Salah Kamar

Salah Kamar
Sekarang Juga


__ADS_3

"Saya David."


"O.. Oh iya Kak David, saya Firman kekasih Vallen. Maaf selama ini saya belum memperkenalkan diri saya karena Vallen belum memperbolehkannya."


"Iya saya tahu itu."


"Firman, bisa kita bicara sebentar."


"Tentu saja Kak."


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari ke arah mereka. Vallen pun berlari mendekat ke arah Firman lalu memeluk tubuhnya dari samping.


"FIRMANNNNN APA KAU SUDAH LAMA MENUNGGUKU?" teriak Vallen sambil memeluk tubuh Firman, tanpa dia tahu David kini sudah berdiri di hadapan Firman. Mendapat pelukan tiba-tiba dari Vallen, Firman pun hanya tersenyum pada David dengannya sedikit salah tingkah.


"VALLENNNNN!!" teriak David.


Vallen lalu mengalihkan pandangannya dan melihat David yang kini berdiri di depan Firman sambil menatap tajam ke arahnya.


"Apa kau tidak bisa mengendalikan dirimu? Memalukan sekali."


"Tidak usah terlalu mengatur hidupku Kak, aku sudah dewasa. Bukankah kau juga sama, sering bermesraan di depan umum dengan Kak Stella."


Mendengar perkataan Vallen, David pun terdiam, sedangkan Firman pun menahan senyum di wajahnya.


"Ah sudahlah, aku hanya ingin bicara dengan kalian berdua. Kutunggu kalian di cafe samping rumah sakit." kata David kemudian berjalan meninggalkan Vallen dan Firman yang sedang tersenyum.


"Gadis aneh, kau memang sangat nakal."


"Tapi kau suka kan?" tanya Vallen sambil meledek.


"Aku menyukai semua hal tentangmu." kata Firman kemudian mendekatkan wajahnya pada Vallen sambil tersenyum.


"VALLEEENNNNN!! FIRMANNNN!!" teriak David.


"IYA KAK!" jawab Vallen balas berteriak. Mereka kemudian mengikuti langkah David berjalan ke cafe yang ada di samping rumah sakit.


"Ayo cepat Firman, macannya sudah mengamuk." kata Vallen sambil terkekeh.


"Iya."


Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di cafe tersebut.


"Kau mau makan apa Firman? Tadi kau bilang kau sudah lapar kan?"


"Apa saja."


"Baik aku akan memesankannya untukmu."


Firman pun mengangguk.

__ADS_1


"Karena kau sedang lapar, nanti kau yang kusuapi ya sayang." kata Vallen sambil merapikan rambut Firman.


"Haiiii kalian, kalian anggap apa aku ini? Aku bukan obat nyamuk!!"


"Iya Kak sebentar, Firman kan lapar jadi aku memesankan makanan dulu untuknya."


"Kalian memang benar-benar menyebalkan. Vallen, kau ingat kan kesepakatan kita?"


"Iya Kak, iya. Lalu bagaimana? Apa yang harus kami lakukan?"


"Maaf jika aku menyela pembicaraan kalian, tapi aku benar-benar tidak mengerti."


"Firman, maaf jika aku harus mengatakan hal ini padamu. Sekarang aku ingin bertanya padamu, apakah kau benar-benar mencintai Vallen?"


"Iya Kak, aku sangat mencintai Vallen."


"Apakah kau memiliki keinginan untuk menikah dengan Vallen?"


"Tentu saja, aku bahkan sudah membicarakan ini dengan Vallen, sebenarnya aku sangat ingin menikah dengannya."


"Itu yang kumaksud, Firman. Bagaimana jika untuk bisa menikahi adikku bukanlah hal yang mudah?"


"Apapun akan kulakukan untuk mendapatkan Vallen karena aku tidak ingin kehilangan dirinya."


David pun tersenyum mendengar perkataan Firman.


"Bukankah tadi sudah kukatakan padamu jika itu bukan perkara yang mudah."


"Bukan, bukan itu Firman. Aku sebenarnya tidak mempermasalahkan hubungan kalian, karena yang terpenting bagiku adalah kebahagiaan bagi Vallen, dan tampaknya Vallen juga begitu bahagia berada di sampingmu, itu sudah cukup bagiku."


"Lalu apa masalahnya Kak David?"


"Mama."


Firman lalu memandang David dan Vallen secara bergantian.


"Iya mama." jawab Vallen dengan ragu-ragu.


"Ada apa dengan mamamu, Vallen? Apa dia tidak menyetujui hubungan kita?"


"Aku sebenarnya juga tidak tahu dia akan menyetujui hubungan kita atau tidak, tapi menaklukkan hati mama bukanlah hal yang mudah."


"Aku akan melakukan apapun agar mamamu merestui hubungan kita."


"Tidak semudah yang kau pikirkan, Firman. Aku saja memerlukan waktu sepuluh tahun agar mama merestui hubunganku dan Stella."


"APAAAA??? Sepuluh tahun?" kata Firman sambil memelototkan matanya.


"Ya, kami berpacaran sejak kami kuliah, saat kami berusia dua puluh tahun. Namun perjalanan cintaku tidaklah mudah karena Stella merupakan anak orang kaya, sangat kaya. Awalnya orang tua Stella tidak pernah menyetujui hubungan kami meskipun kami sudah berpacaran selama tujuh tahun, lalu Stella dijodohkan dengan laki-laki lain, aku pun menunggu Stella selama dua tahun sampai dia bercerai dari suaminya. Namun selama kami menjalin hubungan keluargaku selalu mendapat ancaman dari keluarga Stella, itulah yang menyebabkan hubunganku begitu lama disetujui oleh mama. Tapi kisah cinta kalian tidaklah serumit diriku, hanya saja...."

__ADS_1


"Hanya saja apa Kak David?"


"Statusmu juga seorang duda kan?" kata David dengan begitu hati-hati.


Firman pun menghembuskan nafas panjangnya.


"Ya, aku seorang duda." jawab Firman dengan lirih.


"Maafkan aku Firman, tapi aku harus mengatakan ini. Jika kau benar-benar mencintai adikku kau harus mengetahui segalanya, termasuk resiko yang akan kau ambil. Saat itu meskipun Stella sudah berpisah dengan Revan, mama juga tidak langsung menyetujui hubungan kami karena status Stella juga seorang janda."


"Iya, aku tahu itu Kak."


"Firman, sekali lagi maafkan aku, aku juga mencemaskan finansialmu, aku tahu kau saat ini memiliki pekerjaan yang bagus, aku juga yakin gaji yang kau miliki pasti juga cukup untuk kehidupan kalian berdua tapi tidak dengan pemikiran mama. Dia pasti ingin agar suami Vallen memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Vallen. Maaf Firman, bukannya aku ingin merendahkanmu tapi inilah kenyataan yang sebenarnya mengenai orang tuaku."


"Tidak apa-apa Kak David, aku anggap ini sebuah saran yang bagus untukku sebelum aku mengenalkan diriku pada mama kalian. Aku akan memperbaiki kekurangan yang ada pada diriku, apapun yang terjadi aku ingin mempertahankan hubunganku dengan Vallen, sampai kami mendapatkan restu."


Mendengar perkataan Firman, David pun tersenyum.


"Bagus, aku suka itu. Kau cukup dewasa dan memiliki prinsip."


Vallen pun kemudian tersenyum, lalu memeluk Firman. "Tentu saja Kak David, itulah alasannya aku begitu mencintainya." kata Vallen kemudian menyenderkan kepalanya pada Firman.


"Vallen, kendalikan dirimu, jangan bermesraan di tempat umum."


"Dasar menyebalkan." gerutu Vallen yang membuat Firman tersenyum.


"Kakak bukankah kita sudah membuat kesepakatan."


"Kesepakatan?" tanya Firman sambil mengerutkan keningnya. David dan Vallen pun tertawa.


"Nanti saja kuceritakan sayang." jawab Vallen sambil terkekeh.


"Ya, aku tahu itu. Itulah alasannya aku menemui kalian. Kita harus membuat rencana yang matang agar mama mau merestui hubungan kalian."


"Jadi Kak David mau membantu kami?"


"Ya, tentu saja. Bukankah tadi Vallen sudah bilang jika kami sudah memiliki kesepakatan untuk saling membantu? Hahahaha."


Firman pun hanya tersenyum.


"Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Nikahi adikku sekarang juga." kata David sambil tersenyum kecut.


"A.. Apa menikah?" tanya Firman sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"APAAA MENIKAH KAK DAVID??? AKU MAUUUUUU!!!" teriak Vallen.


"VALENNNNN!!!"

__ADS_1


NOTE:


David sama Vallen punya kesepakatan apa sih? Yang pengen tahu kesepakatan mereka bacanya di novel sebelah ya, ga aku ceritakan di sini soalnya kesepakatan mereka tentang Amanda. Sedangkan di sini cuma love story nya Firman sama Vallen aja.


__ADS_2