
"Revan, bolehkah aku pergi berbelanja dengan Calista?" tanya Giselle saat dia menutup telepon dari Calista.
"Tentu.. Tentu boleh, Giselle. Tapi.."
"Tapi apa?"
"Tapi jangan katakan terlebih dahulu jika kita sudah menikah siri, aku tidak ingin mereka beranggapan yang tidak-tidak pada kita."
"Tentu saja, aku tidak akan pernah mengatakan itu pada siapapun sampai kita menikah resmi."
'Menikah resmi.' kata Revan dalam hati sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Revan, aku mandi dulu ya, sebentar lagi Calista akan menjemputku ke sini."
"Aku ikut, tunggu aku Giselle."
Stella menyunggingkan senyuman saat melihat mobil Revan yang sudah pergi meninggalkan apartemennya. "Sekarang saatnya, bersiaplah wanita j*lang." kata Stella kemudian masuk ke dalam apartemen.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu apartemen membuat Giselle sedikit tergesa-gesa untuk membukakan pintu. "Sebentar." jawab Giselle saat mulai mendengar ketukan pintu kembali.
Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita berdiri membelakanginya, postur tubuh, tatanan rambut serta gaya berpakaian yang sangat modis sama seperti Calista membuat Giselle menyangka dia adalah Calista.
"Calista, kau sudah datang?" tanya Giselle. Namun saat wanita itu membalikkan tubuhnya, bukan Calista yang ada di hadapannya. "Oh maaf, saya pikir anda teman saya, Calista." kata Giselle sambil tersenyum pada wanita cantik dengan bentuk wajah mungil seperti barbie yang ada di hadapannya.
"Hai, saya Stella." kata wanita itu.
DEGGGGG
Jantung Giselle seakan berhenti berdetak saat melihat wanita yang ada di hadapannya adalah Stella. "Oh iya Stella, silahkan masuk." kata Giselle sambil menyembunyikan perasaannya yang terasa sangat kacau.
"Oh baik Giselle, bukankah kau Giselle?" tanya Stella.
"Iya saya Giselle, ayo masuk Stella." jawab Giselle sambil mempersilahkan Stella masuk ke dalam. Stella lalu masuk mengikuti Giselle kemudian duduk di sofa berseberangan dengan Giselle. Stella memperhatikan penampilan Giselle dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis. 'Kacau sekali selera Revan, pasti dia hanya wanita miskin yang tidak sepadan denganku.' gumam Stella sambil tersenyum kecut.
"Stella, ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Tentu Giselle! Sekarang dengarkan aku! Tolong jauhi Revan, karena dia adalah suamiku!" kata Stella dengan nada yang mulai meninggi.
"A.. Apa?" tanya Giselle lagi.
"Apa kau tuli? Jauhi suamiku sekarang juga atau aku akan membuatmu menyesal untuk selama-lamanya!" teriak Stella.
"Apa? Suami? Revan suamimu?" tanya Giselle dengan perasaan yang tak menentu, rasa sakit di hati pun begitu menyesakkan dadanya, air mata perlahan mulai mengalir deras membasahi pipinya.
"Oh jadi kau tidak tahu jika Revan adalah suamiku? Dasar wanita bodoh! Jadi kau baru sadar jika selama ini Revan hanya mempermainkanmu? Lihat kau bahkan tidak memiliki status yang jelas dengannya! Coba ingat-ingat kembali, apakah Revan pernah memintamu untuk menikah secara resmi dengannya? Atau sekedar mengenalkanmu pada kedua orang tuannya? Tidak pernah kan?" tanya Stella.
Giselle yang mendengar perkataan Stella hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil menutup wajahnya, lidahnya pun terasa begitu kelu, rasa sakit di hatinya karena telah dipermainkan oleh Revan dan mendengar kata-kata Stella kian membuat hatinya terasa begitu hancur.
"Hei wanita ja*ang, jangan hanya bisa menangis, kau dengar kata-kataku tidak?" teriak Stella sambil mendekat ke arah Giselle yang masih menangis.
"Heiiii wanita jal*ng! Sekarang cepat kau pergi dari sini dan jangan pernah temui Revan kembali!!!"
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Stella?" tanya Giselle yang kini mulai sedikit tenang.
"Apanya yang kenapa? Apa kau belum sadar jika Revan telah membohongimu?"
"Ya, aku memang baru tahu jika kau adalah istri sah dari Revan, tapi bukan berarti aku tidak tahu apapun tentang kalian! Bukankah sejak dulu kau tidak mencintai Revan? Kenapa tiba-tiba kau bertindak seperti ini? Apa karena kekasihmu sudah pergi meninggalkanmu jadi kau membutuhkan Revan karena dia adalah lelaki cadangan bagimu?"
"STELLLAAAA!!"
Stella lalu memandang seseorang yang kini berdiri di sampingnya. "Calista?" kata Stella sedikit terkejut.
"Hentikan Stella, lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku membuat perhitungan denganmu!"
"Kau berani mengancamku Calista?"
"Ya tentu saja, memangnya siapa dirimu sampai aku tidak berani padamu!" kata Calista
"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur, karena ini buka urusanmu!"
"Ini menjadi urusanku karena Giselle adalah teman baikku!"
"Oh jadi kalian berteman? Pantas saja kalian berteman karena kalian sama-sama wanita brengsek yang hanya bisa merebut laki-laki milik orang lain, apalagi kau Calista, merebut Leo yang sudah bertunangan dengan adikmu! Sungguh wanita murahan!"
__ADS_1
"Jaga kata-katamu Stella karena itu sudah menjadi bagian masa lalu! Lagipula adikku juga tidak pernah mencintai Leo!"
"Kalau begitu, urusi saja suamimu yang buaya darat itu, siapa tahu di luar sana dia juga sedang bersenang-senang dengan wanita lain. Hahahaha."
"Tutup mulutmu Stella!" kata Calista lalu mulai maju mendekat pada Stella kemudian menjambak rambutnya dan mendorong tubuh Stella hingga terhempas jatuh ke atas sofa.
Saat Calista akan menghampiri Stella kembali, Giselle kemudian menarik tubuhnya. "Cukup Calista, cukup, sudah jangan sakiti dia lagi."
"Tapi wanita iblis seperti dia harus diberi pelajaran, Giselle!"
"Brengsek kau Calista! Lihat saja, aku akan membalas perbuatan kalian yang sudah berani menantangku!" kata Stella kemudian berdiri dan berlari keluar dari apartemen itu.
"Cukup Calista, sia-sia kau ladeni wanita seperti itu, hanya akan membuang waktu dan tenaga. Lebih baik tenangkan dirimu, ayo kita duduk." kata Giselle saat Calista akan berlari mengejar Stella.
"Brengsek, jika saja Calista tidak datang, pasti aku sudah berhasil mengusir wanita ja*ang itu keluar dari kehidupan Revan!" umpat Stella sambil berlari menuju basemen.
"Jika aku tidak sedang hamil, pasti sudah kuladeni Calista sialan itu. Brengsek!" umpat Stella kemudian masuk ke dalam mobil dan meninggalkan apartemen itu.
Calista menemani Giselle yang kini duduk di depannya sambil menangis. Dia lalu mendekat ke arah Giselle kemudian memeluk dan menggenggam tangannya. "Giselle, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa benar kau memiliki hubungan dengan Revan?"
Namun Giselle hanya menangis dan mengangguk lemah. "Ya, Calista aku sudah menikah dengan Revan, kami menikah siri, aku tinggal di apartemen ini sejak aku menikah dengannya."
"Apaaaa? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Apa kau tidak tahu jika Revan telah memiliki seorang istri?"
"Revan tidak pernah mengatakannya padaku karena awalnya kami hanya menikah kontrak, kami menikah karena sebuah kecelakaan terjadi pada kami." jawab Giselle sambil terisak.
"Kecelakaan? Apa maksudmu Giselle."
"Sebaiknya kita bahas nanti saja, Calista sekarang maukah kau menolongku?"
"Tolong? Tolong apa? Selama aku bisa, tentu saja aku mau menolongmu Giselle."
"Calista, tolong bawa aku pergi dari sini. Bawa aku pergi sejauh mungkin dari Revan." kata Giselle.
"Kau yakin?"
"Tentu, bawa aku pergi sekarang juga Calista." kata Giselle sambil menarik tangan Calista.
__ADS_1
"Baik jika itu maumu." jawab Calista lalu mereka mengemasi barang-barang Giselle dan pergi dari apartemen itu.