
"FFFIIIRRRMMAAAAANNNN kau jangan berisik!!! Jangan berteriak-teriak seperti itu cucuku sedang tidur!!" bentak salah seorang tetangga Aini yang tadi berbincang dengan Firman.
Namun Firman hanya diam, air mata masih mengalir deras membasahi wajahnya.
"Firman, bukankah kau sudah memiliki seorang istri? Untuk apa kau menangisi Aini lagi? Aini sudah memiliki suami yang kaya, dia tidak mungkin mau kembali lagi padamu."
Perasaan Firman pun semakin tak menentu mendengar perkataan wanita itu, bergegas Firman bangkit lalu pergi dari rumah milik Aini.
"Dasar tidak sopan, dia pergi tanpa berpamitan padaku." gerutu wanita tersebut.
💜💜💜💜💜
Perlahan Dimas membuka matanya, namun rasa sakit yang dia rasakan di sekitar matanya membuatnya memejamkan matanya kembali.
"Aku dimana? Apakah ini yang dinamakan alam kubur?" gerutu Dimas.
"DIMAS BICARA APA KAMU?"
"Oh ternyata di alam kubur masih ada orang seperti ibu."
"DIMAAAASSSS ini di rumahmu bukan di alam kubur!!!" teriak ibunya.
"Oh, jadi aku belum mati?"
"Belum Dimas, makanya buka matamu."
"Sakit bu." jawab Dimas sambil perlahan membuka matanya. Dia lalu melihat ke samping kanannya dan melihat ibunya yang sedang duduk di tepi ranjangnya dengan tatapan cemas.
"Dimas, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Tadi malam beberapa orang warga membawamu pulang ke rumah dengan kondisi tubuhmu yang sudah begitu memprihatinkan. Seluruh tubuhmu memar dan kau juga tidak sadarkan diri, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?"
"Ini semua gara-gara Firman bu, dia menyerang Dimas dengan begitu membabi buta hingga Dimas tak sempat melawannya."
"Firman menyerangmu? Apa ini ada kaitannya dengan Delia dan Shakila? Apa kalian memperebutkan mereka?"
"Ya, ini ada hubungannya dengan mereka tapi Firman menyerang Dimas bukan karena memperebutkan mereka berdua, dia marah pada Dimas karena sudah menjebaknya untuk tidur dengan Delia dan sudah membohonginya tentang anak yang dikandung Delia."
"Oh bagus."
Dimas pun begitu terkejut mendengar perkataan ibunya.
"Apanya yang bagus bu? Apa ibu tidak lihat Dimas sampai memar seperti ini?" gerutu Dimas.
"Bukan itu maksud ibu, Dimas. Jadi setelah Firman tahu jika Shakila bukan darah dagingnya dia tidak mempertahankan anak itu?"
"Mungkin tidak karena setahu Dimas tadi malam dia menyebut-nyebut nama Aini saat sedang memukul Dimas, dia sangat marah karena Dimas dan Delia sudah menjebaknya hingga dia memutuskan hubungannya dengan Aini, dan tidak ada sepatah katapun dia menyebut nama Shakila."
"Bagus sekali."
"Bagus apanya bu?"
"Dasar kau bodoh Dimas, jika Firman tidak ingin mempertahankan Delia dan Shakila karena kebohongan yang telah kalian lakukan, kita bisa dengan mudah memiliki Shakila. Emh.. E...Jika Firman dan Delia bercerai, sebaiknya kau nikahi saja Delia."
"Menikahi Delia?" kata Dimas sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, kau nikahi saja Delia. Lagipula kalian kan sudah memiliki seorang anak? Tidak ada salahnya kan kalau kalian menikah?"
"Tapi Dimas tidak pernah mencintai Delia, bu."
"Cinta katamu? Cinta bisa datang saat setiap hari kalian menjalani hidup bersama, Dimas. Jika kau tidak memiliki perasaan apapun pada Delia bagaimana dia bisa hamil anakmu?"
"Ibuuuu itu kan hanya untuk bersenang-senang saja, Dimas melakukan itu karena hanya ingin menikmati tubuh Delia, itu saja."
__ADS_1
"Dasar kau anak bodoh!! Bisa-bisanya aku melahirkan anak seperti dirimu yang bisanya hanya bersenang-senang saja!!!"
Di saat itulah seorang pembantu mendekat ke arah mereka.
"Ada apa bi?"
"Itu Nyonya, ada Nona Delia di luar."
Dimas dan Ibunya pun saling berpandangan.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba." kata ibu Dimas sambil tersenyum.
💞💞💞💘💘💐💐💐
"SAAAAHHHHH!!!" teriak semua orang yang ada di ruangan itu saat Roy selesai mengucapkan ijab qabul dalam satu tarikan nafas.
Roy kemudian memalingkan wajahnya pada Aini sambil tersenyum.
"Akhirnya kini kau sudah sah menjadi istriku." bisik Roy di telinga Aini sambil menggenggam tangannya.
"Iya mas."
Beberapa orang pun menghambur ke arah mereka.
"Selamat ya Aini, semoga kamu bahagia." kata ibu Aini sambil memeluk putrinya.
"Iya Bu."
"Selamat ya Nak." kata bapak Aini sambil mengusap rambut Aini.
"Iya Pak terimaksih, terimakasih banyak bapak dan ibu sudah datang jauh-jauh dari Jogja."
"Iya Aini." jawab ibu Aini sambil mencium pipi Aini.
"Bapak sama Ibu titip Aini ya, Nak."
"Iya Pak, Bu." jawab Roy dengan sedikit malu-malu.
Heni kemudian memeluk Aini.
"Selamat sayang, setelah melalui berbagai perjalanan yang sedikit berliku akhirnya kalian menikah juga."
"Iya ma." jawab Aini sambil tersenyum.
Laras pun mendekat kepada Aini kemudian memeluknya.
"Selamat adikku, semoga pernikahan ini benar-benar membawa kebahagiaan untukmu."
"Iya mba."
Olivia dan Calista pun ikut memeluk Aini sambil memberikan ucapan selamat untuknya.
"Calista, sebaiknya kita tidak usah terlalu lama disini." celetuk Leo.
"Memangnya kenapa Leo? Kami masih ingin bersama Aini." gerutu Calista.
"Calista sebaiknya kau turuti kata-kata suamimu, sebentar lagi Olivia juga akan kuajak pulang."
"Memangnya kenapa? Kenapa tiba-tiba kalian jadi seperti itu?" tanya Olivia.
Leo pun tersenyum kemudian melirik pada Roy. "Karena kami yakin, Roy pasti sebenarnya sudah tidak sabar ingin kita pulang agar bisa berduaan dengan Aini. Hahahahahha."
__ADS_1
"Benar kan Roy?" tanya Kenan.
"Kalian bisa saja." gerutu Roy sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.
"Ya sudah kita pulang dulu ya Roy, selamat menikmati malam pertamamu dengan Aini." kata Leo kemudian menarik tangan Calista.
"Kami juga." kata Kenan kemudian menarik tangan Olivia.
"Bilang saja kalian juga ingin bermesraan dengan istri kalian." gerutu Roy.
💞💓💞💓🌸
Roy tersenyum di atas ranjangnya sambil mengamati Aini yang sedang menghapus make up di wajahnya di depan meja rias.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Mas?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak menyangka kita akan menikah secepat ini. Beberapa bulan yang lalu bahkan kita hanyalah orang asing yang tidak saling mengenal. Bahkan pertemuan pertama kita di depan ruang jenazah." kata Roy sambil tersenyum.
Aini pun mendekat pada Roy kemudian menempelkan kepalanya di atas dada Roy.
"Aku sedang tidak ingin mengingat semua itu mas, kecelakaan itu juga salah satu bagian terburuk dalam hidupku yang tidak pernah ingin kuingat kembali."
DEGGGG
Jantung Roy pun seakan berhenti berdetak.
'Bagian terburuk dalam hidupmu Aini? Dan itu semua terjadi karena diriku?' gumam Roy dalam hati.
"Kenapa kau jadi diam mas?"
"Tidak apa-apa Aini?"
"Apa kau tiba-tiba mengingat mantan istrimu?"
Roy pun tersenyum.
"Apa kau cemburu?"
"Tidak." jawab Aini ketus.
"Kau cemburu sayang?" bisik Roy di telinga Aini kemudian menciumi tengkuk dan lehernya yang membuat Aini tersenyum.
"Mas...."
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Tidak lakukan saja." jawab Aini sambil tersipu malu, Roy pun tersenyum. Dia kemudian memandang wajah Aini dan mulai menciumi setiap bagian wajahnya.
"Aini, aku mencintaimu."
"Aku juga mas."
"Berjanjilah apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku, aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu."
"Iya mas, aku juga tidak bisa hidup tanpamu." jawab Aini kemudian mencium bibir Roy dengan begitu bergairah.
"Kau memang nakal, Aini." bisik Roy disela ciuman mereka.
"Kau yang membuatku menjadi seperti ini." jawab Aini sambil memainkan tangannya pada tubuh Roy.
Di saat itulah tiba-tiba ponsel Aini berbunyi, sebuah notifikasi kotak masuk dari salah satu akun sosial medianya pun tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.
__ADS_1
"Biarkan saja." kata Aini saat Roy akan mengambilkan ponsel miliknya.