Salah Kamar

Salah Kamar
Menarik Kesimpulan


__ADS_3

"Tidak Leo, itu terlalu lama. Lebih baik kita memastikan keadaan mereka terlebih dahulu sebelum ke sana."


"Kau benar Calista. Revan cepat telepon Om Hilman!"


Revan lalu menganggukan kepalanya, bergegaslah dia mengambil ponselnya lalu menelpon Hilman.


[Halo Om Hilman.]


[Ya Revan, ada apa?]


[Om apakah keadaan Om baik-baik saja?]


[Ya, om baik-baik saja. Ada apa? Kenapa kau terdengar sedikit cemas?]


[Begini om, apa hari ini ada suatu kejadian yang sedikit mencurigakan?]


[Kejadian mencurigakan? Sepertinya tidak.]


[Coba om ingat-ingat lagi.]


[Oh iya, baru saja om mendapat kiriman makanan dari seseorang yang tidak om kenal.]


[Apa?? Apa om dan tante sudah memakannya?]


[Tentu saja belum karena rencananya kami akan memakan makanan itu saat makan malam nanti.]


[Om tolong dengarkan Revan, kalian jangan pernah menyentuh makanan itu. Jika kalian ingin selamat tolong jangan menyentuh makanan itu. Sebentar lagi Revan akan datang ke rumah om.]


[Emh..e.. kenapa jadi menakutkan sekali Revan? Ada apa sebenarnya?]


[Nanti akan Revan ceritakan semuanya tapi tolong jangan sentuh makanan itu. Sekarang Revan akan ke rumah om.] kata Revan kemudian menutup telepon itu.


"Bagaimana Revan?" tanya Giselle.


"Mereka mendapat kiriman makanan dari orang yang tidak dikenal."


"Rima benar-benar keterlaluan!" umpat Leo.


"Kita harus kesana sekarang untuk memastikan semua itu?"


"Ya kita ke sana sekarang." jawab Revan.


Mereka lalu bergegas pergi ke rumah orang tua Stella.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah itu. Tampak kedua orang tua Stella sudah menunggu mereka di depan rumah dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Om, Tante, dimana makanan itu?" tanya Revan.


"Bi Sumi tolong bawakan makanan yang ada di atas meja makan." kata Rena.


Seorang asisten rumah tangga mereka pun kemudian keluar dan membawakan beberapa bungkus makanan yang dikemas dalam kardus makanan.


"Ini Revan." kata Rena sambil memberikan makanan itu.


Revan lalu mengambil makanan itu kemudian memberikan makanan itu pada beberapa ekor semut yang ada di salah satu pojok rumah. Beberapa menit kemudian, semut-semut tersebut tampak mulai mati berjatuhan.

__ADS_1


"Brengsek! Makanan ini telah diberi racun, Rima memang kurang ajar! Ini sudah diluar batas! Sungguh keterlaluan!" teriak Revan.


Orang tua Stella pun tampak kebingungan. "Revan apa yang sebenarnya telah terjadi?"


"Begini om, tante sebenarnya ada yang tidak menyukai hubungan Stella dan David. Ada seorang wanita yang sangat mencintai David dan ingin menyelakakan Stella, bahkan dia juga yang membuat Stella keguguran dan mengalami kritis beberapa hari ini."


"KURANG AJAR BERANI-BERANINYA DIA MENCELAKAKAN PUTRIKU!" teriak Hilman.


"Siapa dia sebenarnya Revan? Akan kubuat pelajaran padanya!"


"Om sabar, kita masih baru menduga-duga karena kita belum memiliki bukti yang jelas." kata Leo.


"BRENGSEK! AKU AKAN MENCARI BUKTI, SEKARANG KATAKAN SIAPA YANG KALIAN CURIGAI?" tanya Hilman.


"Om tenang saja biar kami yang mengurusnya, lebih baik om berkonsentrasi untuk operasi besok. Karena orang yang kami curigai adalah seorang perawat di rumah sakit tempat David bekerja, dia yang selalu menemani Stella setiap hari." jawab Revan.


"Kenapa kalian baru mengatakannya sekarang? Membahayakan sekali Stella setiap hari harus ditemani wanita iblis seperti itu."


"Maaf om, kami pun baru tahu sore ini setelah menarik kesimpulan dari beberapa kejadian yang David ceritakan pada Revan tadi siang."


"Lalu apakah David sudah tahu siapa pelakunya?"


"Belum." jawab Leo.


"Jadi itu alasannya David memasang CCTV di kamar perawatan Stella?" tanya Rena.


"Iya tante." jawab Revan.


"Leo sekarang kita harus bagaimana?" tanya Revan.


"Kau dan Giselle sebaiknya menginap di sini saja untuk menjaga mereka sampai operasi besok. Aku dan Calista akan mengurus Rima."


"Jangan beritahu David terlebih dahulu sebelum kita menemukan bukti yang valid. Aku takut dia bisa berbuat nekat yang bisa merugikan dirinya sendiri."


"Kau benar Leo. Kita jangan bertindak sebelum memiliki bukti yang tepat karena akan menjadi bumerang."


"Ya dan aku tahu David pasti akan sangat marah jika sudah tahu yang sebenarnya."


"Om, Tante, Revan, Giselle saya pamit pulang terlebih dulu. Revan tolong kau jaga mereka baik-baik sampai operasi Stella besok."


"Iya Leo pasti."


"Terimakasih banyak Leo, Calista kalian hati-hati di jalan." kata Rena.


Leo dan Calista lalu mengangguk kemudian masuk ke dalam mobilnya.


"Leo kita sudah melakukan sebuah kesalahan besar, kita sudah memelihara macan tidur." kata Calista saat di dalam mobil.


"Ya, kita sudah terlalu baik padanya tanpa menyelidiki dulu kebenaran tentang dirinya dan sialnya baru terpikirkan olehku beberapa hari terakhir saat Giselle mengatakan jika Rima mencintai David."


"Kita harus memperbaiki keadaan ini."


"Ya Calista, harus. Kita harus memperbaiki keadaan ini. Perbuatan Rima juga sudah diluar batas, aku pikir dia sudah berubah tapi ternyata dia hanya memanfaatkan kebaikan kita."


"Iya Leo, sekarang apa yang harus kita lakukan?"

__ADS_1


"Kita harus tetap berpura-pura baik dan bersikap biasa saja padanya Calista. Jangan pernah menunjukkan jika kita sudah mengetahui semua tentangnya."


"Iya Leo."


"Setelah kita sampai, kau coba bicara dengannya."


"Iya Leo."


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di rumah.


"Kau coba masuk ke kamar Rima, coba dekati dia."


Calista lalu mengangguk, dia kemudian berjalan ke kamar Rima.


TOK TOK TOK


Beberapa kali Calista mengetuk tapi tidak ada jawaban.


'Brengsek, beberapa hari ini kau selalu menghindar dari kami Rima. Lihat saja besok, kau pasti tidak bisa berkutik.' gumam Calista kemudian berjalan meninggalkan kamar Rima.


"Bagaimana?" tanya Leo saat Calista masuk ke dalam kamar mereka.


"Dia tidak mau membukakan pintunya, pura-pura sudah tidur. Beberapa hari ini dia memang selalu menghindar dari kita."


"Ya memang, dan sialnya kita baru menyadari itu sekarang." kata Leo sambil mengusap kasar wajahnya.


"Leo sebaiknya kita tidur, kita lanjutkan besok."


"Iya." jawab Leo kemudian mulai mendekap tubuh Calista.


***


Rima tampak begitu tergesa-gesa keluar dari kamar. Dia lalu menghampiri Leo dan Calista yang sedang menikmati sarapan. "Kak Leo, Kak Calista, aku berangkat dulu ya, hari ini aku sedikit sibuk."


"Kau tidak ikut sarapan dulu Rima?" tanya Calista.


"Tidak aku sarapan di rumah sakit saja." kata Rima sambil tersenyum, raut wajahnya dipenuhi kebahagiaan.


'Aku harus berangkat pagi, aku ingin memastikan semua rencanaku berjalan dengan lancar, aku juga tidak mau melewatkan drama di rumah sakit hari ini tentang kegagalan operasi Calista. Hahahaha.' kata Rima dalam hati.


"Aku berangkat dulu ya." kata Rima sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Ceria sekali kau Rima, sepertinya dia berfikir semua rencananya akan berjalan dengan lancar."


Calista lalu tersenyum mendengar perkataan Leo. Setelah mendengar mobil Rima keluar dari rumah, Leo dan Calista kamudian bergegas menuju ke kamar Rima dengan membawa kunci cadangan untuk membuka pintu kamar itu.


Mereka pun masuk ke dalam kamar lalu tampak sibuk mencari sesuatu di setiap sudut kamar dan mengecek barang-barang milik Rima. Hingga akhirnya Calista membuka salah satu laci di nakas samping tempat tidur di kamar itu.


"Apa ini Leo?" tanya Calista saat melihat beberapa bungkus obat dan struk pembelian obat tersebut.


"Cytotec, obat penambah darah, vitamin penambah sel darah putih." kata Leo.


"BRENGSEK, RIMA MEMANG BENAR-BENAR PELAKUNYA!" umpat Leo.


"Lalu kita harus bagaimana?"

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang dan bawa semua bukti-bukti itu Calista. Tolong kau hubungi Revan juga."


"Iya Leo."


__ADS_2