
"Ada apa pagi-pagi kau sudah berteriak-teriak seperti ini, Kenan." tanya Leo yang malam itu menginap di rumah Kenan karena acara resepsi pernikahan Rima berlangsung sampai malam sehingga mereka memutuskan menginap di rumah Kenan.
"Lihat ini Leo!" teriak Kenan sambil memperlihatkan bangkai ayam serta tulisan yang ada di tangannya."
"Kenapa ini bisa terjadi padamu? Apakah ada rekan bisnismu yang memiliki dendam padamu?"
"Tidak Leo, tidak, kau tahu bagaimana sikapku pada semua rekan bisnisku kan?"
"Ya, tapi siapa yang melakukan semua ini jika bukan mengenai persaingan bisnis?"
"Begini Leo, beberapa hari yang lalu Olivia mendapat kiriman sebuah buket bunga yang bertuliskan jika pengirim bunga itu akan selalu mencintai Olivia."
"Benar-benar ba*ingan, siapa yang melakukan hal seperti itu pada wanita yang sudah bersuami Kenan?"
"Entahlah aku pun tidak tahu, ini semua masih kuselidiki. Beberapa hari yang lalu aku sudah datang ke toko bunga tempat pengirim itu membeli buket bunga tersebut namun ternyata yang membeli juga seorang kurir ojek online."
"Oh s*it. Ini masalah serius, Kenan. Tidak bisa dibiarkan begitu saja."
"Iya Leo, lebih baik masalah ini cukup kita saja yang mengetahuinya."
"Kau benar, karena orang terdekat pun bisa saja melakukan ini."
"ASTAGA!!!" teriak Calista dan Olivia yang baru saja keluar dari dalam rumah dan melihat ceceran darah dan bangkai ayam tanpa kepala.
"Le.. Leo, Kenan apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Calista.
"Calista, Olivia sebaiknya kita masuk ke dalam rumah dulu dan biarkan Bi Marni yang membereskan semua ini." kata Leo sambil menarik Calista masuk ke dalam rumah.
"Olive ayo kita masuk." kata Kenan.
"Kenan, apakah ini ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari yang lalu?"
"Kemungkinan seperti itu Olivia, kita harus menjaga rahasia ini dan tetap terlihat tenang. Jangan sampai ada orang di luar rumah ini yang tau kejadian ini."
"Iya Kenan."
***
Perlahan Rima membuka matanya saat mencium wangi masakan dari arah dapur. 'Apa Ilham yang sudah memasak sepagi ini?' kata Rima dalam hati.
__ADS_1
Dia kemudian mengambil pakaian yang ada di samping tempat tidurnya lalu membalut tubuh tela*jangnya di balik selimut dengan pakaian itu. Setelah memakai pakaian, Rima pun berjalan keluar dari kamar dan melihat Ilham yang kini sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Selamat pagi Rima, kau sudah bangun?"
"Iya Ilham, apakah kau yang memasak semua ini?"
llham pun mengangguk sambil tersenyum. "Silahkan menikmati sarapan tuan putri." kata Ilham sambil menari kursi dan mempersilahkan Rima duduk di meja makan. Rima pun tersipu malu, dia lalu duduk di kursi itu sambil menyantap makanan yang dimasak oleh Ilham.
"Maaf jika rasanya kurang enak, Rima."
"Tidak, ini cukup lezat Ilham. Kau memang pandai memasak."
"Terimakasih, aku cuma ingin menyenangkan hati istriku tercinta." kata Ilham sambil mengelus wajah Rima yang membuat wajahnya kini semakin bersemu merah dan perasannya pun semakin tak menentu.
'Ilham ternyata kau begitu baik dan sangat menyayangiku, ternyata aku dulu telah salah menilai tentangmu. Aku benar-benar telah jatuh cinta padamu.'' kata Rima dalam hati sambil melihat Ilham yang kini terlihat begitu tampan di matanya.
"Ilham, terimakasih banyak, mulai hari ini aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, aku berjanji akan selalu ada di sampingmu dan menuruti semua kata-katamu."
"Iya Rima, kupegang janjimu." jawab Ilham.
'Hahahahaha ternyata begitu mudah menaklukkan wanita bodoh dan angkuh sepertimu, Rima. Sekarang akan kubuat kau benar-benar jatuh cinta padaku hingga tak sanggup lagi melepasku, setelah itu aku akan menyiksamu perlahan dan meninggalkanmu saat kau menangis darah karena meratapi kepergianku.' kata Ilham sambil melirik Rima yang kini begitu lahap menikmati sarapannya.
Mereka kemudian menyelesaikan sarapan mereka, setelah selesai Rima bergegas membersihkan meja kemudian mencuci piring-piring kotor itu di dapur. Ilham pun berniat untuk membantunya namun Rima menolaknya dan menyuruh Ilham untuk menunggunya di ruang televisi.
"Aduuuuhhhhh." teriak Rima.
"Kau kenapa Rima?" tanya Ilham sambil berteriak.
"Tidak apa-apa cuma sakit perut." jawab Rima kemudian masuk ke WC.
Ilham pun tersenyum menyeringai. 'Aku sudah mencampurkan obat pencuci perut di minuman dalam gelasmu tadi. Nikmatilah kejutan dariku, Rima.' kata Ilham dalam hati.
***
"Kenan apakah kau mencurigai seseorang yang sedikit mencurigakan beberapa hari terakhir ini?" tanya Leo pada Kenan saat mereka sedang duduk di samping kolam renang sambil melihat Vansh dan Laurie yang asyik berenang.
"Iya Leo, saat itu aku bertemu dengan salah satu teman kerja Olivia dulu saat di Australia namanya Drey. Dan dia mengatakan jika dia dulu pernah mencintai, Olivia."
"Lalu bagaimana reaksimu?"
__ADS_1
"Aku langsung mengatakan jika aku adalah suami Olivia."
"Apa kau marah padanya?"
"Tidak hanya sedikit ketus."
Leo pun memukul keningnya. "Sama saja, Kenan."
"Lalu bagaimana reaksinya?"
"Biasa saja, bahkan dia meminta maaf padaku."
"Kenan, coba kau tanyakan pada Olivia dimana tempat Drey bekerja, aku akan menyuruh anak buahku untuk membuntutinya. Jika ada gelagatnya yang tampak mencurigakan aku akan memberitahukanmu."
"Iya Leo, nanti kutanyakan pada Olive."
Sementara Olivia dan Calista saat ini sedang menyuapi si kembar Nathan dan Nala tak jauh dari kolam renang. Tiba-tiba ponsel Olivia pun berbunyi.
"Dari siapa Olive?" tanya Calista.
"Drey kak, teman kerjaku dulu di Australia."
"Oh." jawab Calista kemudian melanjutkan menyuapi Nathan.
***
"Bagaimana keadaanmu Rima?" tanya Ilham yang terlihat cemas karena Rima berulangkali keluar masuk ke kamar mandi.
"Tidak apa-apa, cuma sedikit lemas. Mungkin kemarin aku terlalu banyak makan makanan pedas di resepsi pernikahan kita karena perutku memang sedikit kurang bersahabat dengan makanan pedas."
"Mungkin, kau tunggu disini ya Rima, aku pergi sebentar untuk membelikan obat untukmu."
"Iya Ilham, terimakasih banyak, jangan lama-lama perutku sudah sangat sakit."
"Iya." jawab Ilham kemudian pergi meninggalkan Rima yang kini masih meringis kesakitan.
Menit sudah berganti jam, namun Ilham belum juga menampakkan diri di rumah. Rima pun kian begitu cemas, perutnya kini sudah begitu sakit, bajunya pun mulai sedikit basah karena keringat yang keluar di sekujur tubuhnya.
"Kemana kau Ilham?" kata Rima dengan bibir bergetar, seluruh tubuhnya pun kini mulai mati rasa menahan rasa sakit di perutnya. Hingga rasa sakit dan lemas yang dirasakannya membuat Rima kini bergitu tidak berdaya. Pandangannya yang sudah berkunang-kunang pun kini kian kabur lalu tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap.
__ADS_1
Saat matahari tepat berada di atas kepala, Ilham kembali ke rumah dengan membawa bungkusan obat di tangannya. Dia lalu masuk ke dalam rumah kemudian memanggil Rima. Namun panggilan darinya tak mendapat jawaban dari Rima, hingga akhirnya Ilham menemukan Rima yang kini tengah terkapar tidak sadarkan diri di dalam kamar.
"Ini hanyalah permulaan Rima karena setelah ini akan banyak kejutan menantimu. Hahahaha." kata Ilham sambil tersenyum menyeringai.