekerja.]
[Baik Vallen, aku akan menemuimu disana.]
[Ya, terimakasih banyak.] jawab Vallen kemudian menutup teleponnya.
Vallen kemudian memandang Inara.
"Sebaiknya besok kau ikut datang ke cafe itu tanpa sepengetahuan Rayhan. Setelah aku selesai berbicara dengan Rayhan kau bisa bertemu dengannya."
"Iya Vallen, terimakasih banyak atas bantuanmu."
"Sama-sama. Sebaiknya kau pulang sekarang, ini sudah malam, kau juga sedang hamil harus banyak beristirahat."
"Iya Vallen, aku pulang dulu. Sekali lagi terimakasih banyak."
"Ya."
Inara kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan Vallen yang masih termenung di ruang tamu rumahnya.
'Aku benar-benar tidak menyangka jika aku akan bertemu lagi denganmu, Rayhan.' gumam Vallen sambil tersenyum kecut. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya untuk menghubungi Firman.
[Halo.]
[FIRMANNNNN!!!] Teriak Vallen.
[Astaga, gadis aneh. Apa kau tidak bisa tidak berteriak jika sedang memanggil namanku?]
[Hahahaha, apa kau terganggu dengan teriakkanku?]
[Telingaku begitu terganggu dan aku harus menjauhkan ponselku dari telingaku saat kau memanggilku.]
[Hahahaha, tapi kau menyukainya kan?]
[Dasar gadis aneh. Apakah tamumu sudah pulang?]
[Ya, dia sudah pulang.]
[Memangnya dia siapa?]
[Kenapa kau menanyakan itu?]
[Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja. Apakah dia temanmu?]
[Emhh.. Aku saja baru mengenalnya.]
[Kau baru mengenalnya? Jika kau baru mengenalnya kenapa kau menemui orang itu? Bagaimana jika dia memiliki maksud yang tidak baik padamu?]
[Hahahaha kenapa kau berkata seperti itu, Firman? Apakah kau mencemaskanku?]
[Ya, bagaimanapun juga kau adalah temanku. Aku tidak ingin suatu hal buruk terjadi pada temanku. Lain kali berhati-hati, Vallen.]
[Kau sepertinya begitu cemas padaku. Kau tenang saja Firman, aku tidak apa-apa. Aku masih bisa menjaga diriku.]
[Baiklah, aku percaya padamu. Emh.. Vallen, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu.]
[Kau mau menanyakan apa?]
[Dia laki-laki atau perempuan?]
[Dia? Siapa?] Tanya Vallen sambil mengerutkan keningnya.
[Tentu saja yang baru datang ke rumahmu.]
[Hahahaha, bagaimana jika dia laki-laki? Apa kau cemburu?]
__ADS_1
[Tidak.] Jawab Firman dengan ketus.
[Kenapa tiba-tiba cara bicaramu seperti itu? Apa kau benar-benar cemburu?]
[Tidak.]
[Hahahaha... Hahahaha.]
[Kenapa kau tertawa gadis aneh?]
[Firman, tamu yang baru saja datang ke rumahku seorang perempuan.]
[Benarkah?]
[Ya, perempuan berhijab panjang.]
[Syukurlah.] kata Firman lirih.
[Apa kau bilang?]
[Tidak apa-apa. Jadi tamumu itu perempuan kan?]
[Ya dia perempuan, dan dia adalah istri dari Rayhan.]
[APAAAA?]
[Ya, dia istri dari Rayhan. Dia meminta bantuanku untuk menghubungi dan bertemu dengan Rayhan karena saat ini istri Rayhan sedang hamil, dan Rayhan tidak mengetahuinya karena dia memblokir semua akses komunikasi dengan istri dan keluarganya.]
[Jadi kau sudah menghubungi Rayhan?]
[Ya, dan aku akan bertemu dengannya besok.]
[APA KAU AKAN BERTEMU DENGANNYA BESOK?]
[Firman apa kau tidak bisa mengecilkan volume suaramu? Telingaku begitu terganggu.]
[Tidak Vallen, kau jangan bertemu dengannya.]
[Dia masih mencintaimu, sangat tidak baik bertemu sendirian dengan lelaki yang sudah menjadi suami orang. Itu bisa menimbulkan fitnah.]
[Lalu aku harus bagaimana? Aku terlanjur sudah membuat janji dengannya.]
[Begini saja, besok kau akan kutemani!]
[Kau akan menemaniku? Tapi kau tidak ada di sini, Firman.]
[Ya besok aku akan menemanimu, bukankah yang Rayhan tahu aku adalah kekasihmu jadi sudah sewajarnya aku juga akan menemanimu. Aku besok akan ke Jakarta. Kapan kau akan menemuinya?]
[Besok pukul empat sore, setelah pulang dari rumah sakit.]
[Besok aku akan menjemputmu kau kirimkan saja lokasi rumah sakit tempat kau bekerja.]
Mendengar perkataan Firman, Vallen pun tersenyum, perasaan bahagia terasa begitu memenuhi hatinya.
'Rasanya aku begitu bahagia.' gumam Vallen dalam hati.
[Vallen, kenapa kau diam?]
[Tidak apa-apa.]
[Apa kau lelah? Sebaiknya kau tidur saja sekarang. Simpan tenagamu, besok kau sudah mulai bekerja. Kau harus menjaga kesehatan badanmu.]
[Iya Firman.]
[Aku tutup dulu teleponnya, selamat malam sampai bertemu besok.]
[Iya Firman sayang.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan itu sambil tersenyum dan menempelkan ponselnya di dadanya.
Firman pun begitu terkejut mendengar perkataan Vallen.
"Apa yang dia katakan? Apakah aku tidak salah dengar? Apakah dia benar-benar mengatakan sayang padaku?" kata Firman sambil tersenyum.
"Ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja." kata Firman kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia kemudian memejamkan matanya, namun matanya kembali terbuka.
__ADS_1
'Kenapa tiba-tiba aku memikirkan gadis aneh itu?' gumam Firman, dia kemudian menutup matanya kembali.
'Ah sial, kenapa aku memikirkannya lagi?' gumam Firman sambil mengusap kasar wajahnya.
🏡🏡🏡🏡🏡
"Terimakasih banyak Dokter Vallen. Kami sungguh beruntung bisa mengenal dokter sepertimu." kata Aini.
"Kau bisa saja, ini sudah tugasku."
"Benar apa yang Aini katakan Dokter Vallen, karenamu istriku memiliki harapan untuk bisa hamil kembali suatu saat nanti."
"Kalian berlebihan, kau pasienku Aini. Tentu aku akan berusaha menyembuhkanmu semaksimal mungkin."
"Terimakasih banyak."
"Yakinlah suatu saat nanti kau pasti bisa sembuh. Yang terpenting kau turuti semua kata-kataku, jaga pola makan dan jangan lupa meminum vitamin yang sudah kuresepkan."
"Iya Dokter Vallen, kami permisi dulu." kata Aini.
"Mari dokter Vallen." tambah Roy.
"Ya." jawab Vallen sambil tersenyum. Dia kemudian memandang arlojinya.
"Sudah pukul tiga sore, jam kerjaku sudah berakhir. Aku akan beristirahat sebentar sebelum menemui Rayhan." kata Vallen sambil merentang tubuhnya. Tiba-tiba ponsel Vallen pun berbunyi.
"Firman." kata Vallen saat melihat nama Firman di ponselnya. Dia kemudian mengangkat panggilan itu.
[Vallen, aku sudah di depan.]
[Oh ya, tunggu sebentar.] jawab Vallen kemudian bergegas berkemas lalu keluar dari ruangannya.
Sementara itu, Roy dan Aini yang sudah keluar dari ruangan Vallen pun kini sedang berjalan ke halaman parkir.
"Mas, aku ke toilet sebentar. Sebaiknya kau tunggu aku di mobil saja."
"Iya Aini." jawab Roy kemudian berjalan ke halaman parkir sendirian. Sedangkan Aini berjalan ke arah toilet di salah satu sudut rumah sakit tersebut.
Beberapa saat kemudian, Aini pun keluar dari toilet lalu berjalan ke halaman parkir, namun saat keluar dari rumah sakit netranya tertuju pada seorang laki-laki yang sedang berdiri di komplek parkir di halaman rumah sakit tersebut.
'Mirip sekali dengan Mas Firman.' gumam Aini saat melihat sosok laki-laki tersebut sedang menelepon seseorang.
"Ah mungkin hanya perasaanku saja." kata Aini kemudian berjalan menuju ke mobilnya. Tiba-tiba Aini dikejutkan oleh suara sepatu wanita yang berlari di belakangnya. Dia kemudian memalingkan wajahnya lalu melihat Vallen yang sedang berlari.
"Hai Aini, aku duluan ya." kata Vallen saat melewati dirinya sambil tersenyum dan terus berlari dengan begitu tergesa-gesa.
"Iya Dok." jawab Aini sambil tersenyum.
Vallen kemudian berlari ke arah laki-laki berkemeja warna biru yang sedang menunggunya.
"FIRMAN!!" teriak Vallen saat sudah ada di dekatnya.
Vallen kemudian menghempaskan tubuhnya pada tubuh Firman sambil mengalungkan tangannya di leher Firman dan mengangkat kedua kakinya hingga terlihat seperti Firman sedang menggendongnya.
"Awwww Vallen, kau mengagetkanku." kata Firman yang terkejut karena Vallen tiba-tiba sudah memeluknya.
"Hahahaha."
Aini yang melihat dari kejauhan pun tersenyum.
"Ternyata laki-laki itu kekasih Dokter Vallen, mereka mesra sekali, meskipun wajahnya tidak terlalu terlihat jelas tapi mereka pasangan yang serasi." kata Aini sambil tersenyum dan menatap dari kejauhan Vallen yang masih memeluk laki-laki itu.
💜💜💜💜💜
"Vallen, lihat banyak orang yang melihat kita. Kita jangan berpelukan di tempat ramai seperti ini." bisik Firman.
"Ups maaf." jawab Vallen kemudian perlahan melepaskan pelukannya.
NOTE:
Kalau kalian suka karya ini jangan lupa tinggalin jejaknya ya, like, komen, atau vote.
Terimakasih 🤗🥰
__ADS_1