
"Pilihan hidup apa? Apakah ini artinya kau sudah memiliki seorang kekasih, Vallen?"
"Belum ma."
David pun menatap Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Jika belum kenapa kau menolak mama jodohan dengan Zian?"
"Karena aku belum bisa membuka hatiku kembali."
"Jadi kau masih hidup dalam bayang-bayang masa lalumu?"
"Tidak, aku hanya belum siap membuka hati dan mencintai laki-laki lain."
"Vallen, kau tidak boleh terus menerus seperti ini."
"Mama tolong jangan memaksakan kehendak mama, Vallen sudah dewasa. Vallen tahu kapan waktu yang tepat untuk membuka hati Vallen kembali."
David lalu menatap Nurma. "Mama, lebih baik mama pulang sekarang. Ini rumah sakit, jika masih ada yang ingin dibicarakan kita bicarakan nanti di rumah saja."
"Baik, untuk hari ini cukup tapi mama akan memberikan waktu selama satu bulan padamu untuk mengambil keputusan, jika kau masih belum bisa melupakan masa lalumu, dalam waktu satu bulan kau harus bisa menerima perjodohan ini. Mama pulang dulu, berpikirlah dengan kepala dingin, Vallen. Pikirkan masa depanmu, mama hanya ingin yang terbaik bagimu." kata Nurma kemudian berjalan meninggalkan David dan Vallen.
David kemudian menatap Vallen yang kini terdiam.
"Kenapa kau tidak mengatakannya saja pada mama? Tadi aku berencana mengatakan yang sesungguhnya jika kau sudah memiliki seorang kekasih."
"Aku belum siap Kak."
"Belum siap untuk apa?"
"Belum siap jika mama menolak Firman, aku sangat mencintai Firman, aku tidak mau jika mama tahu Firman bukankah menantu seperti yang dia harapkan, dia akan memisahkan kami berdua. Aku sungguh tidak mau kehilangan dirinya, Kak."
Air mata pun mulai menetes di wajahnya. David pun kemudian mendekat lalu memeluk Vallen.
"Kau tenang saja, aku kakakmu, aku akan memperjuangkan kebahagiaanmu, aku tidak ingin kau tersakiti karena berpisah dengan orang yang kau sayangi. Kau tenang saja, sekuat tenaga aku akan membantumu."
"Terimakasih Kak." jawab Vallen sambil membalas pelukan David dan menangis dalam dekapannya.
🥀🥀🥀🥀🥀
"Darren, lebih baik kita pulang sekarang ya sayang. Nanti sore kita jalan-jalan lagi." kata Aini sambil melangkahkan kakinya ke rumahnya. Aini lalu membawa Darren ke dalam kamarnya kemudian dia memandikannya, namun saat baru saja memandikan Darren, tiba-tiba dia melihat sebuah taksi berhenti di depan rumahnya. Aini pun begitu terkejut melihat kedatangan Roy yang turun dari taksi tersebut.
"Mas Roy? Kenapa dia bisa tahu aku ada di sini?"
Perasaan Aini pun semakin tak menentu saat Roy berjalan memasuki halaman rumahnya, hingga sebuah ketukan pintu pun terdengar.
__ADS_1
TOK TOK TOK
"Astaga, aku harus melakukan sesuatu. Aku belum ingin bertemu dengan Mas Roy."
Perlahan Aini pun keluar dari kamar lalu mengendap-endap keluar dari pintu belakang rumahnya.
TOK TOK TOK
Beberapa kali Roy tampak mengetuk pintu, akhirnya seseorang pun membuka pintu tersebut. Ibu Aini yang melihat kedatangan Roy pun begitu terkejut.
"Roy."
"Ibu." kata Roy kemudian menyalami dan mencium tangan Ibu Aini.
"Bu, apa Aini ada di sini?"
"Ya, kenapa kau bertanya seperti itu Roy? Apakah dia tidak pamit padamu jika dia pergi ke sini?"
Roy lalu menggelengkan kepalanya. Melihat gelengan kepala dari Roy, ibu Aini pun begitu terkejut.
"Astaga, pantas saja Aini terlihat sedikit aneh. Dia tampak gugup saat ibu menanyakanmu. Roy, apa sesuatu telah terjadi pada hubungan kalian? Apa sebenarnya yang telah terjadi, Roy?"
"Aini sudah tahu semuanya Bu."
"Jadi Aini sudah tahu kau penyebab kecelakaan itu?"
"Roy, lebih baik kau cepat temui Aini, kalian harus menyelesaikan masalah kalian secepatnya. Dia ada di kamar, ayo ibu antar ke kamar Aini."
Roy pun mengangguk lalu mengikuti ibu Aini masuk ke dalam rumah.
"Ini kamar Aini."
Roy pun kemudian membuka kamar itu, namun saat kamar itu terbuka. Di dalam kamar itu hanya ada Darren yang tertidur di atas ranjang dengan begitu pulas.
"Hanya ada Darren, tapi tidak ada Aini Bu."
"Sebentar ibu carikan Aini, mungkin dia sedang ada di kamar mandi. Lebih baik kau masuk dulu ke dalam."
Roy lalu masuk ke dalam kamar kemudian mendekat pada Darren yang sedang tertidur, dia kemudian membelai rambut dan wajah Darren.
"Papa rindu padamu Nak."
Saat sedang asyik menatap Darren yang sedang tertidur pulas tiba-tiba Roy melihat ibu Aini masuk ke dalam kamar itu dengan raut wajah yang begitu panik.
"Roy... "
__ADS_1
"Ada apa Bu?"
"Roy, Aini tidak ada di rumah ini."
"A.. Apa? Aini tidak ada disini? Bukankah tadi ibu mengatakan jika Aini ada di sini?"
"Iya Roy, tadi pagi dia berjalan-jalan dengan membawa Darren, lalu setelah pulang berjalan-jalan dia memandikan Darren lalu membawa Darren ke kamar ini karena Darren terlihat mengantuk."
"Tapi kenapa tiba-tiba dia tidak ada di sini Bu?"
"Entahlah, ibu juga tidak tahu."
Roy kemudian mengusap kasar wajahnya.
"Jangan-jangan dia tahu kedatanganku, lalu dia pergi dari rumah ini."
"Astaga Aini, kenapa kau berbuat seperti ini, Aini. Aku hanya ingin meminta maaf padamu."
Dia kemudian melihat tumpukan pakaian yang dibawa oleh Aini masih tertata rapi di salah satu sudut kamar.
"Bu, semua pakaian Aini masih ada di sini, Darren pun dia tinggalkan, ini artinya dia tidak berniat pergi jauh dari sini, mungkin Aini hanya keluar sebentar untuk menghindariku."
"Kau benar Roy, mungkin dia masih ada di sekitar sini."
"Iya Bu, lebih baik Roy sekarang pergi mencari Aini."
"Iya Roy, carilah di sekitar desa ini. Ibu yakin dia belum jauh dari rumah ini."
"Iya Bu."
Roy kemudian keluar dari rumah Aini untuk mencari Aini.
Sementara Aini yang kini sedang berjalan di sebuah jalan desa yang sepi tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah sepeda motor yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Di.. Dimas." kata Aini dengan begitu gugup saat melihat Dimas yang sedang turun dari motornya lalu mendekat ke arahnya.
"Kita sudah lama tidak bertemu Aini." kata Dimas sambil tersenyum menyeringai.
"Sepertinya kita tidak memiliki urusan apapun, lebih baik kau cepat pergi dari sini. Sebaiknya kau tidak berdekatan dengan wanita lain karena kau akan menikah dengan Delia."
"Menikah dengan Delia? Aku terpaksa melakukan itu, kau tahu sendiri aku tidak pernah mencintai Delia."
"Itu bukan urusanku, sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga."
"Tapi aku masih ingin bersamamu Aini, aku sangat merindukanmu. Kau kini sangat cantik dan menggairahkan."
__ADS_1
"Kau mau apa Dimas? Cepat menjauh dariku! Aku sudah memiliki suami Dimas, jangan macam-macam denganku!"
"Aku tidak akan macam-macam denganmu, aku hanya ingin bersenang-senang denganmu." kata Dimas sambil tersenyum menyeringai.