
"Aini." panggil Roy saat masuk ke dalam rumahnya yang kini tampak begitu sepi.
"Aini." panggil Roy lagi. Dia pun kemudian berjalan ke kamar Darren, tapi kamar tersebut tampak kosong. Dia kemudian berjalan ke kamarnya, dan saat Roy membuka pintu kamar tersebut, kamar itu juga kosong. Roy pun kini mulai dilanda kepanikan.
"Dimana Aini dan Darren?" kata Roy sambil berkeliling seisi kamar. Dia pun kemudian turun ke lantai bawah. "Bi.. Bibi..."
"Iya Tuan."
"Apa kau tahu dimana Aini dan Darren?"
"Tidak Tuan, tadi siang memang saya pergi berbelanja ke warung karena Nyonya Aini meminta saya membelikan bahan-bahan untuk memasak makanan kesukaan anda Tuan, tapi saat saya pulang kembali ke rumah, Nyonya Aini dan Darren sudah tidak ada di rumah."
"Astaga, kau dimana Aini?"
Roy kemudian mengambil ponsel di sakunya, beberapa kali dia menghubungi Aini, namun ponsel Aini pun tidak aktif.
"Aini, dimana kau Aini?" gerutu Roy sambil menahan perasaannya yang begitu tak menentu, dia kemudian mengutak-atik ponselnya kembali.
[Halo Mba Laras.]
[Iya Roy, ada apa?]
[Mba, apa Aini ada di rumah Mba Laras?]
[Aini?] tanya Laras sambil mengerutkan keningnya.
[Iya Aini Mba, saat aku pulang Aini dan Darren tidak ada di rumah, kupikir dia pergi ke rumah Mba Laras.]
[Tidak, dia tidak ada di sini Roy. Apa kau sudah menghubungi ponselnya?]
[Sudah tapi ponselnya pun tidak aktif, pembantu di rumahku mengatakan jika Aini sudah tidak ada di rumah saat dia pulang berbelanja. Astaga, aku sangat takut sesuatu terjadi pada Aini.]
[Roy, aku akan mencoba menanyakan pada Mba Olive dan Mba Calista, mungkin dia ada di sana.]
[Iya Mba.]
[Nanti kuhubungi lagi Roy.] jawab Laras kemudian menutup panggilan dari Roy. Bergegas Laras pun pergi ke rumah Olivia.
"Mba Olive." teriak Laras saat masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat Olivia yang sedang bermain bersama Laurie dan Vansh.
__ADS_1
"Ada apa Laras?"
"Mba Olive, Roy baru saja menghubungiku."
"Ya, ada apa Laras? Kenapa dengan Roy?"
"Aini mba, Aini. Saat Roy pulang dari kantornya dia tidak menemukan Aini dan Darren di rumah."
"Astaga, apa dia sudah menghubungi ponsel Aini? Mungkin dia sedang pergi berjalan-jalan dengan Darren?"
"Ponselnya tidak aktif Mba Olive, dan pembantunya mengatakan jika saat dia pulang dari warung Aini dan Darren sudah tidak ada di rumah."
"Astaga Laras, kenapa aku tiba-tiba memiliki firasat buruk."
"Firasat buruk Mba Olive? Firasat apa?" tanya Laras dengan kening yang berkerut.
"Laras, bagaimana jika ini ada hubungannya dengan kecelakaan itu."
"Maksud Mba Olive, kecelakaan beruntun itu? Kecelakaan yang disebabkan oleh Roy?" tanya Laras dengan suara yang sedikit bergetar.
"Ya." jawab Olivia sambil perlahan menganggukan kepalanya.
"Kita harus mencari Aini, Laras. Coba kau telepon orang tuamu, aku akan menghubungi Kak Calista agar menyuruh para preman anak buah Leo agar ikut mencari Aini."
"Iya Mba." jawab Laras kemudian menelepon orang tuanya. Sedangkan Olivia pun kini sibuk menelepon Calista.
💜💜💜💜💜
"David, apa kau yakin jika keputusan yang kau ambil untuk menikahkan Firman dan Vallen itu keputusan yang tepat? Bagaimana jika mama marah dan tersinggung hingga akhirnya tidak merestui hubungan mereka."
"Pasti mama akan marah karena dia merasa dipermainkan oleh kita."
"Astaga David, kau benar-benar sudah melakukan kesalahan."
"Aku tahu itu tapi hanya ini cara satu-satunya agar mereka mendapatkan restu dari mama, meskipun entah kapan dia merestui hubungan mereka. Kau tenang saja Stella ini akan menjadi tanggung jawabku karena aku sudah mengambil keputusan ini."
"Jadi setelah mama tahu jika Firman dan Vallen sudah menikah, mama pun tidak akan semudah itu merestui hubungan mereka?"
"Ya, tentu saja." jawab David sambil mengangguk.
__ADS_1
"David, lalu kita harus bagaimana?"
"Stella, dengarkan aku. Aku sangat mengenal bagaimana sifat mama, dan aku tidak akan pernah yakin jika mama akan merestui hubungan mereka meskipun mereka sudah lama berpacaran. Apa kau sudah lupa bagaimana hubungan kita dulu?"
"Apa maksudmu, David? Kau juga tidak yakin mama akan merestui hubungan mereka?"
"Iya Stella, Vallen adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga ini dan mama memiliki ekspektasi kriteria yang begitu tinggi akan pendamping hidup Vallen, dan Firman tidak memiliki semua kriteria itu, kecuali wajah tampannya. Apalagi kau tahu sendiri jika Vallen memiliki wajah yang sangat cantik dan pekerjaan yang baik, sejak dulu mama sudah mematok standar yang tinggi untuk pendamping hidup Vallen."
"Astaga, aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berfikir mama."
"Karena itulah Stella, aku melakukan ini untuk kebaikan Vallen, aku tidak ingin melihat dia kembali patah hati untuk yang kedua kalinya, apalagi saat melihat Vallen sangat menyukai Firman, jika mereka dipisahkan aku yakin Vallen bisa-bisa bunuh diri. Hahahaha."
"Kau bisa-bisanya bercanda di saat seperti ini."
"Memang itulah yang mungkin akan terjadi, adikku sangat tergila-gila pada laki-laki itu. Aku pernah melihat dia berpacaran dengan Rayhan tapi dia tidak pernah bersikap seperti ini, saat dia berpacaran dengan Firman, bahkan saat itu terkesan Rayhan yang selalu mengejar-ngejar Vallen."
"Tapi mereka berpacaran selama tujuh tahun, itu artinya saat itu adikmu juga sangat mencintai Rayhan kan?"
"Bukankah sudah kukatakan jika Rayhan sudah mengejar-ngejar Vallen saat mereka duduk di bangku SMA, dan beberapa kali Vallen pernah memutuskan hubungan mereka tapi dia selalu berusaha mempertahankan hubungan itu."
"Sampai Rayhan sendiri yang memutuskan hubungan itu karena dia dijodohkan dengan Inara?"
"Ya, menurutku dia laki-laki pecundang yang tidak bisa mempertahankan apa yang diperjuangkannya selama bertahun-tahun, aku yakin saat itu Vallen pasti sangat sakit, dia bahkan tidak tidur selama berhari-hari."
"Sampai dia bertemu dengan Firman. Hahahaha."
"Ya, karena itulah aku tidak mau Vallen kembali tersakiti untuk yang kedua kalinya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Tunggu rencana selanjutnya saat Vallen sudah hamil, yang terpenting sekarang kita harus menjaga rahasia ini."
"Iya David."
"David lihat itu, kenapa mama berdandan sangat rapi?" tanya Stella saat melihat Nurma yang sedang menuruni tangga.
"Mama mau kemana?"
"Mama rindu dengan Vallen, jadi malam ini mama memutuskan untuk menginap di apartemenmu dengan Vallen."
__ADS_1
"TIDAK! JANGAN MAAAA!!"