
Tak terasa sebulan sudah kami menempati rumah baru kami, itu tandanya habis pula masa cutiku. Lusa aku sudah harus kembali bekerja.
“Mas, Meta sama Ferdy hari ini jadi main kesini?” tanya istriku yang sedari tadi asik memotong-motong buah apel di sampingku di ruang tamu.
“Jadi katanya, tapi kok ya belum muncul juga. Hari mendung begini, sepertinya mau hujan. Bakal kehujan mereka kalau tidak segera datang.” Kataku sedikit was-was. Dan benar saja, tak lama rintik hujan pun mulai turun.
“Alhamdulillah hujan, semoga Mereka sempat berteduh ya Mas,” ucap syukur Istriku.
“Aamiin.” Tak lama kami kembali asik menyantap buah apel yang sudah di sajikan istriku.
Sebulan hidup bersamanya, aku mulai mengenal hal-hal apa yang dia suka dan yang tidak disuka. Sifatnya dan tabiatnya. Istriku sangat telaten mengurusiku, bahkan sampai hal terkecil tentang pakaian pun semua dipersiapkannya. Layaknya Ibu yang sedang menyiapkan baju ganti untuk Anak-anaknya. Selesai mandi, baju ganti sudah tersedia di atas kasur. Semua disediakan, bahkan untuk urusan Daleman sekalipun. Luar biasa bukan istriku. Hanya saja satu hal yang terkadang aku harus ekstra menjaga perasaannya. Yaitu, istriku pencemburu.
Pernah suatu ketika aku keluar rumah dan tidak pamit karena dia sedang mengerjakan sholat dhuha. Tak lama tiba-tiba ia menelponku.
“Hallo, Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumusalam, ada apa dek?”
“Kemana mas, kok ga pamit,”
“Kan tadi kamu lagi Sholat. Kalo nunggu kamu selesai, jamu dorongnya keburu pergi.”
“Oh mas lagi beli jamu,”
“Iya, nanti malam kan mau tanding lagi.” Kataku menggoda.
“Huh, Joni dah mulai nakal ya Mas,” katanya lalu tertawa.
“Hehe, tapi kamu suka kan?” kataku semakin mengodanya.
“Ya sudah, aku mau bayar dulu.” lanjutku
“Bentar dulu, beli jamunya Pak tarno atau mbak Jesika nih?” tanya nya penuh selidik.
“Mbak Jesika dek,”
“Astaqfirullah, tunggu aku susul kesana.”
“Lho, mau ngapain?”
“Biar aku aja yang bayar.”
“Kok gitu Dek?”
“Aku ga rela kalo Mbak Jesika lirik-lirik, kedip-kedip sama kamu.”
Wuuusssttt, lima menit dia sudah muncul di depanku. Membayar pesanan jamuku. Lalu menggandeng aku pulang. Parahkan! Menginggat itu aku jadi tersenyum sendiri.
“Belum datang juga Meta ya mas,” kata istiku membuyarkan lamunanku.
“Iya, mungkin berteduh. Ya udh kita cari yang anget-anget dulu yok.” Ajakku.
“Dimana Mas?” katanya sambil berdiri lalu melangkah mengikuti aku dari belakang.
“Dimana ajalah asal sama kamu,, iya kamuuuuu.” Kataku sambil berbalik lalu mengangkat tubuhnya bak cinderala. Dia terkekeh. Ku bawa dia kedapur.
__ADS_1
“Hmmm, kalau cari kehangatan di dapur ya kompor lah Mas,” katanya mendelik. Dan aku terkekeh.
“Buatin Kopi susu ya dek,” perintahku, dijawab dengan anggukan.
Suara deru motor terdengar di luar, sepertinya ada yang datang. Bergegas aku ke depan, ku tinggalkan istriku yang sedang menyajikan minuman untukku.
“Makasih loh udah mau nganterin aku sampai rumah kakaku, sampe hujan-hujanan kayak gini,” terdengar suara Meta di luar sana. Ternyata meta yang datang. Ku tahan langkahku, ku biarkan saja dulu Meta di teras Rumah.
“Biasa aja kali Yank, untukmu apapun aku lakukan.” Jawab pacaarnya. Heleh, gombal mukiyo. Gumamku.
“Jujur aku baru sekali ini loh dianterin cowok sampe kehujanan kayak gini,”
“Haaaaa, serius yank! Cemen banget sih cowok-cowokmu dulu,” wadauuuu, sombong amat tu bocah.
“Iya, soalnya yang dulu-dulu pada pake mobil. Jadi ga pernah kehujanan.” Huahahaha. Ajur le! Hampir saja suara tawaku meledak , andai tak segera ku tutupmulutku pakai tangan. Tak ada sahutan dari lelaki itu, namun samar-samar ku liuhat wajah kecutnya.
“Mas, ini kopinya,” suara istriku mengejutkan aku.
“Eh, iya dek. Taruh aja di meja.”
“Eh Meta, sudah datang rupanya,” sapa istriku begitu tau di luar ada Meta dan pacarnya.
“Iya Mbak, nih masih basah makanya ga mau langsung masuk,” kata Meta yang memang nampak sedikit basah.
“Ga papa ayo masuk. Pakai baju gantinya Mbak aja.” Istriku menawarkan jasa dan di setujui olehnya.
“Aku ganti baju dulu ya, kamu tunggu di sini dulu sampe bajumu kering,” kata meta pada pacarnya. Sadis cuy! Sepertinya Meta dongkol dengan peristiwa yang menimpa mereka hari ini. Karena kasihan, akhirnya aku keluar rumah untuk menemaninya walau sekedar ngobrol.
Lima menit basa basi dengan pacar Meta, kami sudah mulai nampak akrab. Obrolan pun nyambung, karena ternyata kami punya hobi yang sama, yaitu nangkep Jangkrik. Bedanya aku biasa sama Mang Kosim, dia bersama Ky Bedul. Dukun santet yang mengunakan Jangkrik sebagai mediasi. Begitu katanya. Ngeri gaes! Pantes ngobrol dari tadi kayak ada bau-bau menyan. Ternyata! Waduh, Ky Bedul dukun? Jangan-jangan si Meta kena guna-guna nih. Sebab selera Meta turun dratis, sehabis putus dari Adipati kecantol cowok model gantungan kunci motor supra fit begini. Eh, tapi jika dilihat-lihat memang makin lama ni bocah makin ganteng jika di perhatikan. Senyumnya nampak manis dengan lesung pipi sebelah kiri, ditambah gigi gingsulnya menambah kesan cowok lemah lembut. Ebuset, kok aku jadi muji-muji dia ya. Apakah aku di peletnya juga? Ih, Bergidik geli aku membayangkan.
“Hallo, sisters! Apa kabarnya?” katanya sambil menyalami ku dan bergaya macem presiden salaman dengan para kabinetnya. Peres begitulah pokoknya.
“Sisters Mbahmu salto!” kataku dongkol.
“Oh lupa aku, kan kejantanan sudah teruji. Sory my brother,” katanya terkekeh. Dasar Bejo, kelakuan ga pernah berubah.
“Eh, ayo-ayo semua masuk, sebentar lagi sudah masuk waktu Maghrib. Istirahat dulu kalian di dalam sambil menunggu waktu Mahgrib tiba,” kataku lalu beranjak berdiri melangkah masuk kedalam rumah, dan di iringi oleh mereka.
“Kak, saya boleh numpang ke kamar kecil?” tanya gadis yang dibawa si Bejo.
“Oh boleh-boleh, silahkan. Lurus saja, trus belok kiri. Nanti ada Istriku di situ.” Kataku sambil menunjuk arah dapur yang terhubung kamar mandi.
“Terima kasih Kak,” katanya dan langsung beranjak ke belakang. Ku lihat Ferdy hendak mengikuti si gadis dari belakang. Cepat kutangkap kerah bajunya dari belakang.
“Eits, kadal buntung mau kemana,” tanyaku gemas.
“Ya mau ngantar lah Rey, takut tersesat tar dianya. Kalo SALAH KAMAR kan bahaya Rey.”
“Hilih, modus. Dah anteng sini aja kamu, kalo kamu ngintilin ya malah bahaya. Ngomong-ngomong Sejak kapan kamu jadi pedofil,” tanyaku sambil melepas cengkraman tanganku di kerah bajunya.
“Whatttt? Pedofil?” katanya sambil menoleh kearahku.
“Lha itu, bocah masih SMP kamu embat juga,”
“Dih, jahat banget kamu Rey. Dia itu umurnya sudah 23 tahun, aku kan 25 tahun. Ya pas saja lah Rey. Beda dikit doang!”
__ADS_1
“Oh, berarti mukamu yang boros. Soalnya kamu jalan sama dia macem bocah piyik jalan sama abang cabe-cabean.” Kataku terkikik.
“Wedus Rey! Ngajak tawuran namanya nih Rey!” katanya sewot.
“Ya udah, temani pacar Meta gih! Aku mau buatin kalian minuman dulu.” Kataku sambil beranjak meninggalkan mereka.
“Ga usah repot-repot Rey, keluarin aja semua,” teriak Ferdy.
“Ya, sekalian tar kamu juga ku keluarin dari rumah.” Sahutku dengan tetap berjalan.
*******
“Ayo diminum!” titah Istriku kepada para tamu-tamuku.
“Cie, Couplean bajunya Rey,” tanya Ferdy jahil, saat melihat aku dan istriku memakai baju kaos yang sama.
“Dih alay banget tulisannya. ‘Mamah antiex’.. ‘Papah AntenK’! Mual perutku Rey, macem anak labil yang baru kenal dunia pacaran aja” kata Ferdy lagi.
“Lahh, kita emang pacaran. Pacaran halal malahan, ya kan Dek?” kataku meminta dukungan kepada istriku. Dan dibalas senyum dan anggukan.
“Waduh, salah umpan aku,” kata Ferdy manyun.
“Hmm, nyindir!” kata Meta sewot. Di iringi tatap tajam cowok nya ke arahku. Etdah, tatapan dukun santet media jangkrik. Takut!
“Ya sudah, kita maghriban dulu! Setelah itu kita makan bareng ya,” kata istriku dan dijawab kompak oleh kami.
“Siap chef”
*********
Selesai makan mereka sudah sibuk masing-masing, kulihat Ferdy dan pacar Meta pada asik mabar, sementara Meta asik curhat-curhatan dengan pacar Ferdy.
“Fer, ikutan dong!” kataku.
“Ah, jangan! Belum juga mulai main paling dah ‘Knock’ duluan.” Jawab Ferdy masih tetap asik dengan layar ponselnya.
“Apa-an Tu?”
“Lahh, istilahnya aja ga tau apa lagi mainnya. Dah main bubble shooter mu aja, atau kalo gak download ‘tebak lagu’ aja sono!” kata Ferdy cuek
“Mbako semprul.” Kataku dongkol. Merasa tak di hiraukan dan tak di anggap oleh mereka, ku susul istriku yang sedang berada di kamar. Ah, kayaknya begitu lebih asik daripada di kacangin sama mereka seperti ini.
Ku lihat isrtiku sedang menyusun baju yang baru saja dilipatnya dari jemuran. Cuaca dingin sisa-sisa hawa hujan dan rintik yang masih turun ke bumi membuat gairahku padanya tiba-tiba naik. Di tambah suasana pengantin baru yang selalu kami rasakan. Cepat ku peluk istriku dari belakang. Kucumbu tanpa penolakan. Seperti biasa lampu segera kumatikan, masih sama-sama malu. Akhirnya kegiatan bernilai ibadah pun kami rampungkan dengan seksama dan dalm tempo yang sesingkat-singkatnya.
‘Tok! Tok! ToK!’ suara pintu di ketuk dari luar. Ah, untung saja sudah selesai. Biasanya kalau ada Ferdy selalu mengganggu dan muncul pada saat-saat yang tak di inginkan. Cepat ku kenakan pakaianku. Begitupun istriku. Selesai memakai pakaian cepat kunyalakan lampu.
“Mas, mereka mau pulang,” terdengar suara Meta.
“Iya bentar.” Sahutku dari dalam.
Tak lama aku keluar, istriku masih beberes dikamar mandi. Ku iringi langkah mereka yang sudah duluan di depanku. Sesampai di pintu mereka berpamitan, ada yang beda. Mereka saling cengengesan. Sedikit heran, tapi cuek saja lah. Kataku dalam hati.
Pacar Meta berpamitan duluan, meluncur menderu meninggalkan suara knalpot rissing cempengnya. Sedangkan Meta segera beranjak masuk ke dalam. Meta memang meminta izin untuk beberapa hari menginap di rumahku. Kangen katanya. Jadi untuk beberapa malam dia akan tidur di rumahku. Sementara Ferdy dan pacarnya tak lama pun menyusul bepamitan, gadis kecil itu dibiarkan Ferdy masuk duluan ke dalam mobil, sementara Ferdy sengaja memperlambat jalannya. Firasat mulai tak nyaman dengan gerak-gerik Ferdy. Tau kan bagaiman tabiat kadal buntung satu ini. Jahilnya tingkat kabupaten. Dan benar saja,,
“Rey, couplean sih couplean. Tapi masa iya daleman juga couplean,” katanya sambil terkekeh, melangkah melenggang masuk kedalam mobil. Aku terperajat, segera ku lirik kebawah, ke celanaku. Daleman warna pink dikombinasi hiasan bunga rajut penuh renda-renda, sedikit menyembul dari balik celana t-shirtku. Alamak janggg! Gara-gara ketukan mengejutkan dari Meta tadi jadi Salah ambil CD ternyata aku. CD bini lah yang aku pakai. Pantes mereka cengengesan tak karuan. Mbako Semprul! Muka merah menahan malu. Di tambah lagi istriku yang ternyata sudah berada di belakangku sambil senyum-senyum.
__ADS_1