Salah Kamar

Salah Kamar
Dosa Masa Lalu


__ADS_3

"Leo apa kau mendengar sesuatu? Sepertinya terdengar ribut-ribut di belakang."


"Iya Calista, lebih baik kita ke belakang sekarang."


"Ayo." jawab Calista, kemudian mereka menuju dapur mendekat pada Giselle yang tampak begitu panik.


"Giselle apa yang terjadi?"


"Leo, aku melihat Rima mencampurkan sesuatu pada susu anak kalian."


Leo pun tampak begitu marah, dia lalu mendekat ke arah Rima yang kini terlihat begitu ketakutan.


"Rima, apa benar yang Giselle katakan jika kau telah mencampurkan sesuatu pada susu anak-anakku!" teriak Leo.


"Ti... Tidak, itu semua bohong Pak Leo." jawab Rima gugup.


"Jika kau tidak berbohong, kenapa kau terlihat gugup?"


"Emm.. E.. Itu karena Nyonya Giselle menuduhku berbuat yang tidak-tidak, bukankah sebelum Nyonya Giselle tinggal di sini aku tidak pernah melakukan apapun pada si kembar?"


"Memang apa untungnya aku tiba-tiba menuduhmu tanpa alasan yang jelas? Leo, Calista, kalian sudah lama mengenalku, aku tidak mungkin berbohong pada kalian, lebih baik kau geledah saku baju Rima kemungkinan barang bukti itu masih ada di salah satu saku bajunya."


Calista lalu menatap tajam pada Rima, perlahan dia melangkahkan kakinya mendekat pada Rima, Rima yang kini tampak begitu ketakutan lalu mengambil sebuah pisau di dekatnya kemudian mengacungkan pisau tersebut pada mereka bertiga. "Jangan mendekat padaku atau aku akan membunuh kalian!!!" teriak Rima.


"Rima, kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini?"


"Diam kau Leo karena kau lah yang menyebabkan aku jadi seperti ini!"


"Rima aku tak mengerti apa yang kau katakan?"


"Iya kau tidak pernah mengerti karena kau selalu mengalami hidup bahagia tidak seperti diriku yang hidup penuh dengan tekanan karena perbuatan orang tuamu!"


"Apa maksudmu? Jangan sembarang kau Rima! Orang tuaku tidak pernah berbuat jahat pada siapapun!"


"Itu menurutmu! Apa kau tidak sadar jika sifat buayamu itu menurun dari ayahmu yang telah menghamili ibuku lalu meninggalkannya begitu saja!" kata Rima sambil menangis tersedu-sedu.


"Oh tidak." kata Calista sambil memegang kepalanya.


"Jangan bicara sembarangan kau Rima!"

__ADS_1


"Memang itulah kenyataannya! Apa kau ingat saat kau masih kecil di rumah ini ada seorang pembantu yang bernama Kartika? Itu adalah ibukuuuuu itu adalah ibukuuuuu Leo dan ayahmu memerkosanya hingga hamil kemudian dia mengugurkan kandungan itu secara paksa, padahal ibuku sudah memiliki suami dan anak! Ayahku pun sampai meninggalkan kami berdua karena ibuku yang depresi akibat ulah ayahmu!"


Leo begitu terkejut mendengar pengakuan Rima, perasaannya terasa begitu kacau, Rasa bersalah pun memenuhi isi hatinya. "Maafkan aku Rima, sungguh aku tidak tahu. Atas nama orang tuaku aku meminta maaf padamu."


"Semudah itu kau mengucapkan maaf setelah bertahun-tahun aku dan ibuku hidup dalam kepahitan!"


"Lalu apa yang harus kulakukan agar kau memaafkan aku dan orang tuaku?"


"Aku ingin menyakiti anakmu Leo agar kau bisa melihat bagaimana sakitnya melihat orang yang kita sayangi hancur! Aku ingin membunuh anak-anak mu Leo!! teriak Rima.


"Rima cukup!" bentak Calista.


"Kau kenapa Calista? Kau mau membela suamimu yang buaya darat itu?"


"Cukup kau tidak usah menjelek-jelekkan Leo! Dia bahkan tidak tahu masa lalu orang tuanya, kenapa dia harus menanggung dosa atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat? Itu tidak adil Rima!"


"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membiarkan kalian selalu hidup bahagia sedangkan hidupku sendiri sangatlah menderita!"


"Tapi balas dendam bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah! Dendam hanya akan menimbulkan masalah baru yang tidak berkesudahan, kau sudah dewasa Rima, kau seharusnya menyadari itu!" kata Calista.


"Rima, tolong maafkan aku, maafkan perbuatan kedua orang tuaku, antarkan aku kepada ibumu untuk meminta maaf darinya."


"Kalau begitu besok tolong kau antarkan aku ke makam ibumu, aku ingin meminta maaf hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebus dosaku pada kalian."


Calista lalu mendekat pada Rima yang masih menangis namun kini terlihat jauh lebih tenang. "Rima, maafkan lah suamiku, tolong maafkan Leo dan hapuskan semua dendammu padanya karena dia tidak tahu apapun tentang kesalahan masa lalu orang tuanya, dan biarkan dia menebus kesalahan mereka padamu."


"Aaa.. Apa maksudmu Calista?" tanya Rima.


"Leo akan menganggapmu sebagai adiknya, kami akan menjamin kehidupanmu, jika kau ingin bersekolah kembali untuk menata masa depanmu kami akan membiayaimu."


"Jadi kalian ingin menyogokku dengan uang yang kalian miliki untuk melupakan masa laluku?"


"Rima tidak ada yang menyuruhmu melupakan masa lalumu, tapi apa tidak bisa kami menebus dosa ayahku dengan berbuat baik padamu! Ingatlah Rima, dendam tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan menimbulkan masalah baru yang tidak berkesudahan, sekarang coba kau pikir jika kau membunuh anak kami, kau akan masuk penjara dan akan meninggalkan dendam kembali di kemudian hari."


Calista lalu memeluk Rima yang kini menangis. "Tolong hapuskan dendammu Rima. Tolong." kata Calista sambil memeluk dan menggenggam tangan Rima yang masih menangis.


"Pertimbangkan permintaan kami untuk berdamai dan menebus dosa-dosa masa lalu kedua orang tuan kami." kata Calista lagi hingga cukup lama Rima menangis, akhirnya dia pun mengangguk.


"Terimakasih Rima, terimakasih, sekarang kau adalah bagian dari keluarga kami." kata Calista.

__ADS_1


Giselle yang sedari tadi diam dan berdiri tak jauh dari Leo hanya bisa tersenyum melihat kejadian yang ada di hadapannya. Hatinya sedikit teriris karena mendengar kejadian yang dialami oleh orang tua Rima sedikit mirip dengan kisah masa lalunya dengan Leo.


"Leo aku masuk ke kamar dulu."


"Iya Giselle."


Namun baru saja Giselle akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba kepalanya terasa begitu pusing dan membuatnya terjatuh. "Giselle, kau kenapa?" tanya Leo sambil membantu Giselle berdiri.


"Hanya sedikit pusing Leo."


"Oh ya sudah kau istirahat saja Giselle." kata Leo sambil memandang Calista.


***


Revan mengendarai mobilnya tak tentu arah. "Giselle dimana kau sebenarnya?" teriak Revan.


'Lebih baik aku ke rumahnya saja.' gumam Revan sambil melajukan mobilnya ke arah rumah Giselle, namun setelah sampai di rumah Giselle, rumah itu tampak begitu sepi.


"Apa mereka sudah tidur?"


"Lebih baik kutunggu di sini saja sampai ada yang keluar dari rumah." kata Revan sambil menatap rumah Giselle.


Tak terasa hari pun telah berganti, Revan bahkan baru sadar jika saat ini dirinya ketiduran di dalam mobil saat sedang mengintai rumah Giselle.


'Sial, sudah pagi, lebih baik aku ke rumahnya saja.' gumam Revan sambil turun dari mobil.


Setelah cukup lama Revan mengetuk pintu, akhirnya seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu.


"Selamat pagi Bu, bisakah saya bertemu dengan Giselle?"


"Oh Giselle? Maaf Giselle tidak ada di rumah, dia saat ini bekerja di luar kota Nak," jawab wanita paruh baya tersebut.


'Sial jadi dia tidak pulang ke rumah.' umpat Revan.


"Baik Bu, kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya Nak."


Revan lalu masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang begitu tak menentu. "Kau dimana Giselle!!" teriak Revan saat dia sudah ada di dalam mobilnya.

__ADS_1


"Oh ya, bukankah Giselle dekat dengan Calista? Mungkin saat ini Giselle ada di rumah Leo." kata Revan sambil tersenyum.


__ADS_2