Salah Kamar

Salah Kamar
Sudah Terlambat


__ADS_3

"Kenapa kau diam Firman?"


"Tidak apa-apa."


"Maaf jika aku sedikit menyinggungmu mengenai sepeda motor itu. Aku hanya tidak menyangka akan semua yang terjadi pada Vallen, karena cara dia mencintaiku dan dirimu sangatlah berbeda. Kami sudah menjalani hubungan ini selama tujuh tahun, dan aku benar-benar mengenal bagaimana Vallen."


"Oh tidak apa-apa, aku justru berterima kasih padamu karena telah mengatakan sesuatu yang telah Vallen sembunyikan dariku. Terimakasih banyak Rayhan."


"Ya, aku hanya ingin melihat dia hidup bahagia bersamamu. Tolong jangan kecewakan dan sakiti dia, Firman."


"Ya, tentu saja." jawab Firman sambil tersenyum dengan sedikit dipaksakan karena menahan rasa yang begitu sakit di hatinya.


'Vallen, maafkan aku.'


"Firman!"


"Oh ya. Ada apa Rayhan?"


"Aku pergi dulu, aku harus segera masuk ke ruang tunggu."


"Iya Ray, hati-hati."


"Ya, tolong jaga Vallen baik-baik. Kau laki-laki yang sangat beruntung." kata Rayhan sambil menepuk bahu Firman.


Firman pun tersenyum, dia kemudian mendekat pada Agam yang duduk tidak jauh darinya.


"Dia temanmu?"


"Ya."


"Kenapa setelah berbicara dengannya kau tampak lesu sekali? Apakah sesuatu pernah terjadi diantara kalian?"


"Tidak, hubungan kami baik-baik saja. Aku hanya sedang menyesali kebodohanku."


"Kebodohanmu? Memangnya apa yang telah terjadi padamu?"


"Bukan apa-apa Agam, hanya masalah hati."


Agam pun tersenyum.


"Firman, urusan hati tidak boleh disepelekan, hidupmu bisa berantakan jika kau salah melangkah, kau tidak boleh mengingkari kata hatimu. Tanyakan pada lubuk hatimu yang paling dalam saat kau mengambil keputusan."


"Iya Agam, terimakasih banyak atas nasehatmu."


"Ya. Firman, aku pergi dulu. Terimakasih banyak sudah mau mengantarku. Maaf untuk saat ini aku belum bisa membalas semua kebaikanmu."


"Tenang saja, tidak usah dipikirkan. Aku sangat berterima kasih padamu, karena kau mengajakku ke sini, sekarang aku sudah mendapatkan jawaban dari permasalahanku."

__ADS_1


"Masalah hati kan, Firman?" tanya Agam sambil terkekeh.


Firman pun tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.


"Aku pergi dulu." kata Agam kemudian meninggalkan Firman yang masih termenung.


"Masalah hati." kata Firman sambil meneteskan air matanya. Dia kemudian mengambil ponsel di saku jaketnya lalu mencoba menghubungi nomor Vallen. Namun sambungan telepon itu selalu ditolak.


"Ahhhh sial!!" umpat Firman ketika tahu Vallen telah memblokir nomor ponselnya.


💜💜💜💜💜


Vallen tampak sibuk menuliskan laporan catatan pasien yang ada di mejanya. Dia kemudian melihat arloji di tangannya.


"Ternyata sudah sore, aku harus menyelesaikan pekerjaan ini lalu pulang ke rumah, aku sedang ingin beristirahat. Rasanya aku begitu mengantuk setelah semalaman aku tidak tertidur memikirkan laki-laki sombong itu." kata Vallen sambil menyelesaikan pekerjaannya.


Di saat itulah pintu ruangannya terbuka.


"Dokter Vallen, ini ada kiriman bunga untuk anda." kata salah seorang perawat saat memasuki ruangan Vallen.


Vallen yang baru saja memeriksa pasien pun memandang bunga tersebut yang masih ada di tangan perawat itu.


"Bunga? Dari siapa?"


"Mungkin ini dari kekasih anda, seorang laki-laki meminta saya mengantarkan ini untuk anda." kata perawat itu sambil memberikan sebuket bunga, campuran bunga mawar dan baby krisan yang sangat indah pada Vallen.


"Cantik sekali." kata Vallen sambil tersenyum.


Vallen, maafkan aku.


"Ini pasti Firman yang mengirimnya." gerutu Vallen, dia kemudian membuang bunga tersebut ke tempat sampah.


"Dokter Vallen, kenapa anda buang? Bukankah itu sangat cantik."


"Kau menyukainya?"


"Ya."


"Kalau begitu itu untukmu saja."


Wajah perawat tersebut pun berbinar.


"Terimakasih banyak Dokter Vallen."


"Ya sama-sama."


Perawat itu lalu keluar dari ruangan Vallen. Firman yang duduk tidak jauh dari ruangan Vallen menatap dengan sendu ketika seorang perawat keluar dari ruangan tersebut sambil membawa bunga yang dibawakannya untuk Vallen.

__ADS_1


"Jadi kau menolak bunga pemberianku, Vallen." kata Firman sambil berjalan keluar dari rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, Vallen pun bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke arah pintu. Dia membuka pintu itu perlahan, lalu memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri dari balik celah pintu.


"Sepertinya aman."


Namun saat akan membuka pintu tersebut, seseorang sudah berdiri di depannya.


"Vallen, kita perlu bicara."


"Maaf, sepertinya saya tidak memiliki urusan apapun dengan anda."


"Vallen, tolong maafkan aku. Aku benar-benar menyesal akan semua perkataanku kemarin."


"Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, permisi saya sedang banyak urusan."


Namun saat Vallen akan meninggalkan Firman, tiba-tiba Firman sudah mencekal tangannya. Dia lalu mendorong tubuh Vallen kembali untuk masuk ke ruangannya. Perlahan Firman pun berjalan mendekat ke arah Vallen yang memundurkan langkahnya, hingga akhirnya tubuhnya menempel pada dinding. Firman kemudian memegang tangan Vallen sambil berlutut di hadapannya.


"Vallen, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal telah mengatakan semua itu padamu."


"Sudah terlambat, aku sudah mendapatkan semua jawabannya darimu."


"Tidak Vallen, aku menyesal telah mengatakan semua itu. Aku terbawa egoku, aku hanya takut tidak bisa membahagiakanmu, aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhanmu. Aku takut karena kehidupan kita sangatlah berbeda. Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu, Vallen."


"Nyatanya kau memang benar-benar sudah menyakitiku. Tahukah kamu bagaimana sakitnya hatiku? Kau seakan membawa harapan bagiku tapi ternyata kau menyakitiku jauh lebih kejam!"


Firman kemudian bangkit, dia lalu berdiri di depan Vallen lalu memeluk tubuhnya. Vallen pun hanya bisa terdiam, tubuh mungilnya seakan tak berdaya dalam pelukan Firman, apalagi tangan kekar Firman pun juga mencengkeram tubuhnya.


"Vallen, maafkan aku. Sebenarnya aku sangat mencintaimu. Aku sangat sangat mencintaimu Vallen."


"Tidak usah berbohong, aku tidak butuh belas kasihan darimu, dan kini semua rasa cintaku padamu juga sudah hilang, aku benar-benar menyesal telah mencintai laki-laki seperti dirimu, dan kuanggap ini semua sebagai sebuah kesalahan."


"Tidak Vallen, aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Vallen, tolong jangan katakan itu."


"BOHONG!!" teriak Vallen di depan wajah Firman.


Firman kemudian melepaskan pelukannya lalu memegang wajah Vallen, dia kemudian mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibirnya dengan begitu lembut yang membuat Vallen benar-benar terbuai.


'Astaga, apa-apaan ini? Apa yang kau lakukan Firman.' gumam Vallen dalam hati dengan perasaan yang begitu tak menentu.


'Aku harus bagaimana? Aku masih begitu marah tapi aku tidak mau melepaskan ciuman hangat ini.' gumam Vallen dalam hati.


'Tidak, tidak Vallen, tidak semudah itu.'


Vallen kemudian mendorong tubuh Firman.


"Apa yang kau lakukan? Lancang sekali kau menciumku, memangnya siapa kau sudah berani menyentuh diriku."

__ADS_1


"Maafkan aku, aku sudah tidak tahu lagi bagaimana menunjukkan agar kau percaya padaku jika aku sangat mencintaimu. Tolong, terimalah cintaku. Kau mau kan menjadi kekasihku?"


"Maaf sudah terlambat." kata Vallen sambil berjalan meninggalkan Firman di ruangannya. Firman pun hanya bisa termenung melihat kepergian Vallen dengan tatapan yang begitu sendu.


__ADS_2