
"Maa.. Maaf aku tidak bisa meminum teh itu." kata Ilham sambil menjauhkan cangkir itu dari bibirnya.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan teh ini? Kenapa kau begitu takut pada secangkir teh, Ilham?"
"Aku hanya tidak haus, dan aku alergi dengan teh."
Mendengar perkataan Ilham, Leo pun tersenyum kecut.
"Aa.. Apa masih ada yang ingin kalian bicarakan lagi? Jika tidak ada bolehkah aku kembali ke selku, aku sedang tidak enak badan." kata Ilham dengan gugup.
"Kembalilah ke selmu. Fandi, antar Ilham masuk ke selnya."
"Baik komandan."
Setelah Ilham keluar dari ruangan komandan Firdaus, mereka semua yang ada di ruangan itu pun tertawa.
"Nyalimu sebenarnya sangat kecil Ilham." kata Leo sambil tersenyum kecut.
Sedangkan Ilham kembali ke selnya dengan perasaan begitu marah. 'Kalian semua benar-benar breng*ek! Kalian telah mempermainkan aku, jadi kalian semua sudah tahu jika teh itu mengandung racun? Kalian memang sama liciknya denganku, tapi kenapa jika mereka sudah mengetahui semua itu, mereka tidak memberikan hukuman tambahan padaku? Pasti mereka sedang merencanakan sesuatu, aku harus berhati-hati!' kata Ilham dalam hati sambil menatap tajam pada Leo dan Kenan yang kini tampak keluar dari ruangan komandan Firdaus.
'Awas Kenan, Leo, aku tidak main-main. Aku pasti akan membunuh kalian berdua.'
☘️☘️☘️☘️
TOK TOK TOK
Drey dan Rima yang sedang mengobrol sedikit terkejut mendengar suara ketukan di pintu kamar.
"Drey, Rima, ini mama."
"Iya ma, sebentar.'' jawab Drey kemudian membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa ma?"
"Lihat ini." kata Risma sambil memperlihatkan sebuah kursi roda. Dia lalu masuk ke dalam kamar Drey dan mendekat pada Rima.
"Rima, mama memberikan kursi roda ini untukmu, aku tahu kakimu masih sakit dan sulit untuk berjalan, selain itu kursi roda ini juga bisa membantumu agar tidak terlalu banyak bergerak, karena kondisi kehamilanmu yang masih sedikit rentan, jadi untuk sementara waktu kau pakai saja kursi roda ini terlebih dahulu."
Rima pun menatap mamanya Drey dengan tatapan sendu, air mata pun kemudian mulai menetes di pipinya. "Terimakasih ma, mama begitu baik padaku." kata Rima sambil terisak.
"Sudahlah Rima, kau adalah istri Drey, jadi kau juga anakku." kata Risma sambil menggenggam telapak tangan Rima.
"Terimakasih ma," kata Rima kemudian memeluknya. Risma pun kemudian tersenyum dan mulai membelai rambut Rima yang ada dalam pelukannya.
"Maaf ma, jika Rima lancang memeluk mama, sejak kecil Rima tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ibu, dan Rima baru bisa merasakan ini semua dari mama, meskipun mama belum mengenal Rima, tapi mama sudah begitu baik pada Rima." kata Rima sambil terus terisak.
__ADS_1
"Rima, sejak kau menikah dengan Drey, aku adalah ibumu dan aku akan menyayangimu sama seperti anakku, jangan pernah sungkan padaku."
"Iya ma terimaksih banyak." kata Rima sambil melepas pelukannya pada Risma. Risma pun kemudian menghapus air mata di wajah Rima kemudian tersenyum.
"Sudah jangan menangis, tersenyumlah, kau sangat cantik jika tersenyum Rima."
"Iya ma."
Perasaan Drey pun terasa begitu teriris melihat kedekatan Rima dan mamanya kini. 'Oh tuhan, maafkan aku. Ternyata aku sudah melakukan kesalahan yang begitu besar karena sudah membohongi ibuku.' kata Drey dalam hati.
"Sebaiknya kau istirahat sayang. Mama tinggal dulu ya."
"Iya ma, sekali lagi terimakasih banyak ma."
"Iya sayang." kata Risma kemudian berjalan meninggalkan kamar Drey.
Rima pun kemudian menatap Drey yang kini tampak mendekat padanya.
"Drey, mamamu begitu baik padaku, sepertinya kita telah melakukan kesalahan yang begitu besar dengan membohonginya."
Drey pun termenung mendengar perkataan Rima. "Maafkan aku, aku juga tidak menyangka akan jadi seperti ini. Kupikir mama tidak akan bersikap sebaik ini padamu, karena yang kutahu mama hanya ingin aku untuk menikah. Maafkan aku telah menyeretmu ke dalam kebohongan ini."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Menikah."
"Hanya itu jalan satu-satunya, kita harus menikah setelah kau bercerai dari Ilham."
"Ta.. Tapi, bahkan kita tidak saling mencintai Drey."
"Rima, aku tidak menyuruhmu untuk mencintaiku. Aku hanya ingin mendapatkan status ini agar tidak mengecewakan mama. Lagipula anak yang ada di dalam kandunganmu juga membutuhkan seorang ayah kan?"
Hati Rima pun kini terasa begitu sakit. 'Tuhan, apakah aku kembali harus menjalani pernikahan tanpa cinta?' kata Rima dalam hati.
"Bagaimana kau mau menikah denganku kan?"
"Entahlah, tapi sepertinya aku tidak punya pilihan lain."
☘️☘️☘️☘️☘️
"Hei cepat kemasi barangmu." kata seorang polisi pada Ilham.
"Apa maksud anda? Apa aku dibebaskan?"
"Enak saja dibebaskan, kau hanya akan dipindahkan."
__ADS_1
"Oh, baik." jawab Ilham kemudian dia mengemasi pakaiannya.
"Jangan lama-lama."
"Iya ini sudah selesai." jawab Ilham.
"Sekarang ikut aku." kata polisi itu. Ilham lalu mengikuti polisi itu dan masuk ke dalam sebuah mobil, dan di dalam mobil tersebut sudah ada dua orang polisi yang menunggunya.
"Aku akan dipindahkan kemana?" tanya Ilham pada polisi yang ada di sampingnya.
"Ini bukan urusanmu." jawab polisi tersebut.
"Pak polisi, saya sangat mengantuk, bolehkah saya tidur?"
"Tentu, perjalanannya juga masih sedikit jauh, kau tidur saja terlebih dulu. Nanti kalau sudah sampai kau kubangunkan."
"Terimakasih." jawab Ilham kemudian dia pura-pura tertidur.
Melihat Ilham yang kini memejamkan matanya, para polisi itu pun kemudian tersenyum.
"Akhirnya manusia sakit jiwa ini bisa keluar dari kantor kita."
"Ya, sebenarnya aku merasa was-was, dia bisa saja meracuni kita kapanpun yang dia mau. Hahahaha."
"Kau benar, dia sangat membahayakan. Rumah sakit jiwa adalah tempat terbaiknya untuk saat ini."
Ilham yang pura-pura tertidur mendengar obrolan para polisi tersebut. Emosi pun kini begitu menyelimuti hatinya.
'Jadi sekarang aku mau dibawa ke rumah sakit jiwa? Dasar kalian semua memang bren*sek, ini pasti ulah Leo dan Kenan saat kemarin mereka bertemu komandan Firdaus!' kata Ilham dalam hati.
Dia lalu melirik pada polisi yang ada di sampingnya dan melihat sebuah pistol yang ada di pinggang polisi tersebut, Ilham pun kemudian tersenyum. Secepat kilat dia mengambil pistol yang ada di dekat tangannya. Polisi itu yang masih asyik bercanda bersama teman-temannya pun begitu terkejut karena pistol miliknya kini sudah berada di tangan Ilham.
"Hei kau jangan main-main!" bentak polisi tersebut.
"Aku tidak main-main karena kalian sudah berani mengusik hidupku."
"Kami tidak mengusik hidupmu!"
"Apa ini namanya jika tidak mengusik hidupku? Kalian mau memindahkan aku ke rumah sakit jiwa kan?"
"Tidak, kami tidak akan membawamu ke rumah sakit jiwa."
"JANGAN BERBOHONG!" teriak Ilham.
DOR DOR DOR!
__ADS_1
Lalu suara tembakan pun terdengar dari dalam mobil tersebut.