Salah Kamar

Salah Kamar
Ruang Perawatan Bayi


__ADS_3

"Ya." jawab Aini.


Laki-laki itu lalu mendekat pada Aini kemudian membantu Aini untuk turun dari ranjangnya dan membantunya menaiki kursi roda.


"Siapa namamu? Sejak semalam kita sudah berbincang-bincang tapi kita belum saling mengenal." tanya Aini.


"Roy, namaku Roy. Panggil saja aku Roy, anggap saja aku sebagai temanmu jadi panggil namaku saja. Lalu siapa namamu?"


"Aini, tapi bukankah kau jauh lebih tua dariku?"


"Tidak apa-apa panggil namaku saja."


'Karena aku tidak pantas dihormati olehmu Aini, akulah orang yang merenggut masa depanmu.' kata Roy dalam hati.


"Baik."


Roy lalu mendorong kursi roda Aini keluar dari ruang perawatannya kemudian berjalan ke arah ruang perawatan khusus bayi.


"Apakah proses pemakaman istrimu sudah selesai?"


"Ya, proses pemakamannya sudah, sebenarnya masih banyak sekali tamu tapi aku meminta ijin pada keluargaku untuk menjenguk anakku sebentar."


"Terimakasih."


"Untuk apa?"


"Karena kau sudah meluangkan waktumu."


Roy pun kemudian tersenyum.


"Ya, aku juga ingin bertemu dengan putraku."


Tak lama setelah beberapa kali melewati lorong rumah sakit, mereka pun akhirnya sampai di ruang perawatan khusus bayi yang ada di rumah sakit tersebut.


"Itu putraku." kata Roy sambil menunjuk seorang bayi yang terlihat masih sangat kecil karena terlahir prematur.


"Lucu sekali, dia bayi yang tampan, pasti ibunya sangat cantik."


Mendengar perkataan Aini, Roy pun meneteskan air matanya kembali. "Ya, dia wanita yang sangat cantik dan baik."


Melihat Roy menangis, Aini pun dihinggapi rasa bersalah. "Maafkan aku sudah membuatmu kembali bersedih."


"Tidak apa-apa, perasaan ini memang tidak bisa kuhindari karena melupakan orang yang paling kita cintai itu memang tidak mudah."


"Kau benar, memang tidak mudah melupakan orang yang sangat kita cintai."


"Jika putramu sudah keluar dari ruang inkubator itu bolehkah aku menemuinya kembali?"


"Ya, temuilah dia kapanpun yang kau mau."


"Benarkah aku boleh menemuinya kapanpun?"


"Ya."


Tiba-tiba seorang perawat pun mendekat pada mereka berdua. "Permisi Tuan Roy, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."

__ADS_1


"Iya ada apa?"


"Bisakah anda membelikan susu formula untuk putra anda? Kami akan mencoba memberikan susu untuk putra anda."


"Baik, saya akan membelikannya susu formula."


"Terimakasih Tuan Roy, saya tunggu." jawab perawat tersebut.


"Kau tunggu disini sebentar ya, aku mau membelikan susu untuk putraku." kata Roy.


Namun saat Roy akan meninggalkan Aini, tiba-tiba Aini memegang tangannya.


"Jangan." kata Aini sambil memegang tangan Roy. Roy pun begitu terkejut melihat tangan Aini yang sudah menempel di tangannya. Melihat tatapan penuh tanda tanya dari Roy, Aini pun melepaskan tangannya.


"Maaf, aku tidak sengaja memegang tanganmu."


"Tidak apa, aku pergi dulu."


"Jangan pergi."


"Kenapa kau tidak memperbolehkan aku pergi?" tanya Roy sambil mengerutkan keningnya.


"Susu formula tidak baik untuk bayi yang baru lahir."


"Lalu? Apa yang harus kulakukan? Bukankah kau tahu istriku sudah meninggal."


Aini pun terdiam, lalu menundukkan wajahnya.


"Jika kau memperbolehkannya, aku ingin menyusui putramu." kata Aini dengan begitu lirih, masih dengan wajah yang tertunduk.


Roy pun begitu terkejut mendengar perkataan Aini. "Apa?" tanya Roy dengan tatapan penuh tanda tanya.


Roy pun bersimpuh di depan kursi roda Aini. "Benarkah kau mau memberikan ASI mu untuk putraku?"


Aini pun terdiam lalu mengangguk perlahan. "Jika kau mengijinkan." jawab Aini dengan begitu lirih.


"Terimakasih."


"Apa kau mengijinkanku?" tanya Aini dengan penuh tanda tanya.


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


Olivia kembali dari minimarket lalu langsung menuju ke ruang perawatan Aini, namun betapa terkejutnya dia saat melihat Aini yang tidak ada di ruang perawatan tersebut.


"ASTAGA!" teriak Olivia.


"Aini, kau dimana Aini?" kata Olivia. Dia lalu melihat ke dalam kamar mandi, namun kamar mandi tersebut kosong.


"Di dalam kamar mandi juga tidak ada, dimana dia?" kata Olivia sambil menggigit bibirnya.


"Lebih baik aku mencarinya di dalam rumah sakit ini." kata Olivia kemudian keluar dari ruang perawatan itu. Saat tengah berjalan di dalam lorong rumah sakit, tiba-tiba ada sebuah suara yang memanggil dirinya.


"Olive." panggil suara tersebut.


Olivia lalu membalikkan tubuhnya dan melihat David yang kini sudah berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Kau Olivia kan? Adik Calista?"


"Iya Dokter David, aku Olivia."


"Ada apa Olive, kenapa kau tampak begitu cemas?"


"Emh begini David, saudaraku menjadi salah satu korban dalam kecelakaan beruntun kemarin, dia selamat tapi putranya meninggal."


"Aku turut berdukacita, Olive."


"Iya, tapi saat ini saudariku hilang, David. Tadi aku memang meninggalkannya untuk pergi ke minimarket sebentar tapi saat aku kembali lagi dia sudah tidak ada di kamarnya."


"Apa? Apakah dia melarikan diri dari rumah sakit ini, Olive?"


"Sepertinya tidak mungkin karena dia baru dioperasi sesar, mustahil dia bisa pergi dari rumah sakit ini dengan kondisinya yang masih lemah. Selain itu, dia juga mengalami beberapa luka di bagian tubuhnya yang bisa menghambat geraknya."


"Kau benar juga Olive, jadi kemungkinan besar dia masih ada di rumah sakit ini."


"Iya David, karena tadi malam dia juga keluar dari ruang perawatan secara tiba-tiba."


"Lalu, kalian menemukannya dimana?"


"Di ruang jenazah, dia ingin melihat jenazah putranya jadi dia pergi diam-diam ke ruang jenazah itu. Tapi saat ini jenazah putranya sudah tidak ada lagi di rumah sakit ini karena akan dimakamkan siang ini, lalu kemana dia pergi?"


"Olive jika tadi malam dia pergi ke ruang jenazah, bisa saja hari ini dia pergi ke ruang perawatan bayi? Dia tidak mungkin pergi ke ruang jenazah itu kembali karena putranya sudah tidak ada di sana, lalu dia juga tidak mungkin sengaja pergi ke ruang pasien lain kan?"


"Kau benar David, bisakah kau menunjukkan padaku dimana ruang perawatan bayi?"


"Tentu saja, aku akan mengantarmu kesana."


"Ayo." jawab Olivia.


Mereka lalu pergi ke ruang perawatan bayi yang ada di rumah sakit tersebut.


"Hei itu Roy." kata Olivia saat melihat Roy yang kini sedang duduk di depan ruang perawatan bayi.


"Roy? Siapa dia?" tanya David.


"Dia teman Kenan, istrinya juga menjadi korban dalam kecelakaan beruntun itu, namun istrinya meninggal sedangkan anak yang ada di dalam kandungan istrinya selamat."


"Astaga, kasihan sekali."


"Ya, ayo kita kesana, David."


"Iya Olive."


David dan Olivia lalu mendekat pada Roy.


"Roy." panggil Olivia.


Roy pun begitu terkejut melihat Olivia yang kini sudah ada di hadapannya.


"Roy, apa kau tahu dimana Aini?" tanya Olivia.


Roy pun mengangguk. "Ya, aku tahu."

__ADS_1


Olivia pun begitu bahagia mendengar jawaban Roy. "Dimana Aini, Roy?" tanya Olivia kembali.


Namun Roy hanya terdiam, hatinya terasa begitu bimbang untuk menjawab pertanyaan Olivia.


__ADS_2