Salah Kamar

Salah Kamar
Palsu


__ADS_3

"O.. Olivia, kenapa kau melakukan semua ini padaku?" tanya Ilham saat melihat Olivia masuk ke ruang penyidik bersama Kenan.


"Pak polisi, bisakah kami berbicara sebentar dengan Ilham sebelum anda memulai penyidikan?" tanya Leo pada seorang polisi yang duduk di depan Ilham.


"Tentu saja, saya memberi waktu kalian setengah jam."


"Baik Pak. Terimakasih." jawab Leo. Polisi itu pun kemudian meninggalkan mereka di ruang penyidikan.


Olivia pun kemudian mendekat pada Ilham.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Ilham. Kenapa kau melakukan semua itu padaku dan Kenan? Mengapa kau tega meneror kami bahkan kau juga hampir saja membunuh Kenan?"


Ilham pun hanya terdiam, kepalanya tertunduk.


"Apa salah jika aku mencintaimu Olive? Sejak kecil aku sudah sangat mencintaimu."


"Tapi aku sudah menikah, Ilham. Aku sudah memiliki seorang suami dan dua orang anak. Apa kau tega memisahkan kami hanya untuk egomu saja?"


"Ilham, saat di ruangan David kau mengatakan jika akan melupakan wanita yang kau cintai dan akan menerima perjodohanmu dengan Rima, tapi kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini?" kata Leo sambil mendekat pada Ilham yang kini masih duduk dengan wajah tertunduk.


"Memang awalnya aku berniat untuk menikahi Rima dan menjadi suami yang baik untuknya. Namun saat kami pertama bertemu, dia sudah begitu menghinaku dan menjatuhkan harga diriku."


Ilham kemudian menghembuskan nafas panjang. "Aku begitu sakit hati karena perkataannya. Calista, Olivia, bukankah kalian tahu jika sejak kecil aku mengalami sedikit masalah pada kondisi psikologisku karena bullyan dari kedua kakakku dan teman-temanku? Bertahun-tahun aku membangun kepercayaan diriku, tetapi setelah kepercayaan diri itu mulai tertanam di jiwaku, Rima menghancurkannya begitu saja." kata Ilham kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Astaga." kata Calista, dia lalu mendekat ke arah Ilham.


"Ilham, aku dan Olivia sudah mengenalmu sejak kecil. Aku juga minta maaf jika dulu aku pernah berlaku tidak baik padamu, tapi kini kita sudah dewasa Ilham, kau juga harus bisa bersikap lebih bijaksana. Jika kau membalas orang yang sudah menyakitimu, apa bedanya kau dengan dirinya?"


Ilham kemudian terdiam kembali, Olivia lalu memandang Kenan, Kenan pun menganggukkan kepalanya.


"Ilham." panggil Olivia sambil mendekat ke arah Ilham.


"Aku minta maaf jika akhir-akhir ini aku sudah mempermainkanmu. Tapi aku benar-benar minta tolong padamu, lupakanlah aku, aku sudah memiliki keluarga, jangan berharap banyak padaku. Kau juga sudah memiliki seorang istri yang cantik, lupakanlah semua sakit hatimu, tidak ada yang bisa kau dapatkan jika menyimpan dendam di hatimu."


Ilham yang kini terlihat lebih tenang pun menganggukkan kepalanya, Olivia pun tersenyum.

__ADS_1


"Ilham, minta maaflah pada Rima. Perbaiki hubunganmu dengannya." kata Olivia lagi sambil menepuk bahu Ilham.


"Ya." jawab Ilham lirih.


Dia kemudian mulai mengangkat wajahnya dan memandang orang-orang yang ada di ruangan itu satu per satu.


"Maafkan aku, aku sudah berbuat jahat pada kalian semua. Terutama kau Kenan, maaf aku sudah melukaimu. Aku memang pantas menanggung hukuman atas semua kejahatan yang telah kuperbuat pada kalian semua."


Mendengar perkataan Ilham, mereka semua pun saling berpandangan. Kenan lalu mendekat pada Ilham. "Aku memaafkanmu, Ilham. Tapi lain kali tolong kau berfikir secara jernih. Aku tahu kau sedikit mengalami tekanan mental, tapi kau juga harus berusaha keluar dari tekanan itu dan jangan terlalu menuruti ego dan ambisimu. Itu hanya akan berakibat buruk pada dirimu sendiri."


"Iya Kenan, aku mengerti. Sekarang aku sudah menyadari semua kesalahanku. Tolong maafkan aku." kata Ilham lagi dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Ya, kami semua sudah memaafkanmu, asal kau berjanji tidak akan mengulangi semua kesalahan yang pernah kau perbuat."


"Iya Leo, aku janji akan memperbaiki semua sikapku. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini."


"Ya kami memberimu kesempatan tapi kau tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu." jawab Leo.


"Iya Leo, kalian tenang saja, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku pada yang berwajib."


"Bagus jika kau mau mengakui kesalahmu."


"Apa Calista?"


"Tolong kau minta maaf pada Rima dengan bersungguh-sungguh, selama ini kau sudah begitu menyakiti hati dan jiwanya. Dia pasti sangat tertekan hidup bersamamu."


"Iya Calista, aku akan meminta maaf pada Rima dengan bersungguh-sungguh, tapi aku bahkan tidak tahu dimana Rima saat ini. Karena saat aku pulang dia tidak ada di rumah."


Calista kemudian mengernyitkan keningnya. "Tolong kau jujur padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi sampai Rima tiba-tiba meninggalkanmu begitu saja? Karena setahuku, saat aku dan Leo masih berada di rumahmu, dia masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian."


Ilham pun kembali menghembuskan nafas panjang. "Ini semua memang salahku." kata Ilham dengan lirih.


"Saat kalian pergi, aku mencoba untuk menemui Olivia, aku takut kau dan Leo menceritakan hal buruk tentangku pada Olivia jadi aku mengajak Olivia untuk bertemu. Tapi saat Rima melihat aku akan pergi, dia mencegahku, lalu dia terjatuh dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi padanya."


"Kau benar-benar breng*ek Ilham." kata Leo sambil menatap tajam pada Ilham dan bersiap untuk menamparnya.

__ADS_1


"Tenang Leo." kata Calista sambil mencegah tangan Leo agar tidak menampar Ilham.


"Permisi, apa kalian sudah selesai? Saya harus meminta keterangan pada saudara Ilham."


"Ya kami sudah selesai." jawab Leo. Mereka lalu keluar dari ruang penyidik dengan raut wajah begitu cemas.


'Kalian memang benar-benar BREN*SEK! Lihat saja, secepatnya aku akan membalas perbuatan kalian!' kata Ilham dalam hati sambil menatap Leo dan Kenan.


🍀🍀🍀


"Maaf jika pertanyaanku membuatmu sedih."


"Tidak apa-apa memang kenyataannya seperti itu, kami menikah karena dijodohkan. Sebenarnya suamiku orang yang baik, awalnya dia mau melupakan wanita yang dia cintai dan tulus menikah denganku, namun saat itu sikapku begitu kasar padanya hingga begitu melukai hatinya, setelah itu sikapnya pun berubah padaku." kata Rima dengan raut wajah sedih.


"Jangan bersedih, kau sedang hamil, untuk sementara lupakan semua kesedihan di dalam hatimu demi perkembangan janin dalam kandunganmu."


"Iya Drey."


"Rima, apa tidak sebaiknya kita memberitahu orang tua atau saudaramu?" tanya Drey pada Rima.


"Tidak usah Drey, aku bisa sendiri. Lagipula ayahku juga tinggal di Jogja dia sudah tua dan sakit-sakitan, aku tidak mungkin menyuruhnya ke Jakarta untuk merawatku."


"Tapi kau butuh seseorang untuk mendampingimu, kau tidak boleh terlalu banyak bergerak. Bagaimana jika aku menghubungi pasangan suami istri yang kutemui di rumahmu, siapa namanya? Leo dan Calista?"


"Tidak Drey, aku sudah terlalu sering merepotkan mereka. Mereka sudah begitu baik padaku, aku tidak mau terus-menerus merepotkan mereka berdua."


Di saat itu juga tiba-tiba suara ponsel Rima pun berdering, dia kemudian mengambil ponsel itu dan melihat nama seseorang yang menelponnya.


"Calista."


Namun Rima mematikan panggilan tersebut.


"Kenapa kau tidak menjawabnya?"


Rima pun kemudian menangis. "Drey, bawa aku pergi. Bawa aku pergi dari kehidupan mereka."

__ADS_1


Note:


Cukup sekian hari ini ya dear, see you tomorrow 🤭✌️


__ADS_2