
Isak tangis mengiringi pemakaman oma Rosa. Bukan hanya kerabat atau sanak keluarga yang ada di sana. Namun, beberapa media serta kolega oma Rosa juga ikut mengantar kepergiannya. Sejak tadi juga orang-orang bergantian datang. Alhasil, mama Kinan menawarkan diri untuk menyambut tamu-tamu itu. Sementara, Aldo bertugas menjaga bersama tim keamanan kediaman Bram agar tak ada satu pun wartawan yang masuk. Mereka terus saja bertanya soal bagaimana perusahaan itu akan dibagi. Padahal, saat ini keluarga Bram sedang berduka. Aldo bahkan merasa mereka sudah tak punya hati nurani demi mendapat sejumlah uang.
Setelah semua prosesi pemakaman itu selesai, kini tersisa Bram juga Kinan di sana. Bram masih ingin di sana, menemani sang oma yang mungkin saja kesepian. Melihat hal ini tentu membuat Kinan sedikit tersayat. Bagaimana tidak? sejak tadi Bram terus mengatakan banyak hal sembari menggenggam tangannya.
"Mas, udah yuk," ajak Kinan yang membuat Bram segera menggeleng sebagai penolakan. "Mas belum makan dari pagi, ini udah sore."
"Nan, apa mas masih bisa mikirin itu?"
"Oma marah nanti kalo mas gak makan. Nanti kita ke sini lagi," ujar Kinan berharap Bram akan setuju. Dia juga sebenarnya ingin berlama-lama di sana. Namun, kakinya terasa kram karena terlalu lama berjongkok. "Kinan janji bakal nemenin mas nanti."
Bram mendongak saat Raka tiba di sana. Wajahnya nampak panik, membuat Bram segera beranjak dan mengerutkan dahinya. "Kenapa, Ka?"
Raka nampak gugup untuk sekedar mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya. Dia sungguh takut ini malah akan menyakiti sang atasan dan memancing keributan sebab pasti mengundang kecurigaan pada siapa pun. Dia memeriksa CCTV setelah oma Rosa dibawa pulang. Dia terkejut saat mendapati seseorang masuk dengan sneli. Namun, dia tahu betul itu bukan dokter yang menangani oma Rosa. Dia terus meyakinkan diri itu bukanlah salah satu dari anggota keluarga Bram. Namun, meski dengan wajah tertutup masker, dia mengenal perawakan pria itu.
"Kenapa, Ka?" tanya Bram sekali lagi karena Raka tak kunjung menjawab dan malah melamun.
"Ada yang janggal. Sama kematian oma."
Bram mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
Raka tahu seharusnya dia menyimpan ini setidaknya sampai dia menemukan pelaku yang sebenarnya agar tak menimbulkan pertikaian atau saling tuduh. Namun, dia merasa Bram harus tahu segera. "Ada orang yang mungkin sengaja ngelakuinnya."
__ADS_1
Raka merogoh ponselnya, menunjukan salinan CCTV yang dia dapatkan dari rumah sakit dengan susah payah. Apalagi, dia bukanlah seorang polisi yang sedang menyelidiki sebuah kasus. Dia benar-benar kesulitan untuk mendapatkannya. Beruntung, temannya saat berkuliah dulu bekerja di sana. Jadi, dia bisa meminta bantuan darinya.
Bram memerhatikan rekaman itu. Pun dengan Kinan. Mereka sama-sama bingung saat seorang dokter masuk ke sana kemudian keluar. Kemudian, ada dokter lain yang datang saat oma Rosa mengalami penurunan kesadaran.
Bram mengepalkan tangan. Dia bersumpah akan menemukan pelaku itu dan membuatnya menerima hukuman setimpal karena sudah menghilangkan nyawa seseorang. Sebenarnya agak masuk akal karena sejak awal rekaman itu, ada 2 dokter yang masuk ke ruangan itu di jam yang berbeda. "Kamu cari pelakunya sampai dapet."
...***...
Wira membanting tubuhnya di atas ranjang. Dia baru sadar ternyata berpura-pura sedih cukup menguras tenaganya. Dia jadi penasaran berapa besar bagian yang akan dia dapat dari perusahaan itu. Jika dilihat dari umur, tentu dia seharusnya adalah putra sulung. Namun, yang lebih punya hak adalah Bram karena dia putra kandung dari pemilik awal perusahaan AP Holding's.
"Masih bisa santai?" tanya Lia sembari meletakan beberapa pakaian yang baru tiba dari laundry. Dia tentu tahu apa yang saat ini ada di pikiran suaminya. "Gimana? Ada bocoran?"
Wira terduduk kemudian menggelengkan kepala. Bagaimana dia bisa dapat bocoran di saat semua orang yang mengurus soal itu adalah kenalannya oma. Sementara, dia tak sedekat itu dengan oma Rosa. "Tapi ... Harusnya mas dapet bagian punya Bram sih. Nanti mas coba untuk sogok mereka. Siapa tau bagian punya Bram jadi milik mas."
"Wira punya perasaan bagus soal ini," ujarnya diakhiri senyum licik. Dia sudah mempertaruhkan dirinya. Sudah sepantasnya dia mendapat balasan setimpal atas pengorbanannya.
"Perasaan bagus gimana? Oma udah gak ada jadi kita gak bisa protes dengan apa pun bagiannya," ujar Sarah. Bahkan, masih ada pun keputusan oma selalu sulit dilawan. Apalagi jika sudah tidak ada seperti ini.
Wira tersenyum licik. "Tenang, ma. Wira bakal dapet bagian yang setimpal. Wira tetep anak sulung di keluarga ini."
Suara ketukan di pintu membuat Sarah membulatkan mata. Dia terkejut dan takut bagaimana jika orang itu sejak tadi menguping? Bisa-bisa tamat riwayat mereka. Namun, Sarah berusaha bersikap biasa kemudian membuka pintu.
__ADS_1
"Nyonya, mas Wira, dan mba Lia dipanggil ke bawah," ujar salah satu asisten rumah tangga di sana. Namanya Asri.
"Oke, saya ke sana sekarang. Tapi, apa pun yang mungkin kamu denger, jangan sampe bocor."
"Saya gak denger apa-apa kok, nyonya. Permisi."
Di lantai satu sudah ada Bram, Kinan, Raka, dan notaris yang mungkin ditunjuk oleh oma Rosa. Meski Bram masih sangat terpukul, dia harus tetap menghadapi segalanya. Termasuk soal ini. Mau dia terus menghindar pun, tetap saja dia akan mengurus soal ini.
"Sesuai wasiat bu Rosa, perusahaan akan diambil alih pak Wira. Kemudian untuk pembagian yang lain, 30% milik pak Wira, 20% milik pak Bram, 10% milik bu Kinan, 20% milik bu Sarah, dan terakhir milik bu Lia 10%, sisanya diberikan untuk anak pak Bram."
Mendengar hal ini membuat Kinan mengerutkan dahi. Bagaimana bisa perusahaan itu dialihkan ke Wira di saat pria tersebut berperan besar saat penurunan saham sebelumnya. Lalu, mengapa bagian milik suaminya juga cukup kecil?
"Ada yang gak beres," gumam Kinan dalam hatinya. Bukan maksud ingin mendapat bagian besar. Kinan tak mengharapkannya sejak awal. Namun, melihat pembagiannya dia merasa ada yang tak beres. Apalagi, jika dilihat dari garis keturunan, Wira bukan pewaris utama keluarga itu.
Bram hanya mengangguk mendengar penjelasan itu tanpa protes. Dia akan fokus terlebih dulu pada pelaku yang dengan berani membunuh sang oma. Setelahnya, baru dia akan menyelidiki soal wasiat sang oma. Dia cukup tahu, pembagian itu sedikit dimanipulasi, sebab sebelumnya Bram pernah berbincang dengan sang oma soal harta dan bagian terbesar milik keluarga Pratama akan diberikan pada calon anak Bram dan Kinan. Kemudian, Kinan juga dapat bagian berupa sebuah rumah yang dialih namakan sebelum oma sakit kemudian meninggal.
"Ada pertanyaan?"
"Tidak ada, cukup," ujar Bram. Dia ingin beristirahat karena kepalanya sudah cukup pening. Dia sekarang bisa menebak, pelakunya mungkin diantara mereka bertiga.
"Dari raut seneng gitu, keliatan," gumam Bram dalam hati. Dia kemudian beranjak karena cukup muak dengan wajah-wajah itu. Dia heran bisa-bisanya mereka memasang wajah senang di hari kematian oma. Meski dapat bagian yang cukup besar, seharusnya mereka tak memasang raut bahagia seperti itu.
__ADS_1
......****************......