Salah Kamar

Salah Kamar
Menghilang


__ADS_3

Giselle mencoba untuk membalikkan tubuhnya untuk melihat asal suara itu karena posisi duduknya yang membelakangi pintu ruangan sehingga dia tidak bisa melihat pemilik suara itu.


"Hei siapa kamu?"


"Apakah kau sudah lupa padaku Nyonya Giselle, hahahaha."


"Jangan main-main denganku, apa maumu?"


"Hahahaha kau yang sudah melupakan aku, Giselle, padahal kau yang berjanji padaku."


"Jangan bercanda, apa maumu sungguh aku tak mengerti? Cepat jawab!" Namun tak ada jawaban dari laki-laki itu, hanya tawanya saja yang terdengar memekakkan telinga.


***


Leo mendekat pada Calista yang kini tertidur di atas ranjangnya. "Kau sudah tidur atau pura-pura tertidur sayang?" tanya Leo sambil tersenyum kecil.


Calista kemudian bangun sambil bersungut-sungut. "Kau selalu tahu kapan aku berbohong padamu, Sayang."


"Hahahaha, aku paham semua tingkah lakumu," ucap Leo yang membuat Calista meringis.


"Bagaimana keadaan rumah hari ini?"


"Giselle sudah pergi dari rumah ini sayang. Tadi siang beberapa saat setelah kau pergi ke kantor dia juga pergi meninggalkan rumah ini dengan begitu tergesa-gesa, tampaknya dia takut padamu, Leo."


"Hahahaha, bagus kalau begitu. Jika tadi di di kantor tidak ada kekacauan pasti aku akan lebih leluasa mengerjainya."


"Memangnya kekacauan apa yang telah diperbuat Ramon di kantormu?" tanya Calista.


"Sebenarnya hari ini Ramon membuat kekacauan yang membuatku merasa sedikit emosi, anak buahnya sudah merusak jaringan listrik di kantorku, bahkan gedung bagian belakang pun sempat terbakar karena ada beberapa sambungan listrik yang konslet."


"Astaga, dia bisa berbuat sejauh itu? Kau harus segera bertindak dan memberikan pelajaran untuknya, Leo."


"Iya Calista, sayangnya aku kehilangan jejaknya, dia sudah tidak tinggi lagi di apartemen miliknya dulu, tapi aku menemukan beberapa bukti jika gaya hidup Ramon sekarang semakin tinggi, bahkan beberapa minggu yang lalu dia sempat membeli mobil mewah."


"Apaaa mobil mewah? Darimana dia mendapatkan uang untuk membeli mobil itu?"


"Entahlah, bahkan dia belum mengambil gajinya yang sudah kukirimkan ke rekeningnya."


"Bagaimana mungkin Leo, apa dia tidak membutuhkan uang?"


"Dia melakukan semua itu agar aku tidak bisa melacak transaksinya melalui rekening lamanya, Calista. Ramon tidak bodoh, dia pasti sudah memperhitungkan semua ini."


"Apakah semua uang itu berasal dari Giselle? Dan hasil penjualan berlianku juga untuk membiayai hidupnya?"

__ADS_1


"Bisa jadi, tapi uang penjualan berlianmu itu tidak akan cukup untuk membeli sebuah mobil mewah sayang," kata Leo sambil tersenyum.


"Besok aku akan menemui Giselle, aku akan menanyakan semua ini padanya. Aku juga akan menalaknya dan memberikan sejumlah uang untuknya."


"Aku ikut, aku ingin bicara hati ke hati dengannya."


"Tentu Calista, kau besok harus ikut bersamaku."


"Bagaimana Olive apa dia sudah tertidur?"


"Ya, dia bahkan seharian hanya tidur terus menerus."


"Hahahaha, namanya juga wanita hamil, Calista."


"Tapi aku tidak ingin terus menerus tidur jika aku hamil nanti. Bisa-bisa aku jadi gendut Leo."


"Hahahaha, Calista kau sungguh lucu, memangnya kenapa jika kau berubah jadi gendut? Apapun yang terjadi padamu, aku akan selalu mencintaimu."


"Yang benar?"


"Tentu sayang." jawab Leo sambil mulai mencium bibir Calista.


***


"Untungnya aku pintar, tadi siang aku sudah mengecoh para pembantu di rumah ini dan berpura-pura mengambil berkas di ruang kerja milik Kenan, padahal di ruangan itu aku menjiplak kunci untuk membuat duplikat beberapa kunci di rumah ini sehingga aku bisa masuk ke dalam rumah ini dengan mudah," kata Laras sambil terkekeh.


Dalam kegelapan, dia lalu masuk ke dalam rumah melalui pintu dapur, setelah itu dia naik ke atas menuju ke kamar milik Kenan dan Olivia.


"Hahahaha berhasil, akhirnya aku bisa leluasa mengambil barang berharga di kamar ini." Dia lalu berjalan ke arah lemari tempat Kenan menyimpan brankas miliknya dan membuka lemari itu. Matanya berbinar saat melihat sebuah brankas yang ada di salah satu pojok lemari, bergegas dia lalu mengambil brankas itu.


'Berapa password brankas ini ya?' gumam Laras.


"Ahaaaa, aku tahu pasti tanggal pernikahan Olivia dan Kenan. Tapi berapa tanggal pernikahan mereka?" kata Laras sambil menggaruk kepalanya.


"Sebentar, aku coba lihat di postingan sosial media mereka." Laras mengambil ponselnya dan melihat salah satu postingan di sosial media milik Kenan.


"Akhirnya ketemu," gumam Laras sambil tersenyum dan mulai menekan beberapa angka pada brankas tersebut. Dan sesuai dugaan, brankas itu pun terbuka.


'Aku memang sangat pintar,' gumam Laras dalam hati sambil mengambil beberapa bendel uang yang ada di dalam brankas itu. Namun setelah menghitung uang yang kini ada di tangannya, uang tersebut sangatlah jauh dari jumlah yang dia butuhkan.


"Hanya ada satu miliar?" Laras pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ah, sudahlah tidak apa, aku bisa beralasan pada Ramon jika bisnisku sedang sedikit menurun. Yang penting setelah ini, Ramon bisa segera menikahiku dan secepatnya aku bisa jadi orang kaya," gumam Laras sambil terkekeh, kemudian dia memasukkan brankas itu lagi dalam lemari dan meninggalkan rumah Kenan.

__ADS_1


***


Pagi-pagi, Leo dan Calista sudah sampai di rumah milik Giselle.


"Benar rumahnya ini sayang? Kok sepi?"


"Benar, ini rumah milik Giselle sesuai data di kantorku," jawab Leo. Mereka lalu masuk ke pekarangan rumah itu kemudian mengetuk pintunya. Beberapa saat kemudian, tampak seorang wanita tua keluar dari dalam rumah.


"Maaf anda siapa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu ramah.


"Saya Leo dan ini istri saya, Calista. Kami mau bertemu Giselle, maaf apakah ibu orang tua dari Giselle?"


"Oh ya saya ibunya Giselle, tapi putri saya belum pulang, bulan lalu dia pergi dari rumah ini dan mengatakan pada saya jika dia mendapat pekerjaan di luar kota, biasanya dia selalu menghubungi saya, namun sudah dua hari ini Giselle belum menelpon saya."


"Jadi dari kemarin Giselle belum pulang Bu?" tanya Leo. Wanita itu lalu menggeleng. "Calista, bagaimana ini? Giselle belum pulang ke rumah, dan ternyata dia pamit pada orang tuanya bukan untuk menikah siri denganku." kata Leo sambil berbisik.


"Lebih baik kita pamit pulang dulu, nanti kita bicarakan di mobil," jawab Calista.


"Iya sayang," Leo lalu berpamitan pada ibunya Giselle.


"Baik Bu, saya pamit dulu, jika Giselle sudah pulang tolong sampaikan jika saya mencarinya."


"Baik Tuan Leo."


"Terima kasih banyak saya pamit dulu." kata Leo lalu pergi meninggalkan rumah itu.


"Bagaimana ini Calista, Giselle tidak pulang ke rumahnya? Apa dia takut pada kita?"


"Entahlah Leo, coba kuhubungi ponselnya." kata Calista sambil mencoba menghubungi Giselle.


"Bagaimana?"


"Tidak aktif."


"Ini salahku, karena sibuk dengan kekacauan di kantor aku sampai lupa untuk menyuruh anak buahku untuk mengikutinya."


Ponsel Leo tiba-tiba berbunyi. "Siapa Leo?"


"Nomer tidak dikenal, sayang."


"Coba kau angkat, barangkali itu Giselle."


Leo lalu mengangkat panggilan di ponselnya, baru saja dia akan menjawab panggilan itu, sebuah teriakan dari sambungan telepon itu begitu memekakan telinganya.

__ADS_1


[Leooooo tolong akuuuuu.]


__ADS_2