Salah Kamar

Salah Kamar
Jangan Pisahkan Kami


__ADS_3

"Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Putriku tidak boleh menikah dengan seorang duda, ini tidak boleh terjadi. Tapi bukankah mereka sudah menikah secara siri? Astaga, aku harus bagaimana? Vallen juga sedang mengandung anak dari Firman. Oh tidak kenapa Vallen mengulang kesalahan yang sama seperti David? Ah lebih baik kutanyakan saja pada mereka," kata Nurma kemudian keluar dari salah satu bilik toilet tersebut.


Delia dan Aini pun sedikit terkejut melihat pintu yang terbuka di belakang mereka, apalagi saat ini wanita yang keluar dari pintu tersebut tampak menatap mereka sambil tersenyum.


"Maaf jika aku mengganggu pembicaraan kalian, sebenarnya siapa yang kalian bicarakan? Vallen dan Firman? Apakah Vallen yang kalian maksud adalah salah seorang dokter kandungan yang ada di rumah sakit ini?" tanya Nurma dengan begitu ramah.


"Ohh... E... Iya, ya dia Dokter Vallen yang ada di rumah sakit ini, kebetulan saya pasien dari Dokter Vallen."


"Oh jadi Firman suami dari Vallen adalah seorang duda?"


Aini dan Delia pun saling berpandangan, lalu mereka perlahan menganggukkan kepalanya.


"Iya tante, Firman memang seorang duda tapi dia orang yang sangat baik," ucap Aini.


"Ya, dan pernikahan pertamanya itu karena dia dijebak. Firman terpaksa menikah dengan wanita itu. Lalu setelah tahu dia dibohongi, dia menceraikan wanita itu karena Firman tidak bersalah," tambah Delia sambil menundukkan kepalanya.


"Ahhh, aku benar-benar tidak paham dengan apa yang kalian katakan. Yang kutanyakan adalah apakah benar Firman seorang duda?"


"Iya tante. Apakah tante mengenal Firman dan Vallen?"


"Tentu saja aku sangat mengenal mereka. Terimakasih atas informasinya."


"Iya tante," jawab Aini dan Delia bersamaan. Mereka pun kemudian saling berpandangan setelah Nurma keluar dari toilet.


'Pantas saja mereka menyembunyikan pernikahan mereka, ternyata Firman adalah seorang duda? Pasti mereka takut jika aku tahu Firman seorang duda, aku tidak akan menyetujui hubungan Vallen dan Firman. Astaga, dua anak nakal itu, Vallen dan David pasti yang merencanakan semua ini, mereka benar-benar lancang!' gumam Nurma kemudian melangkahkan kakinya keluar dari toilet.


"Delia, kenapa perasaanku jadi tidak enak setelah bertemu dengan wanita itu? Siapa wanita itu sebenarnya?"

__ADS_1


"Entahlah, tapi aku juga merasakan hal yang sama, Aini."


"Aku tidak akan tenang sebelum mengetahui siapa wanita itu sebenarnya, aku takut sesuatu terjadi pada Vallen. Vallen telah banyak membantu kita."


"Iya Aini, kau benar. Lalu apa yang harus kita lakukan?"


"Kita harus tahu siapa wanita itu sebenarnya."


"Ya, bagaimana kalau kita buntuti dia sekarang juga."


"Tidak Delia, biar aku saja, kau sebaiknya pulang saja, biar suamiku yang akan mengantarkanmu ke stasiun. Nanti kau bisa tertinggal kereta jika ikut menyelidiki wanita itu, Delia."


"Tidak apa-apa, aku bisa menunda kepulanganku. Aku sudah banyak melakukan kesalahan pada Mas Firman, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada hubungan mereka karena kita berdua. Sekarang kita sebaiknya menyelidiki siapa wanita itu."


"Oh terimakasih Delia jika kau mau ikut membantu, aku akan mengirim pesan pada Mas Roy agar dia pulang terlebih dulu."


"Lihat Delia, dia berjalan ke ruangan Vallen. Kita harus bagaimana?"


"Kita tunggu di luar saja dulu, jika sesuatu terjadi. Kita masuk ke dalam."


"Iya Delia."


Mereka lalu berjalan ke arah ruangan Vallen. Sementara Nurma yang kini sudah berdiri di depan ruangan Vallen tampak menghembuskan nafas panjangnya mencoba untuk mengontrolnya emosi di dalam dadanya yang terasa begitu bergemuruh.


TOK TOK TOK


"Masuk."

__ADS_1


Pintu ruangan Vallen pun terbuka. Perlahan Nurma pun masuk ke ruangan Vallen sambil menatap Vallen dengan tatapan tajam. Vallen yang melihat Nurma tiba-tiba ada di ruangannya pun begitu terkejut.


"Ma... Mama. Kenapa mama tidak memberitahu kalau mama akan datang ke sini?"


"Mama hanya mengantarkan berkas milik David yang tertinggal," jawab Nurma ketus disertai dengan tatapan tajam. Vallen lalu memberi kode pada Hani agar keluar dari ruangan tersebut.


"Oh, duduk dulu ma."


"Tidak usah banyak basa-basi lagi Vallen, sekarang kau tidak usah berbohong lagi padaku!"


"A.. Apa maksud mama?"


"Jadi kau belum menyadarinya? Bukankah kalian semua sudah melakukan kebohongan besar padaku!"


"Vallen sungguh benar-benar tidak mengerti ma."


"JANGAN BERPURA-PURA BODOH VALLEN!! KALIAN SEMUA SUDAH MENYEMBUNYIKAN STATUS FIRMAN SEBAGAI SEORANG DUDA KAN? BERANI-BERANINYA KALIAN MELAKUKAN SEMUA INI PADA MAMA!! KALIAN BENAR-BENAR LANCANG!!" teriak Nurma dengan begitu menggema.


Vallen pun begitu terkejut mendengar perkataan Nurma, jantungnya kini terasa terhenti, tubuhnya pun menegang bahkan kini terasa begitu bergetar, air mata pun mulai mengalir membasahi wajahnya.


"Maafkan Vallen ma, maaf," kata Vallen sambil menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di depan Nurma.


"Maafkan Vallen ma, tapi tolong jangan pisahkan Vallen dengan Firman. Vallen sangat mencintai Firman ma, tolong jangan pisahkan kami. Tolong restui hubungan kami, ma. Vallen tidak akan pernah bisa hidup tanpa Firman ma, Vallen sangat mencintai Firman," ucap Vallen dengan begitu terisak sambil memegang kaki Nurma. Sedangkan Nurma hanya menatap Vallen dengan tatapan tajam sambil menahan nafasnya yang tersengal-sengal menahan emosi di dadanya.


"Kenapa kau melakukan semua ini Vallen!! Kenapa kau melakukan kesalahan yang sama seperti kakakmu! Bukankah sudah berulangkali kukatakan agar kau tidak mengikuti jejak kakakmu! Kenapa kedua anakku harus bernasib seperti ini? Kalian bukan orang bodoh! Tapi kenapa kalian mau menerima bekas dari orang lain!!"


"Ma, tolong jangan berkata seperti itu ma. Vallen sangat mencintai Firman ma, Vallen sangat mencintai Firman ma, Vallen sangat mencintai Firman ma, tolong jangan pisahkan kami, restui kami ma," ucap Vallen dengan begitu terisak hingga tiba-tiba tubuhnya pun ambruk.

__ADS_1


"Vallen!!" teriak Nurma yang kini melihat tubuh Vallen terkapar di atas lantai.


__ADS_2