Salah Kamar

Salah Kamar
Bukan Wanita Sempurna


__ADS_3

"Siapa yang menelpon Kak?" tanya Olivia.


"Leo." jawab Calista lirih.


"Angkat saja Kak." Namun Calista hanya menggeleng lemah. Olivia lalu mengambil ponsel Calista dan mengangkat telepon dari Leo.


[Halo, Calista?]


[Leo, ini aku Olivia.]


[Oh. ya Olive, dimana Calista? Aku sangat mengkhawatirkannya Olive.]


[Saat ini dia ada di rumahku, Leo, kau tenang saja, dia baik-baik saja.]


[Baik Olive, tunggu aku akan segera datang, tolong jaga Calista, jangan biarkan dia pergi.]


[Baik, Leo.] kata Olivia sambil menutup teleponnya.


Calista memandang Olivia disertai raut wajah cemas? "Bagaimana Olive, apakah dia marah padaku?"


"Tidak, Kak. Dia justru sangat mencemaskanmu, kau tenang saja, sebentar lagi dia akan datang." kata Olivia sambil menggenggam tangan Calista.


"Tapi, aku takut Olive, aku takut jika dia marah padaku."


"Tenang saja Kak, percayalah padaku, dan kuatkan hatimu untuk menghadapi ini semua, bagaimanapun juga, Leo adalah suamimu, dia berhak mengetahui semua yang terjadi padamu."


"Iya, Olive." jawab Calista sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian, suara mobil Leo pun terdengar. "Dia datang, Olive." kata Calista sambil menatap Olivia dengan tatapan sendu.


"Kakak, percaya padaku, dia tidak akan marah padamu." kata Olivia sambil mengelus pundak Calista. Sosok Leo kini telah berdiri di ambang pintu, senyum pun menghiasi wajahnya saat melihat Calista tengah duduk bersama Olivia.


"Calista." kata Leo sambil mendekat padanya.


"Duduk, Leo." kata Olivia sambil memberikan tempat duduknya pada Leo, sedangkan dia berpindah tempat duduk di samping Kenan.


"Calista." kata Leo sambil tersenyum kemudian membelai wajah Calista.


"Le.. Leo, maafkan aku, maafkan aku Leo, maaf aku sudah menyembunyikan semua ini, sekarang aku pasrah padamu jika kau ingin menceraikanku, aku ikhlas, Leo." kata Calista dengan begitu gugup, kemudian menangis. Leo kemudian merengkuh tubuh Calista ke dalam pelukannya.


"Calista, apa yang kau katakan? Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama sampai akhir hayat kita? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu padaku?"


"Tapi aku bukanlah wanita yang sempurna, Leo."


"Aku tidak pernah mempermasalahkan itu Calista, kau adalah istriku, aku akan selalu mencintaimu dan menerima dirimu apa adanya."

__ADS_1


"Jadi, kau tidak marah padaku?"


"Aku tidak memiliki alasan apapun untuk marah padamu."


"Ta.. Tapi, bukankah kau begitu menginginkan seorang anak?"


"Ya, setiap orang pasti ingin memiliki keturunan, tapi bagaimana jika Tuhan belum menghendaki aku untuk mendapatkan keturunan darimu? Apakah aku harus marah padamu? Tidak Calista, ini adalah takdir dari Tuhan yang harus kita jalani dan hadapi bersama-sama. Anggap saja ini hukuman dari Tuhan untukku karena dulu aku telah banyak menyia-nyiakan pemberiannya, aku selalu menyuruh wanita-wanita yang kukencani untuk menggugurkan kandungan mereka. Masa laluku juga tidak lebih baik darimu, Calista." kata Leo dengan wajah sendu.


Calista lalu memeluk Leo dengan begitu erat sambil menangis. "Terimakasih Leo, terimaksih banyak." kata Calista sambil berurai air mata.


"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu, karena sudah mau menerimaku meskipun aku telah mengkhianatimu. Jika aku tidak bermain-main dengan Giselle, tentu dia tidak akan masuk dalam rumah tangga kita."


"Sudahlah Leo, bagaimanapun juga dia sedang mengandung anakmu. Kau harus bertanggung jawab pada anak dalam kandungannya."


"Tentu, tentu Calista."


Olivia dan Kenan menatap mereka sambil tersenyum. "Olivia, lihat kan Leo pernah bermain-main dengan wanita lain di belakang Calista, untung saja kau tidak jadi menikah dengannya."


"Kau tidak boleh berbicara seperti itu Kenan, kisah cinta Kak Calista dan Leo tidaklah mudah." kata Olivia sambil mencubit perut suaminya.


"Iya.. Iya.." jawab Kenan.


"Kakak, malam ini lebih baik kau dan Leo menginap di rumah Papa."


"Iya Olive, aku memang belum berencana membawa Calista pulang ke rumah sampai dia bisa menenangkan hati dan pikirannya, apalagi masih ada Giselle di rumahku."


"Iya Olive terimakasih, ayo sayang." kata Leo sambil menggandeng tangan Calista.


Olivia lalu mengetuk pintu rumah Herman. Beberapa saat kemudian, Laras tampak membukakan pintu. "Mba Calista." kata Laras sambil tersenyum.


"Kau disini, Laras?"


"Iya Mba, Laras sekarang kerja di kantor Mas Kenan. Ayo masuk Mba Calista, Om Herman sudah tidur, katanya tadi sedikit pusing jadi dia tidur lebih awal."


"Oh." jawab Calista singkat sambil masuk ke dalam rumah.


"Kenan, siapa dia?" bisik Leo pada Kenan.


"Sepupu Olivia dan Calista dari Jogja."


"Centil sekali." kata Leo sambil tersenyum kecut.


"Ya, dan parahnya dia sekarang bekerja menjadi sekretaris di kantorku."


"Hahahaha... Hahahaha, kau pasti sangat beruntung memiliki sekretaris seperti dia."

__ADS_1


"Ambil saja jika kau mau, Leo."


"Biarpun dia bekerja gratis untukku, aku takkan pernah mau mempekerjakannya. Hahahaha." kata Leo yang membuat Kenan semakin kesal.


***


Giselle begitu panik melihat kepergian Leo. "BREN*SEK, KENAPA LEO MASIH SAJA MAU MENERIMA WANITA MANDUL ITU." kata Giselle sambil berteriak.


"Gagal sudah semua rencanaku, semua terjadi benar-benar di luar dugaanku. Ya, Ramon, dia harus tahu semua ini sebelum sesuatu hal buruk terjadi padanya." Kemudian Giselle mengambil ponselnya dan beberapa kali menghubungi Ramon, namun tidak ada jawaban sama sekali dari Ramon.


"Lebih baik aku menemui Ramon malam ini juga." kata Giselle, kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa kali Giselle memencet bel di pintu apartemen Ramon, hingga akhirnya dia keluar dengan mata yang masih sedikit tertutup.


"Giselle, ada apa kau malam-malam ke sini, mengganggu tidurku saja." kata Ramon sambil menguap.


"Ramon, ini bukan waktunya untuk tidur, masalahnya sudah semakin gawat Ramon."


"Gawat bagaimana Giselle?"


"Leo, Leo sudah tahu kita bersekongkol Ramon."


"Bagaimana mungkin?"


"Dia mengecek CCTV di rumah dan di kantor. Dia bahkan tahu kedatanganmu ke rumahnya beberapa hari yang lalu untuk menyerahkan surat dari dokter tentang kondisi rahim Calista. Dia sudah mengetahui semua ini saat mereka masih ada di Maldives."


"Lalu apakah dia marah pada Calista?"


"Tidak, dia justru marah padaku yang sudah bersekongkol denganmu!"


"Giselle, kau memang begitu bodoh, seandainya kau tidak ceroboh untuk menyuruhku datang ke rumah kalian, tentu semua ini tidak akan terjadi! Sekarang aku harus bagaimana? Semua rencana kita gagal dan Leo pasti akan memecatku! Kau harus bertanggung jawab akan semua ini Giselle, kini kau membuat hidupku semakin hancur."


"Enak saja kau, Ramon, kenapa harus aku yang bertanggung jawab? Ini bukan sepenuhnya kesalahanku, tapi kau juga sudah begitu ceroboh menemuiku di basemen!"


"Giselle sadarlah, kini rencana kita sudah hancur berantakan dan ini semua karenamu! Karena mu Giselle!!!" kata Ramon sambil mengguncang tubuh Giselle.


"Tidak, jangan pernah kau menyalakan aku lagi, Ramon! Ini sepenuhnya salah Calista karena dia wanita yang tidak tahu diri dan tidak mau mengalah denganku!"'


"Kenapa kau harus menyalahkan orang lain? Jangan salahkan Calista atas kebodohan dan kecerobohanmu sendiri!"


"TIDAK!!" kata Giselle sambil mendorong tubuh Ramon sehingga terjembab ke atas lantai.


"Jadi, kau berani macam-macam padaku Giselle!" kata Ramon kemudian menamparnya dengan begitu keras.


PLAK PLAK

__ADS_1


Mendapat serangan mendadak dari Ramon, keseimbangan tubuh Giselle pun goyah, dia kemudian terdorong ke samping hingga perutnya menabrak sisi meja makan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Giselle kemudian terjatuh dan tak berapa lama kemudian darah segar pun mulai mengalir membasahi kakinya.


__ADS_2