
Aldo sejak tadi ragu untuk sekedar mengetuk pintu ruangan Kinan. Sejak datang tadi, Kinan hanya duduk di meja kerjanya sembari melamun. Bahkan, tak ada satu pun yang berani menyapa karena Kinan memang sudah memasang wajah lesu saat tiba.
"Gimana?"
Aldo cukup terkejut saat seorang gadis dengan rambut terikat satu serta berkacamata bulat itu menegurnya. "Ish, minimal kasih tau dulu kalo mau muncul."
"Itu gimana? Soal katalog yang kebetulan gak memungkinkan untuk dipilih? Klien barusan pengen katalog itu," ujar Sasya yang sepertinya sejak tadi menunggu Aldo memberikan jawaban.
"Nanti ya, bu Kinan kayaknya lagi banyak pikiran. Gini aja, tawarin paket lain ke kliennya." Aldo memberikan beberapa buku katalog yang ada kemudian melangkah pergi.
Aldo merasa ada yang tak beres dengan Kinan. Biasanya Kinan akan datang dengan riang dan wajah hangat. Namun, kali ini wajahnya benar-benar menunjukan kerumitan kepalanya.
Aldo menghentikan langkah saat Bram berdiri di hadapannya. Dia mengerutkan dahi sembari menatap pria itu beberapa saat. Sayangnya, Bram tak bisa membaca apa yang ditanyakannya lewat tatapan.
"Kinan ... ada?" tanya Bram dengan ragu sembari mencoba melihat ke dalam kantor.
Membaca situasi yang ada, Aldo segera menggeleng alih-alih mengiyakan pertanyaan dari Bram. Dia paham mengapa Kinan ada di sana. Sudah dapat dipastikan permasalahannya ada pada hubungan pernikahannya. Memang seharusnya dia membantu mereka berdamai. Namun, dia merasa akan lebih baik jika membiarkan mereka terpisah lebih dulu. Lagipula, dia bisa yakin Kinan juga sedang tidak ingin menemui Bram.
"Terus dia ke mana?"
"Tadi sih katanya nemuin klien sama vendor. Cuman saya gak terlalu tau soal lokasinya," jawab Aldo dengan nada yang cukup meyakinkan.
"Nomornya sulit dihubungi."
"Mungkin emang lagi sibuk. Saya permisi, masih ada banyak kerjaan." Aldo memilih berjalan menuju meja kerjanya. Dia lantas mengirimkan pesan pada Kinan soal kedatangan Bram agar sahabatnya tahu. Selanjutnya, dia memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya lagi.
Sementara, Bram masih berdiri di dekat pintu. Bayangan mengenai pertengkaran hebat tadi, cukup membuatnya menyesal. Dia sebenarnya tak ingin meninggikan suara. Namun, rasa kesal dan kecewa terhadap dirinya sendiri membuatnya melimpahkan rasa itu pada Kinan. Seharusnya dia bisa lebih mengendalikan diri. Apalagi, di sini yang salah adalah dirinya.
Bram kembali menghubungi nomor Kinan. Jika sebelumnya hanya tidak dijawab, kali ini malah tidak aktif. Namun, saat dia akan kembali mencoba menghubungi Kinan, Raka justru menguhubungi.
"Kenapa, Ka?"
__ADS_1
"Ada masalah. Beberapa karyawan demo dan saham juga mulai turun."
Bram menatap ruangan Kinan. Ada rasa bimbang dalam dirinya untuk menunggu atau kembali ke kantor. Namun, mendengar masalah yang disampaikan Raka, dia memilih untuk kembali ke kantor. Dia akan kembali setelah masalah itu selesai.
...***...
Aldo meletakan sepiring apel kemudian duduk di hadapan Kinan. "Makan dulu. Balas dendam butuh tenaga."
"Gue udah kalah. Kalah telak malahan." Kinan tertawa miris sebelum menyantap apel yang sudah dikupas oleh sahabatnya.
"Lo malah yang menang, Nan. Nih ya, lo udah nikah loh."
"Tetep aja yang menang yang sampe sekarang masih ada di hatinya mas Bram. Dia diem-diem loh kontekan dengan alesan mau nyelesain rasa yang ada. Lucu 'kan?" Kinan menceritakannya seolah tak ada beban apa-apa. Dia sebenarnya sudah telanjur sakit dan merasa bukan saatnya untuk menangis.
"Gue bantuin."
Kinan berdecih. "Yakin? Mau ngapain?"
"Gak perlu. Buang-buang waktu sama tenaga." Kinan kembali meraih potongan apel lain kemudian menyantapnya lagi. Setelah memikirkannya selama hampir setengah hari dia sekarang memilih untuk pura-pura bersikap biasa.
Dengan begitu perlahan mungkin dia akan merasa biasa saja meski Bram bermain api di belakangnya. Lagipula, dia merasa sangat tidak perlu menangis karena Bram memiliki rasa yang lain. Bukankah dengan begitu terlihat jelas kualitas diri Bram yang sebenarnya?
"Gue pulang ke rumah mama dulu. Jangan kasih tau mas Bram," ujar Kinan sembari merapikan mejanya. "Awas aja kalo ngasih tau."
"Nan, lo ...."
"Gue bisa kok bawa mobil sendiri. Jangan lupa kirim paket yang dikirim klien di minggu ini ya. Gue butuh buat hubungin vendor baru juga," ujar Kinan sembari beranjak dan meraih tasnya. Namun, langkahnya terhenti kala mendapati Bram berdiri tepat di hadapannya.
"Kamu mau ke rumah mama?"
"Bentar doang kok, Kinan cuma kangen sama mama," jawab Kinan dengan enteng. Bahkan, Kinan melewati Bram begitu saja hingga membuat sang suami harus menggenggam tangan Kinan. "Kinan gak boleh ketemu mama?"
__ADS_1
"Nan ...."
"Kayaknya bukan waktu yang tepat buat bahas itu." Kinan melepas genggaman tangan Bram kemudian menatap Aldo. "Al, jangan lupa kirim."
"Siap."
"Oke, saya pulang duluan ya." Kinan melangkah pergi. Wajahnya kembali dingin dan memilih mengabaikan panggilan yang dibuat oleh Bram. Sesekali dia mengatur napas agar tak menjatuhkan satu pun air mata bahkan saat Bram lagi-lagi menghentikannya.
"Nan, mas udah minta maaf."
"Apa artinya semua selesai? Kinan mau nenangin diri." Kinan melepas tangan Bram dari pintu mobilnya kemudian memilih masuk. Bahkan, dia langsung menutup jendela mobilnya dan mengabadikan Bram.
"Ternyata gue selama ini cuman jadi pemeran pengganti," gumam Kinan dengan kekehan mirisnya. Dia tak menyangka takdir bisa sangat memelintir keadaan seperti ini. Padahal, dia sudah membayangkan alur yang bahagia karena akan melahirkan seorang bayi. Ternyata tidak semudah itu. Mendadak Rena yang diduga sudah meninggal, muncul di tengah rumah tangganya.
Kinan cukup terkejut saat tiba-tiba mobilnya seperti ditabrak mobil lain dari belakang. Kepalanya terasa begitu pening apalagi setelah dahinya membentur setir. Rasa sakit itu bersamaan dengan sakit yang juga dirasakan perutnya sekarang.
Bram yang kebetulan sedang mengejar mobil Kinan tadi, segera turun dari mobilnya. Matanya membulat dengan rasa panik yang ditunjukan jelas di wajahnya. Buru-buru dia menghubungi rumah sakit dengan harapan Kinan akan baik-baik saja.
...***...
Bram masih duduk di kursi, menunggu kabar baik dari ruangan yang tadi dimasuki Kinan. Dia sudah tak bisa lagi menahan air mata apalagi saat bayangan mengerikan mulai menyergap kepalanya. Dia sungguh menyesal dengan apa yang dia lakukan. Namun, dia juga merasa penyesalan itu takkan bisa mengubah apa yang terjadi sekarang.
"Gimana keadaan Kinan?" tanya mama Kinan yang tentu saja panik setelah mendengar anak kesayangannya mengalami kecelakaan.
"Belum ada kabar."
Mama Kinan mengerutkan dahi saat Bram malah berlutut di hadapannya. "E-eh?"
"Maaf, Bram gak bisa jaga Kinan dengan baik."
"Udah ah, malu tuh diliatin. Ini udah harusnya terjadi. Jadi, jangan nyalahin diri sendiri ya."
__ADS_1