
"Kakak wajah Roy juga tampak sedikit ceria tidak seperti tadi pagi saat aku bertemu dengannya."
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Olive?"
"Entahlah aku pun tak tahu. Stttt mereka sudah dekat, jangan membicarakan mereka." kata Olivia.
"Iya Olive."
Roy dan Aini pun mendekat ke arah Calista dan Olivia yang masih berdiri di lorong rumah sakit.
"Mba Olive, Mba Calista, apa kalian mencariku?" tanya Aini.
"Ya, kami mencarimu. Apa kau menemui Darren?"
Aini kemudian tersenyum. "Tadi aku begitu merindukan Darren, saat akan meminta bantuan kalian, kalian sedang tertidur jadi aku tidak tega membangunkan kalian berdua lalu aku pergi ke ruang perawatan Darren sendirian."
"Lalu kalian bertemu?" tanya Calista.
"Ya." jawab Roy sambil mengangguk.
"Sebaiknya kita kembali ke kamarmu, Aini." kata Olivia.
"Biar aku yang mendorong kursi roda Aini." kata Calista sambil mengambil alih kursi roda tersebut dari tangan Roy.
"Iya Calista." jawab Roy.
Mereka lalu berjalan bersama menuju kamar perawatan Aini.
"Kau tampak begitu ceria Roy, tidak seperti tadi pagi."
Roy kemudian tersenyum.
"Aku hanya ingin membahagiakan mama."
"Membahagiakan Tante Heni?"
"Ya Olive, tanpa kusadari selama ini aku telah begitu banyak menyakiti hati mama. Menikah dengan Diana tanpa restu dari mama sebenarnya adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, aku sebenarnya cukup sadar jika Diana bukanlah wanita yang baik, dan aku berharap dia bisa berubah setelah kami menikah tapi ternyata aku salah, sebenarnya selama ini Diana sering menyakiti perasaan mama tapi aku selalu menutup mata karena rasa cintaku yang terlalu besar untuknya."
"Menyakiti Tante Heni?"
"Ya, dia seringkali membantah dan berkata kasar pada mama, itulah sebabnya kami baru memiliki anak setelah tujuh tahun menikah, itu karena Diana yang tidak pernah menginginkan kehadiran seorang anak, hidupnya terlalu bebas."
"Astaga, aku tidak menyangka ternyata kehidupan rumah tanggamu seperti ini Roy."
"Iya Olive, sejak pulang dari rumah sakit tadi pagi mama mengatakan suatu hal padaku yang membuatku sadar jika selama ini aku begitu egois dan tidak pernah memikirkan perasaan mama. Aku begitu sedih melihat sikap mama dan raut wajah mama tadi pagi, secara tidak sadar selama ini sebenarnya aku telah begitu menyakiti perasaan mama. Saat ini aku hanya ingin memberi sedikit kebahagiaan padanya."
"Kebahagiaan? Apa maksudmu Roy?"
__ADS_1
"Selama ini aku berjanji pada diriku sendiri jika aku hanya akan mencintai Diana, aku berjanji hanya dialah satu-satunya wanita yang aku cintai, tapi mulai hari ini aku akan mencoba mengubah apa yang menjadi prinsipku, Olive."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan mencoba membuka hatiku Olive, aku akan mencoba membuka hatiku untuk wanita lain."
"Apa maksudmu Aini?"
Roy pun kemudian tersenyum. "Entahlah, tapi sepertinya tidak karena dia masih memiliki suami."
"Dia akan menceraikan suaminya, Roy."
Roy pun begitu terkejut mendengar perkataan Olivia, sebuah debaran kini mulai merasuk ke dalam hatinya.
"Kau kenapa Roy?"
"Oh tidak apa-apa."
"Lalu bagaimana perasaanmu sekarang saat mengambil keputusan untuk membuka hatimu kembali."
"Aku merasa lebih lega Olive, rasanya saat ini hatiku sedikit bebas dan tidak terbelenggu masa laluku meskipun tidak bisa kupungkiri jika aku masih sangat sedih akan meninggalnya Diana."
"Tidak apa-apa Roy, untuk saat ini kau mau membuka hatimu saja itu sudah cukup, kau hanya perlu sedikit waktu untuk membuang kesedihan di dalam hatimu karena sudah kehilangan Diana. Yang terpenting kau harus mengikhlaskannya untuk mempermudah jalannya di akhirat."
"Iya Olive."
"Ada apa Kak?" tanya Olivia.
"Aini minta berhenti karena melihat sesuatu di atas tempat sampah." kata Calista.
Mendengar perkataan Calista, Roy pun tampak begitu gugup.
'Oh tidak, bagaimana jika Calista dan Olivia tahu aku yang memberikan bunga itu untuk Aini?' gumam Roy.
"Emh Calista, Olivia, Aini, sepertinya aku harus pulang sekarang, aku harus mengurus keperluan untuk pengajian Diana nanti malam."
"Oh iya Roy." jawab Calista dan Olivia bersamaan.
"Hati-hati Roy." kata Aini sambil tersenyum pada Roy.
Melihat senyum di wajah Aini, sebuah getaran hangat pun merasuk ke dalam sanubari Roy yang membuat dirinya tampak begitu gugup.
"O..Oh iya. Permisi." jawab Roy kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Mba Calista, aku ingin melihat benda apa itu di atas tempat sampah."
"Sebentar akan kuambilkan." kata Calista.
__ADS_1
Dia lalu bergegas mendekat ke arah tempat sampah lalu mengambil sebuket bunga mawar merah yang ada di atas tutup tempat sampah tersebut. Dia lalu mengambil buket bunga tersebut lalu berjalan kembali ke arah Aini.
"Sebuket bunga mawar." kata Calista yang membuat Olivia dan Aini mengerutkan keningnya.
"Apa ada nama pengirimnya?"
"Tidak ada." jawab Calista.
"Biar kubawa masuk saja, aku sangat menyukai bunga mawar merah." kata Aini lalu meminta bunga tersebut dari tangan Calista.
"Iya ayo kita masuk ke dalam." kata Olivia sambil mendorong kursi roda Aini.
Aini lalu menaruh bunga tersebut di atas nakas kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu sambil melirik bunga mawar merah di atas nakas tersebut. Tiba-tiba pintu kamar itu pun terbuka.
CEKLEK
Aini begitu terkejut karena yang memasuki kamar tersebut adalah Dimas.
"Kau darimana saja Aini? Aku tadi ke kamar ini tapi kau tidak ada disini? Hanya ada Mba Olive dan Mba Calista yang sedang tertidur."
"Aku baru saja menemui Darren."
"Kenapa kau harus menemui dia lagi Aini? Bukankah sudah kubilang agar kau tidak usah menemui bayi itu lagi."
"Maaf aku tidak bisa, bukankah aku juga sudah mengatakan padamu jika Darren adalah sumber kebahagiaanku, aku tidak bisa hidup tanpa Darren."
"Tapi Aini...."
Mendengar pertengkaran Aini dan Dimas kembali, Olivia dan Calista pun hanya saling berpandangan.
"Cukup Dimas, bukankah kau tahu sebentar lagi kita akan bercerai, kau tidak usah terlalu mengatur diriku. Lagipula kau tahu kan jika aku tidak bisa lagi mengandung, lebih baik kau cari wanita lain saja yang lebih sempurna dibandingkan diriku." kata Aini dengan ketus.
"Tapi Aini aku hanya mencintaimu, aku akan menerima semua kekurangan yang ada pada dirimu, aku akan menerimamu meskipun kau tidak bisa hamil lagi Aini."
"Dimas kenapa kau tiba-tiba memaksaku seperti ini? Bukankah malam itu kita sudah membuat kesepakatan jika aku akan menceraikanmu dan aku hanya memberimu waktu untuk beberapa hari menemaniku sebelum kita bercerai, tapi kenapa tiba-tiba kau memaksakku seperti ini kembali?"
"Karena aku sangat mencintaimu Aini, aku tidak mau kehilangan dirimu, aku bahkan mau menerima kekuranganmu yang tidak bisa memiliki seorang anak. Aini kau juga tidak perlu khawatir karena aku akan mengadopsi seorang anak jika kita kembali bersama, kau tidak perlu cemas karena kita akan mengasuh anak itu bersama-sama jadi kau tidak perlu memiliki Darren lagi."
"Maaf Dimas, keputusanku untuk bercerai denganmu sudah bulat, aku tidak akan pernah kembali padamu. Aku bahkan sedang mengurus gugatan ceraiku padamu. Kau cukup tampan dan memiliki banyak harta, kau pasti bisa dengan mudah mendapatkan wanita cantik yang lebih dariku diluar sana."
"Kau sadar dengan kata-katamu Aini? Kau seharusnya bersyukur aku masih mau menerima wanita tidak sempurna seperti dirimu. Tapi kau masih saja menolakku. Coba kau pikir baik-baik, apa ada laki-laki diluar sana yang masih mau menerima wanita mandul seperti dirimu setelah kau bercerai denganku!" bentak Dimas pada Aini.
"DASAR WANITA TIDAK TAU DIRI!!"
Mendengar teriakkan Dimas, Calista pun mendekat ke arahnya.
PLAKKK PLAKKK PLAKKK
__ADS_1