Salah Kamar

Salah Kamar
Lelaki Cadangan


__ADS_3

Giselle menatap hujan yang turun dengan derasnya di kegelapan malam. 'Cuaca di malam hari akhir-akhir ini benar-benar buruk, sama seperti hatiku.' gumam Giselle sambil tersenyum kecut.


'Astaga, kenapa aku merasa seperti ini? Tidak boleh Giselle, tidak boleh, aku tidak boleh mencintai Revan karena dia laki-laki yang kejam, bisa-bisa aku hidup menderita jika terus bersamanya.' gumam Giselle kembali.


"Kau sudah makan malam?" bisik sebuah suara di telinga Giselle.


"Re.. Revan, kenapa kau disini?"


"Ini apartemenku, apa salahnya aku disini?"


"Ta.. Tapi bagaimana dengan Stella? Siapa yang menunggu dia di rumah sakit?"


"Dia sudah tidur dan ditemani oleh Bu Cici, asisten rumah tangganya. Dokter juga sudah memberikan obat penenang untuknya jadi aku bisa pulang, malam ini aku ingin tidur di kasurku yang empuk."


"Oh."


"Kenapa hanya Oh saja, kau belum menjawab pertanyaanku, kau sudah makan malam atau belum."


"Belum." jawab Giselle sambil menggelengkan kepala.


"Kenapa kau jadi pendiam seperti ini? Apa sesuatu telah terjadi padamu? Kau ingat Leo lagi?"


"Tidak, aku sudah tidak pernah memikirkan Leo lagi."


"Lalu kenapa kau diam? Apa kau cemburu pada Stella?" kata Revan sambil meringis.


"Enak saja, memangnya kau siapa? Untuk apa aku cemburu pada kalian berdua? Benar-benar membuang waktu."


"Lihat tingkahmu saja seperti itu? Jelas-jelas kau cemburu."


"Terserah." kata Giselle kemudian berjalan menjauhi Revan.


"Eh kau mau kemana? Kau harus menemaniku makan malam, aku ingin makan malam denganmu." kata Revan sambil menarik tangan Giselle.


TOK TOK TOK


"Tiba-tiba pintu apartemen pun diketuk seseorang."


"Buka pintunya Giselle." kata Revan sambil berjalan ke arah meja makan.

__ADS_1


Giselle lalu membukakan pintu, dan kembali masuk dengan beberapa kantong kresek di tangannya.


"Kau yang memesan ini semua Revan?"


"Tentu saja, bukankah sudah kukatakan jika aku ingin makan malam denganmu. Ayo kita makan."


Akhirnya mereka pun makan malam berdua, sesekali diselingi dengan sedikit candaan dari Revan yang membuat Giselle tersenyum. "Kau sudah bisa tersenyum Giselle? Jadi dari tadi kau cemberut karena lapar?" ledek Revan sambil berjalan ke dalam kamar mandi.


"Dasar, laki-laki menyebalkan." gerutu Giselle sambil menahan perasaan yang begitu bahagia di dalam hatinya. Dia lalu membereskan meja makan, kemudian masuk ke dalam kamar.


Saat Giselle baru saja menutup matanya, tiba-tiba Revan sudah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang membuat Giselle kaget.


"Pelan-pelan Revan, kau mengagetkanku saja." gerutu Giselle sambil membelakangi tubuh Revan.


"Aku sudah lelah Giselle, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." kata Revan kemudian memeluk tubuh Giselle dari belakang.


'Apa-apaan ini? Kenapa dia tidur sambil memelukku.' gumam Giselle sambil menyingkirkan tangan Revan.


"Sudah diam saja Giselle, memangnya aku tidak boleh memelukmu, kau adalah istriku." kata Revan dengan mata terpejam. Giselle akhirnya memilih diam, beberapa saat kemudian dia lalu mendengar dengkuran halus dari bibir Revan. Giselle tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Revan yang kini tidur begitu pulas di depannya.


'Begini jauh lebih baik, lebih baik kau diam agar terlihat tampan.' gumam Giselle sambil tersenyum kemudian mendekatkan tubuhnya ke dalam pelukan Revan lebih dalam.


***


"Non Stella sudah bangun?" tanya Bi Cici yang mulai membuka matanya.


"Dimana Revan Bi?"


"Oh Tuan Revan sudah pulang sejak Non Stella tidur tadi malam."


'Sial kenapa Revan meninggalkan aku disini.' gumam Stella. Dia kemudian mengambil ponselnya dan menelpon Revan. 'Tidak aktif.' gumam Stella dengan perasaan yang begitu kesal.


"Masakanmu lumayan juga Giselle." kata Revan saat menikmati sarapannya.


"Kau tak perlu malu untuk mengatakan jika masakanku enak, Revan."


"Terlalu percaya diri." gerutu Revan sambil menyalakan ponselnya. Puluhan chat pun sudah masuk ke ponsel Revan, namun dia mengabaikannya kemudian menikmati sarapan kembali hingga akhirnya ponselnya pun berbunyi.


"Ya Stella, maaf aku hari ini sibuk banyak pekerjaan di kantor, bukankah ada Bi Cici yang menemanimu? Aku baru bisa ke rumah sakit nanti sore." kata Revan lalu bergegas menutup teleponnya. Giselle tersenyum melihat sikap Revan terhadap Stella pagi ini.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menemaninya? Bukankah kau sangat mencintainya?"


"Untuk apa? Bukannya sudah ku bilang padamu jika aku selalu berusaha melupakan Stella."


"Tapi dia sendirian dan membutuhkanmu."


"Sudah jangan dibahas, Giselle aku berangkat ke kantor dulu, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."


"Iya." jawab Giselle sambil mengangguk, kemudian Revan bangkit dari tempat duduknya lalu mencium kening Giselle sebelum keluar dari apartemen.


'Ternyata kau bisa bersikap manis Revan.' gumam Giselle sambil tersenyum, hatinya kini sibuk mengontrol perasaannya yang begitu bahagia.


***


Revan membuka pintu kamar Stella di rumah sakit dan melihat Stella yang sedang duduk termenung di atas ranjang. Revan lalu mendekat dan duduk di samping ranjang Stella sambil memainkan ponselnya. "Kenapa kau baru datang Revan? Sejak tadi aku sudah menunggumu." kata Stella karena Revan hanya duduk di sampingnya sambil terus memainkan ponsel tanpa memperhatikan keadaan dirinya.


"Bukankah sudah kukatakan jika aku baru bisa datang sore hari, banyak urusan kantor yang harus kuselesaikan karena kemarin aku sibuk mengurusimu."


"Tapi aku membutuhkanmu? Kenapa kau sedikit berubah padaku Revan?"


"Aku tidak berubah, bukankah memang seperti ini hubungan suami-istri yang kita jalani? Ini yang selalu kau katakan padaku! Kenapa tiba-tiba kau menuntut lebih dari itu?"


"Tapi kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkan aku."


"Kapan aku meninggalkanmu? Aku selalu ada di sampingmu, bahkan di saat laki-laki yang begitu kau cintai meninggalkanmu aku tetap di sampingmu, jika aku meninggalkanmu aku sudah menceraikanmu Stella!"


"Kenapa kau berubah Revan? Biasanya kau tidak sekasar ini padaku? Apa karena aku hamil anak dari laki-laki lain jadi kau bersikap seperti ini? Bukankah aku masih istrimu? Kau adalah suamiku yang harus selalu ada di sampingku."


"Suamimu Stella? Kau baru menganggapku sebagai suamimu setelah kekasihmu pergi meninggalkan dirimu kan? Kemana saja kau selama ini? Kau selalu memperlakukan aku layaknya lelaki cadangan, sudah bagus aku tidak menceraikan wanita sepertimu!" kata Revan lalu pergi berjalan ke arah pintu.


"Revannn.. Revannnn... Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku, jangan pergi Revan! Bagaimana jika aku membutuhkan sesuatu?" teriak Stella.


"Bukankah ada Bi Cici yang menemanimu? Masuklah Bi" kata Revan pada Bi Cici yang sedang menunggu di luar.


"BRENGSEK KALIAN TERNYATA SAMA SAJA!" umpat Stella sambil berteriak. Tiba-tiba Stella mendengar suara ponsel yang berbunyi. Stella lalu melihat ke nakas samping tempat tidurnya.


"Ponsel Revan tertinggal." kata Stella sambil mengambil ponsel itu.


'Giselle? Siapa itu Giselle?' gumam Stella saat melihat sebuah nama di ponsel Revan.

__ADS_1


__ADS_2