
Sesampai dirumah Ayah, mereka sudah menyambut kami diteras rumah. Begitu juga dengan Meta, dengan sigap dia membantu kami menurunkan beberapa barang dari mobil. Tak lama Riri sudah berpindah gendongan dari Anita, ke Eyang Putrinya.
“Mas Aldo di kamar depan ya!” kata Meta sambil menunjukkan kamar yang sudah di siapkannya untuk Aldo dan Tiara.
“Siap. Yang penting bukan kamar mandi aja Ta!” kata Aldo berseloroh.
“Ish, pasti gitu,” kata Meta sambil nyengir.
Akhirnya kami pun menuju kamar masing-masing. Beberes yang perlu di bereskan. Selesai berganti baju, aku pun beranjak keluar bergabung dengan Ayah, Ibu dan Meta di ruang keluarga. Tak lama Istriku pun menyusul, dibarengi dengan Aldo dan Tiara.
“Ayo makan dulu, kalian pasti belum makan kan?” ajak Ibu.
“Semur jengkol pesananku ada kan Bu?” tanyaku pada Ibu.
“Ada, ibu masak dua kilo tadi,” jawab Ibu. Seketika mataku berbinar, tapi tidak dengan Istriku. Dia manyun bagai emak-emak kehabisan bedak. Yaaa! Anita sangat tidak suka bau jengkol. Tapi aku suka. Gimana dong.
“Pokoknya kencingnya jauh-jauh ya Mas! Awas kalo sampe kamar mandi bau pesing” kata Istriku mengancam.
“Tenang Dek! Tar aku ke Singapur deh kalo mau kencing” jawabku enteng.
*********
“Welahh, ada kamu Rey, kapan datang?” Suara serak-serak ambyar mengagetkan aku yang sedang menyiram bunga di dekat pagar.
“Astaqfirullah Mang, ngagetin aja! Masih hidup Mang?” kataku pada si pemilik suara.
“Lambemu Rey!” kata Mang Kosim sambil melemparkan buah rambutan yang sedari tadi di gengamnya. Aku terkekeh, ku hampiri beliau. Lalu kujabat tangannya.
“Mau kemana Mang?” tanyaku sambil mengajaknya duduk di pondasi pagar.
“Ini, mau kerumahnya Mbah Warso. Kambingnya mau beranak, dari semalem udah jejeritan tapi ga keluar-keluar,” kata mang kosim sambil terus mengunyah buah rambutan yang entah nyolong dimana.
“Wah nungguin bapaknya tuh, makanya manja ga mau keluar-keluar.” Kataku asal.
“Emang manusia Rey, kamu ni ada-ada aja. Yo wes, aku ke rumah mbah Warso dulu, kasihan juga kambingnya pasti kesakitan.”
“Jiwa kebapakan nya muncul nih,” kataku kembali mengolok Mang Kosim.
“Koplakmu ko ga ilang-ilang to Rey!” kata Mang Kosim sambil berlalu. Aku pun kembali melanjutkan menyiram bunga di taman. Mang Kosim, selain jago nangkap jangkrik beliau juga ahli masalah kehewanan. Di kampungku Mang Kosim itu dianggap seperti pawang gitulah.
Tak berapa lama selesai aku menyiram tanaman, kembali ku ambil selang sapu. Membersihkan dedaunan yang tadi kupotongi supaya taman terlihat rapi. Setelah semua beres bergegas aku ingin masuk kedalam rumah, namun belum sempat aku masuk ku lihat Mang Kosim sudah kembali dari arah rumah Mbah Warso.
“Kok udah balik Mang,” tanyaku sambil beranjak menghampirinya.
“Iya, ku pencet ekornya, ekh ga lama mbrojol.”
“Tuh kan apa kubilang,”
“Apa Rey?”
“Tuh kambing nungguin bapaknya.”
“Ooo lha Wedus tenan bocah iki.” aku terbahak. Lalu berlari masuk kedalam rumah.
Bugh! Sebuah benda melayang ketubuhku sebelum aku sempat menutup pintu. Sandal, ternyata Mang Kosim melemparkan sandal ke arahku. Secepat kilat ku ambil sandal Mang Kosim lalu ku tutup pintu dengan cepat.
“Reyyyyy! Sandalku Rey!” kata Mang Kosim sambil mengetuk-ketuk pintu. Kapok rasain! Aku hanya mampu tertawa terpingkal-pingkal dari balik pintu.
__ADS_1
“Reyy! Ayo balikin sandalku, jangan sampai malam ini ku kirim jurus malaikat maut ya!” kata Mang Kosim lagi. Dan aku tetap membiarkannya, masih dengan tawaku. Sebuah jeweran menghentikan tawaku. Ku lihat Istriku berdiri dibelakangku, sambil menjewer telingaku. Sementara tangan kirinya membuka pintu.
“Sudah tua kelakuan kayak anak kecil aja,” kata istriku lalu melepaskan jewerannya.
“Ampun Dek!” kataku meringis. Lalu disodorkan sandal yang sudah di ambilnya dari tanganku ke Mang Kosim.
“Maafkan Mas Rey ya Pak!” kata Istriku.
“Walah ga papa Mbak, kami ini biasa aja. Memang begitulah kelakuan bocah koplak satu ini.” Kata Mang Kosim. Dih, gayanya bersahaja banget.
“Ya sudah saya pamit dulu Mbak, semoga tetap betah hidup sama Pangeran jangkrik dari dunia kegelapan ini,” kata Mang Kosim terkekeh, lalu beranjak mengundurkan diri.
“Semprul,” kuambil kemoceng yang di dekat pintu, segera ku memburu Mang Kosim. Namun langkah ku tertahan saat telinga ini kembali sakit oleh jeweran istriku.
“Masuk! Kayak anak TK aja akh!”
“Iya iya!” kataku meringis. Ku lihat mang Kosim tertawa tanpa suara. Sambil bibirnya monyong-monyong ke arahku.
“Kapokkkkkk, wek!” katanya sebelum hilang di balik tikungan pagar, dan ku sambut olok-olokannya dengan kepalan tangan.
“Lah, kenapa si Rey Nit?” tanya Aldo saat melihat Istriku masih menjewer telingaku.
“Biasa, bandel,” ujar istriku.
“Kenapa? Godain cewek lewat?”
“Gak, kelai sama Mamang yang di depan gang” kata Anita sambil berlalu masuk kedalam rumah.
“Buset Rey, kurang kerjaan aja.” Kata Aldo terkikik.
“Rey, si Aryo kenapa kemarin ribut-ribut dikantor,” tanya Aldo mengambil tempat duduk di bangku ayunan.
“Kayak nya ketahuan selingkuh tuh sama bini nya,”
“Nauzubillah ya Rey! Semoga kita tetap dalam keteguhan iman sebagai seorang suami.”
“Aamiin, untuk apa juga kita selingkuh Do, jika yang di rumah di rumah sudah memberikan yang terbaik buat kita. Tapi jujur salut aku sama kamu, hebat banget benteng mu Do. Enam bulan bisa menahan gejolak. Ga pening Do?”
“Jangan ditanya kalau soal itu. Tapi cintaku ke Tiara mengalahkan segalanya,”
“Cieeeee soooo mpret!” kata Meta yang tiba-tiba muncul dari dalam membawa teh hangat.
“So sweet Ra!” kata Aldo mendelik.
“Ah so sweet itu dah biasa, nih teh hangat nya pesanan Abang Aldo tersayang,” kata Meta sambil meletakkan nampan berisi teh di samping piring gorengan.
“Terima kasih putri khayangan yang belum laku-laku,” kata Aldo berseloroh.
“Ihhhh, pasti gitu.” Kata Meta manyun.
“Sana ambil gitar, kita nyanyi bareng sambil nunggu senja.” Perintah Aldo. Dijawab anggukan oleh Meta.
“Besok jam berapa kita rencananya ke rumah Ferdy Rey?”
“Pagilah habis sarapan. Biar senang juga dia kalo kita lama disana.”
“Okelah, berarti dari rumah Ferdy nanti langsung ke bandara aja ya antar Tiara,”
__ADS_1
“Loh, gimana barang-barang Tiara di Rumah?”
“Dia ga bawa apa-apa Rey, Cuma baju berapa lembar aja. Kan memang mau sebentar aja di sini.”
“Ya sudah kalau gitu. Tiketnya sudah booking kan?”
“Sudah, besok mampir dulu ke pasar. Mau beli baju utuk hari H nya si Ferdy. Tiara ga bawa, ga ada persiapan dari sana.”
“Iya, atur aja besok.”
Tak lama Meta muncul dengan gitarnya. Dia dan Aldo memiliki hobi yang sama, yaitu dunia musik. Mulai terdengar petikan gitar Aldo, sangat piawai sekali dia memainkannya. Dia sebenarnya sangat berbakat jadi seorang penyanyi, namun nasib keartisan tidak berpihak padanya. Semua lagu dia bisa, lagu dangdut, malaysia, barat, pop, bahkan lagu jawa pun di libasnya.
“Ingat ya Mas Rey, ga usah ikutan nyanyi. Ngrusak suara kami aja nantinya.” Busett! Ultimatum langsung digaungkan. Dan aku Cuma bisa mendengus kesal.
‘Dudu klambi anyar sing nang njero lemariku
Nanging bojo anyar sing mbok pamerke nang aku
Dudu wangi mawar sing tak sawang nang mripatku
Nanging kowe lali nglarani wong koyo aku ............’
Duet maut pun terjadi, sesekali ku lihat mereka saling pandang. Sebagai seorang lelaki aku tau tatapan Meta ke Aldo ada sesuatu yang berbeda. Hal ini sering ku tangkap setiap Meta bermain kerumahku . Namun aku tak ingin berprasangka lebih jauh, karena aku percaya, didikan agama yang di tanamkan oleh kedua orang tuaku tentu tidak akan mungkin dilanggar oleh adik semata wayang ku ini.
“Sekian dan terima saweran,” kata Aldo mengakhiri lagunya.
“Beh, lagunya pas banget Mas,” kata Meta sambil mencomot satu pisang goreng.
“Pas apanya Ta.” Tanya Aldo.
“Pas banget dengan kondisi hati,” hmmm, bau-baunya mau curhat ini.
“Emang mantan pacarmu yang anak buah dukun itu udah nikah Ta?” tanyaku.
“Ish, apa-an sih Mas Rey ga nyambung tau!”
“Dih, pacar Meta anak buah Dukun? Parah,, parah!” ucap aldo.
“Hilihhh, kayak kamu enggak aja,” kataku spontan.
“What? Beneran Mas?” tanya Meta sambil membulatkan matanya.
“Buset dah, dibahas lagi. Semprul emang kamu Rey!” kata Aldo mengikuti gerakan Meta mengambil teh manis yang sedari tadi terhidang. Tak lama Anita datang, membawa gawaiku.
“Mas, ada telfon tapi ga aku angkat.”
“Dari siapa Dek?”
“Mang Kosim gitu tulisannya Mas.”
“Owh ya, nanti biar aku telfon balik,”
Yeah, aku ada sebuah rencana bersama mang Kosim untuk membalas dendamku pada Ferdy. Tunggu tanggal mainnya ya Fer! Kata ku dalam hati sambil tersenyum jahat seperti adegan emak-emak yang ingin memusnahkan musuh-musuhnya.
“Masssss, kenapa Mas? Kok wajahmu berubah kayak dedemit di pohon beringin,” tegur Meta.
“Asemmmm, ganteng gini kok dibilang kayak demit.” Kataku geli sendiri. Lalu bangkit berdiri menarik lembut tangan istriku untuk masuk kedalam rumah.
__ADS_1