Salah Kamar

Salah Kamar
Satu Permintaan


__ADS_3

"Leo...." kata Calista saat melihat Leo masuk ke dalam rumah.


"Ada apa ini?"


"Leo, apakah kau sudah menemukan Ramon?" tanya Kenan.


"Belum, memangnya kenapa? Ada urusan apa kau dengannya, Kenan?"


"Ramon ternyata memiliki hubungan dengan Laras, dan Laras telah mencuri uangku sebanyak satu miliar untuk diberikan pada Ramon," jawab Kenan.


"APA? Dia benar-benar brengsek. Apa belum cukup dia memeras Giselle selama ini sampai aku harus mengalami kerugian ratusan juta!!!" ketus Leo sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa yang harus sebaiknya kita lakukan, Leo? Kita harus menghentikan Ramon, kita juga tidak tahu bagaimana kondisi Laras saat ini, apakah dia baik-baik saja atau dalam bahaya karena ponsel Laras sudah dua hari ini tidak aktif, aku takut sesuatu telah terjadi pada Laras. Kau tahu sendiri jika Ramon sangatlah licik, mustahil dia bisa tulus mencintai seseorang, apalagi wanita seperti Laras."


Olivia dan Kenan semakin panik mendengar perkataan Calista. Leo lalu terdiam sejenak. "Giselle, jalan satu-satunya untuk memancing Ramon keluar adalah Giselle, dia juga tahu nomor ponsel Ramon. Saat dia kemarin pergi dari rumah ini aku lupa menanyakan keberadaan Ramon secara detail padanya."


"Kau benar Leo."


"Ayo kita harus ke rumah Giselle secepatnya." Mereka lalu bergegas masuk ke dalam mobil untuk pergi ke rumah Giselle. Setengah jam kemudian, mereka pun sampai. Leo lalu mengetuk pintu rumah itu, dan Giselle sendiri yang membukakan pintunya.


"Kalian, ada apa kalian semua kesini?"


"Giselle, aku membutuhkan bantuanmu, tolong kami Giselle," jawab Calista.


"Tenang Calista, apa yang sebenarnya telah terjadi?"


"Saudara sepupu kami Laras, belakangan ini dia dekat dengan Ramon, sudah dua hari ini dia menghilang dan tidak bisa dihubungi, kami takut jika sesuatu telah terjadi pada Laras, selain itu dia juga mencuri uang milik Kenan, suami Olivia sebanyak satu miliar."


"Apa?? Banyak sekali? Untuk apa dia mencuri uang sebanyak itu?" Giselle lalu tampak mengerutkan kening. "Aku ingat sesuatu," ujar Giselle. "Ada apa, Giselle?" tanya Olivia.


"Saat terakhir aku memberikan uang pada Ramon untuk menyuruhnya membuat keributan di kantor Leo, dia mengatakan padaku jika dia saat ini sedang dekat dengan seorang wanita kaya. Apakah yang Ramon maksud adalah Laras?"


"Tapi Laras bukanlah wanita kaya seperti yang Ramon bicarakan," gerutu Kenan


"Itu bisa saja terjadi, Ramon menyangka jika Laras adalah seorang wanita kaya, karena itulah dia mencuri uang di rumahmu Kenan," sahut Leo.

__ADS_1


"Kau benar Leo, beberapa minggu yang lalu saat kita menginap di rumah Papa, Laras beberapa kali membawa mobil milik Olivia, mungkin itulah awal pertemuan Ramon dan Laras, sehingga dia menyangka Laras adalah orang kaya."


"Sepertinya kau ada benarnya Calista, jika Ramon menganggap Laras adalah orang kaya, dan jika kini dia sudah mengetahui siapa Laras sebenarnya, kemungkinan nyawa Laras sekarang dalam bahaya." kata Kenan sambil menatap satu per satu orang di sampingnya.


"Giselle, tolong bantu kami, bukankah kau tahu dimana keberadaan Ramon saat ini?"


"Tidak Olive, aku sekarang tidak tahu dimana tempat tinggal Ramon,"


"Tapi kau tahu kan nomor teleponnya."


"Ya Calista, hanya itu yang kutahu."


"Tolong kami Giselle, tolong pancing agar Ramon keluar dari persembunyiannya." kata Olivia.


"Baik, aku akan menolong kalian, tapi aku juga memiliki satu permintaan jika aku berhasil membantu kalian."


"Apa yang kau minta Giselle?" tanya Kenan.


Giselle lalu mengalihkan pandangannya pada Leo sambil tersenyum.


***


'Tentu saja hartamu, Laras sayang. Hahahaha."


"Untuk apa kau melakukan semua ini? Apa semua harta yang kau miliki belum cukup?"


"Harta apa Laras? Aku bahkan tidak memiliki apapun. Hahahaha."


"Jadi selama ini kau membohongiku? Perusahaan yang pernah kau katakan padaku itu semua adalah palsu?"


"Tentu saja tidak ada Laras, aku tidak memiliki perusahaan apapun, dan itu bukan kesalahanku karena aku tidak pernah menyuruhmu untuk percaya padaku." kata Ramon sambil tersenyum.


"Dasar brengsek kau Ramon, bedebah, kau sudah berani menipuku! Aku menyesal telah mengenal laki-laki sepertimu, Ramon!"


"Dan kau akan lebih menyesal lagi karena aku akan memaksamu untuk menyerahkan semua hartamu padaku!"

__ADS_1


"Harta apa?"


"Tentu saja hartamu Laras, tidak usah basa-basi sekarang cepat tanda tangan pengalihan kepemilikan semua hartamu!"


"Aku tidak memiliki harta apapun, Ramon!"


"Jangan bohong padaku!"


"Untuk apa aku berbohong padamu di saat seperti ini! Aku memang tidak memiliki harta apapun karena aku bukankah orang kaya!"


Ramon begitu terkejut mendengar perkataan Laras. "Tidak.." "Jika kau bukan orang kaya, bagaimana kau bisa memiliki mobil mewah? Lalu darimana kau bisa mendapatkan uang sebanyak satu miliar? Kau jangan coba-coba membohongiku, Laras!"


"Dengarkan aku! Mobil mewah yang selalu kunaiki adalah mobil milik saudaraku, sedangkan uang satu miliar itu pun aku mencurinya dari rumah mereka!"


"Jadi kau sudah membohongiku? Dasar wanita ******!"


"Kenapa kau harus marah padaku? Kau juga sudah membohongiku! Dasar laki-laki brengsek! Kau cuma lelaki miskin yang malas dan hanya bisa mengambil keuntungan dari orang lain!"


"Diam kau wanita sialan! Kau telah membuang waktuku! Percuma saja aku selama ini mendekatimu karena ternyata kau hanya wanita miskin yang bodoh!"


"Kau juga bodoh Ramon, hanya melihat penampilanku sekilas lalu kau menarik kesimpulan jika aku adalah orang kaya!"


"Diam kau!"


PLAK PLAK PLAK


Ramon mendekat pada Laras kemudian berungkali menamparnya. "Aku peringatkan padamu Laras, sebaiknya kau diam dan simpan tenagamu sebelum aku membunuhmu! Kau wanita yang tak berguna! Percuma aku mengurungmu disini karena kau tidak akan pernah bisa memberikan apapun padaku!"


"Bunuh saja aku sekarang, Ramon! Percuma saja aku hidup karena hidupku pun sudah hancur! Tubuhku sudah begitu hina telah disentuh oleh manusia seperti dirimu!"


Ramon kemudian menatap Laras dengan tatapan begitu tajam. "Baik.. Baik jika itu maumu Laras, aku akan membunuhmu sekarang juga," ujar Ramon sambil mendekat perlahan pada Laras sambil membawa sebuah pisau di tangannya. Laras begitu ketakutan, karena dia hanya memancing emosinya saja tanpa memiliki keinginan untuk mati di tangan Ramon.


'Brengsek, ternyata dia benar-benar akan membunuhku.' kata Laras dalam hati, keringat dingin pun kembali keluar dari seluruh tubuhnya.


"Ramon.. Ramon.. Jangan main-main Ramon," rengek Laras gugup saat Ramon kini sudah begitu dekat dengannya bersiap akan menghunuskan pisau.

__ADS_1


"Untuk apa aku bermain-main? Bukankah kau juga tadi memintaku untuk segera membunuhmu?" kata Ramon sambil tersenyum menyeringai. Laras semakin takut mendengar kata-kata Ramon, kini dia memejamkan matanya dan pasrah jika dia benar-benar harus kehilangan nyawa saat ini juga.


'Hempp tiga, dua, sa...' batin Laras mencoba menghitung mundur detik-detik kematiannya.


__ADS_2