Salah Kamar

Salah Kamar
Topeng


__ADS_3

Di saat itu pula Ilham kini sudah ada di belakang Rima. Melihat kotak yang akan dibuka oleh Rima, Ilham pun bergegas mengambil kotak itu.


"Maaf Rima, kau tidak bisa membuka kotak ini karena ini bukan milikku." kata Ilham dengan sedikit gugup.


"Oh maaf, tadi kotak itu terjatuh jadi aku mengambilnya."


"Iya Rima, maaf ini milik temanku. Dia menitipkan padaku agar tidak diketahui istrinya sebagai hadiah ulang tahun untuknya."


"Oh begitu? Maafkan aku Ilham kalau aku sudah bertindak ceroboh."


"Tidak apa Rima. Lalu bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Baik Ilham, tapi maaf hari ini aku tidak bisa memasak untukmu."


"Tidak apa-apa Rima, aku sudah membelikan ini untuk kita berdua." kata Ilham sambil memperlihatkan satu bungkus plastik makanan.


"Ayo kita makan." kata Ilham lagi kemudian menuntun Rima ke arah meja makan.


"Iya Ilham." jawab Rima sambil melirik ke arah Ilham. 'i love you, Ilham.' gumam Rima dalam hati.


🌸🌸🌸🌸


Menjelang tengah malam, Leo dan Kenan keluar dari dalam rumah Kenan menuju ke halaman rumahnya.


"Leo, apa kau yakin malam ini Ilham akan ke rumah ini?" tanya Kenan pada Leo saat mereka sedang berjalan untuk bersembunyi di balik semak-semak pohon di halaman rumah Kenan.


"Aku yakin Kenan, bukankah tadi kau sudah mengatakan pada sekretarismu jika kau sedang berlibur bersama Olivia ke Paris?"


"Ya, aku sudah mengatakannya pada Syifa."


"Bagus, saat ini pasti Ilham sedang marah karena rencananya gagal. Dan aku yakin dia pasti sedang merencanakan sesuatu lagi untuk meneror keluarga kalian."


"Iya Leo, tapi apa harus kita berada di taman ini sampai pagi untuk bisa menyergap Ilham? Banyak sekali nyamuk di sini." gerutu Kenan.


"Mau bagaimana lagi, Kenan? Kalau menunggu di dalam rumah justru mencurigakan, dasar payah baru di taman saja sudah mengeluh." jawab Leo sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau sudah bilang pada petugas security di depan kan untuk pura-pura tertidur agar Ilham bisa leluasa masuk ke rumah ini!"


"Sudah."


"Baik, sekarang kita tunggu saja. Pasti sebentar lagi dia datang."


Setelah menunggu selama kurang lebih satu jam, tepat pukul satu dini hari akhirnya seseorang tampak mengendap-endap masuk ke halaman rumah Kenan. Dia memakai pakaian berwarna hitam serta memakai penutup kepala dan terlihat membawa sebuah kardus dan pilok di tangannya.


"Kenan, lihat itu." bisik Leo.


"Iya, bagaimana apa kita langsung menyerapnya?"

__ADS_1


"Ayo Kenan." kata Leo. Mereka berdua pun langsung menghampiri sosok tersebut yang kini sedang berada tepat di depan pintu rumah Kenan. Sosok tersebut pun terlihat panik. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan mulai melakukan ancang-ancang.


"Apa yang akan kau lakukan di rumahku?" tanya Kenan.


"Memberi pelajaran padamu!"


"Kau yang akan kami beri pelajaran." kata Leo.


Akhirnya mereka pun terlibat perkelahian, sosok tersebut tampak begitu kewalahan meladeni Kenan dan Leo. Akhirnya dia pun mengambil sebuah pisau kecil di salah saku celananya.


"Jangan mendekat, atau kalian akan kuhabisi!" bentak sosok tersebut.


Leo dan Kenan pun akhirnya menjaga jarak. "Urusan kita belum selesai, Kenan. Tunggu di lain kesempatan aku pasti bisa menghabisimu!" teriak sosok tersebut.


Mendengar perkataan itu, seketika emosi Kenan pun memuncak. Dia lalu mendekat ke arah sosok tersebut. Namun dengan lincahnya dia memainkan pisau tersebut dan mengenai perut Kenan.


"KENAAANNNNNN!" teriak Leo.


Sosok tersebut pun terlihat begitu panik, dia lalu lari meninggalkan Kenan yang kini terlihat tidak berdaya. Darah segar pun mengalir dari perut Kenan. Sosok tersebut lalu berlari keluar dari rumah Kenan. Seorang petugas security pun ikut menghadangnya di depan pintu gerbang. Namun dia kembali begitu lincah memainkan pisaunya hingga tepat mengenai tangan petugas security dan pisau itu menancap di tangan security tersebut. Melihat security yang tampak kesakitan dia lalu pergi meninggalkan rumah itu dengan meninggalkan pisau kecil miliknya yang masih menancap di tangan security.


'Kalian jangan bermain-main denganku, karena kemampuan bela diriku jauh di atas kalian dan aku bisa dengan lincah memainkan berbagai macam senjata.' kata Ilham saat keluar dari rumah itu. Dia lalu menaiki motornya yang terparkir tidak jauh dari rumah Kenan.


Mendengar teriakkan Leo, Olivia dan Calista pun keluar dari dalam rumah. Olivia pun begitu terkejut saat melihat Kenan yang terkapar dengan bersimbah darah.


"KENANNNNN." teriak Olivia kemudian mendekat pada Kenan dan memeluknya.


"Olive, cepat bawa Kenan ke rumah sakit." kata Leo yang sudah mengeluarkan mobil dari garasi.


Mereka bertiga lalu membawa Kenan dan petugas security ke rumah sakit.


"Bertahanlah Kenan." kata Olivia sambil terus menangis.


"Tenang Olive, kita berdoa saja." kata Calista sambil mengelus punggung Olivia.


🌸🌸🌸


Sementara Rima yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya, sedikit terkejut karena Ilham tidak ada di sampingnya.


"Ilham, kau dimana?"


Namun tidak ada jawaban. Dia lalu keluar dari kamarnya kemudian berjalan ke seluruh ruangan, namun dia tidak menemukan Ilham.


"Motornya tidak ada, mungkin Ilham sedang keluar sebentar." kata Rima kemudian masuk ke dalam kamarnya. Saat dia mulai merebahkan tubuhnya, tiba-tiba dia mendengar suara pintu dibuka.


'Itu pasti Ilham, aku tunggu dia masuk ke kamar saja.' kata Rima dalam hati sambil pura-pura tertidur.


Ilham yang tampak begitu tergesa-gesa lalu masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian sambil melihat Rima yang terlihat masih tidur dengan begitu pulas. Namun saat sedang membuka lemari tiba-tiba suara Rima begitu mengagetkannya.

__ADS_1


"Ilham, kau darimana?"


'Bren*sek, dia ternyata pura-pura tertidur.' kata Ilham dalam hati. Ilham pun membalikkan tubuhnya. Rima pun begitu terkejut karena melihat begitu banyak darah di pakaian Ilham.


"Ilham, kenapa banyak sekali darah di pakaianmu?" tanya Rima.


Namun Ilham tidak menjawab pertanyaan Rima, dia hanya terlihat mendekat pada Rima sambil tersenyum menyeringai.


"Ilham, kenapa kau tersenyum seperti itu? Jangan membuatku takut, Ilham." kata Rima dengan begitu gugup, namun Ilham hanya tersenyum sambil terus mendekat padanya.


"Selamat malam Rima, kenapa kau tiba-tiba terbangun?" tanya Ilham sambil tersenyum menyeringai dan membelai wajah Rima.


"E..E..Ilham apa maksud semua ini? Aku sungguh tak mengerti. Mengapa ada begitu banyak darah di pakaianmu?"


"Oh ini? Ini karena aku baru saja membunuh seseorang."


"Jangan bercanda Ilham."


"Aku tidak bercanda Rima, karena inilah aku yang sebenarnya. Sedangkan yang kau lihat kemarin hanyalah topengku saja agar semua orang percaya padaku, termasuk kamu. Hahahaha." kata Ilham sambil tertawa terbahak-bahak.


Rima pun begitu terkejut mendengar perkataan Ilham, wajahnya pun kini begitu pucat dan perasaannya begitu tak menentu.


"Kau tidak sadar kan Rima, selama ini aku sudah menyiksamu. Kau tidak tahu kan kalau aku sudah memberi obat pencuci perut sampai kau mengalami diare, lalu akulah juga yang sudah membuat kakimu seperti ini karena aku sudah dengan sengaja menaruh pelicin di pintu kamar mandi!"


"Ta... Tapi kenapa kau melakukan semua itu, Ilham?"


"Apa kau lupa? Kau sudah begitu menghinaku saat kita pertama kali bertemu! Kau sudah begitu menginjak-injak harga diriku sebagai seorang lelaki!" bentak Ilham.


"Maafkan aku Ilham." kata Rima sambil menangis.


"Sudah terlambat! Sejak kecil aku selalu berusaha keluar dari keterpurukan mental yang selalu kualami, tapi kau begitu saja menyakiti diriku dan kembali menghancurkan kepercayaan diri yang telah lama kubangun!"


Rima pun hanya bisa menangis.


'Tuhan, kenapa aku harus menikah dengan orang seperti ini. Sekarang apa yang harus kulakukan?' kata Rima dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.


Note:


Jangan lupa berdoa semoga Kenan baik-baik saja.


Mental health pada anak-anak itu sangat penting ya dear, jangan sampai kondisi psikologis anak kita sakit karena tekanan dari lingkungan sekitar. Karena hal itu sangat berpengaruh pada kepribadiannya kelak.


Dan satu pesan othor, setiap anak itu unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing jadi jangan pernah membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain.


Salam hangat dari othor, ibu dari 3 orang anak πŸ˜‰


Big hug for all πŸ˜˜βœŒοΈπŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2