Salah Kamar

Salah Kamar
Darah Segar


__ADS_3

"Kau sudah datang Rima?" kata Ilham kemudian mendekat ke arah Rima.


"Ya."


Ilham lalu memandang Olivia. "Olive, bisakah kau tinggalkan kami berdua."


Olivia pun kemudian mengangguk, dengan penuh keraguan dia kemudian meninggalkan Rima di kamar perawatan Ilham.


🍀🍀🍀🍀🍀


"Aku sangat khawatir pada Rima." kata Calista saat Olivia mengantarkan Rima ke dalam ruang perawatan Ilham.


"Kami semua juga khawatir Calista." kata Drey menimpali.


Olivia lalu keluar dari ruangan itu.


"Olive, kenapa kau meninggalkan Rima di dalam?"


"Ilham yang menyuruhku untuk meninggalkannya di dalam."


"Kenapa kau lakukan itu Olive? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Rima? Apalagi saat ini kondisinya masih belum sepenuhnya pulih." kata Calista.


"Calista sudahlah, kita tidak punya pilihan atau Ilham akan semakin bertindak di luar batas." jawab Leo menenangkan Calista sambil memeluknya.


"Iya Calista, benar kata Leo kita tidak punya pilihan. Lebih baik kita bersiaga disini, dengarkan semua percakapan mereka. Jika nada bicara Ilham mulai meninggi kita harus bersiap masuk ke ruangan ini."


"Iya Kenan, kita bertiga lebih baik berjaga di depan pintu." kata Drey menimpali.


Leo dan Kenan pun mengangguk, mereka lalu berdiri di depan pintu sambil membuka sedikit pintu tersebut agar memudahkan mereka mengawasi Ilham dan Rima.


🍀🍀🍀🍀


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ilham.


"Baik, jauh lebih baik dibandingkan saat bersamamu."


Mendengar perkataan Rima, Ilham pun kemudian tertawa. "Hahahaha, benarkah?"


"Ya, tentu saja. Setidaknya tidak ada yang membuat hati dan tubuhku terluka."


"Rima, apakah aku sekejam itu padamu? Apa kau tidak bisa memaafkan aku?"

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu."


"Terimakasih Rima." Ilham pun kemudian mendekat pada Rima dan menggenggam tangannya.


"Rima, bisakah kita memulai semua ini dari awal?"


Rima lalu memandang wajah Ilham.


"Sudah berapa kali kau mengatakan hal seperti ini padaku? Aku sudah lelah."


"Jadi kau tidak ingin kita bersama lagi?"


Rima pun kemudian mengangguk. "Sudah cukup, aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri."


"Apa maksudmu Rima? Bukankah tadi kau bilang sudah memaafkan aku? Jika kau sudah memaafkan aku kenapa kau tiba-tiba berkata seperti ini?"


"Ya, aku memang sudah memaafkanmu, tapi itu tidak berarti aku mau kembali dan menjalani rumah tangga ini denganmu!"


"Tidak bisa Rima, kau tidak bisa semudah itu pergi dariku, bukankah saat ini kau sedang hamil? Kau hamil anakku kan Rima? Kita tidak mungkin bercerai, kasihan anak itu jika tidak memiliki orang tua yang utuh."


Rima pun menatap Ilham. "Bagaimana kau bisa tahu aku sedang mengandung? Apa yang telah kau lakukan? Apa kau telah mengintaiku?"


"Lalu bagaimana kau tahu jika aku sedang hamil?"


"Naluriku Rima, aku adalah suamimu, tanpa kau bercerita padaku, aku tahu kau sedang mengandung anak kita."


"Cih bulls*it! Sejak kapan kau pernah memperhatikan dan peduli pada orang lain? Tidak usah banyak berbohong padaku Ilham, apapun yang kau katakan itu tidak akan pernah merubah keputusanku."


"Keputusan apa? Keputusan untuk bercerai?"


"Ya, aku sudah memasukkan gugatan ceraiku ke pengadilan. Setelah anak ini lahir kita sudah bukan suami istri lagi, aku akan menjalani hidupku dan mencari kebahagiaanku sendiri."


"Mencari kebahagiaan dengan lelaki blasteran itu maksudmu?" tanya Ilham dengan tatapan tajam.


"Itu bukan urusanmu Ilham, bagaimana kedepannya hidupku nantinya itu bukan urusanmu."


"Tentu saja jadi urusanku karena anak yang kau kandung adalah anak kandungku."


"Kalau masalah itu kau tak perlu khawatir karena aku pasti bisa merawat anak ini dan mencukupi semua kebutuhannya."


"Kau bisa mengatakan seperti itu karena lelaki blasteran itu cukup kaya bukan? Dan dia bisa memenuhi semua kebutuhanmu tidak seperti diriku?"

__ADS_1


"Kau tidak usah mengurusi kehidupanku lagi, apa kau lupa bagaimana hidupku bersamamu dulu yang selalu kau sia-siakan? Bukankah dulu kehadiranku tidak pernah berarti di hidupmu? Lalu mengapa saat aku ingin pergi darimu kau begitu keberatan atas keputusanku."


"Itu semua karena aku baru menyadari betapa berartinya dirimu dalam kehidupanku."


"Heh, tidak usah berpura-pura dan berbohong lagi padaku, apapun yang kau katakan, aku tidak akan pernah percaya pada kata-katamu."


"Tapi Rima, kali ini aku benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki hubungan kita."


"Sudah cukup, cukup Ilham, apapun yang kau katakan tidak akan pernah merubah keputusanku untuk berpisah denganmu."


Mendengar perkataan Rima Ilham pun hanya terdiam.


"Sudah tidak ada lagi yang kau katakan bukan? Jika sudah tidak ada, aku pergi sekarang." kata Rima kemudian berbalik ke arah pintu keluar sambil mendorong kursi roda dengan menggunakan tangannya."


"Rimaaaaa!!!" teriak Ilham.


Rima kemudian memalingkan wajahnya dan tampak di depannya Ilham sudah menatapnya dengan tatapan begitu tajam, wajahnya pun kini terlihat memerah penuh amarah.


"Baik jika kau tidak mau menuruti kata-kataku, lebih baik kau kumusnahkan saja dari dunia ini!" teriak Ilham. Dia kemudian mengambil sebuah pisau yang dia selipkan di sakunya.


"TIDAK ILHAM!" teriak Rima dengan begitu panik, apalagi saat ini kini Ilham sudah mendekat padanya dan mengayunkan pisau yang ada di tangannya. Di saat itulah pintu ruangan tersebut terbuka, dan Drey secepat kilat berlari ke arah Rima dan mendorong kursi rodanya. Namun gerakan Drey yang kalah cepat dibandingkan dengan ayunan tangan Ilham membuat dirinyalah yang terkena luka tusukan di punggungnya. Mendapat dorongan tiba-tiba dari Drey, tubuh Rima pun terpental dari atas kursi roda.


Sedangkan Leo, Kenan, dan beberapa orang polisi pun sudah berada di dekat Ilham. Namun langkah mereka terhenti karena secepat kilat Ilham menarik tubuh Drey yang kini terkapar tidak berdaya ke dalam cengkraman tangannya.


"Lihat ini lihat!" teriak Ilham.


"Jika kalian berani mendekat padaku maka aku akan menghabisi nyawanya sekarang juga." teriak Drey sambil mencengkram tubuh Drey. Dengan membawa tubuh Drey yang tak berdaya, Ilham pun keluar dari ruangan itu dan berlari keluar dari rumah sakit.


"Ayo cepat ikuti Ilham." teriak polisi tersebut.


Mereka pun kemudian berlari mengikuti Ilham yang kini tampak berjalan keluar dari rumah sakit itu.


Calista dan Olivia yang melihat semua kejadian itu hanya bisa terdiam sambil berpegangan tangan satu sama lain. Setelah mereka semua pergi dari kamar perawatan Ilham, mereka kemudian mendekat pada Rima yang kini tergolek di atas lantai.


"Rima, bagaimana keadaanmu?" tanya Olivia dan Calista pada Rima, namun Rima hanya terdiam.


"Kakak dia pingsan, tapi lihat ini." kata Olivia sambil menunjuk darah segar yang mengalir di kaki Rima.


"Astaga. Olive, cepat angkat tubuh Rima, kita bawa dia ke rumah sakit."


"Iya kak."

__ADS_1


__ADS_2