Salah Kamar

Salah Kamar
Bagian Masa Lalu


__ADS_3

Rima pun kemudian tersenyum. "Kenapa kau cemburu, dia sudah memiliki seorang istri yang sangat dia cintai."


"Memangnya kenapa? Bukankah kau juga sepertiku, cemburu pada wanita yang sudah bersuami padahal kau tahu wanita itu sangat mencintai suaminya."


Rima pun begitu tertegun mendengar perkataan Drey. 'Memang benar apa yang kau katakan, Drey.' kata Rima dalam hati.


"Maaf, itu karena aku belum yakin padamu."


"Bukankah sudah kujelaskan perasaanku padamu."


"Kau tidak pernah mengatakan apapun padaku."


Mendengar perkataan Rima, Drey pun terdiam.


"Lalu kau ingin aku mengatakannya?"


Rima pun tersenyum.


"Mendekatlah."


"Apa?"


"Mendekatlah padaku."


Dengan perasaan sedikit cemas, Rima pun mendekat pada Drey lalu duduk di sisi tepi ranjangnya.


"Apa?"


Drey kemudian mendekatkan wajahnya lalu tangannya memegang wajah Rima. "Dengarkan aku, aku mencintaimu, aku mencintaimu. Kau mau kan menikah denganku, menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku?"


Rima pun tersenyum kemudian mengangguk. "Aku juga mencintaimu." kata Rima diiringi air mata yang mulai menetes dari ujung matanya. "Hei, kenapa kau menangis?"


"Tidak apa-apa, aku hanya baha..." belum sempat Rima melanjutkan kata-katanya, sebuah ciuman pun mendarat di bibirnya.


'Astaga.' gumam Rima dalam hati sambil menikmati pagu*an bibir Drey yang membuat perasaannya terasa begitu bergetar. Beberapa saat kemudian, Drey pun melepaskan ciumannya. Rima lalu memeluk tubuh Drey dengan hati-hati.


"Aku mencintaimu Rima, kau hanya akan menjadi milikku. Apa kau mengerti?" kata Drey sambil menciumi bahu dan tengkuk Rima dengan begitu ganas.


"Drey, ini rumah sakit. Kendalikan dirimu."


☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Santi tampak begitu gusar.


"Perutku lapar, aku juga sangat haus tapi Giselle malah meninggalkanku begitu saja. Semua ini karena ulah Calista, wanita itu memang benar-benar bar-bar, lihat saja nanti Giselle akan kuperingatkan agar tidak boleh bergaul dengan wanita seperti itu." gerutu Santi di atas ranjangnya.


KRUYUK KRUYUK


'Aku lapar sekali, sialnya ponselku tertinggal di rumah. Jika saja aku membawa ponselku tentu aku bisa memesan makanan dan tidak akan kelaparan seperti ini ' gumam Santi dalam hati.


"Ah daripada kelaparan lebih baik aku tidur saja." kata Santi kemudian mulai memejamkan matanya.


Risma dan Giselle pun masuk ke ruang UGD dan berjalan ke arah bilik tempat Santi dirawat. Tampak Santi yang sedang tidur di atas ranjang dengan mata terpejam. Mendengar suara langkah yang mendekat, Santi pun bergegas membuka matanya. 'Itu pasti Giselle.' gumam Santi.


Saat matanya terbuka, tampak Giselle sudah berdiri di samping ranjangnya dengan seorang wanita paruh baya yang seusia dirinya.


"Mama, mama sudah bangun?" tanya Giselle pada Santi.


"Ya, kau kemana saja? Enak saja kau meninggalkanku sendirian! Menantu macam apa kamu, benar-benar tak berguna!" kata Santi dengan begitu ketus.


"Ma, bukankah tadi mama yang menyuruhku dan Calista keluar dari sini?"


"Heh, dasar menantu tidak tahu diri seharusnya kau tetap berada di sini meskipun sudah kuusir, tunjukkan baktimu sebagai menantu yang baik padaku! Tadi aku sebenarnya hanya ingin mengusir wanita sialan si Calista saja dari sini."


"Maafkan Giselle ma." kata Giselle.


"Untuk apa kau minta maaf, Giselle." kata Risma sambil menatap Santi.


"Hei siapa kau? Berani-beraninya ikut campur urusan keluarga kami!"


"Tidak penting bagimu untuk tahu siapa diriku yang sebenarnya, yang perlu kau tahu aku hanyalah seorang ibu dan mertua yang jauh lebih baik dibandingkan dirimu."


"Heh, enak saja kau berbicara seperti itu! Kita saja tidak saling mengenal tapi kau sudah berani berbicara kurang ajar seperti itu padaku!"


"Aku tidak perlu mengenalmu lebih dalam karena melihatmu sekilas saja aku sudah tahu manusia seperti apa dirimu itu." kata Risma sambil tersenyum kecut.


"Lebih baik kau pergi dari sini secepatnya sebelum aku memanggil keamanan di rumah sakit ini."


"Jika aku pergi, maka Giselle pun ikut pergi denganku."


"Giselle itu menantuku! Kau tidak berhak atas dirinya! Dia seharusnya berbakti padaku!"


"Menantumu? Apa kau pernah menganggapnya sebagai menantumu? Bukankah kau selalu memusuhinya dan memperlakukannya dengan begitu buruk?"

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu, Giselle menantuku dan dia wajib berbakti padaku."


"Berbakti padamu? Lihat dulu bagaimana sikapmu padanya? Bukankah kau selalu bersikap buruk padanya?"


"Itu kulakukan agar anakku bisa bahagia lepas dari wanita sialan itu kemudian mendapatkan istri yang baik dan sepadan dengan kami. Revan adalah putraku dan aku tahu mana yang terbaik untuknya."


"Agar anakmu bahagia? Apa kau yakin? Karena yang terbaik di matamu belum tentu yang terbaik di mata putramu! Kau begitu egois hanya mementingkan egomu semata tanpa memikirkan bagaimana perasaan putramu."


"Cukup, kau tidak usah mengajariku! Kau bilang jika kau memiliki seorang anak laki-laki kan? Kau pasti tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang ingin melihat anaknya bahagia."


"Ya aku memiliki seorang anak laki-laki tapi aku tidak sepertimu, aku selalu membebaskan putraku mencari kebahagiaannya sendiri yaitu mencintai seorang wanita yang kini menjadi calon istrinya."


'Calon istri? Bukankah Tante Risma tidak tahu Rima telah menikah dengan Ilham? Bukankah yang Tante Risma tahu jika Drey dan Rima sudah menikah?' gumam Giselle dalam hati.


"Tapi masa lalu Giselle begitu buruk, asal kau tahu dia adalah seorang janda yang pernah menjadi istri kedua dari Leo, suami Calista. Tidak hanya itu, dia juga pernah mengandung anak Leo dan bermaksud merebut Leo dari Calista, aku begitu jijik melihat wanita seperti itu menjadi menantuku!"


"Bukankah itu hanya bagian masa lalu? Apa kau tidak lihat bagaimana hubungan Calista dan menantumu? Mereka bersahabat dan berhubungan sangat baik, itu semua karena Giselle telah menyadari kesalahan masa lalunya dan memperbaiki di kehidupannya saat ini! Semua orang memiliki masa lalu dan setiap orang berhak diberi kesempatan untuk memperbaikinya di masa sekarang dan masa depan."


"Kau berbicara seperti itu karena masa lalu calon istri putramu tidak seburuk Giselle!"


"Kata siapa? Calon istri putraku bahkan jauh lebih buruk dibandingkan Giselle. Beberapa kali dia pernah melakukan percobaan pembunuhan meskipun dia tidak dihukum aku tahu dia telah menyadari semua kesalahannya dan saat ini aku sangat menyayanginya karena dia wanita yang begitu manis." kata Risma sambil tersenyum.


'Astaga Tante Risma, darimana dia tahu tentang semua masa lalu Rima.' gumam Giselle dalam hati sambil menatap Risma dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tapi dia bukan seorang janda dan tidak pernah mengandung anak dari laki-laki lain." gerutu Santi.


"Hahahaha... Hahahaha."


"Kenapa kau tertawa?"


"Kau salah, calon menantuku bahkan baru saja menjadi janda beberapa hari yang lalu karena suaminya baru saja meninggal dan saat berhubungan dengan putraku dia juga sedang hamil anak dari mantan suaminya." kata Risma sambil terkekeh.


"Ba... Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kau mau menerima wanita seperti itu sebagai menantumu?"


Mendengar kata-kata Risma, Giselle pun hanya bisa tercengang dan melihat Risma dengan tatapan kosong.


'Astaga, ternyata Tante Risma tahu semua tentang Rima. Aku harus memberitahu Calista, ya aku harus memberitahu Calista.' gumam Giselle dalam hati sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.


NOTE:


Segini dulu ya dear, othor lagi sibuk xixixixixix 🤭. Lanjut nanti sore kalo ga besok, love you 😘🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2