
Saat tengah asyik mengamati sosial media milik Firman tiba-tiba saja sebuah pemberitahuan masuk ke ponsel Aini yang memperlihatkan jika Firman sedang melakukan postingan siaran langsung tentang buah hatinya yang baru saja lahir, di video siaran langsung tersebut Firman juga terlihat begitu bahagia dengan kelahiran anaknya lalu dia mencium kening istrinya, Delia. Meskipun hati Aini terasa begitu sakit, Aini mencoba untuk tersenyum melihat video tersebut.
"Tampaknya kau sangat bahagia dengan keluarga kecilmu, Firman." kata Aini sambil meneteskan air mata.
"Tidak boleh, aku tidak boleh bersedih lagi. Aku pun bisa hidup bahagia karena itulah tujuanku pergi ke Jakarta untuk melupakan semua masa laluku dan membuka lembaran baru, meskipun lembaran baru yang kujalani tanpa kehadiran putraku disisiku, aku akan menjalaninya sendiri. Bukankah aku juga sudah memiliki Darren?" kata Aini sambil menghapus air matanya.
"Darren? Kenapa tiba-tiba aku sangat merindukannya lagi. Apa sebaiknya aku bertemu dengannya untuk mengobati rasa sedihku?" kata Aini kemudian duduk di atas tempat tidurnya, namun saat melihat ke arah sofa tampak Calista dan Olivia yang tertidur di atas sofa setelah mereka makan siang. Aini pun tersenyum melihat mereka.
"Mungkin Mba Calista dan Mba Olivia kelelahan, sudah beberapa hari ini sejak aku di rumah sakit mereka selalu menjagaku. Belum lagi di rumah mereka juga merawat anak-anak dan suami mereka. Lebih baik aku ke kamar Darren sendirian saja." kata Aini lalu bergegas turun dari tempat tidur meskipun dengan sedikit bersusah payah.
Dia lalu menaiki kursi roda otomatisnya lalu keluar dari kamar tersebut menuju ke ruangan bayi tempat Darren dirawat saat ini. Tepat di saat Aini sampai di depan ruang perawatan bayi, di saat itu juga Roy juga sampai di ruang perawatan tersebut.
"Aini." kata Roy.
"Roy, kau kembali lagi kesini? Bukankah tadi kau dan tante Heni sudah pulang?"
"Ya, kami sudah pulang. Tapi aku ingin kembali lagi kesini, aku ingin bertemu dengan putraku. Lalu kenapa kau juga kesini? Bukankah tadi kau dan Olivia juga sudah kembali ke kamarmu?"
Aini pun kemudian tersenyum. "Aku merindukannya." jawab Aini.
Roy pun melirik Aini yang kini tampak masih tersenyum yang membuatnya terlihat begitu cantik. 'Kenapa aku baru menyadari jika sebenarnya Aini sangat cantik, meskipun wajahnya begitu polos tanpa sapuan make up dia terlihat sangat cantik dan mempesona.' gumam Roy dalam hati sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Roy, ayo kita ke dalam." kata Aini saat melihat Roy termenung.
"Oh.. O.. Iya, ayo Aini." jawab Roy dengan sedikit gugup. Dia lalu mendorong kursi roda Aini ke dalam ruangan Darren. Aini lalu tersenyum begitu bahagia saat melihat Darren yang kini terlihat sedang mengedipkan matanya.
"Lihat itu Roy, dia sangat lucu dan menggemaskan." kata Aini dengan begitu girang. Roy pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah Aini.
"Apa kau menyayangi putraku?"
"Ya, aku sangat sangat menyayanginya." jawab Aini sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hei lihat itu Roy, dia mengeliat mukanya sampai terlihat sangat merah." kata Aini kembali sambil terkekeh.
"Aku sudah tidak sabar menunggu Darren keluar dari inkubator, aku sangat ingin menimangnya." kata Aini lagi yang membuat Roy kembali tersenyum.
"Tampaknya kau lebih menyayangi putraku dibandingkan diriku." ledek Roy pada Aini yang membuat Aini terlihat salah tingkah.
"Tidak Roy, bagaimanapun juga kau adalah ayah kandungnya, kau pasti sangat menyayanginya."
"Tapi sepertinya dia sudah memiliki ikatan batin denganmu, lihat dia sedang tersenyum padamu."
Aini pun kemudian tersenyum "Apa kau lupa, aku telah memberikan ASI ku untuk nya, meskipun dia bukan darah dagingku, aku bisa memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengannya."
"Iya Aini, aku tahu itu. Kau adalah sumber kehidupan bagi putraku, terimakasih banyak."
"Karena bagiku dia juga sumber kehidupanku, kebahagiaanku, belahan jiwaku, dan semangat hidupku." jawab Aini sambil menatap Darren dengan tatapan begitu tulus. Mendengar perkataan Aini, sebuah getaran pun merasuki perasaan Roy, dia lalu melirik pada Aini yang masih menatap Darren.
'Aini.' gumam Roy dalam hati
Dimas tampak mondar-mandir di salah satu lorong rumah sakit, sesekali dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Aini tidak bisa hamil lagi? Ini rasanya seperti bencana, orang tuaku pasti akan semakin membenci Aini jika mereka tahu Aini tidak bisa hamil lagi." gerutu Dimas.
"Apakah sebaiknya aku meninggalkan Aini saja?" kata Dimas sambil menutup wajahnya.
"Ah tidak, aku tidak mau meninggalkan gadis secantik Aini, aku tidak kau melepaskan Aini begitu saja. Mendapatkan Aini merupakan hal tersulit yang pernah kulakukan sepanjang hidupku, lalu aku akan melepaskan dia begitu saja? Oh tidak, itu tidak akan kulakukan."
Dia kemudian memejamkan mata. "Lebih baik aku menghubungi salah seorang temanku yang memiliki kerabat dokter untuk memberi solusi padaku." kata Dimas kemudian memainkan ponselnya. Namun baru saja dia membuka aplikasi pesan, sebuah postingan di story milik Delia begitu mengagetkan dirinya.
"Delia sudah melahirkan?" kata Dimas sambil melihat foto bayi yang sedang digendong Delia lalu Firman tampak duduk di sampingnya sambil tersenyum melihat bayi itu. Dimas pun tersenyum menyeringai melihat foto di salah satu story milik Delia tersebut.
"Bayi ini, bukankah anak Delia sebenarnya adalah anakku? Aku yang menjebak mereka agar tidur bersama agar Delia tidak terus-menerus meminta pertanggungjawaban dariku sekaligus untuk menyingkirkan Firman dalam kehidupan Aini." kata Dimas sambil tersenyum kecut. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Anak ini adalah amakku, jika aku mengambil anak ini bukankah itu bukan sebuah kesalahan karena bagaimanapun aku adalah ayah kandungnya? Hahahaha." kata Dimas sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ini bagus sekali, aku akan mengambil anak itu lalu mengasuh anak itu bersama Aini. Akhirnya aku menemukan jalan keluar dari masalahku. Ternyata jalan keluarnya begitu mudah, aku bisa mendapatkan keturunan sekaligus tidak kehilangan Aini dalam hidupku. Hahahaha." kata Dimas sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dengan kehadiran anak ini, aku yakin Aini pasti bisa melupakan Darren si bayi sialan itu."
"Aku harus bertindak cepat, lebih baik sekarang aku pulang ke Jogja saja untuk menyelesaikan semua masalah ini. Tapi sebelumnya aku harus berpamitan dengan Aini dan meyakinkan dirinya jika aku akan menerima kekurangannya." kata Dimas kemudian bergegas kembali ke kamar Aini.
πΏπ₯πΏπ₯πΏπ₯πΏ
"Kakak bangun." kata Olivia sambil mengguncang tubuh Calista.
"Emh, kenapa aku jadi tertidur disini."
"Entahlah, aku juga tertidur Kak."
"Mungkin kita kelelahan setelah beberapa hari menjaga Aini hingga tanpa sadar kita tertidur."
"Iya Kak."
"Hei lalu dimana Aini?" tanya Calista saat melihat Aini tidak ada di tempat tidurnya.
"Jangan-jangan dia pergi ke ruang Darren sendiri." kata Olivia.
"Oh tidak, ayo kita susul dia kesana."
"Ayo kak."
Mereka lalu bergegas keluar dari kamar perawatan tersebut, namun baru saja mereka berjalan beberapa langkah di lorong rumah sakit tiba-tiba langkah mereka tertahan saat melihat Roy yang tengah mendorong kursi roda Aini ke arah kamar tersebut.
"Lihat itu Kak." kata Olivia sambil menutup mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa mereka tampak akrab sekali? Bukankah biasanya Roy bersikap sangat dingin pada Aini?" kata Calista saat melihat Aini dan Roy yang kini terlihat tersenyum sambil sesekali bercanda.