Salah Kamar

Salah Kamar
Makan Malam


__ADS_3

Vallen duduk di kursinya, lalu beberapa kali menghembuskan nafas panjangnya sambil sesekali menekan-nekan pulpen yang ada di tangannya ke atas meja.


"Dokter, sebenarnya apa yang sedang anda lakukan? Sepertinya sejak tadi anda terlihat begitu kesal, saat memeriksa pasien pun anda sangat jarang tersenyum, tidak seperti biasanya." kata Hani sambil melihat Vallen yang kini sedang mere*as-re*as bajunya, raut wajahnya pun kini juga terlihat begitu kesal.


'Aneh sekali.' gumam Hani.


"Hani bagaimana aku tidak kesal, aku baru saja tahu jika ternyata banyak karyawan wanita yang menyukai Firman di kantornya, coba kau pikir bagaimana perasaanku Hani? Ini benar-benar sungguh mengganggu pikiranku dan aku sangatlah kesal!!!"


"Memang siapa yang mengatakan itu pada anda, dokter? Apakah Firman sendiri yang mengatakan pada anda?"


"Bukan Firman, tapi salah satu teman kantor Firman yang kebetulan juga temanku, tadi pagi dia mengatakannya padaku."


'Tepatnya mantan kekasiku.' gumam Vallen.


"Dokter bukankah anda tahu jika Firman sangat mencintai anda? Apa itu belum cukup?"


"Tidak Hani! Bagiku itu tidak cukup karena mereka semua harus tahu jika Firman telah memiliki is..."


"Is?" tanya Hani sambil mengerutkan keningnya.


"Maksudku calon istri yang sangat cantik, dia harus tahu ituuuu Haniiiii!!!"


"Astaga dokter, ternyata anda sangat pencemburu."


"Biarkan saja, ini sangat menggangu pikiranku Hani." kata Vallen disertai raut wajah yang begitu murung.


"Dokter, lebih baik anda pergi ke kantor Firman sekarang, biar pekerjaan anda saya yang kerjakan."


"Hahahaha, itu kata-kata yang kutunggu darimu, Hani. Terimakasih banyak, aku pergi dulu." kata Vallen sambil terkekeh lalu keluar dari ruangannya.


"Dasar dokter aneh." gerutu Hani sambil menatap Vallen yang sudah meninggalkannya sendirian di ruangan tersebut.


"Aku akan membeli makan siang terlebih dulu jadi saat aku datang ke kantor Firman aku akan beralasan kalau aku akan mengajaknya makan siang. Jadi dia tidak akan curiga padaku jika aku datang ke kantornya untuk memberi peringatan pada para karyawan yang ada di kantornya untuk tidak mendekati suamiku." kata Vallen sambil berjalan keluar dari rumah sakit.


Satu jam kemudian, dia pun sudah sampai di kantor Firman, bergegas dia menuju ke resepsionis yang ada di lobi kantor untuk menanyakan ruangan Firman.


"Permisi, dimana ruangan Pak Firman? Saya istrinya."


"Oh ruangan Pak Firman ada di lantai delapan, setelah anda menaiki lift anda bisa langsung belok kanan, ruangannya ada di pojok lantai itu."

__ADS_1


"Oh baik terimakasih banyak." jawab Vallen lalu masuk ke dalam lift. Saat pintu lift terbuka, Vallen pun sedikit terkejut karena Rayhan sudah berdiri di depan pintu lift tersebut.


"Oh Rayhan, kita bertemu lagi." kata Vallen dengan sedikit terkejut.


"Ya, aku baru saja selesai meeting di sini. Kau mau bertemu dengan Firman?"


"Ya, aku mengantarkan makan siang untuknya."


"Oh, dia tadi meeting bersamaku tapi sepertinya saat ini dia sudah kembali ke ruangannya. Kau coba saja langsung ke ruangannya."


"Iya Rayhan terimakasih banyak." kata Vallen sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Rayhan yang masih menunggu di depan lift.


"FIRMANNNNNN!!!" teriak Vallen saat melihat Firman yang sedang berjalan.


"Vallen, kau mengagetkanku. Kenapa kau tiba-tiba ke sini?"


"Aku ingin makan siang disini denganmu, aku sedang bosan jadi aku pergi ke sini."


"Baik, kita ke ruanganku saja."


Firman dan Vallen lalu memandang Rayhan.


"Ya." jawab Rayhan sambil tersenyum lalu masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka.


Vallen berjalan ke ruangan Firman sambil sesekali melirik beberapa karyawan wanita yang sedang memperhatikan mereka sambil berbisik-bisik.


'Sekarang kalian lihat sendiri jika Firman sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik, jadi kalian jangan coba-coba menyukai suamiku.' gumam Vallen kemudian menggandeng tangan Firman sambil terkekeh.


"Kau kenapa Vallen?" tanya Firman yang tiba-tiba menggandeng tangannya dengan begitu erat.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing."


"Apa kau masih sakit? Kalau kau masih sakit sebaiknya tidak usah kesini."


"Tidak apa-apa, aku hanya sedang bosan di rumah sakit." kata Vallen dengan raut wajah lesu dan begitu manja.


"Ya sudah kita langsung masuk ke ruanganku saja agar kau bisa beristirahat." kata Firman kemudian memeluk pinggang Vallen.


Setelah mereka berdua masuk ke dalam ruangan Firman, celotehan pun semakin terdengar diantara sesama karyawan.

__ADS_1


"Kalian semua sebaiknya tidak usah berharap lagi, istrinya sangat cantik."


"Dia juga dokter, tidak sebanding dengan kita."


"Sepertinya Pak Firman juga sangat mencintainya."


"Aku sangat patah hati."


Vallen yang dengan sengaja mendengarkan celotehan para karyawan tersebut dibalik pintu ruangan Firman lalu tersenyum.


'Makanya jangan main-main denganku.' gumam Vallen sambil terkekeh.


"Vallen kau sedang apa?"


"Tidak apa-apa, lebih baik kita makan siang sekarang, aku sudah lapar." kata Vallen sambil meringis.


"Iya, ayo kau kusuapi, kau masih sakit kan?"


"Ya." kata Vallen lalu membuka mulutnya.


"Hahahaha, dasar aneh."


Namun tiba-tiba ponsel Firman pun berbunyi.


"Tante Nurma." kata Firman. Dia lalu mengangkat panggilan itu.


[Halo.]


[Ya halo Firman, apa kau sedang sibuk?]


[Tidak tante, ada apa?]


'Tante?' gumam Vallen dalam hati.


[Apakah nanti malam kau ada waktu untuk makan malam bersama denganku dan putriku?]


[Makan malam?]


'Tante? Makan malam? Astaga?' gumam Vallen hingga emosi pun kini tidak bisa lagi dibendungnya.

__ADS_1


"Apa makan malam???? Siapa yang mengajakmu makan malam FIRMANNNNN???"


__ADS_2