Salah Kamar

Salah Kamar
Perih


__ADS_3

"Apa?" tanya Kenan sambil mengerutkan keningnya.


"Iya Kenan, akulah penyebab kecelakaan beruntun tadi siang dan istriku meninggal akibat kecelakaan itu." kata Roy yang kini menangis sambil menutup wajahnya.


"Roy, aku turut berdukacita atas meninggalnya istrimu."


"Iya Kenan."


"Lalu bagaimana dengan bayi yang ada di dalam kandungan istrimu? Bukankah istrimu sedang hamil?"


"Dia selamat." jawab Roy sambil terisak.


Hati Kenan pun begitu perih mendengar perkataan Roy. 'Aku pun tidak bisa membayangkan jika hal seperti ini terjadi padaku, berpisah dengan Olivia sehari saja benar-benar membuatku merasa gelisah apalagi berpisah untuk selama-lamanya dengan orang yang dicintai.' gumam Kenan sambil menatap Roy yang kini masih begitu terpuruk.


"Roy, kau harus kuat dan tabah menjalani semua ini. Ikhlaskan lah, ini sudah takdir dari Tuhan. Kau harus ingat ada anak yang harus kau rawat dan kau jaga."


"Kenan, jika saja aku tak membiarkan istriku mengendarai mobil itu, tentu semua ini tidak akan terjadi."


"Apa maksudmu, Roy. Apa yang sebenarnya telah terjadi?"


Roy pun kemudian terdiam lalu menghembuskan nafas panjangnya. "Saat baru pulang dari perjalanan luar kota, aku sangat lelah dan mengantuk. Lalu istriku memintaku agar mengijinkannya menggantikanku mengendarai mobil." kata-kata Roy kemudian terjeda, kemudian dia menghembuskan nafasnya lagi.


"Aku tidak tahu yang sebenarnya terjadi, saat itu mungkin dia sedikit kehilangan konsentrasi sehingga menabrak mobil di depan kami dan saat itulah kendaraan yang ada si belakang kami pun tidak dapat menghindar karena sama-sama sedang berada dalam kecepatan tinggi, kemudian terjadilah kecelakaan beruntun itu." kata Roy dengan begitu lemas.


"Roy, apakah kau tidak mendampingi istrimu saat sedang mengemudi?"


"Saat itu aku sedang tertidur Kenan. Aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum kecelakaan itu, saat aku bangun istriku sudah bersimbah darah, mobilku menabrak sebuah kendaraan minibus di depan kami, dan di belakang kami ada beberapa kendaraan yang juga menjadi korban dalam kecelakaan beruntun itu."


"Roy, kau tidak perlu menyesali semua ini, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu."


"Tapi bagaimana dengan korban yang lain, Kenan? Bukankah banyak sekali korban luka?"


Kenan pun terdiam.


"Salah satunya saudara istriku." kata Kenan dengan begitu lirih.


"Benarkah?"


"Ya."

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaannya?"


"Dia mengalami beberapa luka dan dia harus kehilangan bayinya, sekarang istriku sedang mengurus jenazah bayi itu di dalam."


"Oh tidak, aku telah begitu berdosa pada banyak orang." kata Roy sambil menjambak rambutnya.


"Lalu bagaimana penyelidikan polisi mengenai kasus ini? Mengapa tiba-tiba istrimu menabrakkan mobilmu pada kendaraan di depannya."


"Entahlah, polisi belum bisa menarik kesimpulan penyebab kejadian kecelakaan itu. Mungkin ini semua memang benar-benar terjadi karena kecerobohanku dan istriku."


Di saat itulah Olivia mendekat pada Kenan dan Roy.


"Bagaimana, sudah selesai Olive?"


"Sudah Kenan, kita bisa membawa jenazahnya besok pagi. Ini sudah malam, sebaiknya kita melihat kondisi Aini terlebih dulu."


Roy yang mendengar percakapan Kenan dan Olivia pun ikut menimpali.


"Apakah dia saudara kalian yang menjadi korban dalam kecelakaan beruntun itu?" tanya Roy.


"Ya."


"Iya Roy, tapi tolong hapus air matamu terlebih dulu. Dan jangan katakan apapun pada mereka, karena mereka pasti sedang sangat terpukul atas meninggalnya bayi yang ada di dalam kandungan Aini."


"Iya Kenan."


"Kenan, apa maksudmu?" bisik Olivia di telinga Kenan.


"Olive, Roy lah penyebab kecelakaan beruntun itu. Emh maksudku istri Roy lah penyebabnya, kemungkinan istrinya kehilangan keseimbangan saat mengemudi yang menyebabkan menabrak kendaraan yang ada di depannya hingga terjadi kecelakaan beruntun itu." jawab Kenan sambil berbisik.


"Astaga." kata Olivia sambil menutup mulutnya.


"Tapi tolong kau jangan katakan pada siapapun jika dialah penyebab kecelakaan itu." bisik Kenan kembali.


"Iya Kenan."


Roy yang berjalan di belakang Kenan dan Olivia menahan perasaan yang begitu berkecamuk di dalam hatinya. Rasa sakit dan sedih ditinggalkan oleh istrinya bercampur dengan rasa bersalah pada beberapa korban dalam kecelakaan terasa begitu menyesakkan dadanya.


'Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?' gumam Roy sambil terus berjalan sesekali menghapus air mata yang mengalir membasahi wajahnya.

__ADS_1


Akhirnya, mereka pun sampai di ruang perawatan Aini. Olivia membuka pintu perawatan itu dan di dalamnya tampak seorang wanita muda sedang termenung dengan tatapan mata yang begitu kosong ditemani oleh seorang wanita yang berusaha mencoba untuk menghiburnya.


Olivia dan Kenan lalu mendekat pada mereka.


"Laras, bagaimana keadaan Aini?"


"Dia masih syok Mba Olive, dia masih tidak menyangka akan kehilangan bayinya akibat kecelakaan itu."


Olivia pun mendekat pada Aini yang kini tertidur di atas ranjang rumah sakit. Tatapan matanya kosong menatap langit-langit kamar, sesekali air mata mengalir di wajah pusatnya.


"Aini, bersabarlah sayang. Ini sudah takdir, kau harus ikhlas Ai." kata Olivia sambil membelai rambut Aini.


Namun Aini hanya terdiam, sesekali menghapus air mata yang kini mengalir deras di pipinya. Roy yang melihat keadaan Aini pun merasa semakin bersalah. "Oh tidak, karena kecerobohan yang kami perbuat, kami telah membuat seorang ibu kehilangan bayinya." kata Roy sambil menatap Aini.


Melihat Roy yang semakin tertekan. Kenan pun menarik tangannya agar keluar dari ruang perawatan Aini.


"Ayo kita keluar saja, Roy." kata Kenan kemudian mereka keluar lalu duduk di depan ruang perawatan Aini.


"Kau lebih baik tenangkan dirimu terlebih dulu, aku tahu keadaan ini pasti sangat sulit bagimu. Bersabarlah dan berserah dirilah pada Tuhan."


"Iya Kenan."


"Kau harus kuat agar bisa merawat anakmu, dia sudah kehilangan ibu kandungnya di saat dia baru melihat indahnya dunia, jangan sampai dia sampai kehilangan kasih sayang dari ayahnya."


"Iya Kenan, aku tahu itu. Aku bahkan sangat bersyukur dia masih hidup dan menemaniku untuk menjalani hidup ini." kata Roy sambil menghapus air matanya.


"Kau beruntung anakmu masih hidup, tapi tidak dengan adikku, selain kehilangan anaknya, dia juga kehilangan kesempatan untuk bisa hamil kembali." kata Laras yang tiba-tiba duduk di samping Roy dan Kenan.


Roy pun begitu terkejut mendengar perkataan Laras. "Apa maksudmu? Selain kehilangan anaknya, adikmu juga sudah tidak memiliki kesempatan untuk hamil kembali?"


"Ya." jawab Laras sambil terisak yang membuat Roy semakin merasa bersalah.


'OH TUHAN APA LAGI INI!!" teriak Roy dalam hati.


Note:


Yang bilang Roy tokoh baru mungkin lupa ya, Roy pernah keluar di episode 26 🤭✌️


Othor usahain double up biarpun lagi dapet jatah Crazy Up di novel sebelah 😁

__ADS_1


__ADS_2