Salah Kamar

Salah Kamar
Tunggu Aku


__ADS_3

Aini menatap gelapnya malam di balkon kamar, tiba-tiba dia dikejutkan oleh dekapan hangat di tubuhnya.


"Kau sudah pulang mas?"


"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau masih memikirkan itu lagi?"


Aini pun mengangguk sambil meneteskan air matanya.


"Seandainya saja aku tidak menuruti emosiku dan bisa berfikir dengan jernih pasti semua ini tidak akan terjadi padaku."


"Aini, sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Ini sudah takdir dari Tuhan, kita jalani saja takdir ini dengan ikhlas, kita harus sabar dan tetap berdoa pada Tuhan. Aku yakin suatu saat Tuhan pasti akan mengabulkan doa kita."


"Kau yakin aku masih bisa hamil?"


"Tentu saja. Aini dengarkan aku, apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, kita harus ikhlas karena itu adalah takdir dari Tuhan. Aku sangat bersyukur jika kau masih bisa hamil dan mengandung buah hatiku, tapi jika tidak tolong kau jangan sedih dan berkecil hati karena itu adalah takdir dari Tuhan. Yakinlah sesuatu yang digariskan oleh Tuhan adalah yang terbaik bagi kita. Bukankah saat aku pertama mengenalmu kau sudah ikhlas dengan keadaanmu dulu? Kemana Aini yang kukenal dulu? Aku ingin Ainiku kembali seperti dulu, ikhlas dan sabar menerima semua yang terjadi di hidupnya."


Aini pun mengangguk. "Maafkan aku, mungkin aku terlalu berharap banyak saat bertemu dengan Vallen, mulai saat ini aku akan kembali menjadi Aini yang dulu, aku akan menjadi Aini yang ikhlas menerima keadaanku, lagipula kita juga sudah memiliki Darren, itu sudah cukup. Dan yang terpenting adalah cinta darimu yang mau menerima keadaanku apa adanya."


"Ya tentu saja sayang, aku akan selalu mencintaimu."


"Sampai maut memisahkan kita?"


"Ya, sampai maut memisahkan kita," jawab Roy kemudian mencium kening Aini.


🍒🍒🍒


"Apa kabarmu?" tanya Delia saat Dimas duduk di depannya.


"Baik. Bagaimana kabar anak-anak kita?"

__ADS_1


"Sangat baik. Anak yang ada di dalam kandunganku juga sehat."


"Delia bisakah aku meminta sesuatu padamu?"


"Apa?"


"Bisakah kau sampaikan permintaan maafku pada Aini dan suaminya? Aku ingin meminta maaf atas semua hal buruk yang pernah kulakukan padanya."


"Sudah kulakukan."


"Kau sudah melakukan itu?"


Delia pun mengangguk. "Beberapa hari yang lalu aku pergi ke Jakarta untuk menemui mereka, tahukah kau karena kejadian itu keadaan Aini semakin memburuk? Kemungkinan Aini untuk hamil bahkan sudah sangat kecil, mungkin bisa dibilang mustahil. Hanya keajaiban dari Tuhan yang bisa menolongnya."


"Astaga, aku telah melakukan kesalahan yang begitu fatal. Delia, aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan agar bisa menebus kesalahanku pada mereka?"


"Aku benar-benar telah melakukan kesalahan fatal. Aku ingin bertemu dengan mereka dan meminta maaf pada mereka."


"Lebih baik kau selesaikan masa tahananmu saja, masa tahanan selama sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar Dimas, aku sudah melakukan itu, aku sudah meminta maaf atas namamu pada mereka."


"Terimakasih banyak, Delia. Terimakasih."


"Ya."


"Delia, sebaiknya kau mencari laki-laki lain saja, laki-laki yang bertanggung jawab."


"Tidak. Bukankah sudah kukatakan jika aku akan tetap menunggumu, tolong biarkan aku tetap menjadi wanita bodoh yang selalu mencintaimu."


"Tapi Delia, sepuluh tahun itu tidaklah sebentar. Waktumu akan terbuang jika menungguku."

__ADS_1


"Dimas, tolong biarkan aku tetap menjadi wanita bodoh yang mencintai laki-laki seperti dirimu, bagaimana mungkin aku meninggalkan seorang laki-laki sudah menjadi ayah dari dua orang anakku."


"Terimakasih jika kau mau menungguku, tapi aku tidak akan memaksa. Jika suatu saat kau bertemu dengan laki-laki yang baik bagimu, aku akan melepasmu."


"Tolong jangan bicarakan itu lagi, kau selesaikan saja masa tahananmu, sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu."


"Terimakasih banyak, Delia."


"Ya, aku pulang dulu."


"Ya."


Delia kemudian beranjak dari tempat duduknya, saat akan melangkahkan kakinya tiba-tiba Dimas memanggilnya kembali.


"Delia!"


Delia kemudian membalikkan tubuhnya.


"Apa?"


"Aku mencintaimu, Delia!" teriak Dimas sambil tersenyum. Delia kemudian membalikkan tubuhnya kembali lalu menghambur ke pelukan Dimas.


"Aku mencintaimu, biarkan aku menunggumu."


"Ya, tunggu aku, kita pasti akan menjadi keluarga yang bahagia."


Delia pun mengangguk dalam pelukan Dimas.


❤️ TAMAT ❤️

__ADS_1


__ADS_2