Salah Kamar

Salah Kamar
Tetap Disampingku


__ADS_3

Kenan kini telah dipindahkan ke dalam ruang perawatan. Olivia pun dengan setia menunggu Kenan di sampingnya sambil sesekali mengelus wajahnya yang kini terlihat pucat karena kehilangan banyak darah.


"Leo kita harus bagaimana?" tanya Calista saat mereka kini berada di ruang perawatan Kenan.


"Tetaplah bersikap biasa saja di depan Ilham karena tadi malam aku dan Kenan belum bisa membuka kedoknya. Jangan sampai Ilham curiga jika kita sudah mengetahui tentang dia."


"Tapi bagaimana dengan Rima? Meskipun dia telah berbuat jahat pada kita semua tapi aku mengkhawatirkannya. Aku takut sesuatu telah terjadi pada dirinya."


"Calista, jika Rima belum mengetahui kebusukan Ilham tentu Ilham masih memperlakukan dia dengan baik. Tapi masalahnya kita tidak tahu bagaimana hubungan Rima dan Ilham sekarang."


"Emh Leo Calista minggu depan hari pernikahanku dengan Stella, dan kami juga mengundang mereka ke acara pernikahan kami. Kita lihat bagaimana sikap Ilham dan Rima di sana, jika gerak-gerik mereka mencurigakan maka Rima dalam bahaya tapi jika Rima terlihat bahagia, untuk saat ini dia masih aman."


"Kau benar David. Tapi itu terlalu lama, aku ingin memastikan keadaannya saat ini." kata Calista dengan cemas.


"Bagaimana kalau kita datang ke rumahnya?"


"Tidak Leo itu terlalu mencurigakan."


"Biar aku saja yang memastikan keadaan Rima dan menyelesaikan ini semua." kata Olivia menimpali.


"Tidak Olive, itu terlalu berbahaya bagimu."


"Aku yakin aku bisa melakukannya, aku juga ingin tahu apa alasan Ilham melakukan semua ini? Apakah karena dia benar-benar mencintaiku? Tapi kurasa ini bukanlah cinta, aku yakin ini hanya ambisinya saja."


"Apa yang akan kau lakukan, Olive?"


"Aku akan pergi ke kantor untuk menggantikan Kenan." kata Olivia datar.


"Kau yakin Olive?" tanya Calista.


"Iya Kak, aku akan membongkar ini semua dengan caraku sendiri."


"Baik Olive, aku percaya padamu. Tapi aku tetap akan menyuruh anak buahku untuk selalu mengawasi kalian dari jauh. Terlalu berbahaya jika kau melakukan ini sendiri."


"Iya Leo." jawab Olivia.


🌸🌸🌸


Saat Rima masih menangis sambil memandang foto-foto yang ada di tangannya tiba-tiba pintu kamarnya pun terbuka. Ilham lalu mendekat pada Rima yang kini duduk di atas lantai.


"Kenapa kau belum mengganti bajumu?"


Rima pun hanya terdiam. Air mata kembali membasahi wajahnya. "Apa kau mencintai Olivia?" tanya Rima dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Ilham pun kemudian tersenyum. "Kenapa? Kau cemburu?"


"Aku istrimu dan aku berhak cemburu kau mencintai wanita lain."


"Hahahaha, istri katamu? Bukankah kau yang bilang padaku jika aku tidak pantas mendampingi wanita seperti dirimu? Lalu kenapa tiba-tiba kau harus marah padaku?"


"Tapi kau kini adalah suamiku Ilham dan aku mencintaimu."


"Cinta? Kau sadar dengan yang kau katakan?"


"Memangnya kenapa jika aku mencintaimu? Kau adalah suamiku, aku memang memiliki kesalahan di masa laluku Ilham, tapi apa kita tidak bisa memperbaiki semuanya? Aku minta maaf padamu jika kau benar-benar tersakiti oleh kata-kataku."


"Hahahaha jadi kau ingin memperbaiki semua ini? Baik, kau akan kuberi kesempatan tapi berjanjilah agar kau tidak akan pergi meninggalkan aku dan tetaplah di sampingku!"


"Ba.. Baik Ilham, aku berjanji tidak akan pernah pergi dan akan selalu ada di sampingmu."


"Hahahaha. Bagus sekali Rima." kata Ilham sambil tertawa terbahak-bahak.


🌸🌸🌸


Ilham keluar dari dalam rumah dengan raut wajah begitu bahagia. "Aku yakin, hari ini pasti aku akan mendengar berita buruk di kantor. Hahahaha." kata Ilham sambil mengendarai motornya.


Ilham masuk ke dalam kantor dengan sedikit tergesa-gesa, saat dia akan masuk ke dalam lift tiba-tiba dia melihat sosok Olivia tengah berdiri di depan lift dengan memakai pakaian kerja. Bergegas Ilham pun mendekatinya dan menyapa Olivia.


"Oh Ilham, selamat pagi."


"Kenapa kau tiba-tiba berangkat ke kantor, Olive?"


"Emh aku menggantikan Kenan karena dia sedang sakit dan kemungkinan masih lama untuk sembuh."


"Oh, kupikir kau sedang ke Paris karena Syifa kemarin mengatakan jika kalian akan berlibur ke Paris."


"Iya Ilham, awalnya kami memang akan berlibur ke Paris karena Kenan akan menebus semua kesalahpahaman yang terjadi di antara kami berdua. Tapi...." kata Olivia sambil menundukkan wajahnya. .


"Tapi kenapa Olive?"


"Tiba-tiba Kenan membatalkan kepergian kami. Beberapa jam sebelum kepergian kami, dia tampak sibuk menerima telepon dari seseorang. Lalu dia pergi begitu saja dan pulang larut malam setelah Leo bertemu dengannya di sebuah cafe."


"Kenan pergi begitu saja? Pergi kemana Olive?"


"Aku tidak tahu Ilham, aku yang sudah panik karena Kenan tak kunjung pulang lalu menelpon Kak Calista dan Leo. Lalu Leo menemukannya sedang berada di cafe kemudian menyuruh Kenan pulang. Mereka pulang larut malam kemudian memergoki seorang pencuri di rumah kami, mereka berkelahi dengan pencuri itu hingga membuat Kenan terluka."


'Bagus, jadi mereka tidak curiga padaku dan hanya mengira aku adalah seorang pencuri?' kata Ilham dalam hati.

__ADS_1


"Astaga, lalu bagaimana keadaan Kenan?"


"Oh dia baik-baik saja, bahkan pagi ini dia sudah sadarkan diri." jawab Olivia dengan senyum kecut.


'Bre*gsek, kenapa dia tidak mati.' gumam Ilham dalam hati.


"Tapi mengapa kau tidak menjaganya?"


"Entahlah Ilham, saat dia sadar dia tidak ingin aku menunggunya bahkan dia menyuruhku untuk pergi ke kantor menggantikannya."


"Ini benar-benar aneh."


"Ya, perasaanku sebenarnya begitu tak menentu tapi aku mencoba selalu berfikir positif padanya."


"Kau benar-benar istri yang baik, Olive."


"Terimakasih Ilham. Aku masuk ke ruanganku dulu." kata Olivia kemudian berjalan menjauhi Ilham.


Ilham pun tersenyum melihat Olivia yang kini berjalan masuk ke ruangannya. 'Ini kesempatan bagus untukku, selama kau ada di sini menggantikan Kenan, kau akan kubuat jatuh ke dalam pelukanku Olive.' kata Ilham dalam hati sambil tersenyum menyeringai.


Olivia masuk ke dalam ruangan Kenan, namun di balik pintu dia tampak mengamati gerak-gerik Ilham yang kini sedang tersenyum ke arah ruangannya.


"Jadi benar kau yang melakukan semua ini pada kami, Ilham? Baik, kita mulai permainan ini." kata Olivia dalam hati.


🌸🌸🌸


Malam hari Ilham tampak begitu bahagia pulang ke rumahnya. Rima yang menyambutnya sambil duduk di ruang tamu pun kemudian menghampirinya.


"Kau sudah pulang, Ilham?"


"Ya." jawab Ilham datar.


"Aku sudah membuatkan makan malam untukmu, ayo kita makan malam bersama."


"Maaf Rima, aku sudah kenyang."


"Sudah kenyang?"


"Ya, aku sudah makan malam. Sekarang aku begitu lelah, aku mau mandi lalu tidur." kata Ilham yang kini tersenyum sambil berjalan meninggalkan Rima. Setelah pulang kantor, Ilham memang mengajak Olivia untuk makan terlebih dahulu dan tanpa dia duga, Olivia pun mengiyakan ajakannya.


Hati Rima pun terasa begitu sakit mendengar perkataan Ilham. Dia lalu bergegas masuk ke dalam rumah menuju meja makan dan menyantap makanan itu sendiri. 'Padahal sejak tadi aku sudah kelaparan hanya untuk menunggumu pulang tapi kau malah mengabaikanku.' kata Rima dalam hati.


Beberapa saat setelah selesai makan malam, dia lalu masuk ke dalam kamar dan melihat Ilham yang kini tertidur begitu pulas Rima pun tidur di samping Ilham, dan ketika dia berniat untuk mencium pipinya tiba-tiba Ilham terdengar mengingau.

__ADS_1


"Olivia.. Olivia." kata Ilham sambil tertidur. Rima pun kemudian menjauhi Ilham sambil memegang dadanya. "Sakit sekali." kata Rima sambil meneteskan air mata.


__ADS_2