
"Bagaimana Rima, kau senang anakmu kini sudah sehat?" kata Drey saat mereka keluar dari rumah sakit.
"Iya Drey, aku sangat menyayangi anak ini. Dia satu-satunya yang aku punya di dunia ini selain ayahku." jawab Rima sambil tersenyum.
"Kau sudah lupa? Kau juga punya kami Rima."
"Kami?"
"Ya, aku dan mama. Kami juga keluargamu."
"Terimakasih Drey."
"Rima, bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?"
"Makan di luar?"
"Ya, anggap saja kita berkencan." jawab Drey sambil terkekeh.
Rima pun tersenyum kecut mendengar perkataan Drey. 'Jangan terlalu dibawa perasaan Rima, karena dia masih mencintai wanita lain.' kata Rima dalam hati.
🍀🍀🍀🍀
"Olive, bagaimana jika kita bulan madu lagi? Minggu-minggu ini jadwalku tidak sepadat biasanya."
"Apa, bulan madu?"
Kenan pun mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak Kenan, itu ide yang buruk. Masalah Ilham juga belum selesai. Bagaimana jika dia kembali berulah saat kita sedang tidak ada disini?"
"Kau benar juga sayang. Dia memang selalu merepotkan kita." gerutu Kenan.
Tiba-tiba ponsel Kenan pun berbunyi. Melihat seseorang yang menghubunginya, kening Kenan pun berkerut.
"Siapa Kenan?"
"Komandan Firdaus." jawab Kenan kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
Olivia pun mengamati gerak-gerik Kenan yang sekarang tampak begitu serius, Olivia lalu mendekat pada Kenan saat dia menutup panggilan telepon itu.
"Ada apa Kenan? Apa Ilham berbuat sesuatu lagi?"
Kenan pun kemudian mengangguk.
"Apa yang dia perbuat? Apa dia mencelakakan polisi lagi?"
"Bukan, bukan itu. Tapi dia meminta sesuatu."
"Apa?"
"Dia meminta bertemu dengan Rima, dan berbicara empat mata dengannya. Dia bahkan tidak mau bertemu dengan psikolog yang akan menanganinya jika belum bertemu dengan Rima."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?"
"Kita tidak punya pilihan lain, kita harus mempertemukan Ilham dan Rima."
"Tapi aku takut jika dia berbuat sesuatu pada Rima."
"Kita semua akan mendampingi Rima saat bertemu dengan Ilham."
"Tapi apakah Rima masih mau menemuimunya?"
"Entahlah, sebaiknya kau menanyakannya Olive."
"Ya, nanti aku akan menelepon Rima."
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Drey mendorong Rima masuk ke dalam rumahnya, betapa terkejutnya dirinya saat membuka pintu rumah itu dan melihat Risma yang kini sedang menunggunya di ruang tamu sambil menyunggingkan senyumnya.
"Mama." kata Drey dan Rima.
"Mama kenapa belum tidur?"
"Tentu saja menunggu kalian berdua."
"Menunggu kami?"
"Ya, memangnya kenapa? Apa tidak boleh mama menunggu kalian berdua?"
"Tentu saja boleh ma." jawab Rima.
Risma pun kemudian tersenyum dan mendekat pada Drey dan Rima.
"Mama ingin lihat hasil USG mu Rima."
Drey dan Rima pun saling berpandangan.
"Mana hasil USG mu? Mama ingin lihat cucu mama."
"Jadi mama belum tidur karena ingin melihat hasil USG Rima?"
"Tentu saja." jawab Risma sambil terkekeh.
"Kenapa tidak menunggu sampai besok pagi ma?"
"Drey, tadinya mama berpikir seperti itu tapi ternyata mama tidak bisa tidur memikirkan cucu mama dalam kandungan Rima."
"Mama ada-ada saja."
"Cepat berikan hasil USG Rima pada mama."
"Ini ma." jawab Rima sambil memberikan hasil USGnya pada Risma.
Risma pun begitu bahagia melihat hasil USG yang ada di tangannya.
"Iya ma, itu cucu mama." jawab Drey.
Rima pun kemudian menatap Drey, lalu beralih menatap Risma yang kini tersenyum sambil mengamati hasil USG tersebut.
"Ma, kandungan Rima baru berusia lima minggu, belum terlihat apapun di hasil USG itu. Janinnya masih tampak seperti sebuah titik saja."
"Tidak masalah Rima, mama hanya ingin melihat calon cucu mama. Mungkin saat dia lahir, dia akan sangat mirip dengan papanya." jawab Risma sambil mengamati hasil USG itu.
'Maafkan aku ma, maaf aku harus membohongi orang sebaik dirimu.' kata Rima dalam hati sambil melihat Risma yang begitu bahagia melihat USG miliknya.
Rima dan Drey kemudian saling berpandangan.
"Mama ini sudah malam, sebaiknya mama tidur sekarang."
"Iya Drey, mama ke kamar dulu ya." kata Risma kemudian meninggalkan Drey dan Rima.
"Ayo kita juga ke kamar, kau pasti lelah."
"Iya Drey."
Drey lalu mendorong kursi roda Rima masuk ke kamar mereka.
"Drey, aku benar-benar merasa begitu bersalah pada mama, dia sangat menyayangi anak yang ada dalam kandunganku."
"Biarkan saja. Memangnya kenapa?"
"Tapi ini bukan anakmu Drey, saat dia lahir apa mama tidak kecewa jika anak ini ternyata tidak mirip denganmu?"
Drey pun tersenyum mendengar perkataan Rima.
__ADS_1
"Tidak masalah Rima, aku bisa mengatakan jika gen mu ternyata lebih dominan dibandingkan dengan genku."
Rima pun tersenyum mendengar perkataan Drey.
"Kau ada-ada saja, Drey."
"Bukankah itu jawaban yang bagus?"
Rima pun hanya tersenyum sambil mengangguk. Di saat itu pula ponsel Rima pun berbunyi.
"Olivia." kata Rima saat melihat panggilan di ponselnya.
"Olive?" tanya Drey.
Rima pun mengangguk lalu mangangkat panggilan telepon itu.
[Halo Rima.]
[Iya Kak Olive.]
[Rima ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.]
[Iya Kak, ada apa? Katakan saja.]
[Begini Rima, Ilham ingin bertemu denganmu. Dia tidak mau melakukan berbagai proses pemeriksaan kejiwaan yang dilakukan oleh psikolog jika belum bertemu dengan mu. Apakah kau mau menemuinya?]
Mendengar pertanyaan Olivia, Rima pun terdiam.
[Maaf Rima, kami tidak ingin memaksamu. Tidak apa-apa jika kau tidak mau bertemu dengannya.]
[Tidak Kak Olive, aku mau bertemu dengannya. Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada Ilham.]
[Apa kau yakin?]
[Iya Kak Olive, aku yakin.]
[Baik Rima, besok kami juga akan menemanimu. Kami tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padamu.]
[Iya kak terimakasih.] jawab Rima kemudian menutup panggilan telepon itu.
"Apa yang Olive katakan?" tanya Drey.
"Ilham ingin bertemu denganku, bahkan dia tidak mau bertemu dengan psikolog untuk menjalani pemeriksaan sebelum bertemu denganku."
"Lalu apakah kau akan menemuinya?"
"Ya, aku akan menemuinya besok. Lagipula aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya, aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya, Drey."
"Iya Rima, tapi apa ini tidak membahayakanmu?"
"Aku yakin tidak, mereka akan menemaniku."
"Aku juga akan menemanimu." jawab Drey sambil menggenggam tangan Rima yang membuat perasaan Rima terasa bergetar.
🍀🍀🍀🍀
Rima duduk di kursi roda sambil memandang sebuah kamar perawatan di sebuah rumah sakit jiwa dengan perasaan begitu tak menentu. Perasaan takut sebenarnya begitu menyelimuti hatinya, namun hati kecilnya selalu menguatkannya untuk menghadapi seseorang yang akan dia hadapi. Olivia dan Calista yang kini ada di sampingnya pun berusaha menguatkannya.
"Jangan memaksakan dirimu jika kau tidak yakin." kata Calista.
"Iya Rima kau juga harus memperhatikan kondisimu."
"Tidak apa-apa, aku harus mengakhiri semua ini dengan Ilham." jawab Rima.
Drey lalu memegang bahu Rima. "Apa kau yakin?"
"Ya, aku sudah siap. Antar aku ke dalam."
__ADS_1
"Aku saja." kata Olivia kemudian mendorong kursi roda Rima ke dalam kamar perawatan Ilham. Melihat kedatangan Rima, Ilham pun terlihat begitu bahagia.
"Kau sudah datang Rima?" kata Ilham sambil tersenyum menyeringai.