Salah Kamar

Salah Kamar
Bab Duabelas


__ADS_3

Aku berangkat dulu ya Dek,” katku berpamitan pada Istriku.


“Ya Mas, pulangnya jangan terlalu malam ya.” Kata istriku sambil bergelayut manja.


“Iya sayang, aku Cuma mau nostalgia aja sama Mang Kosim. Mengenang jaman dahulu kala.” Kataku sambil sedikit tertawa.


“Mau kemana Rey?” tanya Aldo saat aku melewati ruang tamu. Dimana ada Aldo, Tiara dan orang tuaku sedang bercengkrama.


“Ini, mau ke sawah sama temanku yang tadi siang. Mau cari jangkrik untuk burung-burungnya. Sejak menikah aku ga pernah lagi berburu jangkrik sama dia, jadi mumpung di sini mau nostalgiaan gitu,”


“Wah, seru kayaknya tuh. Ikutan dong! Boleh ga Dek?” kata Aldo sambil memohon ijin pada Tiara. Tiara pun mengangguk sebagai tanda persetujuan.


“Ya sudah, yok brangkatttttt!” kataku sambil menirukan suara di adegan di film ojek pengkolan. Setelah berpamitan kami pun berangkat ke rumah mang Kosim, jarak yang dekat cukup di tempuh dengan berjalan kaki. Beberapa langkah kami meninggalkan rumah, langkah kami terhenti oleh sebuah panggilan.


“Massss, ikuttttt!” suara Meta terdengar jelas.


Hmmm, aku tau ini hanya modus. Dia hanya ingin jalan bareng Aldo saja. Sebagai kakak, aku dapat menangkap sinyal-sinyal ini. Sungguh ini tak biasa, jangankan keluar mencari jangkrik, di suruh Ibu beli tahu tek-tek ujung gang saja selalu banyak alasan. Takut hantulah, takut di gigit nyamuklah, bahkan pernah bilang takut diculik. Dan sekarang tiba-tiba dia mau ikut blusukan, aneh sekali bukan?


“Jangan! Tar kamu gatal-gatal di gigit nyamuk,” kataku.


“Ah, ga apa-apa Mas, sekali-kali aku ikutan lah. Kayaknya seru Mas,” kan modus kan!


“Jangan, tar bisa bikin panuan,” kataku menakut-nakuti.


“Ya ealah panu doang. Tar aku olesin kalpanax. Kayak Mas Rey dulu,”


“Dih, kapan-kapan aku panuan. Asal aja kamu tuh!”


“Udah Rey, biar aja lah ikut paling lima menit juga kabur pulang dia.” Sahut Aldo.


“Tuh kan, Mas Aldo aja ga repot.”


“Ya iya lah ga repot, kalau kamu kenapa-napa kan yang repot aku bukan dia.”


“Sudah, sudah, sudah! Mau kelai atau mau cari jangkrik nih,” kata Aldo kemudian.


Akhirnya tanpa di komando kami pun berjalan kerumah Mang Kosim. Cepat ku tarik tangan Meta agar berjalan di sisi kanan ku. Jangan sampai terjadi hal yang tidak-tidak. Bukankah setan selalu berada ditengah-tengah orang yang lemah. Whatt? Tengah-tengah, aku dong setannya. Hehe!


“Assalamu’alaikum, Mangggggg...!” panggilku pada Mang Kosim.


“Waalaikumusalam,” jawab Mang Kosim dari dalam.


Mang kosim duda beranak dua, istrinya meninggal saat anak yang kedua berumur sepuluh tahun. Dan sepertinya hingga saat ini mang Kosim masih betah mendua, ekh menduda maksudnya.


“Weee Lha rombongan tho! Ini mau nyari jangkrik atau mau tawuran sama desa sebelah.” Kata Mang Kosim setelah membuka pintu.


“Ga apa-apa Mang, tar mereka bagian masukkan jangkrik ke toples aja,”


“Yo wes kalo gitu. Ini kopi sama cemilannya,” kata mang Kosim sambil menyodorkan keranjang yang berisi makanan sama kopi.


“Mau cari Jangkrik atau piknik Mang?’ tanyaku penasaran.


“Malam ini jatah ronda juga Rey, jadi habis nyari jangkrik lanjut ronda.” Katanya memberi penjelasan.


“Oh sip kalo gitu Mang, bisa lah nanti ikutan ronda bentar, lama juga ga ngumpul sama teman-teman. Ya sudah, kamu bawa makanannya ya Ta!” perintahku ke Meta.

__ADS_1


“Siap bos!” hilihh, caper. Kataku dalam hati.


“Sini aku bantuin, kita bawa berdua ya,” buset pret kutu kupret. Sinyal bikin baper Meta pula lah ini.


“Mang, ku dengar Mbak Lasmi sekarang janda ya? Ga niat gitu Mang pengen lamar dia?” kataku membuka percakapan saat kami mulai melangkah menuju ke sawah.


“Sama kayak kamu dulu Rey, setiap di tanya pengen nikah ya tentu pengen. Tapi ya begitulah, pengennya di mantepin dulu.”


“Ya kalo gitu dimantepin dong Mang! Silaturahmi dulu kan, ya biar ga nampak bawakan lah beras sekarung, minyak goreng, sama sembako yang lainnya,”


“Gundulmu itu, kalo gitu ya malah curiga.”


“Tapi kok kamu tau Rey, kalo aku ada keinginan sama si Lasmi?” lanjutnya penasaran


“Waktu ke rumah Mang Kosim tadi aku mencium aroma-aroma Mbak Lasmi di situ,”


“Halah, mulai kayak si Roy kiyoshi aja kamu,” akhirnya kami pun terkekeh.


Doaku semoga saja Mang Kosim dan Mbak Lasmi berjodoh, supaya bisa saling melengkapi. Kembali obrolan hangat pun mengalir diantara kami, hanya suaraku dan Mang Kosim yang terdengar, sementara Aldo dan Meta hanya mengekori langkah kami sambil menenteng tas makanan yang di jinjing berdua. Akhirnya tak terasa tinggal beberapa meter lagi kami sampai kesawah, aku pun mengomando Meta untuk menghampar tikar untuk alas nya duduk.


“Kamu duduk di situ aja, aku Aldo sama Mang Kosim keliling cari sumber suara keberadaan Jangkriknya ya!” kataku.


“Yahh! Takut lah Mas,”


“Tuh kan ngrepotin.” Ujarku mendengus kesal.


“Kan gelap Mas,”


“Udah, mainan hape aja biar terang,”


“Baca aja Doa makan, pasti kabur.”


“Iihhh, kalau ada hantu gimana Mas? Mas Aldo di sini aja temani aku,” tuh benerkan Cuma modus aja ni bocah.


“Kalau ada hantu suruh duduk, ajak ceritaan. Jangan lupa kasih kopi sama gorengan.” Kataku sambil melangkah pelan dan menarik Aldo, jangan sampe ada apa-apa diantara mereka.


Dua jam kami mengubek-ubek pemantangan sawah, lumayan banyak jangkrik yang kami dapat. Di rasa cukup akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi kegiatan ini. Ku lihat Meta yang mulai tadi sudah menggaruk-garuk badannya, sepertinya dia diserang nyamuk. Kasihan juga melihatnya, tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri yang cari penyakit.


“Kita langsung ke pos ronda ya!” ajak Mang Kosim. Dan kami pun mengiringi jalannya.


“Kenapa?” terdengar suara Aldo.


“Di gigitin nyamuk Mas,” suara Meta terdengar manja.


“Kasihannn! Sini aku bantu garuk,” kulirik dengan ekor mataku, terlihat Aldo mengelus-elus tangan meta sebagai gerakan menggaruk. Sambil terus melangkahkan kaki.


“Makanya, dibilangin bandel sih,” kataku sambil memberikan reaksi tak nyaman.


Mang kosim mengajakku ngobrol lagi, namun konsentrasiku pecah, kulihat kini tangan kiri Meta menggenggam tangan kanan Aldo.


“Ehem,” aku pura-pura berdehem.


Tak ada reaksi, Etdah! Masih aja mereka gandengan. Ga peka banget sih. Bagaimana ini? Mau menegur Meta tak mungkin. Dia pasti malu, lagian apa-apaan sih si kutu kupret ni. Tadi siang baru aja koar-koar tentang cinta, ekh sekarang nyaman banget gandeng tangan yang bukan muhrimnya.


Hampir sampai pos ronda mereka masih terlihat bergandengan, kayak emak-emak yang gandeng anaknya saat ke pasar malam, takut ilang.

__ADS_1


“Eh, Tiara!” teriakku, spontan Aldo melepas tangan Meta.


“Tapi bo’ong!” kataku terkikik.


“Apa-apaan sih Mas,” kata Meta kesal.


“Lah, emang kenapa? Orang bercanda doang. Lagian kamu ngapain kaget.”


“Ihh, siapa yang kaget, biasa aja kali. Emang apa-an,”


“Lah iya, emang apa-an.” Kataku sambil menaruh toples jangkrik hasil tangkapan di meja pos ronda.


“Yuk Mas pulang!” ajak Meta pada Aldo. Di jawab anggukan. Namun belum sempat dia melangkah kutarik jaketnya.


“Meta biar diantar Mang Kosim, kita ikutan ronda dulu.”


“Tapi ini kan sudah jam sepuluh Mas, tar Mas Aldo di cariin Mbak Tiara gimana?” sepertinya Meta keberatan dengan usulku.


“Aldo aman sama aku, lagian bencong aja pulang subuh. Ga perlu khawatir lah. Sana mang, kembalikan tuan putri pada habitatnya,” segera Mang Kosim berjalan menuju rumahku, dan di iringi hentakan kecil kaki Meta sebagai ungkapan hati kalau dia sedang kesal dengan sikapku.


Seperginya Mang Kosim segera aku membuka gorengan yang dibawa Mang Kosim, terlihat sekali ada beberapa macam gorengan, ada klenyem, tape goreng, dan mentho. Kalian pasti ga tau kan ini makanan apa. Yang jelas ini makanan nikmat.


“Setauku dalam ajaran agama dilarang berjabat tangan dengan yang bukan muhrimnya ya Do,”


“Iya lah Rey, itukan sudah bersentuhan namanya.” Kata Aldo, sambil menuang kopi ke gelas yang sudah di sediakan di pos ronda.


“Jabat tangan aja ga boleh, apa lagi pegangan tangan ya Do, di gengam pula!”


“Wah, jelas itu Rey. Dosa besar itu Rey.” Jawabnya mantap sambil menyeruput kopinya.


“Kalau sudah tau aturan terus dilanggar gimana itu ya?”


“Ya dia tergolong orang-orang munafik lah Rey, emang kenapa Rey tiba-tiba ngomong gituan?” katanya sambil mengunyah gorengan yang baru saja di ambilnya.


“Ga apa lah, tadi aku lihat ada dua jangkrik yang bukan muhrim gandengan tangan gitu. Ya semoga dosa nya di ampuni lah ya!”


Uhuk! Aldo tersedak.


“Kampret! Jadi kamu itu nyidir aku to Rey,”


“Lahhh, kamu jangkrik bukan?”


“Ya bukan lah, tapi masa iya jangkrik ada muhrim atau tidaknya,” kata Aldo mulai sewot.


“Alhamdulillah kalo nyadar,”


“Ya elah Rey, Meta kan sudah ku anggap adek sendiri juga kali Rey,”


“Ya tapi bukan gitu caranya, tetap aja ga boleh, apa lagi kalian itu tetap saja orang lain yang ga ada ikatan darah. Tiara kalau lihat pasti juga akan cemburu. Jangan jadikan kakak adean sebagai tameng saat menyakiti perasaan pasangan Do!”


“Aish, jauh pikiranmu Rey, aku sama Meta cuma biasa aja,”


“Bagi kamu biasa, beda untuk Meta. Kamu mana peka sampai ke situ. Intinya jangan manjain Meta berlebihan lagi ya. Dah, ga usah debat. Nurut aja, atau ku pangkas jambangmu,”


“Busettt,” akhirnya kami pun tertawa.

__ADS_1


__ADS_2