Salah Kamar

Salah Kamar
Kebencian


__ADS_3

Dengan tubuh yang kini sudah terasa begitu lemas, Santi pun keluar dari dalam toilet yang ada di SPBU, keringat dingin pun sudah membasahi seluruh tubuhnya. Dia lalu mengambil ponselnya kemudian memesan taksi online untuk pulang ke rumah.


Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya taksi itu pun datang. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Santi memasuki taksi online tersebut dengan begitu bersusah payah.


'Bre*gsek! Semua ini gara-gara Giselle sialan itu, aku tahu wanita licik itu pasti dengan sengaja menukar sarapan milikku dengan miliknya. Itulah sebabnya dia mencegatku untuk sarapan terlebih dulu, jadi ini semua sudah menjadi dari bagian permainanmu?' kata Santi dalam hati sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Kita sudah sampai Nyonya." kata pengemudi taksi tersebut.


"Oh iya, terimaksih." jawab Santi kemudian memberikan uang pada sopir tersebut.


Saat dia baru saja membuka pintu gerbang rumahnya, tiba-tiba tubuhnya terasa begitu semakin lemas dan kepalanya berkunang-kunang.


"Pak Satpam, tolong aku." kata Santi sebelum akhirnya tubuhnya terjatuh di atas tanah. Seketika satpam di rumah Santi tersebut pun menghampirinya lalu menggendong tubuhnya masuk ke dalam rumah.


"Ada apa ini Pak? Apa sesuatu telah terjadi pada mama?" tanya Giselle saat melihat Santi yang masuk ke dalam rumah digendong oleh satpam.


"Saya juga tidak tahu Nyonya Giselle, tadi Nyonya Santi turun dari mobil yang kemungkinan adalah taksi online, setelah itu tiba-tiba dia terjatuh di depan saya." jawab satpam tersebut.


"Astaga, jadi mama gagal mengikuti gathering hari ini? Mama sebenarnya sakit apa? Tadi pagi kupikir dia baik-baik saja." gerutu Giselle. Dia kemudian mengambil minyak kayu putih kemudian menaruhnya di sekitar hidung Santi.


Setengah jam kemudian, Santi pun terlihat membuka mata. Giselle yang melihat Santi sudah sadar pun bergegas menghampirinya.


"Mama, mama sudah sadar?" tanya Giselle, mendengar kata-kata Giselle Santi hanya terdiam. Dia lalu memandang Giselle dengan tatapan yang begitu tajam.


'Kenapa mama menatapku seperti itu? Ah mungkin kesadarannya belum seutuhnya pulih.' kata Giselle dalam hati.


"Mama, wajah mama sangat pucat sebaiknya mama minum teh ini untuk menambah sedikit tenaga." kata Giselle, namun Santi kian menatap Giselle dengan tatapan semakin tajam.


"Giselle suapi ya." kata Giselle kemudian mengambil sendok dan menyuapkan sesendok air teh ke dalam mulut Santi.


Santi pun kemudian menangkis sendok di tangan Giselle hingga terjatuh ke lantai.


"Mama, mama kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi pada mama?"


"Cukup Giselle, kau tidak usah berpura-pura lagi padaku, disini tidak ada orang dan hanya ada kita berdua. Kita tidak usah memakai topeng kita lagi."


"Topeng? Topeng apa ma?"

__ADS_1


"Tidak usah berpura-pura bodoh! Aku tahu kau sebenarnya wanita yang sangat licik dan berbahaya, jauh lebih licik dari yang kupikirkan selama ini."


"Maaf ma, Giselle sungguh tidak mengerti apa yang mama katakan." kata Giselle.


"Lebih baik mama istirahat saja." Giselle kemudian berdiri lalu bersiap pergi dari kamar tersebut.


"Jangan melarikan diri Giselle, pembicaraan kita belum selesai."


"Ma, Giselle tidak mengerti semua yang mama katakan jadi lebih baik sekarang mama menenangkan diri mama terlebih dahulu."


"Sekarang jujurlah, kau sudah menukar sarapan mama dengan sarapan yang kubuatkan untukmu kan?"


"Menukar? Tidak ma, Giselle tidak menukar apapun. Giselle hanya mengambil sarapan yang ada di meja yang paling dekat dengan Giselle. Giselle pikir sarapan itu sama saja jadi Giselle ambil yang paling dekat dengan tempat duduk Giselle." jawab Giselle dengan begitu polos.


'Sial jadi ini senjata makan tuan untukku.' gumam Santi dalam hati.


"Memangnya kenapa dengan sarapan itu? Kenapa mama harus marah jika sarapan kita tertukar? Apa sebenarnya yang telah mama lakukan? Kenapa tiba-tiba mama begitu marah jika Giselle salah memakan sarapan itu?"


"Emh.. E... Itu." kata Santi dengan begitu gugup.


"Jangan-jangan mama ingin berbuat hal yang tidak baik pada Giselle?" tanya Giselle sambil mengerutkan keningnya.


"Sudah cukup tutup mulutmu! Aku memang masih sangat membencimu karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerima dirimu sebagai menantuku! Orang yang kuanggap sebagai menantu selama ini hanya Stella seorang!" teriak Santi.


"Astaga ma, Revan dan Stella tidak saling mencintai dan mereka sudah hidup dengan pasangannya masing-masing. Kenapa mama belum juga menyadari semua itu?"


"Cukup sudah cukup, kau tidak usah menceramahiku lagi. Lebih baik kau cepat pergi dari sini karena aku sudah begitu muak melihat wajahmu!"


Dengan perasaan begitu teriris, Giselle pun akhirnya berjalan keluar dari kamar Santi.


'Jadi selama ini mama belum bisa menerima kehadiranku sebagai menantunya? Jadi semua sikap baik yang dia tunjukkan padaku hanya sebuah kepura-puraan?' gumam Giselle dalam hati.


🍀🍀☘️☘️☘️


"Bibi, tolong kau bawa makananku ke ruang televisi. Aku tidak bernafsu makan malam disini." kata Santi saat melihat Giselle berjalan menuju meja makan untuk makan malam.


"Baik Nyonya." kata Bi Cici kemudian membawa makanan milik Santi ke ruang televisi.

__ADS_1


"Papa pulang." teriak sebuah suara dari arah depan rumah.


Mendengar suara Farhan, Santi pun bergegas menyuruh Bi Cici menaruh makan malam miliknya di meja makan kembali.


"Cepat taruh makanan milikku di meja makan ini Bi." kata Santi. Bergegas Bi Cici pun menaruh makanan itu kembali di meja makan.


Farhan kemudian mendekat pada Santi dan Giselle yang kini sedang duduk di meja makan.


"Papa, papa bilang baru pulang besok sore, kenapa tiba-tiba hari ini papa sudah di rumah?"


"Urusan papa sudah selesai tadi siang, jadi papa memutuskan untuk secepatnya pulang ke rumah."


"Oh. Ayo kita makan malam bersama pa."


"Iya ma. Giselle bagaimana keadaanmu?" tanya Farhan pada Giselle.


"Baik pa."


"Syukurlah, bagaimana sikap mama padamu?" tanya Farhan.


Mendengar perkataan Farhan, Santi pun kemudian memelototkan matanya pada Giselle.


"Papa kok tanyanya gitu sih, papa kan tahu sendiri kalau mama saat ini juga sangat menyayangi Giselle. Iya kan Giselle?"


"Iya ma."


"Papa ingin mendengar jawaban dari Giselle ma, bukan dari mama. Bagaimana sikap mama padamu Giselle?"


Santi pun kemudian memelototkan matanya kembali.


"Baik pa, mama sangat baik dan perhatian pada Giselle."


"Oh baguslah kalau seperti itu, kau tidak perlu takut mengatakan pada papa jika mama masih bersikap buruk padamu Giselle."


"Tidak pa, mama bersikap sangat baik pada Giselle."


'Maaf jika Giselle berbohong pa, Giselle hanya ingin tahu sampai sejauh mana kebencian mama pada Giselle. Tapi cepat atau lambat, Giselle akan membuka kedok Mama Santi di hadapan kalian semua jika dia sudah bertindak keterlaluan.' kata Giselle dalam hati.

__ADS_1


"Mama, bukankah hari ini mama seharusnya ikut gathering? Kenapa tiba-tiba mama sudah ada di rumah? Biasanya mama sangat bersemangat jika ada kegiatan gathering. Apa sesuatu telah terjadi pada mama?" tanya Farhan yang membuat Santi begitu gugup.


"Emhh.. E... Itu."


__ADS_2