
"Iya Olive, aku juga tidak tahu, ini rasanya seperti kejutan. Kita sudah kehilangan kontak dengan Rima selama dua minggu dan kini kita bertemu dengannya disini dengan Drey."
"Lalu kenapa dia datang bersama Drey?" tanya Olivia sambil terus mengamati Drey dan Rima.
"Entahlah."
"Astaga Kenan." kata Olivia sambil menutup mulutnya. Dia lalu memandang Kenan yang juga menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Jangan-jangan yang dimaksud istri dari Drey adalah Rima." kata Kenan sambil menelan ludah kasar.
"Iya Kenan, aku juga punya pemikiran yang sama denganmu."
"Akhirnya Drey datang ke pesta ini dengan membawa istrinya juga, kupikir dia akan membujang seumur hidupnya. Hahahaha." kata beberapa teman Olivia yang berjalan melewati Kenan dan Olivia.
Kenan dan Olivia pun kini berpandangan. "Dugaan kita benar, Olive."
"Iya Kenan, kita harus bagaimana?"
"Kita harus menemui dan meminta penjelasan dari mereka, Olive. Tapi jangan sekarang, nanti saja saat mereka akan pulang dari sini."
"Iya. Bagaimanapun juga Rima masih istri sah dari Ilham. Bagaimana jika kita juga menelepon Kak Calista?"
"Iya, kau telepon Calista dan Leo agar menyusul kita ke sini, bagaimanapun juga Rima dulu adalah tanggung jawab mereka."
"Iya Kenan. Aku telepon Kak Calista dulu."
Olivia lalu mengambil ponselnya.
[Halo Kak Calista.]
[Iya ada apa Olive?]
[Kakak kami menemukan Rima.]
[Benarkah? Dimana kau bertemu dengannya?]
[Di pesta pernikahan salah satu temanku Kak, dan yang lebih mengejutkan lagi, dia berpura-pura menjadi istri salah seorang temanku.]
[APAAAA? APA DIA SUDAH TIDAK WARAS!] teriak Calista.
[Iya Kak, lebih baik kalian cepat datang ke sini dan kita meminta penjelasan dari mereka.]
[Iya Olive, kami akan datang secepatnya, tolong kirimkan alamatnya.]
[Iya Kak.]
Olivia kemudian menutup teleponnya.
"Bagaimana?"
__ADS_1
"Aku sudah menghubungi Kak Calista, sebentar lagi dia dan Leo akan datang kesini."
"Bagus, lebih baik sekarang kita tidak usah menampakkan diri di depan mereka agar mereka tidak panik."
"Iya, tapi kita juga harus mengawasinya agar tidak kehilangan jejaknya."
"Iya Olive. Sekarang sebaiknya kita temui dulu Vian untuk mengucapkan selamat padanya, tapi ingat jangan sampai Rima dan Drey bertemu dengan kita."
Sementara Drey kini terlihat mengamati seluruh ruangan pesta. 'Dimana Olivia, kenapa aku tidak melihatnya.' kata Drey dalam hati sambil terus mengamati setiap sudut ruangan.
"Ada apa Drey? Kenapa kau tampak cemas?"
"Tidak apa-apa, aku hanya mencari salah seorang temanku."
"Oh."
'Apakah teman yang Drey cari adalah wanita yang dicintainya?' kata Rima dalam hati sambil melirik Drey.
'Apakah kau tidak datang di pesta ini Olive?' gumam Drey sambil terus mencari Olivia.
"Rima, sebaiknya kita pulang sekarang, aku tidak mau kau berlama-lama disini, kondisi kesehatanmu masih belum stabil."
"Iya Drey." jawab Rima.
'Pasti Drey buru-buru ingin pulang karena wanita yang dia cintai tidak datang ke pesta ini.' kata Rima dalam hati sambil tersenyum kecut.
Setengah jam kemudian, Calista yang sudah sampai di tempat pesta pernikahan Vian pun menghubungi Olivia.
[Iya Kak, nanti saat Rima sudah menuju tempat parkir aku akan menghubungi kakak.]
[Iya Olive.]
"Kenan lihat itu, mereka berjalan ke arah pintu keluar, mungkin mereka akan pulang."
"Iya Olive, cepat hubungi Calista." Olivia pun mengangguk, dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Calista.
Saat Drey dan Rima akan masuk ke dalam mobil, Calista tiba-tiba telah berdiri di depan mereka.
"Rima, biasakan kau jelaskan ini semua padaku." kata Calista.
"Ka... Kak Calista."
Calista dan Leo pun mendekat pada Rima.
"Rima tahukah kamu kami selalu mencarimu selama dua minggu ini."
"Dan tiba-tiba kaki dikejutkan akan kehadiranmu di pesta ini dengan berpura-pura sebagai istri Drey." kata Leo sambil menggelengkan kepalanya.
"Ma.. Maafkan aku. Kalian tahu darimana aku datang ke pesta ini?" tanya Rima dengan sedikit gugup. Drey pun tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa diam.
__ADS_1
"Mereka tahu kalian datang ke pesta ini dari kami." teriak Kenan kemudian berjalan mendekat pada mereka.
"Ka.. Kak Olive, Kak Kenan. Kalian datang ke pesta ini?"
Olivia pun tersenyum. "Ya, Vian adalah rekan kerjaku saat aku bekerja di Australia."
Drey pun tak kalah terkejutnya. "Olivia, apa hubunganmu dengan Calista dan Leo?" tanya Drey dengan begitu terheran-heran.
"Kak Calista adalah kakak kandungku." jawab Olivia yang membuat Drey begitu terkejut. Kenan pun mencengkeram bahu Olivia agar tidak terlalu dekat dengan Drey.
"O..Oh jadi kalian kakak beradik? Aku minta maaf, ini salahku."
"Salahmu? Sebenarnya apa yang telah terjadi Drey?" tanya Calista.
"Saat itu, aku pergi ke rumah Rima lagi karena ponselnya tertinggal di mobilku, saat aku kembali ke rumah Rima, dia sedang terkapar di atas tanah dengan darah yang mengalir di kakinya."
"Apa ada darah di kaki? Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu, Rima?" teriak Calista.
Namun Rima hanya diam dan menangis. "Dia ternyata sedang hamil, dan Rima tidak tahu dia sedang hamil. Dia mengalami pendarahan karena didorong oleh Ilham ke atas bebatuan." jawab Drey.
"Astaga Ilham memang benar-benar gila." teriak Leo.
Calista dan Olivia pun hanya saling berpandangan sambil menutup mulut mereka.
"Lalu bagaimana janin yang ada di dalam kandungan Rima?" tanya Olivia
"Dia bisa diselamatkan karena kami cepat membawanya ke rumah sakit."
"Oh syukurlah."
"Lalu setelah itu apa yang terjadi Drey? Kenapa kalian sampai mengaku pada semua orang jika kalian telah menikah?"
"Ini memang semua salahku, Olive. Saat Rima ada di rumah sakit, mama meneleponku dan terus memaksa untuk segera menikah dengan wanita yang tidak kucintai. Lalu secara tidak sengaja aku mengaku pada mama jika aku dan Rima sudah menikah."
"Astaga ini tidak lucu Drey, bagaimanapun juga Rima masih menjadi istri orang." kata Calista.
"Kau ceroboh sekali Drey." tambah Olivia menimpali.
"Ya ini memang kesalahanku, aku mengaku aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar."
"Tolong jangan hanya menyalahkan Drey, karena sebenarnya akulah yang meminta Drey untuk membawaku pergi sejauh mungkin. Aku ingin pergi sejauh mungkin dari kehidupan kalian dan Ilham, aku tidak ingin merepotkan kalian semua. Dan aku juga sudah sangat ingin berpisah dengan Ilham." kata Rima sambil terisak.
Calista dan Olivia pun mendekat pada Rima kemudian menenangkannya.
"Kami tahu ini semua tidak mudah bagimu, Rima."
Di saat itulah tiba-tiba ponsel Kenan berbunyi.
"Komandan Firdaus." kata Kenan. Dia lalu mengangkat panggilan di ponselnya. Leo lalu mengamati Kenan yang kini terlihat begitu serius menerima panggilan dari komandan Firdaus.
__ADS_1
"Ada apa Kenan?" tanya Leo.
"Ilham kembali berulah." jawab Kenan yang membuat semua orang terlihat panik.