Salah Kamar

Salah Kamar
Masih Perawan?


__ADS_3

"FIRMANNNN!! SIAPA YANG MENELEPONMU DAN MENGAJAKMU MAKAN MALAM FIRMANNNN! TOLONG JAWAB AKU FIRMAN JANGAN DIAM SAJAAAA!!!!"


'Astaga.' gumam Firman sambil menelan ludahnya dengan kasar. Dia pun bergegas menutup panggilan telepon dari Nurma.


"Vallen, dengarkan aku Vallen. Tenangkan dirimu dulu."


"BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA ADA WANITA YANG MENGAJAK SUAMIKU MAKAN MALAMMM! AKU TIDAK MAU PULANG! AKU AKAN MENUNGGUMU DI SINI SAMPAI KAU SELESAI BEKERJA!!"


"Vallen, dengarkan aku dulu sayang, dengarkan aku. Kau percaya padaku kan?"


"TENTU SAJA AKU PERCAYA PADAMU TAPI AKU TIDAK PERCAYA PADA WANITA-WANITA LAIN YANG MENYUKAIMU!!"


"Vallen, apa maksudmu berkata seperti itu? Siapa wanita lain yang menyukaiku?"


"Tidak usah pura-pura Firman, bukankah di kantor ini banyak wanita yang menyukaimu?" jawab Vallen dengan begitu kesal.


Firman kemudian tersenyum. "Jadi ini alasannya kau datang ke kantor ini?"


Vallen pun hanya terdiam sambil memonyongkan bibirnya, nafasnya begitu tersengal-sengal menahan amarah yang begitu berkecamuk di dadanya.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, Firman! Cepat katakan padaku siapa yang meneleponmu dan mengajakmu makan malam!!"


Firman lalu mendekap tubuh Vallen. "Sayang, kau percaya padaku kan?"


"Anggap saja aku percaya padamu!"


"Vallen sayang, sekarang kau dengarkan aku. Kemarin saat kau memintaku membelikan makanan ringan untukmu tiba-tiba aku bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang hampir saja tertabrak sepeda motor."


"Lalu kau menyelamatkannya?"


"Ya, aku menyelamatkannya. Jika kau tidak percaya, lihat ini. Aku terjatuh saat menyelamatkannya, tidak hanya itu tapi kemarin juga ada beberapa orang petugas security di apartemen yang menyaksikan kejadian itu, kau bisa menanyakan pada mereka jika kau tidak percaya padaku."


Firman lalu memperlihatkan sikunya yang terluka.


"Oh iya, sikumu terluka. Apa ada luka yang lain? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?"


"Tidak ada luka yang lain, bukankah saat aku baru datang dari minimarket kau langsung mengajakku menonton drama korea?"


"Ya. Lalu apa hubungannya wanita paruh baya itu dengan ajakan makan malam, Firman!!"


"Vallen, tadi yang meneleponku dan mengajak makan malam adalah wanita paruh baya itu, dia mengajakku makan malam sebagai ucapan terima kasih karena aku sudah menyelamatkannya. Jika kau tidak percaya padaku, aku bisa menelponkanya untukmu, kau bisa bicara dengannya."


"Tidak usah, aku percaya padamu. Astaga, jadi aku salah paham padamu? Jadi yang mengajakmu makan malam bukan wanita muda ataupun karyawan yang ada di kantor ini?"


Firman pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya, istriku yang cantik kau sudah salah paham dan cemburu padaku."


"Maafkan aku, Firman." kata Vallen disertai raut wajah bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, nanti biar kuhubungi dia. Sekarang kita makan siang terlebih dulu. Ayo kau kusuapi lagi."


"Tidak usah, lebih baik kau hubungi dulu saja wanita itu, aku bisa makan sendiri. Aku tidak mau dia berfikiran buruk padamu sayang."


"Baik, aku akan menghubunginya sekarang."


"Ya."


Vallen lalu melanjutkan makan siangnya sedangkan Firman menelepon Nurma.


[Halo Firman.]


[Halo tante, maafkan saya tadi tiba-tiba mematikan teleponnya karena ada sedikit kekacauan di kantor, beberapa karyawan saya mengalami sedikit masalah jadi saya harus segera menyelesaikan masalah tersebut.]


'Karyawannya? Firman pasti memiliki jabatan yang tinggi karena dia memiliki karyawan yang dibawahinya.' gumam Nurma sambil tersenyum menyeringai.


[Oh iya tidak apa, Firman. Kalau tante boleh tahu, memangnya kau bekerja dimana, Firman?]


[Oh saat ini saya bekerja di Mahendrata Grup.]


[Sebagai apa, Firman?]


[Emh.. Saya bekerja sebagai manager pemasaran.]


'Astaga, jabatan yang sangat bagus untuk laki-laki muda seperti Firman. Ah meskipun dia bukan seorang pengusaha tapi jabatan sebagai manager cukup sepadan dengan Vallen, mereka pasti cocok.' gumam Nurma sambil tersenyum.


[Oh iya Firman, lalu bagaimana dengan ajakan makan malam Tante?]


[Oh maaf tante, sepertinya malam ini saya tidak bisa, saya sedang sibuk.]


[Oh baiklah kalau begitu lain kali saja.]


[Iya tante, maaf mengganggu waktumu.]


[Tidak apa-apa.] jawab Firman kemudian menutup teleponnya. Dia lalu berjalan ke arah Vallen yang kini masih menikmati makan siangnya.


"Kau sudah selesai makan?"


"Sudah, sekarang giliranmu kusuapi."


"Hahahaha, lebih baik kau kembali ke rumah sakit sekarang. Waktu istirahatmu sudah hampir habis sayang."


"Biarkan saja, aku bisa bilang pada kakakku kalau jalanan macet. Sekarang cepat buka mulutmu, akan kusuapi sekarang."


"Dasar nakal."


Sementara Nurma menutup teleponnya sambil tersenyum.


'Jika Firman tidak bisa makan malam bersama kami, bagaimana jika sebaiknya aku mengajak Vallen pergi ke apartemen milik Firman sambil membawakan makanan untuknya, lalu mereka akan kukenalkan satu sama lain. Aku yakin, Firman pasti juga akan tertarik pada Vallen.' gumam Nurma sambil terkekeh.

__ADS_1


"Nanti malam aku pergi ke apartemen Vallen saja, kemarin saat aku bertanya pada satpam apartemen mereka mengatakan jika Firman tinggal di lantai lima? Bukankah itu lantai yang sama dengan apartemen yang Vallen tinggali saat ini? Ini pasti akan mempermudah perjodohan yang akan kulakukan antara Vallen dan Firman." kata Nurma sambil tersenyum menyeringai.


🏡🏡🏡


"Kenapa kau tidak memakan makan malammu, sayang?"


"Firman entah kenapa aku tidak tertarik pada makanan itu."


"Bukankah tadi kau yang membeli makanan itu saat pulang dari rumah sakit?"


"Iya itu tadi tapi tidak sekarang."


"Sekarang kau mau apa? Biar kubelikan."


"Emhhh aku mau asinan, Firman."


"Asianan? Tapi ini sudah malam, Vallen."


"Tapi aku ingin makan asinan." kata Vallen sambil menggerutu.


"Baik, baik aku akan pergi sekarang."


"Terimakasih sayang!!" teriak Vallen sambil memeluk Firman.


"Aku pergi sekarang ya."


"Iya."


Vallen lalu memandang Firman yang keluar sambil tersenyum.


"Benar-benar suami yang baik." kata Vallen sambil terkekeh. Beberapa saat kemudian, bel apartemen pun berbunyi.


"Astaga, jangan-jangan itu mama." kata Vallen sambil menelan ludahnya dengan kasar. Dia kemudian mengirimkan pesan pada Firman agar pulang setelah mendapat kabar darinya. Setelah itu, Vallen pun bergegas membukakan pintu untuk Nurma.


"Mama." kata Vallen saat membuka pintu tersebut.


"Kau kenapa, Vallen? Kenapa kau pucat sekali?"


"Oh ini, aku hanya sedikit pusing."


"Pusing? Apa kau kurang makan?"


"Tidak, aku hanya sedang tidak enak makan. Malam ini aku ingin makan asianan ma."


"Asinan? Tapi ini sudah malam, Vallen. Lebih baik kau makan ini saja." kata Nurma sambil memberikan sebuah kotak makanan berisi beberapa makanan olahan seafood. Namun baru saja Vallen membuka makanan tersebut tiba-tiba Vallen merasa begitu mual. Dia pun kemudian berlari ke arah wastafel lalu memuntahkan cairan berwarna bening. Nurma yang melihatnya pun begitu terkejut.


"Oh tidak, wajah Vallen pucat, dia juga pusing, lalu ingin makan asianan dan yang terakhir dia muntah-muntah." kata Nurma sambil menelan ludahnya dengan kasar. Dia kemudian memandang Vallen yang masih muntah-muntah di wastafel.


'Apakah Vallen sedang hamil? Jika Vallen hamil, lalu siapa yang menghamilinya? Bukankah dia masih seorang perawan?'

__ADS_1


__ADS_2