Salah Kamar

Salah Kamar
Broken


__ADS_3

"Apa yang kau katakan tadi Giselle? Leo? Hahahaha."


"Jadi kau menyukai Leo, Giselle?"


"Tidak, kau hanya salah dengar saja Pak Revan, aku baru saja menghubungi Pak Leo dan tiba-tiba anda sudah berdiri di belakang saya," jawab Giselle dengan sedikit gugup.


"Tidak usah berbohong padaku Giselle aku tidak bodoh, kau bahkan tidak memegang ponsel, bagaimana kau bisa menghubungi Leo?" tanya Revan sambil tersenyum. "Anda salah dengar Pak Revan."


"Hahahaha.. Hahahahaha, sia-sia kau berbohong padaku Giselle karena aku tidak akan percaya itu."


"Sebenarnya apa yang anda lakukan di sini? Bukankah tadi anda sudah pamit untuk pulang?"


"Aku sebenarnya hanya ingin mengambil ponselku yang tertinggal, namun aku melihat sebuah tontonan yang begitu menarik di depanku, hahahaha."


"Jadi, anda pikir saya ini tontonan?"


"Hahahaha bukan seperti itu Giselle," kata Revan sambil terus tertawa dan memegang perutnya.


Giselle semakin kesal melihat tingkah laku Revan yang seolah semakin mengejeknya. "Permisi Pak Revan, saya lelah, saya mau tidur dulu." Giselle kemudian berjalan meninggalkan Revan. Namun tiba-tiba Revan mencekal tangannya. Revan lalu menghentikan tawanya, kini raut wajahnya pun berubah menjadi serius.


"Tunggu Giselle, bukan kau saja yang mengalami kisah cinta yang menyedihkan. Mencintai seseorang selama bertahun-tahun tanpa mendapatkan balasan itu memang sangat menyakitkan Giselle." kata Revan dengan raut wajah sendu.


"Pak Revan, jadi?"


"Ya, nasib kita sama Giselle, aku juga mencintai seorang wanita selama bertahun-tahun, tapi tak pernah mendapatkan balasan sedikitpun darinya, padahal semua cara sudah kulakukan untuk mendapatkan cinta dan perhatian darinya, namun dia tetap mengabaikanku. Aku tak pernah berharga di matanya, kau tahu rasanya sungguh menyakitkan," kata Revan sambil meneteskan air mata.


'Gila, ternyata laki-laki berhati batu seperti Revan bisa menangis,' batin Giselle lalu mendekat ke arah Revan.


"Pak, sebaiknya tenangkan diri anda, ayo kita duduk." Giselle kemudian berjalan ke arah sofa.vNamun Revan mengabaikan perkataan Giselle, dia memilih berjalan ke mini bar dan mengambil sebotol alkohol dan dua buah gelas. Lalu menghampiri Giselle yang kini duduk di sofa.


"Kau mau minum Giselle?"


"Tidak Pak, saya tidak terbiasa minum."


"Baiklah, kalau begitu kau temani aku minum saja ya."

__ADS_1


"Baik Pak." jawab Giselle, dia lalu mengamati Revan yang kini mulai meminum alkohol tersebut, beberapa saat kemudian Revan mulai merancau tidak jelas.


"Aku mengantuk, lebih baik aku tidur di sini saja daripada Pak Revan marah-marah kalau dia sadar aku meninggalkannya sendirian di sini," gumam Giselle, dia lalu merebahkan tubuhnya pada sofa. Revan yang melihat Giselle tertidur di sofa lalu menghampiri Giselle untuk membangunkannya.


"Hei Giselle, jangan tidur di sini, kau tidur di kamar saja."


"Iya Pak, tapi saya mau minum dulu, saya haus."


"Kau minum ini saja," kata Revan sambil memberikan segelas alkohol pada Giselle. Giselle yang baru bangun tidak sadar jika minuman yang diberikan Revan untuknya adalah minuman beralkohol dosis tinggi yang sedang diminum Revan.


"Terima kasih Pak, saya ke kamar dulu."


"Iya Giselle." Revan lalu duduk kembali di sofa sambil menikmati minuman itu lagi. Namun tiba-tiba dia mendengar suara Giselle yang terjatuh.


"Kau kenapa Giselle?"


"Saya pusing." jawab Giselle setengah sadar.


"Pusing?"


"Ayo kubantu kau masuk ke dalam kamar." kata Revan sambil menuntun Giselle masuk ke dalam kamar. Mereka berjalan sambil sempoyongan karena sama-sama terpengaruh alkohol, lalu tubuh mereka pun jatuh bersamaan di atas ranjang dengan posisi tubuh Revan di atas tubuh Giselle.


"Giselle." kata Revan yang sedikit terkejut karena Giselle kini tampak begitu manis padanya.


Giselle lalu tersenyum, dia kemudian mendekatkan wajahnya kemudian mulai mencium bibir Revan dengan begitu bergairah. Revan yang tengah mabuk dan dalam kondisi setengah sadar pun kian meladeni Giselle yang kini begitu bernafsu padanya.


"Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu sayang," kata Giselle sambil terus menciumi tubuh Revan dan meninggalkan beberapa tanda merah di dadanya.


"Jika itu maumu ayo kita lakukan Giselle."


"Iya sayang." jawab Giselle yang masih dalam pengaruh alkohol dan mengira Revan adalah Leo.


"Kau tahu, tubuhmu sebenarnya begitu menggoda Giselle." kata Revan sambil melucuti pakaian yang Giselle kenakan.


"Nikmatilah aku sayang, aku rindu padamu."

__ADS_1


"Iya Giselle, terima kasih sudah mau menghabiskan malam ini denganku." Revan menciumi leher dan memainkan gunung kembar milik Giselle yang semakin membuat Giselle mendesah dan mengerang hingga akhirnya mereka berada pada puncak kenikmatan.


Mereka yang masih dalam pengaruh alkohol kini kelelahan kemudian tertidur begitu saja tanpa mengenakan pakaian mereka kembali. Hingga saat pagi hari tiba, Giselle membuka matanya, dia sangat terkejut karena tertidur dengan tubuh telanjang. 'Kenapa aku tidur tanpa memakai baju?' gumam Giselle, dia lalu menengok ke arah samping kanannya dan begitu terkejut karena Revan tertidur di sampingnya juga dengan tubuh telanjang.


"TIDAK!!!" teriak Giselle yang membuat Revan terbangun.


"Giselle, kenapa pagi-pagi kau sudah teriak-teriak!!'


"Pak Revan anda memperkosa saya lagi!" teriak Giselle.


"Heh Giselle! Jangan sembarang bicara, bukankah kau tadi malam yang memintaku untuk menikmati tubuhmu."


"Tidak mungkin!!! Kau pasti sudah berbohong!"


"Kau menuduhku berbohong? Apa kau tidak lihat tanda merah di tubuhku, kau yang melakukannya Giselle," kata Revan sambil memperlihatkan beberapa tanda merah di dadanya.


"Tidak.. Ini tidak mungkin." Giselle kini tampak begitu bingung. "Sial, jangan-jangan aku tidak sengaja minum alkohol yang diminum oleh Revan. Aku memang benar-benar bodoh!!" gumam Giselle sambil merutuki dirinya sendiri.


"Sudahlah, bagaimanapun juga kau saat ini adalah istriku," kata Revan dengan begitu lembut.


"Tapi Pak." kata Giselle yang kini mulai terisak.


"Jangan menangis Giselle, aku suamimu, aku akan selalu menjagamu." kata Revan kemudian membelai rambut Giselle, sebuah getaran mulai timbul di hatinya yang kini terasa tergerak untuk melindungi Giselle yang tampak begitu rapuh. Namun saat Revan akan memeluk Giselle tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia lalu mendekat ke arah meja untuk mengambil ponselnya.


'Stella,' gumam Revan, dia kemudian mengangkat panggilan itu sambil menjauh dari Giselle yang kini tampak lebih tenang.


[Ya ada apa Stella?]


[Revan, kau dimana? Aku sakit.] kata Stella dengan suara parau.


[Apa kau sakit?]


[Iya Revan, aku sakit.]


[Ya sudah kau tunggu sebentar, aku segera pulang.] kata Revan lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


"Giselle, aku pulang dulu, ada urusan yang harus kukerjakan. Nanti aku ke sini lagi setelah urusanku selesai, kau sebaiknya tidak usah masuk kantor, beritahu Leo jika kau sakit." kata Revan kemudian pergi sambil berlari keluar dari apartemen. Giselle hanya mengangguk.


"Siapa yang menelponmu Revan? Apakah dia wanita yang kau ceritakan semalam? Wanita yang sangat kau cintai tapi tidak pernah bisa kau dapatkan hatinya," kata Giselle sambil melihat foto pernikahannya dengan Revan.


__ADS_2