Salah Kamar

Salah Kamar
Kalut


__ADS_3

"Tante, sebaiknya kita tidak usah menanyakan hal itu sekarang, dia masih tertekan akibat kematian istrinya, mungkin dia lupa menaruh dimana bunga dari tante untukku.


"Iya Aini." jawab Heni, kemudian mereka keluar mendekat pada Olivia dan Roy.


"Kau sudah selesai Aini?" tanya Olivia.


"Ya, aku sudah selesai Mba."


"Kita kembali sekarang?"


Aini pun tersenyum sambil mengangguk.


"Terimakasih banyak, Aini." kata Heni.


"Terimakasih." kata Roy.


"Iya sama-sama, Aini permisi dulu."


"Mari Tante Heni, Roy, kami kembali ke kamar Aini dulu." kata Olivia.


"Iya." jawab Heni dan Roy bersamaan.


Olivia lalu mendorong Aini kembali ke ruang perawatan.


"Mba Olive, bagaimana caranya lepas dari Dimas? Hari ini aku tidak ingin bertemu dengannya."


"Aini, untuk sementara saja, bersabarlah."


"Melihatnya membuat hatiku semakin sakit, Mba." jawab Aini sambil meneteskan sebutir air mata.


"Sabar Aini."


🌸🌿🌸🌿🌸🌿


Pintu kamar perawatan Aini pun terbuka. Calista yang masuk ke dalam kamar ruang perawatan itu pun sedikit terkejut saat melihat seorang lelaki muda yang duduk di sofa.


"Kau siapa?" tanya Calista.


"Oh, perkenalkan saya Dimas, suami Aini."


"Oh, aku Calista, saudara sepupu Aini."


"Iya Mba Calista."


"Lalu dimana Aini? Apa Olivia sudah kesini?"


"Mba Olive sudah datang mba, mereka sedang ke ruang bayi."


"Oh jadi mereka ada di sana? Lebih baik aku menyusul mereka saja." kata Calista, namun saat dia akan pergi tiba-tiba Dimas mencegahnya.


"Tunggu Mba Calista." kata Dimas.

__ADS_1


Calista pun mengehentikan langkahnya.


"Ada apa, Dimas?"


"Maaf jika aku sudah lancang mencegah Mba Calista pergi, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutanyakan."


"Ada yang ingin kau tanyakan? Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Calista sambil mengerutkan keningnya.


"Emh... Sebenarnya siapa yang Aini temui di ruang perawatan bayi tersebut? Bukankah putra kami sudah meninggal?"


"Oh bayi itu, bayi itu putra dari korban kecelakaan itu juga, ibunya meninggal lalu Aini memberikan ASI nya pada bayi itu. Dan kebetulan orang tua bayi itu adalah sahabat Kenan, suami Olivia."


"Oh, apa bayi itu begitu berharga bagi Aini sehingga dia harus memberikan ASI nya untuk bayi itu?"


"Oh kalau mengenai itu kau tanyakan saja pada Aini, aku tidak bisa menjawabnya."


Pintu kamar perawatan itu pun terbuka.


CEKLEK


Aini dan Olivia pun masuk ke dalam kamar perawatan itu.


"Kakak, kau sudah disini?" tanya Olivia.


"Ya, aku baru saja datang, Olive. Kalian baru ke ruang bayi?"


"Ya, nama bayi itu Darren Mba Calista." jawab Aini sambil tersenyum.


"Aini, apa pentingnya bayi itu bagimu? Kenapa kau barus memberikan ASI mu untuknya?"


"Itu bukan urusanmu, Dimas."


"Tentu menjadi urusanku karena bagaimanapun juga kau masih istriku."


"Apa salahnya memberikan apa yang aku miliki pada yang membutuhkan? Bayi itu sudah kehilangan ibunya, apa aku salah memberikan ASI ku untuknya?"


"Tapi kau harus ijin padaku, Aini. Aku adalah suamimu, mulai hari ini aku minta padamu agar tidak memberikan ASI mu lagi pada bayi itu! Ini adalah perintah suamimu Aini, kau akan berdosa jika tidak menuruti perintah suamimu!"


Aini pun memandang Dimas dengan tatapan tajam. "Apa kau lupa jika sebentar lagi kita akan berpisah? Aku sudah berbaik hati membiarkanmu menemaniku di rumah sakit ini sebelum kita benar-benar berpisah, tapi sikapmu masih saja seperti ini, Dimas. Aku menyesal sudah mengijinkanmu menemaniku disini."


πŸ’«πŸ’«πŸ’«


Olivia dan Calista pun hanya saling berpandangan sambil menggelengkan kepala mereka.


"Bagaimana Kak?" bisik Olivia.


"Kita tidak usah ikut campur dulu Olive, jika situsnya semakin memanas aku akan mengajak Dimas keluar dan kau menenangkan Aini."


"Iya Kak."


πŸ’«πŸ’«πŸ’«

__ADS_1


"Aini meskipun kita akan bercerai tapi untuk saat ini aku masih menjadi suamimu. Jadi tolong turuti perintahku."


"Tidak, karena aku sangat menyayangi bayi itu."


"Kau sangat menyayangi bayi itu, Aini?"


Aini pun hanya terdiam.


"Aini, coba berfikirlah dengan kepala dingin, tolong pikirkan lagi perceraian kita, kau masih bisa memiliki anak lagi dari rahimmu jika kau mengurungkan perceraian kita, Aini. Kau bisa memberikan kasih sayangmu pada anak kandung kita, bukan pada anak orang lain. Aini, coba pikirkan kembali kata-kataku, kita masih memiliki banyak waktu dan kesempatan."


"Tidak semudah itu, Dimas."


"Aini, cobalah mulai membuka hatimu padaku, lupakan semua masa kelam yang pernah terjadi diantara kita."


"Heh mudah sekali kau berkata seperti itu setelah menghancurkan hatiku dan kehidupanku."


"Aini, tolong maafkan aku." kata Dimas sambil terisak.


"Kembalilah padaku Aini, bukalah lembaran baru bersamaku. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitimu, lupakanlah semua masa lalu itu, kita bisa memiliki banyak anak untuk mengobati rasa kehilanganmu pada anak kita."


"Memiliki banyak anak? Tidak semudah itu Dimas, karena ada sesuatu hal yang belum kau tahu dariku."


"Apa Aini? Apa yang belum aku tahu darimu? Bukankah kita masih bisa memiliki anak jika kau mau membuka hatimu dan memberikan kesempatan untukku?"


Aini pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Apa sebenarnya yang belum kuketahui tentangmu, Aini?"


Aini lalu menatap Dimas. "Jadi kau benar-benar ingin tahu tentang diriku yang sekarang?"


"Ya." jawab Dimas sambil menganggukkan kepalanya.


"Dimas dengarkan aku, saat kecelakaan itu terjadi, aku mengalami luka yang cukup parah di bagian perutku karena terkena pecahan kaca, itulah sebabnya setelah sampai di rumah sakit dokter langsung mengoperasiku untuk menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandunganku tapi sayangnya anak itu sudah meninggal dan tidak bisa diselamatkan."


"Ya aku tahu itu, Mba Laras sudah menceritakan itu padaku."


"Tapi tidak hanya itu Dimas, pecahan kaca itu juga mengenai ovarium ku yang membuat ovariumku rusak."


"A...Apa maksudmu? Apa yang kau maksud ovariummu rusak?"


"Ketidaksuburan, akan sangat sulit bagiku untuk bisa mengandung dan memiliki seorang anak, Dimas."


"Ti... Tidak mungkin." kata Dimas sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Itulah kenyataannya, karena kecelakaan itu aku mengalami ketidaksuburan yang membuatku sulit untuk bisa hamil kembali." kata Aini sambil tersenyum kecut.


'Oh tidak.' kata Dimas dalam hati.


"Itulah alasannya aku sangat menyayangi bayi itu, bayi itu sudah kuanggap sebagai anak kandungku sendiri, dialah belahan jiwaku dan semangat bagiku saat ini dalam menjalani hidup karena bagiku Tuhan telah memberikan kesempatan padaku untuk menjadi seorang ibu melalui Darren, jadi tolong jangan menyuruhku untuk berhenti bertemu dan memberikan kasih sayangku padanya."


Mendengar penjelasan panjang lebar dari Aini, Dimas pun hanya terdiam. Hatinya mulai dilanda kekalutan dan rasa cemas.

__ADS_1


'Ini tidak mungkin, jika Aini tidak bisa hamil lagi bagaimana aku bisa melanjutkan keturunanku, apa kata kedua orang tuaku nanti?' gumam Dimas dalam hati.


__ADS_2