
Revan mulai membuka pintu kamar, namun kamar itu juga kosong. Dia lalu berjalan ke arah kamar mandi, tapi juga tidak ada seorangpun di dalam kamar mandi itu.
'Walk in closet.' gumam Revan kemudian mulai berjalan ke arah walk in closet, namun dia juga tidak menemukan Giselle di sana.
Revan pun kemudian mulai berjalan dengan lemas ke arah tempat tidur dan duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hingga sebuah usapan tangan lembut tiba-tiba membelai pundaknya.
"Giselle!" teriak Revan kemudian berdiri dan memeluk Giselle.
"Giselle, maafkan aku Giselle. Aku minta maaf, aku tidak pernah mengusirmu, aku tidak pernah ingin kau pergi dari hidupku. Saat itu aku hanya sedikit kecewa padamu karena kau telah menyembunyikan hal sebesar itu padaku." kata Revan sambil memeluk erat Giselle.
"Untuk apa kau minta maaf? Aku yang sudah salah karena telah membohongimu. Aku tidak pernah jujur padamu padahal kita pernah membuat komitmen untuk saling terbuka. Aku minta maaf padamu Revan." kata Giselle sambil terisak.
"Sudahlah Giselle, kita mulai hubungan ini dengan lembaran baru. Jangan pernah ada lagi kebohongan diantara kita, jangan pernah lagi ada sesuatu hal yang ditutupi." kata Revan sambil memegang wajah Giselle yang sudah penuh dengan air mata.
Giselle pun kemudian mengangguk. "Tapi bagaimana dengan orang tuamu? Dia membenciku Revan."
"Jangan pernah pedulikan mereka lagi, meskipun mereka orang tuaku tapi mereka tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga kita."
"Kita tinggal di sini saja agar kau tidak lagi tertekan akan sikap mama. Disini aku akan selalu menjagamu. Aku yakin, suatu saat mama akan menyadari kesalahannya."
Giselle pun mengangguk kemudian memeluk Revan kembali.
"Aku sungguh rindu padamu Giselle." kata Revan kemudian melepaskan pelukannya dan mencium bibir Giselle dengan begitu lembut.
***
David pun mendekat ke arah Rima. "Apa yang sebenarnya telah kau perbuat hingga membuat Stella menangis?" tanya David pada Rima yang kini tampak begitu ketakutan.
"Tidak." jawab Rima lirih.
"David, tenangkan dirimu. Dia tidak menyakiti diriku sama sekali, aku hanya sedang mencurahkan perasaanku saja padanya sampai membuatku sedih hingga akhirnya aku menangis."
David kemudian melirik pada Rima. "Maaf, maaf aku sudah salah sangka padamu."
"Tidak apa-apa dok." jawab Rima dengan wajah tertunduk.
"Rima, maafkan David. Tingkahnya memang selalu seperti ini, berlebihan." kata Stella sambil melirik David.
"Tidak apa-apa Nyonya Stella." jawab Rima sambil tersenyum.
"Kenapa kau kembali lagi sayang? Apa kau sudah selesai meeting?"
"Belum, aku ke sini untuk mengambil laptopku yang tertinggal di meja."
"Oh, ya sudah cepat kembali. Aku disini baik-baik saja."
__ADS_1
"Iya, istirahat lah Stella jangan banyak bergerak, kau masih lemas."
"Iya." jawab Stella sambil mengangguk.
"Rima tolong kau jaga Stella dengan baik, aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Jangan buat dia bersedih lagi, kau disini untuk menghiburnya."
"Baik dokter David."
David kemudian mencium kening Stella tepat dihadapan Rima yang membuat perasaan Rima terasa begitu teriris, perlahan air mata pun menetes di wajahnya.
"Rima, kau kenapa?" tanya Stella yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
"Emh tidak." jawab Rima kemudian menghapus air mata yang mulai deras membasahi wajahnya.
"Hei kenapa kau menangis? Apa kata-kata David sudah begitu menyakitimu?"
"Tidak, mataku hanya kelilipan saja. Apa dokter David sudah pergi?" tanya Rima yang sedari sibuk dengan pikirannya hingga baru menyadari jika David sudah tidak ada di ruangan itu.
"Ya dia sudah pergi."
"Oh iya maaf tadi saya sedikit melamun. Nyonya Stella saya ijin ke toilet sebentar."
"Iya Rima."
Rima pun kemudian berjalan ke arah toilet. Di dalam toilet Rima mulai kembali menangis kemudian menyalakan keran air dan berteriak sedikit kencang.
Rima lalu membasuh wajahnya beberapa kali dan melihat pantulan wajahnya di cermin. 'Tidak boleh Rima, kau harus sadar siapa dirimu dan dirinya.' kata Rima dalam hati sambil terus menatap wajahnya di cermin.
'Rima sadarlah, cinta dokter David untuk Stella begitu besar, sia-sia kau mencintainya karena cintamu tidak akan pernah terbalaskan.' gumam Rima kembali.
Beberapa saat kemudian, Rima yang sudah jauh lebih tenang keluar dari toilet dan berjalan mendekati Stella yang kini tampak sedih saat sedang menyisir rambutnya.
"Kau kenapa Nyonya Stella?"
"Lihat ini Rima, rambut indahku yang sangat kusayangi perlahan mulai rontok." kata Stella sambil tersenyum kecut.
"Jangan pernah pikirkan itu Nyonya Stella, saya yakin suatu saat anda pasti bisa sembuh."
"Sembuh itu memiliki dua makna Rima, sembuh dan kemudian bisa melanjutkan hidup atau sembuh untuk selama-lamanya meninggalkan kehidupan ini."
"Nyonya Stella anda harus optimis, coba pikirkan bagaimana nasib dokter David selanjutnya jika anda tidak ada lagi di dunia ini?"
"Kenapa aku harus takut? Bukankah ada kau yang bisa menemani David dan menggantikan posisiku." kata Stella sambil tersenyum yang membuat Rima menelan ludah kasar.
***
__ADS_1
Revan memarkirkan mobilnya di depan rumah kemudian masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa-gesa.
Dia lalu masuk ke dalam kamarnya dan tampak merapikan beberapa barang-barang miliknya dan Giselle kemudian memasukkannya ke dalam koper.
Santi sedikit terheran-heran saat melihat Revan keluar dari dalam kamar dengan membawa dua buah koper.
"Kau mau kemana Revan?"
"Pindah."
"Pindah? Pindah kemana? Apartemenmu lagi?"
"Kemana saja yang penting aku bisa hidup bahagia dengan istriku!"
"Apa maksudmu? Bukankah tadi kau pergi bersama Leo? Mama pikir Leo sudah menyadarkanmu untuk menjauhi wanita itu, tapi ternyata kau malah masih berhubungan dengan wanita sialan itu dan akan kembali hidup bersamanya."
"Jaga kata-kata mama, namanya Giselle ma! Dan hanya manusia yang tidak punya perasaan yang sanggup berkata seperti itu!"
"Jadi maksud kamu mama tidak punya perasaan Revan? Sadarlah mama melakukan semua ini untuk kebaikan dirimu!"
"Ya, jika mama memiliki perasaan, mama tidak mungkin tega memisahkan anak yang dia sayangi dengan istrinya, mama tidak akan tega memisahkan seorang ayah dengan calon buah hatinya! semua yang telah mama lakukan itu untuk kebaikan mama bukan untuk kebaikan Revan!"
"Revan! Lancang sekali kau berkata seperti itu pada Mama!" bentak Santi.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya sebuah suara yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
"Papa sudah pulang?"
"Ya, semua pekerjaan berjalan dengan lancar jadi papa bisa pulang lebih cepat dari rencana semula."
Farhan lalu memandang ke arah Revan.
"Kau mau kemana Revan?"
"Mencari kebahagiaan untuk keluarga kecil Revan karena disini kami hidup bagaikan di neraka." kata Revan sambil berjalan pergi meninggalkan rumah itu.
Farhan lalu mendekat pada Santi. "Apa yang sudah mama perbuat pada mereka?" tanya Farhan dengan tatapan tajam.
"Ti.. Tidak ada pa."
"Jangan bohong! Sekali lagi mama berani menyakiti mereka berdua, maka mama yang harus keluar dari rumah ini!" bentak Farhan pada Santi yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Note:
Jangan lewatkan episode selanjutnya ya.
__ADS_1
kalau kalian suka tolong tinggalkan jejak, kalau ga suka skip aja 🤗✌️
Terimakasih 😘🤗