
Nasi goreng special telah terhidang di meja makan. Ku lihat istriku sedang menyiapkan minuman Jahe wangi buat aku. Minuman rutinitas sejak aku menjadi suami Anita Wibisono. Katanya supaya aku selalu tampil fit dan prima.
“Dek, besok aku dah mulai kerja. Baik-baik dirumah ya,” kataku sambil mencomot pisang goreng yang juga telah tersaji di meja makan.
“Iya Mas, kamu juga baik-baik kerjanya ya. Dan tambah semangat.” Kata istriku sambil mengambil tempat duduk tepat di sebelahku.
“Aku pasti merindukanmu saat aku kerja nanti dek,” kataku melow.
“Akupun juga pasti akan merindukanmu Mas.” Kata istriku sambil menggenggam tanganku.
“Prettt, apaan sih Mas! Kayak mo berangkat kerja ke Arab aja. Kerja berangkat pagi, sore udah di rumah lagi aja lho! Alay tau lah Mas,” kata Meta yang tiba-tiba nongol dari ruang depan.
“Dih, sirik amat. Bagi kita kan sehari kayak setahun kalo ga ketemu ya Dek?” kataku sambil menatap istriku.
“Iya Mas, waktu kayak berputar lama banget,” kata Istriku menimpali.
“Ya Salam. Gini dah kalau pacaran di usia senja. Lebay nya ngalahin anak SD pacaran.” Kata meta sambil tepok jidat. Ngeloyor pergi, masuk kamar mandi. Dan disambut cekikikan oleh kami.
Istriku memang tipikal perempuan yang humoris, santai, dan receh banget. Satu karakter denganku, makanya aku selalu mudah membangun komunikasi dengannya. Namun yang paling ku ingat dan wajib selalu ku ingat adalah dia tipikal cemburuan. Ingat ya cemburuan, makanya pembaca kalau masuk kolom komentar jangan ada lagi yang bilang ‘pengen dong suami kayak bang Rey’ tar bisa-bisa istriku manyun tujuh hari tujuh malam. Kasihan kan si Joni terlalu lama dianggurin.
“Mas, nanti kamu download aplikasi Whatsapp ya. Supaya nanti kalo kamu dah kerja, pas masuk jam istirahat kita bisa Video Call,” kata istriku sambil mengambilkan aku sepiring nasi goreng.
“Yang telfon kelihatan muka itu kah dek?” tanyaku.
“Iya Mas, jadi nanti kamu bisa lihat aku lagi ngapain. Dan aku juga bisa tau kamu lagi apa di sana.”katanya berbinar.
“Wah, seru tuh dek. Jadi bisa lah ngobatin kangen setelah setengah hari gak ketemu.” Kataku tak kalah senangnya. Jujur, bukannya aku katrok ataupun gaptek. Aku sudah trauma dengan aplikasi itu. Dulu memang si WA ini pernah nangkring di ponselku. Tapi hanya seminggu saja, setelahnya ku hapus karena satu insiden.
Waktu itu kantor sedang rapat. Membahas tentang penghasilan kantor yang menurun. Bos mencurigai kecurangan di bagian staf keuangan. Suasana tegang, karena bagian keuangan tidak terima tuduhan itu. Akhirnya rapat terbagi dua kubu. Yang satu dipihak bos dan satunya lagi di pihak keuangan. Mereka saling kekeh dengan argumen masing-masing.
Pandangan mata penuh kebencian terpancar jelas diwajah mereka. Cuacapun mendadak panas, dan aku tak tau harus memihak yang mana. Suasana semakin tegang saat salah satu temanku menggebrak meja. Tiba- tiba semua diam tak ada lagi satupun yang bersuara. Sebuah notifikasi pesan WA masuk, kuambil ponselku yang sedari tadi ku letakkan di meja. Terlihat dengan nama Ferdy sebagai sang pengirim pesan. Kubuka, sebuah video terlihat dalam pesan WA ku. Sebenarnya aku belum berniat memutarnya, karena melihat kondisi rapat yang sedang tegang-tegangnya. Tapi, nasib sial rupaya sedang asik berada di pihakku.
“Wik, wik, wik, wik, wik, wik, wikkkkkkkkkkk, eghhhh, eghhhh, eghhhh,,,, “ tak sengaja jempolku menyenggol bagian tengah video itu. Play! Volume full audio dan suasana yang memang sedari tadi sunyi karena tegang membuat suara ponselku terdengar sangat keras sekali. Seketika seluruh pandangan tertuju padaku. Aku gugup, ponsel terjatuh. Lagu yang populer jaman wik-wik sudah di parodikan entah oleh salah satu youtuber Indonesia. Jadi bukan irama lagu yang terdengar. Melainkan erangan seperti orang yang sedang bercinta. Ku lihat pandangan geram dari Bos serta teman-temanku.
“Reyyyyyyyy, sempat-sempatnya kamu nonton bokep di saat rapat seperti ini,” kata bos ku penuh murka.
“Se-sebentar pak, sa-saya bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang terlihat.” Kata ku tergugup.
“Rapat, kita tunda!” kata bos sambil beranjak pergi, keluar dan.. membanting pintu.
“Apa’an sih kamu ni Rey! Ga ngehargai rapat banget. Kan ada waktunya Rey nonton gituan,’ cecar beberapa temanku.
“Masa bujang nonton gituan Rey,”
“Iya Rey, mesum banget kamu Rey! Ga liat-liat tempat dan waktu.”
“Iya Rey, bos kecewa berat kayaknya sama kamu. kan kamu orang kesayangan bos di sini. Masa malah bikin kecewa seperti itu.” Kata yang lainnya. Dan masih beberapa lagi yang melontarkan kalimat-kalimat kekecewaan.
“Sudah ku bilang ini salah faham, coba lihat apa yang sesungguhnya. Sebentar...” kataku sambil menunduk. Mengambil ponselku yang tadi terjatuh. Hendak ku putarkan ke mereka tentang video tadi, tapi sepertinya teman-teman enggan mendengar penjelasanku. Mereka sama seperti bosku, melangkah pergi, keluar ruangan, tapi tentu tak ada yang berani membanting pintu. Akh, sial! Ini semua gara-gara si kunyuk Ferdy.
Akhirnya aku pun bergegas meninggalkan ruangan ini, ingin segera mendatangi bos dan menjelaskan semuanya. Supaya tidak salah paham berkepanjangan. Keluar ruangan nampak beberapa karyawan lain memandangku, ada yang senyum-senyum mengejek, ada pula yang senyum-senyum genit. Parahnya lagi, pak diman lah si empunya senyum genit. Buset! Normal saya Pak!
“Reyyyyy, bagi Link nya Dong!” kata mereka kompak. Sambil tertawa.
__ADS_1
“Link dengulmu amohhhhh!” kataku sewot sambil memberikan kepalan tangan kepada mereka.
*************
“Hati-hati dijalan ya Mas!” kata istriku sambil mengantarkan aku yang akan berangkat kerja pagi ini.
“Ya dek, kamu jaga diri baik-baik dirumah.” Kusodorkan tanganku, diraihnya dan dicium punggung tanganku. Lantas aku pun membalas dengan mencium keningnya. Lambaian tangannya memberikan semangat luar biasa di hari pertama kerjaku dengan status baruku ini. Dalam hatipun aku berjanji, akan ku berikan kebahagiakan dunia dan akhirat untuknya.
“Wah, penganten baru dah mulai ngantor nih,” kedatangan ku ke kantor hari ini langsung di sambut meriah oleh teman-teman kantorku. Pembawaan ku yang ramah, humoris dan sedikit konyol membuat aku mendapat tempat tersendiri di hati mereka.
“Iya Nih, kangen kalian ngumpul bareng kalian.” Kataku pada mereka.
“Yok ah Rey, cerita malam pertamanya,” kata Riko.
“Ya Rey, seru-seruan aja dulu sebelum kembali tugas.” Aan menimpali.
“Sama aja, kayak malam pertama kalian-kalian juga lah. Emank beda gitu?” kataku datar.
“Ya emang sama sih, Cuma pengen dengar cerita dari versi lain aja,” kata Danang
“Versi lain gimana?” tanyaku sedikit heran.
“Malam pertama versi perjaka karatan model kamu.” kata Danang, yang kemudian disambut tawa oleh seluruh lelaki yang memang sedang nongkrong di ruangan coffee break kantor.
“Walah, Codot kamu Nang.” Semakin riuh gelak tawa mereka. Dan candaan khas lelaki dewasa pun semakin mengalir tak terkontrol.
“Berapa babak Rey?” tanya Andi.
“Tiga Dong!” jawabku mantap sambil tersenyum bangga. Hmm, begini sudah kalo mereka pada ngumpul. Kepancing juga sekarang aku.
“Lah, emank mestinya berapa?” tanyaku heran.
“Tujuh kali dong Rey, kayak aku” suara Riko.
“Aku enam kali Rey,” si buntal Aan
“Aku dong delapan,” Andi tak mau kalah.
“Ahhh, cemen semua. Aku nih, sembilan kali.” Kata Danang dengan sombongnya.
“Buset dah, kayak Indonesia vs Real Madrid aja.” Kataku berseloroh. Dan kembali di sambut gelak tawa oleh teman-teman.
“Star jam berapa Lu Nang? Hebat banget.” Kata Andi takjub.
“Jam sepuluh dong, kelar jam tiga pagi. Sampai kagak bisa bangun lagi dah Gua!” kata Danang penuh antusias.
“Apaa? Star jam sepuluh, kelar jam tiga. Sembilan kali goal. Bentar deh, kayak ada yang aneh,” kataku sesaat, gelak tawapun perlahan serempak berhenti.
“Aneh apaan Rey?” tanya Badrun, yang sedari tadi diam saja.
“Aku cuma tiga kali, itu starnya habis isya Boy! Kelar menjelang subuh. Itu pun bini Gue yang lemes. Nah, Si Danang Star jam sepuluh kelar jam Tiga dengan sembilan gol. Ga beres ini, bearti yang cemen elu dong Nang.” Kataku, kali ini aku yang menyombongkan diri.
“Lha, kok bisa Rey?” tanya Danang sambil mengernyitkan dahi.
__ADS_1
“Durasi lima jam sampe sembilan ronde, aku delapan jam Cuma tiga ronde. Artinya malam pertamaku lebih berkwalitas dong,” kataku semangat.
“Maksud loe?” serempak mereka bertanya dengan gaya bencong pengkolan.
“Berarti si Joniku kuat dan tahan lama. Sedangkan si Danang,,, Peltu.” Kataku kemudian. Sambil senyum-senyum.
“Peltu? Apaan peltu Reyyy?”
“Nempel Metu,,, “ kataku sambil bangkit dan beranjak pergi, membawa sebongkah senyum kemenangan.
Gelak tawa pecah tak terbendung. Mengolok-olok Danang yang sekarang shok, duduk terkulai lemas seperti adegan film Istri di tinggal suami karena di embat pelakor.
“Peltu, gigimu somplak Rey-Rey,” samar ku dengar Danang mengumpat.
***********
“Dek!” panggilku dari pintu kamar pada istriku yang tengah menonton televisi di ruang tengah.
“Ya Mas,” sahutnya.
“Meta mana?” tanyaku kemudian.
“Sudah tidur mungkin Mas.”
“ Ya udah, Anggur dek!” kataku memberi kode.
“Anggur apa maksudnya Mas?” tanya istriku bingung.
“Aku tidak suka nganggur.” Kataku sambil memainkan mata.
“Ish,, “ kata istriku sambil nyengir.
“Habis sama kamu tu strowberry.” Kataku lagi.
“Apaan lagi tu mas?” katanya makin heran.
“Selalu terobsesi untuk memberi.” Kataku terkikik.
“Hah, ada-ada aja Mas.” Kata istriku lalu bangkit berdiri, mematikan televisi lalu mendekat ku arahku. Cepat ku raih tangannya lalu masuk kamar. Namun belum sempat ku menutup pintu, terdengar suara teriakan Meta dari pintu kamarnya.
“Mas Rey, Mbak Anita! Pisang!” teriaknya. Lalu aku dan istriku kompak nongolin kepala dari balik pintu kamar.
“Apa-an pisang?” tanyaku.
“Pingin punya pasangan,” kata Meta manyun.
“Markisaaaa,,” kataku barengan dengan istriku.
“Markisa? Apaan?”
“Mari kita sabar.” Kataku dan istriku kompak sambil tertawa.
“Ishhh, kalian jahat.” Blammm! pintu kamar suses di tutup Meta.
__ADS_1
Meninggalkan kami yang masih cekikikan, tak lama aku pun menutup pintu kamar. Dan, klik! Lampu kamar mati. Taukan semuanya, kalau sudah ada suara klik pasti akan ada sesuatu yang menggeleggar, bumi bergoyang, dan daun-daun berguguran.