
Firman pun tersenyum kemudian membalas pelukannya pada Vallen sambil membelai rambutnya.
"Kau tidak usah khawatir, suatu saat aku akan menemuimu kembali. Aku pasti merindukan gadis aneh seperti dirimu yang selalu membuatku tersenyum saat bersamamu."
Mendengar perkataan Firman, Vallen pun melepas pelukannya setelah mereka berpelukan cukup lama, dia kemudian tersenyum.
"Kupegang janjimu laki-laki sombong." jawab Vallen yang membuat Firman ikut tertawa.
"Ya, aku janji. Sekarang pulanglah, aku takut kakakmu mencemaskan dirimu."
Vallen pun mengangguk sambil tersenyum.
"Aku pulang dulu, sampai bertemu di lain kesempatan."
"Iya Nona Vallen."
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan Nona?"
Firman pun tersenyum.
"Baik Vallen."
"Itu jauh lebih baik. Aku pulang dulu."
"Iya."
Vallen kemudian berjalan menjauhi Firman. Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba Firman memanggilnya.
"Vallen."
"Ya." jawab Vallen sambil membalikkan badannya.
"Hati-hati."
Vallen pun mengangguk sambil tersenyum, tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak. Dia kemudian membalikkan badannya lagi tapi Firman pun sudah berjalan menjauhinya.
'Selamat tinggal Firman, aku akan menanti saat kau datang menemuiku kembali.' gumam Vallen sambil meneteskan air mata.
Sedangkan Firman berjalan ke arah mess milik Zidan dengan penuh keragungan, perasaannya begitu tak menentu, rasanya seperti ada sesuatu yang begitu mengganjal di hatinya saat melihat Vallen pergi.
'Kenapa tiba-tiba aku jadi seperti ini?' gumam Firman sambil terus berjalan.
💙💙💙💙💙
Saat akan memasuki resort, Vallen tampak melihat David dan Stella yang sedang memasukkan barang-barang milik mereka ke dalam mobil. Vallen kemudian bergegas menghampiri mereka.
"Apa kalian juga sudah membereskan barang-barang milikku?" tanya Vallen pada Stella yang baru saja menutup bagasi mobil. Sedangkan David berjalan ke arah depan untuk memanaskan mobil terlebih dulu.
"Tentu saja anak manis, aku sudah membereskan barang-barangmu ke dalam koper." kata Stella sambil mencubit pipi Vallen.
"Terimakasih hahahaha, kau memang kakak iparku yang paling baik." kata Vallen kemudian memeluk Stella.
Namun Stella malah memperhatikan wajah Vallen.
"Vallen, kenapa tanganku lengket saat aku memegang wajahmu? Apa kau habis menangis?" tanya Stella sambil terus memperhatikan wajah Vallen.
"Owh.. E.. O, tidak. Aku hanya sedikit mengantuk jadi ada air mata yang menetes di wajahku."
Stella lalu tersenyum.
__ADS_1
"Kau tidak usah berbohong, apa kau bertemu seseorang di sini yang membuatmu jatuh cinta padanya?"
"Oh.. Itu tidak mungkin, aku baru saja patah hati Kak Stella, aku tidak mungkin secepat itu jatuh cinta pada seseorang."
Stella pun tersenyum.
"Tidak usah berpura-pura, aku tahu kau sedang jatuh cinta." kata Stella sambil meledek yang membuat Vallen tersipu malu.
"Hai, kalian kenapa lama sekali berdiri di situ. Ayo cepat masuk!!" teriak David.
"Ayo kita masuk Kak Stella, macannya sudah mengaum." kata Vallen sambil terkekeh.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Vallen lalu duduk di kursi belakang mobil sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan, sesekali dia tersenyum sambil memeluk dirinya sendiri mengingat hangatnya pelukan bersama Firman sebelum mereka berpisah.
"David lihat, sepertinya adikmu sedang jatuh cinta." bisik Stella pada David.
"Benarkah?"
"Ya. Lihat saja sendiri."
David lalu memalingkan wajahnya sebentar saat mobil mereka sedang berhenti di perempatan lampu lalu lintas, dan melihat Vallen yang sedang tersenyum sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Apakah dia benar-benar jatuh cinta Stella? Dia sangat aneh, aku pikir dia gila."
"David!!! Dia adikmu!!" bentak Stella sambil berbisik yang membuat Vallen terkejut.
"Kalian kenapa?" tanya Vallen.
"Tidak apa-apa, aku hanya melihat orang gila." jawab David sambil terkekeh.
💙💙💙💙💙
Firman membuka pintu mess dan melihat Zidan yang sudah ada di dalam mess tersebut.
Zidan pun mengangguk.
"Kau darimana saja? Apakah kau baru berkencan dengan gadis itu?"
"Aku hanya pergi dengannya sebentar. Ini bukan kencan karena aku tidak memiliki perasaan apapun dengannya."
"Kau jangan membohongi perasaanmu sendiri, Firman. Kau mulai tertarik padanya kan?"
Firman kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku akan berusaha agar itu tidak terjadi."
"Memangnya kenapa? Bukankah dia sangat cantik?"
"Bukankah sudah kubilang, kami berbeda Zidan. Perbedaan kami terlalu jauh, bagaikan langit dan bumi."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Ya itulah kenyataannya, dia baru saja pulang ke Indonesia."
"Maksudmu dulu dia hidup di luar negeri?"
"Ya, dia baru saja menyelesaikan program spesialisnya di London."
"Wow, jadi dia seorang dokter? Kau benar-benar beruntung bisa berkenalan dengan wanita seperti dia. Dia sangat cantik dan pintar. Apalagi jika kalian menjadi sepasang kekasih, kau adalah laki-laki paling beruntung yang pernah kukenal."
__ADS_1
"Tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi, Zidan. Aku tidak akan pernah memiliki hubungan apapun dengannya kecuali hubungan pertemanan. Dia berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku."
"Tapi kenapa? Kau jangan rendah diri seperti itu, Firman. Kau juga pintar, kau lulusan terbaik saat kita kuliah dulu."
"Iya tapi hanya berkuliah di Universitas Negeri biasa, sedangkan dia berkuliah di salah satu Universitas terbaik di dunia. Dia juga berasal dari keluarga yang cukup berada, tidak seperti diriku."
"Tapi Firman, cinta tidak mengenal semua itu. Cinta berasal dari hati yang paling dalam yang tidak bisa diukur dengan materi. Bukankah kau juga tahu jika cinta tidak mengenal logika?"
"Sudahlah Zidan, tidak usah membahas itu lagi. Bagaimana dengan pekerjaan yang kau tawarkan?"
"Oh ya mengenai pekerjaan itu. Emh.. Sebenarnya pekerjaan itu tidak di sini Firman. Pemilik resort ini sedang membutuhkan akuntan baru karena sedang membuka perluasan usaha dan rencananya kau akan ditempatkan di sana, besok kau akan wawancara dengan pihak HRD. Hanya formalitas saja karena aku sudah menceritakan kemampuanmu sebagai salah satu akuntan terbaik di Universitas kita dulu."
"Kau berlebihan."
"Memang kenyataannya seperti itu."
"Hahahaha, kau ada-ada saja. Memangnya dimana aku akan ditempatkan? Apakah di sekitar daerah ini?"
"Oh.. E.. Tidak Firman, kau akan ditempatkan di Jakarta."
"Di Jakarta?"
"Ya, di Jakarta."
"Astaga." kata Firman sambil mengusap kasar wajahnya.
💙💙💙💙💙
"Kita sudah sampai." kata David.
Dia dan Stella lalu bergegas turun dari mobil, namun saat mereka sudah turun, tampak Vallen masih duduk di dalam mobil. David pun kemudian membuka pintu mobil.
"Vallen!!! Apa yang kau lakukan di dalam? Kita sudah sampai!!!" teriak David.
"Iya Iya Kak, sebentar." gerutu Vallen kemudian turun dari mobil sambil membawa barang-barangnya.
"Stella, aku rasa di memang benar-benar gila." kata David sambil terkekeh.
"David!!" bentak Stella.
Vallen berjalan membuka pintu rumah dengan begitu lemas, tapi tiba-tiba netranya tertuju dengan sosok yang kini sedang duduk di ruang tamu bersama dengan mamanya.
"Mama..." kata Vallen tertahan.
"Vallen, dia ingin bertemu denganmu."
💙💙💙💙💙
Firman tampak begitu gelisah memandang ponselnya.
"Bukankah ini sudah tiga jam sejak dia meninggalkan resort ini? Seharusnya dia sudah sampai di rumahnya, kenapa dia belum juga menghubungiku?" kata Firman sambil menatap ponselnya.
Tiba-tiba sebuah suara memanggil dirinya.
"Firman."
"Oh iya Vallen."
Zidan yang mendengar jawaban Firman pun tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kau bilang tidak ingin jatuh cinta padanya, tapi kau selalu mengingat dirinya, bahkan kau sampai salah memanggil namaku dengan namanya. Jangan pernah membohongi perasaanmu sendiri, Firman. Hahahaha."
'Astaga, kenapa aku jadi seperti ini?' gumam Firman dalam hati sambil menahan perasaan malu karena Zidan kini terus menertawakannya.