
David masuk ke dalam ruangan Stella dengan sedikit tergesa, dia lalu mendekat ke arah Stella dan duduk di sampingnya.
"Untung aku belum terlambat dan bisa melihatmu sebelum kau masuk ke ruang operasi." kata David sambil tersenyum dan membelai rambut Stella.
"David bukankah sudah kukatakan jika kau sibuk kau tidak usah menemaniku. Sebentar lagi ada mama, papa, Revan, dan Giselle juga datang."
"Aku tidak sibuk Stella, aku hanya sedang melihat dan sedikit mengawasi pemotretan untuk pembuatan baliho baru rumah sakit ini." jawab David kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Stella.
"Aku yakin kau pasti bisa sembuh sayang." bisik David kemudian mencium bibir Stella.
Sedangkan Rima masuk ke dalam rumah sakit dengan begitu bersemangat. Senyuman terus mengembang di bibirnya. Dia kemudian langsung berjalan menuju ke kamar perawatan Stella.
"Aku tidak boleh melewatkan drama pagi ini. Aku ingin melihat bagaimana raut wajah Stella yang kehilangan kedua orang tuanya karena sudah memakan makanan beracun dariku. Hahahaha." kata Rima sambil tertawa.
Beberapa saat kemudian dia pun sudah sampai di ruangan Stella dan tanpa sengaja melihat David dan Stella yang sedang berciuman.
"Emh.. E.. Maaf, saya mengganggu." kata Rima yang melihat David dan Stella melepaskan ciuman mereka karena mendengar suara pintu yang terbuka.
'Brengsek! Kenapa aku harus melihat mereka berciuman!' umpat Rima dalam hati.
"Rima, apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?"
"E.. Maaf dokter David, saya pikir anda belum ada di sini karena tadi ada yang mengatakan anda sedang melihat pemotretan untuk membuat baliho baru."
"Iya itu tadi tapi sebentar lagi Stella akan melakukan operasi makanya aku ke sini."
'Operasi? Jangan mimpi kau David.' gumam Rima sambil tersenyum.
Pintu kamar perawatan Stella tiba-tiba terbuka. Kedua orang tua Stella beserta Revan dan Giselle kemudian masuk ke ruangan itu.
"Kalian semua sudah datang?" kata Stella dengan raut wajah berbinar.
"Iya Stella? Kau sudah siap kan?" tanya Hilman yang dijawab anggukan oleh Stella.
"Stella, kami yakin kau pasti bisa sembuh." kata Giselle.
"Terimakasih banyak, kalian semua telah banyak membantuku."
Melihat pemandangan yang ada di hadapannya, Rima pun begitu terkejut.
'Tidak, bagaimana mungkin?' tanya Rima dalam hati.
'Bagaimana mungkin orang tua Stella masih hidup? Apa mereka tidak memakan makanan yang kuberikan?' kata Rima dalam hati sambil menutup mulutnya.
Revan dan Giselle pun mendekat pada Rima. "Kau kenapa Rima?"
__ADS_1
"Kau terkejut?"
"Apa maksudmu berkata seperti itu Revan?"
"Tidak usah berpura-pura lagi Rima, kami tahu segalanya tentangmu."
"Sungguh aku tidak mengerti apa yang kalian katakan."
Revan lalu mencengkeram tangan Rima, dia dan Giselle lalu membawa Rima keluar dari ruang perawatan Stella agar tidak membuat Stella panik karena sebentar lagi dia akan menjalani operasi. David yang melihat gelagat mencurigakan dari ketiganya lalu mengikuti merek keluar ruangan.
"Ada apa ini Revan?" tanya David.
"David, dialah pelakunya. Dialah yang menyebabkan keadaan Stella semakin memburuk hingga mengalami keguguran."
"Benarkah?" tanya David dengan dahi yang berkerut disertai emosi yang mulai dirasakannya.
"Tidak dokter, itu tidak benar. Saya tidak melakukan apapun pada Nyonya Stella."
"Hai Revan, Giselle. Kau tidak usah berbohong, kau tidak bisa menuduhku begitu saja tanpa bukti."
"Kau ingin bukti? Lihat ini, semua bukti ini ada di kamarmu." kata Revan sambil memperlihatkan foto yang dikirimkan oleh Calista berupa obat-obatan yang ditemukan oleh Leo dan Calista.
"Tidak, itu bukan milikku."
David kemudian mengambil ponsel Revan, lalu mengamati foto obat-obatan itu dengan seksama.
"Kau jangan bercanda Revan, kenapa kau tiba-tiba berbuat seperti ini padaku? Apa kau tidak sadar hubunganmu dan Giselle bisa kembali diselamatkan itu karena aku?"
"Rima kau tidak usah mengalihkan pembicaraan." kata Giselle.
"Jadi kau mau melupakan jasa yang telah kulakukan untuk kalian berdua?"
"Rima, sebaiknya kau tidak usah banyak bicara. Sekarang katakan padaku kenapa kau melakukan semua itu pada Stella!!!" bentak David yang kini terlihat begitu emosi setelah memastikan foto obat-obatan di ponsel Revan adalah obat penggugur kandungan dan penambah sel darah putih.
Dia kemudian mendekat pada Rima dan mencengkeram pakaiannya, wajahnya pun kini terlihat merah dan nafasnya tersengal-sengal menahan amarah.
PLAK PLAK PLAK
David pun beberapa kali menampar Rima dan menjambak rambutnya.
"Kau benar-benar biadab Rima!" kata David dengan bibir bergetar sambil menahan amarah.
"Sabar David, sebentar lagi polisi datang kesini. Kau jangan bertindak gegabah."
"Tapi dia sudah sangat keterlaluan Revan!"
__ADS_1
"Berani-beraninya kalian mau memenjarakan aku! Revan, Giselle kalian benar-benar tidak tahu terimakasih, apa kalian tidak sadar jika tidak ada aku Stella pasti belum mau bercerai darimu! Dan hubunganmu dengan Giselle pasti masih dibayang-bayangi oleh kehadiran Stella!"
"Apa maksudmu berkata seperti itu!" tanya David.
"Dokter David, kenapa anda begitu bodoh? Stella mau kembali pada anda karena dia sudah putus asa tidak bisa mendapatkan cinta dari Revan! Anda sama halnya lelaki cadangan untuk Stella! Dia mau kembali padamu setelah Revan membuangnya!"
Cengkeraman David pun memudar, dia lalu mengalihkan pandangannya pada Revan dan Giselle.
"Revan apa maksud semua ini?" tanya David.
"Dokter David, tahukah anda saat kita terjebak di dalam lift, maafkan saya karena saat itu saya mengambil foto-foto di ponsel anda sebagai bukti perselingkuhan untuk perceraian Revan dan Stella."
"Kau membuka ponselku Rima? Lancang sekali?"
"Ya tapi Revan lah yang menyuruhku untuk melakukan itu karena mereka membutuhkan bukti perselingkuhan antara dirimu dan Stella saat mereka masih menikah."
"Sadarlah dokter! Stella sudah membuangmu! Tapi karena akulah dia kembali padamu! Karena saat itu dia sudah terpojok jadi dia kembali padamu! Sadarlah dokter David, kau hanyalah lelaki cadangan untuk Stella!"
David pun melepaskan cengkeraman pada pakaian Rima kemudian mulai mendekat pada Revan dan Giselle.
"Revan apa benar yang dikatakan Rima?"
"Ya tapi itupun kulakukan agar Stella mau kembali padamu, dia hanya terbawa emosi karena kau sudah meninggalkannya begitu saja, dan saat itu aku sudah tidak mencintainya. Dia hanya membutuhkan kasih sayang karena orang-orang terdekatnya tidak ada di sampingnya. Tapi sungguh David, cinta Stella sebenernya hanya untukmu! Apa kau tahu bagaimana Stella dulu selalu bercerita tentang dirimu saat pertama kali jatuh cinta padamu! Dia bahkan tidak pernah tidur karena memikirkanmu! Dia sangat mencintaimu! Kau jangan terpengaruh kata-kata Rima, David!" teriak Revan.
"Kesempatan bagus, aku harus pergi dari sini." kata Rima kemudian berlari meninggalkan mereka semua.
"Lihat apa yang kalian lakukan! Kalian sudah terpengaruh kata-kata Rima sehingga dia berhasil meloloskan diri!" teriak Giselle.
"OH S*IT!" jerit David.
"Maaf aku sudah terpengaruh kata-katanya!" kata David kemudian menelepon seluruh bagian keamanan rumah sakit untuk mencari Rima.
"Kita juga harus tetap mencarinya." kata Revan kemudian mereka pun berlari mencari di setiap bagian rumah sakit.
***
"Oh sudah berhenti." kata Rima saat merasakan sesuatu yang ditumpanginya tiba-tiba berhenti.
"Dimana aku?" kata Rima lagi, perlahan dia pun bangkit dari atas mobil bak terbuka yang tadi ditumpanginya begitu saja saat dikejar-kejar oleh petugas keamanan rumah sakit.
Rima lalu melihat ke sekelilingnya. "Oh ini di garasi mobil." kata Rima kemudian duduk di atas mobil itu sambil memijit kepalanya. Dia lalu mengarahkan pandangan ke sekelilingnya.
"RAMON PHOTO STUDIO." kata Rima saat membaca sebuah plang di dalam garasi tersebut.
"Oh jadi ini studio foto milik fotografer yang disewa David untuk pemotretan baliho tadi pagi? Mungkin sementara aku bisa bersembunyi di sini." kata Rima sambil terkekeh.
__ADS_1