
"Stella, apa kau sudah memberitahu Vallen jika kita sudah sampai?"
"Belum."
"Bagus, aku ingin melihat gerak-gerik mereka terlebih dulu."
"Iya aku tahu itu, David."
"Lihat itu, sepertinya mereka sudah sampai." kata Stella sambil menunjuk Vallen yang keluar dari pintu kedatangan."
"David, ternyata laki-laki itu sangat tampan, pantas saja adikmu terlihat begitu tergila-gila padanya, lihat Vallen tidak pernah melepaskan tangan laki-laki itu." kata Stella sambil terkekeh.
"Hei apa-apaan itu, kenapa Vallen melakukan hal seperti itu di tempat umum." gerutu David yang kini melihat Vallen sedang memeluk Firman.
"Biarkan saja, namanya juga sedang kasmaran, apa kau lupa, kita juga dulu sering melakukan itu saat kita masih di kampus."
David pun hanya bisa mendengus kesal, apalagi saat ini Vallen terlihat begitu manja pada Firman.
"Apa kakak iparmu sudah menghubungimu?"
"Belum, sepertinya dia masih ada di jalan."
"Jadi kau lebih dekat dengan kakak iparmu dibandingkan dengan kakakmu?"
"Tentu saja, Kak Stella jauh lebih baik dibandingkan dengan Kak David yang hanya bisa marah-marah padaku, aku pun tak mengerti bagaimana bisa wanita secantik Stella jatuh cinta pada kakakku yang galak seperti itu."
"Hahahaha, bagaimanapun juga dia adalah kakak kandungmu."
Vallen pun tiba-tiba memeluk Firman. "Kau kenapa?"
"Aku merindukanmu."
"Dasar gadis aneh, belum juga kita berpisah tapi kau sudah bilang rindu."
"Memangnya tidak boleh? Besok setelah pulang kerja kau akan menemuiku kan?"
"Tentu saja gadis aneh, besok aku akan menjemputmu." jawab Firman sambil mengacak-acak rambut Vallen.
Tiba-tiba ponsel Vallen pun berbunyi.
"Dari Kak Stella." kata Vallen kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Kak Stella.]
[Vallen, aku sudah sampai.]
[Iya Kak sebentar, aku akan keluar sekarang.] jawab Vallen kemudian menutup panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Firman, aku pulang dulu ya."
"Iya sayang, hati-hati."
Vallen pun mengangguk, lalu berjinjit dan mencium pipi Firman yang membuat Firman sedikit terkejut.
"Vallen, ini di tempat umum." bisik Firman.
"Biarkan saja." kata Vallen sambil terkekeh kemudian berjalan menjauhi Firman menuju ke tempat parkir. Sementara David yang melihat dari dalam mobil pun kini terlihat sedikit kesal.
"Stella, memalukan sekali dia, mencium laki-laki di tempat umum."
"Sudahlah David, namanya juga sedang jatuh cinta." jawab Stella sambil terkekeh.
"David, bersikaplah seperti biasa saja seolah-olah kita tidak tahu apa-apa, Vallen sedang berjalan ke sini."
"Iya Stella."
Beberapa saat kemudian Vallen pun sudah masuk ke dalam mobil mereka.
"Hai Vallen, bagaimana liburanmu."
"Sangat menyenangkan, sayangnya temanku ada urusan penting di kantornya sehingga kami mempercepat kepulangan kami."
"Oh."
"AAAPAAA AKU BARU SAJA PULANG BERLIBUR DAN LANGSUNG HARUS MENGOPERASI PASIEN HAMIL YANG MENDERITA PENYAKIT JANTUNG??? KAU BENAR-BENAR KEJAM KAK DAVID!!!"
💜💜💜💜💜
Kantor masih terlihat sepi, namun Firman sudah berjalan masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kantornya, beberapa kali atasannya sudah meneleponnya untuk datang ke kantor lebih awal dibandingkan dengan yang lain. Dia kemudian langsung bergegas menuju ke ruangan kepala divisinya tersebut.
TOK TOK TOK
"Masuk."
"Selamat pagi Pak Danu."
"Oh iya Firman, silahkan duduk."
Firman pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu duduk di depan Danu.
"Maaf sudah mengganggu waktu cutimu Firman, sebenarnya tugas yang akan kuberikan padamu bukan tentang masalah di kantor kita."
"Apa maksud anda Pak Danu?"
"Begini Firman, kau tahu kan perusahaan ini hanya anak cabang dari perusahaan yang dipegang oleh Pak Raka."
__ADS_1
"Ya, saya tahu."
"Mulai hari ini kau akan diberi tugas untuk menangani keuangan di kantor pusat perusahaan mereka."
"Apa maksud anda Pak Danu? Bukankah saya hanya karyawan baru di kantor ini? Masih ada karyawan lain yang lebih senior dan lebih berpengalaman dibandingkan dengan saya."
"Karena itulah Firman, karena kau karyawan baru maka kau kutugaskan untuk menangani masalah yang ada di kantor pusat. Tidak akan ada orang yang mencurigaimu karena statusmu."
"Pak Danu, saya sungguh tidak mengerti."
"Begini Firman, sebenarnya Pak Raka mencurigai adanya konspirasi yang telah dilakukan oleh putranya sendiri, Abimana Hadinata."
"Konspirasi oleh putranya sendiri?"
"Iya Firman, tapi pergerakan Pak Raka sangatlah terbatas karena dia sedang sakit, selain itu di kantor tersebut banyak anak buahnya yang menjadi anak buah dari Abimana yang membantu Abimana dalam melakukan praktek nepotisme di perusahaan itu."
"Pak Danu, ini benar-benar sulit dipercaya. Bagaimana mungkin Abimana melakukan konspirasi di perusahaan miliknya sendiri?"
Mendengar perkataan Firman, Danu pun tersenyum.
"Firman, Pak Raka dan putranya, Abimana bukanlah pemilik perusahaan ini. Mereka hanya memegang perusahaan ini sementara sedangkan pemilik perusahaan ini adalah Nona Amanda, putri dari Agung Mahendrata pemilik sah perusahaan ini yang meninggal akibat kecelakaan pesawat lima belas tahun silam. Raka Hadinata, adalah kakak angkat dari Agung Mahendrata. Mereka tidak memiliki ikatan darah sama sekali tapi sudah bersahabat sejak mereka kuliah di Singapura."
"Oh, jadi setelah Pak Agung meninggal, Nona Amanda diasuh oleh keluarga Pak Raka."
"Ya, sedangkan Abimana sekarang menjadi suami Amanda."
"Jadi maksud anda Abimana melakukan konspirasi di perusahaan milik istrinya yang dititipkan oleh orang tua istrinya pada orang tuanya?"
"Tepat sekali Firman, dan tugasmu adalah menyelidiki segala praktek kecurangan yang telah dilakukan oleh Abimana di kantor pusat. Saat ini hanyalah kau yang kupercaya untuk melakukan semua itu, karena orang-orang yang ada di perusahaan pusat untuk saat ini sudah menjadi anak buah dari Abimana. Apa kau sanggup melakukan tugas ini, Firman?"
Firman pun tampak berfikir sejenak.
"Kau tenang saja, selama menyelidiki konspirasi tersebut kau akan mendapatkan perlindungan dari Pak Raka, bagaimana?"
"Baik Pak Danu, saya akan melakukan tugas itu."
"Terimakasih banyak Firman, sekarang kau pergilah ke kantor pusat, aku akan mengurus kepindahanmu."
"Baik Pak Danu, terimakasih banyak."
"Firman, berhati-hatilah."
"Iya Pak Danu."
Firman pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Danu, di saat itulah tiba-tiba ponselnya pun berbunyi. Sebuah pesan yang berisi foto pun masuk ke ponselnya.
"Hahahaha astaga, dasar gadis aneh." kata Firman saat melihat foto Vallen yang seolah-olah sedang pingsan di ruangannya. Firman pun membaca pesan di bawah foto tersebut.
__ADS_1
Firman, tolong semangati aku. Baru saja aku pulang berlibur tapi Kak David sudah memberikan pekerjaan berat untukku.