Salah Kamar

Salah Kamar
Hasil Penyelidikan


__ADS_3

"Kenapa kalian berteriak seperti itu? Apa kalian tidak memperbolehkan mama pergi? Mama hanya ingin bertemu dengan Vallen!"


"Bukan seperti ma, David tidak memperbolehkan mama pergi karena malam ini Vallen tidak ada di apartemen."


"Tidak ada di apartemen? Memangnya dia kemana?" tanya Nurma sambil mengerutkan keningnya.


"Mama, malam ini Vallen akan mengoperasi dua orang pasien, jadi aku menyuruh Vallen untuk tidur di rumah sakit, di kamar pribadi yang ada di ruanganku."


"Mama, apa mama mau tidur di apartemen sendirian? Apartemen itu sedikit menyeramkan ma." tambah Stella.


"Tidak, mama tidak mau tidur di apartemen itu sendirian. Mama takut."


"Iya ma, sebaiknya mama tidak usah ke sana. Apartemen itu memang sedikit menyeramkan, bukankah mama penakut? Sedangkan Vallen sudah terbiasa hidup sendiri saat berada di London, dia tidak akan pernah ketakutan hidup di apartemen itu sendiri, jika mama merindukannya, lebih baik mama menghubunginya agar tidur di rumah. Tapi kami sarankan agar mama jangan pernah sekali-kali pergi ke apartemen itu, jika tidak ingin diganggu oleh makhluk halus."


Mendengar perkataan David, Nurma pun semakin bergidik ngeri.


"Iya David, mama tidak akan pernah pergi ke apartemen itu." kata Nurma lalu kembali ke kamarnya. David dan Stella lalu berpandangan sambil tersenyum.


" Hampir saja."


"David, lebih baik kau hubungi mereka agar lebih berhati-hati."


"Iya Stella." jawab David kemudian mengambil ponselnya. Namun beberapa kali dia melakukan panggilan, baik Vallen ataupun Firman tidak ada yang menjawab panggilan tersebut.


"Kenapa?"


"Mereka tidak menjawab panggilan dariku." gerutu David. Stella pun tersenyum.


"Mereka pasti sedang melakukan yang kau perintahkan." kata Stella sambil terkekeh.


"Apakah cuma itu yang bisa mereka lakukan? Cuma bisa bermesraan sepanjang waktu."


"David mereka pengantin baru, wajar jika mereka selalu bermesraan setiap waktu."

__ADS_1


"Ya, bahkan di tempat umum pun mereka selalu bermesraan." gerutu David yang membuat Stella terkekeh.


🥀🥀🥀🥀🥀


Aini tersenyum saat melangkahkan kakinya keluar dari bandara.


"Akhirnya sampai juga, sudah lama aku tidak pulang ke kota ini."


Dia kemudian melihat Darren yang tertidur lelap dalam gendongannya. "Maafkan mama ya Darren sayang, untuk beberapa hari kita akan berpisah dengan papa. Mama hanya ingin memberi pelajaran pada papa yang tidak pernah jujur pada mama." kata Aini sambil membelai rambut Darren. Dia kemudian mengambil ponsel yang ada di tasnya lalu menyalakan ponsel tersebut yang tidak dia aktifkan sejak tadi siang.


"Oh, ada banyak sekali pesan masuk, dari Mas Roy, Mba Laras, Mba Olive, Mba Calista, bahkan Mama Heni juga menghubungiku berulang kali." kata Aini sambil mengamati isi ponselnya.


"Ah biarkan saja, akan kubalas nanti saja saat aku sudah ada di rumah bapak dan ibu. Ini sudah malam, kita langsung pulang ke rumah mama ya sayang, mama tidak ingin kau terkena angin malam." kata Aini sambil membelai wajah Darren. Dia kemudian melangkahkan kakinya lalu berjalan ke arah deretan taksi yang ada di komplek bandara tersebut.


Sementara Roy kini tampak mengendarai mobilnya menyusuri jalanan ibu kota, matanya tampak mengamati beberapa sudut jalanan dengan seksama.


"Aini, kau ada dimana, Aini?" kata Roy sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kemudian melihat arlojinya.


"Ini sudah pukul sembilan malam, jika Aini membawa pergi Darren, dia pasti sudah pulang ke rumah karena dia sangat cemas jika Darren keluar di malam hari. Ya, sebaiknya aku pulang saja ke rumah. Mungkin Aini sudah pulang ke rumah."


"Masih sama seperti tadi, kosong." kata Roy sambil berjalan ke arah ranjangnya. Dia kemudian merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tersebut sambil meraba bagian ranjang yang ditiduri oleh Aini.


"Aini, aku begitu merindukanmu."


Namun saat meraba tempat tidur tersebut tiba-tiba tangannya memegang sesuatu. "Apa ini?" kata Roy kemudian mengambil sebuah map berwarna merah. Dia kemudian membuka map tersebut dan melihat isi dari map itu.


"Astaga, ini hasil penyelidikan tentang kecelakaan beruntun yang kualami beberapa bulan yang lalu."


Perasaan Roy pun kini begitu berkecamuk. "Astaga, jadi Aini yang menerima hasil penyelidikan ini? Ja.. Jadi dia sudah tahu semuanya? Astaga Aini, maafkan aku, maaf selama ini aku tidak pernah jujur padamu."


"Apa yang harus kulakukan? Oh Tuhan, bagaimana ini? Ya, Aini mungkin pergi ke rumah orang tuanya, di sini dia tidak mengenal siapapun kecuali keluarga kami dan Dokter Vallen sebagai teman baiknya. Apa coba kuhubungi Dokter Vallen terlebih dulu? Jika dia tidak bersama Dokter Vallen berarti Aini pulang ke Jogja." kata Roy kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Vallen.


🥀🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


"Bukankah setelah makan malam kau sudah menyikat gigimu? Kenapa kau sekarang makan es krim?" tanya Firman saat Vallen mulai duduk di sampingnya saat sedang menonton televisi.


"Kau tahu jawabannya, sayang."


"Hahahaha, apakah kau yakin malam ini aku akan melakukannya denganmu? Bagaimana jika aku merasa sangat lelah dan ingin tidur?"


"Jadi maksudmu kau mau meninggalkanku tidur begitu saja?"


"Mungkin seperti itu karena hari ini aku sangat lelah." kata Firman sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa bed di depan televisi kemudian memejamkan matanya.


"FIRMANNNN!! Jadi malam ini kau tidak tertarik padaku dan lebih tertarik untuk tidur? Apa kau tidak sadar jika istrimu sangat cantik dan menarik?"


"Hahahaha... Hahahaha."


"Kenapa kau malah tertawa?"


"Siapa yang bilang kau tidak cantik dan menarik?"


"Buktinya kau lebih memilih untuk tidur daripada menghabiskan waktumu denganku."


"Tapi aku lelah Vallen, aku ingin tidur sekarang juga." jawab Firman sambil memejamkan matanya.


"Baiklah, kalau begitu malam ini kau tidur di sini saja, tidak usah masuk kamar karena aku pun ingin tidur sendirian." gerutu Vallen kemudian mulai beranjak dari atas sofa bed tersebut. Namun saat akan melangkahkan kakinya tiba-tiba Firman menarik tangan Vallen, tubuhnya pun seketika jatuh di sofa bed tersebut. Melihat tubuh Vallen yang terjatuh di atas sofa, Firman pun bergegas menindih tubuh Vallen. Vallen pun hanya bisa tersenyum sambil mengalungkan tangannya di leher Firman yang kini ada di atas tubuhnya.


"Bukankah kau bilang sudah lelah dan ingin tidur?"


"Aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk bermesraan denganmu, istriku yang cantik dan menarik." kata Firman sambil terkekeh. Dia pun perlahan mulai menciumi wajah lalu turun ke leher dan tubuh Vallen.


"FIRMAN.. FIRMAN PELAN-PELAN FIRMAN, JANGAN MEMPERKOSAKU FIRMAN PELAN-PELAN!!"


"Aku tidak memperkosmu Vallen, kau istriku."


Tanpa mereka sadari tangan mereka menyentuh layar ponsel milik Vallen yang terletak di samping mereka saat ada panggilan di ponsel tersebut.

__ADS_1


[Halo Dokter Vallen.] kata sebuah suara di ujung sambungan telepon. Namun tak ada jawaban yang terdengar hanya sebuah teriakkan dan de*ahan.


"Memerkosa? Istri? Lalu ada suara de*ahan? Apakah Dokter Vallen sudah menikah dan dia tidak sengaja menjawab panggilan ini? Ah sudahlah, berarti Aini tidak sedang bersama Dokter Vallen." kata Roy sambil menutup teleponnya.


__ADS_2