
"Oh Olive kau sudah disini? Tadi Aini mengigau jadi aku mendekat padanya untuk memastikan keadaannya."
"Iya Mba Olive, tadi aku memang bermimpi buruk mungkin karena itulah aku mengigau."
"Oh iya tidak apa-apa."
"Ini sudah siang, aku permisi pulang dulu, orang tuaku sudah menghubungiku dan mengatakan ada beberapa tamu yang sedang menungguku."
"Iya Roy, terimakasih banyak." kata Olivia.
"Sama-sama." jawab Roy.
Saat Roy akan melangkahkan kakinya tiba-tiba Aini kembali memanggilnya.
"Tunggu Roy."
"Ada apa, Aini?"
"Apa saat kau tidak ada disini aku boleh bertemu dengan putramu?"
Roy pun kemudian tersenyum.
"Tentu saja Aini, temuilah dia kapanpun kau mau."
"Terimakasih banyak Roy." kata Aini sambil tersenyum.
"Aku pulang dulu."
"Iya hati-hati." jawab Aini.
Roy lalu pergi dari ruangan itu. "Permisi saya pulang dulu." kata Roy saat melewati Calista, Olivia, dan Risma.
"Iya Roy, hati-hati di jalan." jawab mereka bersamaan.
"Emm Aini, sebaiknya kau istirahat lagi, bukankah tadi istirahatmu sedikit terganggu akibat mimpi buruk itu?" kata Olivia pada Aini.
"Iya Mba Olive, aku sebenarnya masih mengantuk, tadi malam aku tidak tidur memikirkan putraku."
"Ya, lebih baik sekarang kau istirahat saja, Aini." kata Calista.
"Iya Mba Calista."
Olivia lalu menarik tangan Calista untuk duduk di sofa.
"Ayo tante, kita duduk di sofa itu." kata Olivia pada Risma.
"Iya Olive." jawab Risma kemudian mengikuti mereka berdua.
"Kakak, sebenarnya aku menghawatirkan sesuatu, apa kau memiliki pemikiran yang sama denganku?" bisik Olivia saat mereka sudah duduk di sofa tersebut.
"Ya Olive, aku mengerti maksudmu, kau takut Aini jatuh cinta pada Roy karena Aini yang memberikan ASI nya untuk putra Roy kan? Kemungkinan itu bisa saja terjadi, mungkin untuk saat ini belum, tapi suatu saat itu bisa saja terjadi, ini rasanya seperti bom waktu."
"Iya Kak, lalu kita harus bagaimana? Aku sudah memperingatkan Roy tapi dia tidak percaya padaku."
__ADS_1
"Jika Roy bisa mencintai Aini itu tidak masalah Olive, tapi bagaimana jika tidak, maka hati Aini akan semakin terluka."
"Iya Kak, lagipula Aini juga belum bercerai dengan suaminya."
"Bercerai itu perkara yang mudah Olive, Aini bisa melakukannya secara sepihak. Tapi ada yang lebih menakutkan untukku."
"Apa Kak?"
"Saat Aini jatuh cinta pada Roy, kemudian dia tahu jika Roy lah yang menyebabkan kecelakaan itu. Coba kau pikir, bagaimana konflik batin yang akan dirasakan Aini?"
"Astaga, kenapa ini tidak terpikir olehku?" kata Olivia.
"Hei kenapa kalian berbisik-bisik di sampingku? Aku mendengar semua yang kalian katakan." kata Risma pada Olivia dan Calista.
Calista dan Olivia lalu tersenyum. "Jadi tante mendengarnya?"
"Tentu saja."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
Risma kemudian terdiam. "Olivia, Calista, jika menyangkut masalah hati tidak ada yang mampu untuk menghindari apalagi mencegahnya."
"A.. Apa maksud tante? Apa kita harus membiarkan semua kemungkinan itu terjadi?"
"Olivia, Calista, biarkan semua ini mengalir."
"Jadi maksud tante, kita biarkan saja kemungkinan terburuk itu terjadi?"
"Olivia, Calista, inilah yang disebut dengan kehidupan kita tidak mampu mencegah takdir, baik itu hal yang baik ataupun hal buruk semua orang bisa saja mengalaminya, coba lihat diri kalian sendiri. Olivia, apakah kau mampu menghindari kejadian salah kamar yang terjadi antara kau dan Kenan? Lalu kau Calista, apakah kau mampu menghindari saat Leo menduakanmu dengan Giselle?"
Risma pun kemudian terkekeh.
"Bukankah sudah kukatakan berkali-kali jika ayahnya Drey dulu adalah seorang polisi internasional, kami punya anak buah dan mata-mata untuk menyelidiki kalian."
"Kenapa tante juga menyelidiki kami?"
"Oh kalau tentang kalian sebenarnya tante tidak sengaja, karena awalnya tante hanya ingin menyelidiki masa lalu Rima saja, tapi mungkin anak buah tante sedikit penasaran dengan kalian jadi mereka juga menyelidiki kehidupan kalian dahulu. Maafkan tante jika ini sedikit lancang."
"Tidak apa-apa, Tante. Ini semua sudah berlalu dan kami sudah bahagia dengan kehidupan kami masing-masing." jawab Calista.
"Tante, kami hanya tidak ingin Aini kembali terluka. Dia telah mengalami berbagai kejadian buruk dalam hidupnya."
"Olivia, bukankah tadi sudah kukatakan semua orang pasti pernah mengalami kejadian buruk dalam hidupnya."
"Ya."'
"Lalu setelah itu apakah kalian mengalami kejadian buruk itu terus menerus? Bukankah Calista tadi mengatakan jika kalian sudah bahagia dengan kehidupan kalian masing-masing kan? Percayalah pada Tuhan, pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian."
"Tapi hati Aini sudah terlalu rapuh."
"Itulah tugas kalian sebagai kerabatnya, kalian harus bisa mendampingi Aini saat dia menjalani hari-hari sulitnya."
"Benar yang tante katakan, semua itu memang tidak bisa dihindari, biarkan saja semua ini berjalan seperti air yang mengalir, meskipun akan lebih baik keadaannya jika Aini tidak pernah jatuh cinta pada Roy."
__ADS_1
"Ya Olive, kita serahkan semua pada Tuhan, karena dia lah yang membolak-balikan hati manusia."
"Iya Tante, terimakasih banyak nasehat yang sudah tante berikan."
"Iya Olive, Calista, tante kembali ke kamar perawatan Drey lagi ya, sepertinya Aini juga sedang beristirahat, nanti tante akan mengunjunginya lagi untuk berbicara dengannya dari hati ke hati."
"Iya tante, terimakasih banyak."
Risma lalu mengangguk, dia kemudian keluar dari ruang perawatan Aini.
🌸🌿🌸🌿🌸🌿
Rima tampak begitu cemas di dalam ruang perawatan Drey, dia terlihat berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil sesekali menutup wajahnya.
"Rima sayang, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."
"Drey, kenapa kau tidak mengerti? Bukankah tadi kita sudah membicarakannya?"
"Mengenai penyadap itu?"
Rima kemudian menganggukkan kepalanya.
"Rima, tenangkan dirimu, aku yakin mama belum tahu itu."
"Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu, Drey?"
"Rima bukankah kau bisa lihat sendiri bagaimana sikap mama terhadap kita? Dia terlihat biasa saja, bahkan dia sangat menyayangimu."
"Kau benar Drey, sikapnya baik-baik saja, tidak ada yang berubah. Tapi bagaimana jika dia sebenarnya telah tahu semua itu tapi dia menyembunyikan dari kita semua?"
Drey kemudian tersenyum.
"Jika dia sudah tahu semua tentang kita tapi dia tetap bersikap baik padamu bukankah itu pertanda baik, Rima."
"Apa maksudmu?"
"Rima coba kau berfikir secara jernih, jika mama sudah tahu kita membohonginya bahkan mungkin tahu semua masa lalumu tapi tidak ada yang berubah dari sikapnya, bukankah itu menandakan jika dia tidak mempermasalahkan semua itu? Dia tetap merestui hubungan kita, Rima."
"Astaga, kau benar juga Drey."
"Sekarang kau sudah tenang kan?"
"Ya, tapi aku harus menyelidiki tentang semua ini."'
"Menyelidiki apalagi, Rima?"
"Aku hanya ingin tahu apakah mama sudah mengetahui semua kebenaran tentang kita atau belum."
CEKLEK
Tiba-tiba pintu kamar perawatan itu pun terbuka.
"Apa yang ingin kau ketahui tentang mama, Rima?" kata Risma saat masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Drey dan Rima pun hanya bisa saling berpandangan.