
"Selamat pagi Aini, sudah lama kita tidak bertemu."
"Selamat pagi, apa kabarmu Delia?"
"Baik Aini, ini putramu?"
"Ya, dia anak kandung suamiku."
"Dia seumuran dengan putriku."
"Putrimu dengan Dimas?"
Delia pun terlihat salah tingkah mendengar perkataan Aini.
"Maafkan aku, aku telah menghancurkan hubunganmu dan Mas Firman."
"Sudahlah kami memang tidak berjodoh, dan dia sudah kuanggap masa lalu. Kami sudah bahagia dengan pasangan kami yang sekarang."
"Jadi kau benar-benar mengenal Dokter Vallen?"
"Tentu saja, kami memiliki hubungan yang baik."
"Syukurlah, aku harap kau pun memiliki pemikiran yang sama padaku."
"Apa maksudmu?"
"Semoga kau tidak dendam padaku."
"Bukankah sudah kubilang jika itu semua adalah bagian dari masa lalu, aku dan Mas Firman memang tidak berjodoh, meskipun saat itu kau dan Dimas tidak melakukan apapun pada kami tapi jika tidak berjodoh pasti ada hal lain yang menghambat hubungan kami."
"Jadi kau tidak marah dan dendam padaku?"
"Tentu saja tidak, itu semua sudah berlalu. Kau lihat dirimu sendiri, meskipun kau dan Dimas melakukan berbagai tipu daya, pada akhirnya kalian tetep akan menikah kan?"
"Jadi kau sudah tahu aku akan menikah dengan Dimas?"
Aini pun kemudian mengangguk.
"Terimakasih banyak Aini, terimakasih banyak atas semua pengertianmu. Sekali lagi maafkan aku, maaf aku sudah begitu menyakitimumu."
"Iya Delia, semoga semua ini bisa menjadi pembelajaran bagi kau dan Dimas agar bisa berbuat baik dan berhati-hati dalam bertindak."
"Iya Aini, aku pamit pulang dulu."
"Iya Delia, hati-hati di jalan." jawab Aini. Delia pun tersenyum, dia lalu membalikkan tubuhnya kemudian masuk ke dalam mobil.
"Syukurlah, akhirnya aku bisa meminta maaf pada Aini sebelum kita menikah." kata Delia pada seseorang yang ada di sampingnya.
"Kenapa kau hanya tersenyum, apa kau tidak ingin bertemu dan minta maaf pada Aini?"
"Aku tidak sudi minta maaf padanya, aku masih ingat bagaimana saudara sepupunya memperlakukan diriku layaknya sampah. Dia bahkan hampir saja membuat usaha orang tuaku gulung tikar."
__ADS_1
"Astaga Dimas, ternyata kau masih memiliki Dendam? Kupikir kau sudah berubah." gerutu Delia sambil melirik Dimas.
"Sudahlah Delia, lebih baik kita pergi sekarang." gerutu Dimas kemudian mengemudikan mobilnya. Dia kemudian melirik pada Delia.
'Delia, aku bukannya tidak mau bertemu dengan Aini tapi saat ini aku belum siap bertemu dengannya. Dia terlihat sangat cantik dan menawan, sangat berbeda dengan Aini saat menjadi istriku. Aku bahkan tidak sanggup lagi menahan gejolak di dalam dadaku saat melihatnya tadi. Jika aku menemuinya pasti aku tidak bisa menahan perasaanku, dan itu hanya akan membuatmu cemburu, Delia. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu karena jika ibu tahu aku menyakiti perasaanmu, orang tuaku tidak akan mewariskan hartanya padaku karena keberadaanmu dan Shakila sangat penting bagi mereka, jadi untuk saat ini aku harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Tentu saja aku akan menemui Aini tapi saat aku tidak sedang bersamamu.' gumam Dimas sambil tersenyum menyeringai.
🥀🥀🥀🥀🥀
Firman menghentikan mobil Vallen di depan lobi rumah sakit.
"Cium aku sebelum aku turun."
"Bukankah itu sudah biasa kulakukan?"
"Aku ingin lebih lama."
"Vallen, kau tahu kan aku sedang tergesa-gesa. Aku harus menghadiri pemakaman bosku."
"Iya iya, aku turun dulu." kata Vallen kemudian mengecup bibir Firman.
Firman pun tersenyum.
"Nanti kita makan siang di luar."
"Iya, aku turun dulu."
Namun saat Vallen akan turun dari mobil tiba-tiba Firman menarik tubuh Vallen lalu mencium bibirnya.
"Firman, kau mengagetkanku, lihat lipstikku jadi berantakan. Lagipula kau bilang tadi kau sedang terburu-buru."
"Dasar nakal, aku turun dulu."
Firman pun mengangguk, Vallen kemudian turun dari mobil lalu bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Saat sedang berjalan di lobi tiba-tiba sebuah suara pun memanggilnya.
"Vallen."
Vallen pun memandang ke arah suara tersebut.
"Mama, mama ada di sini?"'
"Ya, kemarin mama begitu merindukanmu tapi David mengatakan jika apartemen yang kau tempati itu berhantu jadi mama mengurungkan niat mama untuk mengunjungimu."
"Jadi itu alasannya mama menemuiku di sini?"
"Ya."
"Jika mama merindukanku bukankah mama bisa meneleponku, nanti aku bisa pulang ke rumah ma."
"Tapi sudah tidak ada waktu, Vallen."
"Tidak ada waktu? Apa maksud mama?"
__ADS_1
"Begini Vallen, malam ini kau memilki janji makan malam dengan seseorang."
"Janji makan malam? Apa maksud mama? Malam ini aku bahkan tidak merasa memiliki janji dengan siapapun."
"Mama yang membuatkan janji untukmu, malam ini kau harus makan malam dengan Zian."
"Zian? Zian siapa itu ma?"
"Anak teman mama, dia laki-laki yang baik dan tampan selain itu dia juga kaya raya, kau pasti menyukainya jika sudah berkenalan dengannya."
"Mama apa-apaan ini? Jadi mama berniat menjodohkanku?"
"Belum Vallen, ini hanya rencana. Lebih baik kalian saling berkenalan dulu saja, tapi mama yakin kau pasti akan menyukainya."
"Tidak ma, Vallen tidak mau. Vallen sedang banyak pekerjaan."
"Kenapa Vallen, ini kesempatan besar untukmu. Apa kau tahu Zian sangatlah tampan dan kaya, banyak wanita yang mengejar-ngejar dirinya. Jika kau bertemu dengannya mama yakin kalian pasti akan saling tertarik satu sama lain."
"Tidak ma, lebih baik mama batalkan saja janji itu. Aku tidak mau makan malam dengan laki-laki yang tidak kukenal."
"Karena itulah Vallen, kau harus menemuinya agar kalian mengenal satu sama lain."
"Vallen tetap pada keputusan Vallen. Aku tidak akan makan malam dengannya, maaf ma Vallen sedang sibuk."
"Vallen berani-beraninya kamu membantah mama. Mama melakukan semua ini untuk kebaikanmu. Mama hanya ingin kau mendapatkan pendamping terbaik dalam hidupmu, kau cantik dan pintar Vallen sudah sepantasnya kau mendapatkan laki-laki yang memiliki segalanya."
"Tapi Vallen tidak membutuhkan semua itu ma."
"Vallen apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini? Apa kau masih mencintai Rayhan?"
"Tidak, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Rayhan."
"Jika kau tidak memiliki perasaan apapun pada Rayhan kau harus mengikuti kata-kata mama Nak, mama melakukan semua ini karena ingin yang terbaik dalam hidupmu."
"Tapi ma, Vallen tidak mau berkenalan dengan laki-laki itu."
"VALLEN!!"
"Mama cukup Ma!!" teriak sebuah suara di belakang Vallen dan Nurma. Melihat David yang menghampirinya Nurma pun tersenyum.
"David lebih baik kau nasehati adikmu agar mau mengenal Zian."
"Vallen berhak menentukan pilihan hidupnya, jangan memaksanya ma."
"Pilihan apa? Pilihan terbaik saat ini adalah Zian."
"Tidak, aku pun tidak akan membiarkan Vallen bertemu dengan Zian."
"David apa-apaan ini? Kau juga sudah berani menentang mama?"
"Bukannya David menentang mama tapi saat ini Vallen sudah menemukan pilihan hidupnya."
__ADS_1
Mendengar perkataan David, Nurma pun begitu terkejut.
"A.. Apa maksudmu?"