Salah Kamar

Salah Kamar
Kembali


__ADS_3

"Stella, tidurlah dengan nyenyak dan lupakan semua kejadian pahit yang telah kau alami, dan saat kau membuka matamu di esok hari, mulailah kehidupan barumu dengan penuh kebahagiaan, aku yakin kau pasti bisa hidup bahagia bersama David."


Stella lalu menghapus air matanya kemudian tersenyum. "Terimakasih Revan, terimakasih Giselle, aku masuk ke kamar dulu."


"Iya Stella," jawab Giselle sambil mengangguk.


"Ayo kita ke kamar Giselle." kata Revan sambil menarik tangan Giselle.


Giselle lalu berjalan mengikuti Revan di belakangnya. "Revan, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu." kata Giselle saat mereka sudah sampai di dalam kamar.


"Apa Giselle? Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Revan sambil menatap Giselle dengan penuh tanda tanya.


"Revan, bagaimana pendapatmu tentang orang ketiga, e.. em istri kedua maksudku." kata Giselle sedikit gugup.


"Hahahaha, jadi kau pikir aku akan menikah lagi dan memiliki dua istri?" tanya Revan sambil tertawa.


Giselle pun kemudian tersenyum. "Giselle, dengarkan aku, aku tidak akan menikah lagi dan memiliki dua istri, karena aku sangat membenci seorang wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain! Aku sudah mengalami bagaimana sakitnya dikhianati, aku memiliki trauma dan kebencian tersendiri dengan orang-orang yang menjadi orang ketiga dan merusak rumah tangga orang lain!" kata Revan sambil mendengus kesal.


Giselle pun memejamkan matanya, hatinya begitu teriris mendengar perkataan Revan. 'Bagaimana aku bisa mengatakan semua ini padamu Revan.' gumam Giselle sambil menatap Revan yang sekarang mulai mendekat padanya.


"Giselle." desah Revan di telinga Giselle.


"Kenapa kau tiba-tiba diam?" tanya Revan kembali sambil mulai mengecup leher Giselle.


"Tidak.. Tidak apa-apa Revan." jawab Giselle sambil tersenyum kecut.


"Ayo Giselle kita lanjutkan yang sempat tertunda!"


"Lanjutkan apa?"


"Tak usah berpura-pura. Kau juga sudah sangat menginginkanku kan Giselle." kata Revan kemudian mencium bibir Giselle dengan penuh gairah.


***


"Mama Santi Papa Farhan, Stella pamit dulu ya. Maaf jika Stella telah melakukan banyak kesalahan dan tidak pernah menjadi menantu yang baik hingga berakhir seperti ini." kata Stella sambil mencium tangan dan memeluk kedua orang tua Revan.


"Tidak apa-apa sayang, mungkin kalian memang tidak berjodoh, kami tidak bisa memaksakan kehendak kami pada kalian berdua." jawab Santi.


"Apa kau yakin pergi dari rumah ini sebelum orang tuamu kembali dari New York?" tanya Farhan.


"Iya Pa, Stella harus pergi dari sini untuk memulai kehidupan yang baru."

__ADS_1


"Baik jika itu maumu. Terimakasih sudah berbesar hati menerima keadaan ini Stella."


"Iya Pa, semua ini juga terjadi karena Stella dan kini Stella harus menanggung konsekuensinya." jawab Stella sambil tersenyum. Dia kemudian mendekat pada Revan dan Giselle.


"Aku pergi dulu ya, semoga kalian bahagia."


"Iya Stella, hati-hati di jalan, hubungi kami jika kau memerlukan sesuatu."


"Iya Revan, kau juga jaga baik-baik Giselle dan anak kalian dalam kandungannya."


"Iya, terimakasih Stella."


Stella lalu memeluk Giselle. "Terimakasih banyak Giselle sudah menyadarkanku, aku janji tidak akan mengatakan pada siapapun tentang rahasiamu." bisik Stella di telinga Giselle yang membuat Giselle tersenyum.


"Iya Stella, terimakasih." jawab Giselle. Stella kemudian melepaskan pelukannya lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo kita masuk ke dalam." kata Farhan sambil menggandeng tangan Santi yang kini sibuk melihat Giselle dan Revan yang sedang asyik bercanda.


'Kenapa aku harus memiliki menantu yang sangat tidak sepadan denganku.' gumam Santi sambil menatap Giselle.


***


Rima masuk ke dalam rumah sakit dengan sedikit tergesa-gesa. 'Sial gara-gara tadi malam aku mampir ke rumah Sherly sampai larut malam, aku jadi bangun kesiangan seperti itu.' gerutu Rima sambil terus berlari ke dalam ruangannya.


'Mampus gue.' gumam Rima sambil menepuk jidatnya. Perlahan, dia pun mulai mendekat pada rekan kerjanya.


"Rima, kamu terlambat lagi?" kata kepala perawat itu kepadanya.


"Maaf." jawab Rima sambil tersenyum.


"Kamu itu karyawan baru di sini tapi sudah berkali-kali melakukan kesalahan! Sekali lagi kamu berbuat seperti ini saya tidak segan-segan untuk memberikan surat peringatan padamu! Kamu mengerti!"


"Iya saya mengerti." jawab Rima sambil tertunduk lemas.


"Briefing saya akhiri, ingat jangan pernah ada yang melakukan kesalahan lagi!" kata kepala perawat sambil menatap anak buahnya.


"Galak banget." bisik Rima pada Sherly saat kepala perawat itu sudah pergi meninggalkan mereka.


"Lagian kamu sih Rim, pake telat segala."


"Ini juga gara-gara kamu Sher yang ngajakin begadang nonton drakor tadi malam." kata Rima sambil mendengus kesal.

__ADS_1


"Hahahaha siapa suruh kamu ikutan nonton." jawab Sherly sambil terkekeh.


"Rim, nih berkas milik dokter David yang kemarin kamu bawa tertinggal di sini." kata Sherly sambil memberikan beberapa berkas pada Rima.


"Ya ampun kenapa ada di sini sih?"


"Kemarin waktu beberapa petugas nolongin kamu, mereka bawa berkas-berkas ini ke sini karena mereka pikir ini berkas milikmu."


"Astaga." kata Rima sambil menepuk jidatnya.


"Lebih baik kamu cepat kembalikan ke ruangan dokter David deh Rim, daripada bikin hidupmu tambah bermasalah bisa-bisa kamu dipecat loh."


"Iya.. Iya, aku taruh di ruangan dokter David sekarang." kata Rima sambil berjalan dengan begitu lemas ke ruangan David.


TOK TOK TOK


'Kok ga ada jawaban.' gumam Rima saat mengetuk pintu ruangan David.


'Mungkin lagi keluar sebentar, lebih baik aku masuk saja.' gumam Rima kemudian masuk ke ruangan itu.


"Ga ada orang." kata Rima sambil berjalan ke meja David dan menaruh berkas yang ada di tangannya ke atas meja.


Namun saat Rima akan keluar dari ruangan itu, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka. Reflek, Rima langsung bersembunyi di balik salah satu lemari di ruangan itu.


'Aduh, kenapa gue malah sembunyi.' gumam Rima sambil mengusap kasar wajahnya.


'Apa lebih baik aku keluar saja.' gumam Rima lagi, namun saat dia akan melangkahkan kakinya dia mengurungkan niatnya tersebut saat melihat David kini tengah bersama wanita cantik tengah berdiri tak jauh darinya.


"Kenapa kau ke sini Stella?" tanya David.


"Tadi aku ke apartemen lamamu, tapi ternyata kau sudah pindah, aku jadi ke sini." jawab Stella lirih, beberapa saat kemudian Stella pun terlihat bersimpuh di hadapan David.


"David, maafkan aku. Maafkan aku sempat terbawa ego ku. Maafkan aku." kata Stella sambil menangis.


"Maafkan aku karena terbawa emosi, aku begitu marah saat kau meninggalkanku begitu saja, aku begitu hancur hingga kehilangan akal sehatku sampai aku melakukan percobaan bunuh diri. Saat itulah Revan datang, aku berfikir jika aku ingin melupakanmu dan kembali pada Revan, tapi ternyata aku salah. Bagaimanapun juga kau adalah ayah kandung dari bayi yang kukandung. Bisakah kita memulai kembali hubungan ini David?" kata Stella sambil bersimpuh di hadapan David dan menangis dengan tersedu-sedu.


David lalu mendekat pada Stella. "Stella, sudahlah, itu adalah bagian masa lalu. Aku juga pernah bersalah padamu dan meninggalkanmu begitu saja, maafkan aku juga karena sudah membuatmu begitu terpuruk karenaku " kata David sambil membangunkan Stella kemudian memeluknya.


"Stella, aku mencintaimu." kata David sambil memeluk Stella dengan erat.


"Aku juga mencintaimu David." jawab Stella kemudian melepaskan pelukannya dan mendekatkan wajahnya pada David.

__ADS_1


'Astaga kenapa aku harus melihat mereka berciuman lagi, bagaimana caranya aku keluar dari sini ' kata Rima dalam hati.


__ADS_2